GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 225: AKU MINTA MAAF


__ADS_3

    Sudah menjadi tekad mamanya Putri, ia benar-benar ingin menunggu kepulangan Melian. Ia harus bertemu Melian. Entah kenapa,wanita setengah baya ini seperti sudah sangat ingin ketemu Melian. Yang jelas ingin meminta maaf atas perlakuan anaknya, yang tentu punya salah pada Melian.


    Bagi Putri, ia juga sangat menyesal dengan apa yang sudah diperbuatnya. Menyesal sudah menuduh Melian merampok Kim Bo. Menyesal sudah menyalahkan Melian. Apalagi saat berdebat tentang prinsip hidup dengan Melian, kalau Putri menganggap hidup untuk bersenang-senang, apalagi soal pacaran. Dan kini setelah dirinya juga sudah dicampakkan oleh cowoknya, Wijaya. Semua baru dirasakan, kalau ternyata omongan Melian yang benar. Tentu Putri tidak berani menyampaikan masalahnya dengan cowoknya itu kepada mamanya.


    Akhirnya, Putri pun memutuskan untuk tetap menemani mamanya, menunggu kedatangan Melian. Putri juga bertekad ingin menemui Melian. Setidaknya hanya sekadar minta maaf.


    Terus terang saja, sebenarnya Putri sangat kagum dengan Melian yang mendapatkan berbagai penghargaan dari pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta lainnya. Bukan sekadar penghargaan yang berwujud prestasi, tetapi yang paling lebih dikagumi oleh Putri, Melian bisa mengatur dan dipercaya oleh para pemulung. Itu sangat luar biasa.Artinya Melian benar-benar bisa diterima dalam kehidupan rakyat kecil. Itu luar biasa.


    "Bang ..., kami ikut istirahat di sini, ya ...." kata mamanya Putri pada anak muda yang berada di bangunan unik tersebut.


    "Iya, Bu .... Silahkan saja ...." jawab pemuda itu.


    "Abang di sini sebagai apa ...?" tanya mamanya Putri lagi, kepada pemuda itu.


    Pemuda itu tersenyum, lantas menjawab, "Hanya menyambut para tamu yang datang di sini ...." jawab pemuda itu.


    "Terus ..., dibayar?" tanya mamanya Putri yang penasaran. Sebenarnya Putri juga penasaran, tetapi malu untuk menyampaikan.


    "Tidak ...." pemuda itu tersenyum.


    "Hah ...?! Tidak dibayar ...?! Kok mau ...?! Terus untuk makan, minum dan kebutuhan lainnya bagaimana?" tentu mamanya Putri kaget mendengar jawaban pemuda itu.


    "Kami ada beberapa orang di sini .... Semuanya volunteer atau sukarelawan, membantu semua kegiatan di sini dengan sukarela, untuk memajukan Kampung Transformer ini. Dulu kampung ini hanya berupa gubug-gubug yang tidak layah huni, kami merubahnya menjadi seperti ini. Itulah maka dinamakan Kampung Transformer." jawab pemuda itu yang lagi-lagi dengan senyum manis.


    "Volunteer ...??" tentu dua perempuan itu saling tanda tanya.


    "Iya .... Kami dari berbagai perguruan tinggi, membantu Melian, bersama-sama membangun kampung ini. Melian yang memimpin kami." jawab pemuda itu, yang tentu masih tetap tersenyum.


    "Ooo ...... Jadi si Abang ini juga mahasiswa? Dari mana ...?" tanya Putri yang kaget mendengar penuturan pemuda itu.


    "Iyam betul .... Banyak mahasiswa yang membantu di sini .... Yah, untuk mengabdi pada negeri, menyumbangkan pikiran dan tenaga semampu kami. Yang mendesain dan membangun ini kebanyakan dari mahasiswa kesenian, seni rupa .... Kalau saya sendiri dari Universitas Indonesia .... Bahkan juga ada beberapa teman dari Pajajaran dan ITB. Kami saling berbagi ilmu." jelas pemuda itu.


    "Nah, Putri .... Kenapa kamu gak ikutan sama Melian ...?! Kok malah membiarkan pergi .... Mahasiswa-mahasiswa lain dari mana-mana saja ikutan membantu Melian. Kamu itu gak kreatif, malas .... Gimana sih, kamu ...?!' tentu mamanya langsung mecucu.


    "Maafkan Putri, Ma ...." lagi-lagi, Putri merasa sangat bersalah, dan menyesal dengan semua sikapnya terhadap Melian selama ini.


    "Neng ..., Ibu .... Silahkan keliling, amati semua hasil karya kami. Itu di depan ada kerajinan-kerajinan hasil karya para warga pemulung di sini ...." kata pemuda itu, yang ternyata adalah mahasiswa dari perguruan tinggi terkenal.


    "Eh, iya ..., Bang .... Tapi titip pesan, kalau Melian datang, tolong kami dikasih tahu, ya ...." kata mamanya Putri, yang tentu juga ingin menyaksikan kampung itu secara menyeluruh.


    "Iya, Bu ...." jawab si pemuda volunteer tersebut.

__ADS_1


    Putri bersama mamanya langsung jalan-jalan berkeliling, memandangi bangunan unik-unik di kampung itu. Perempuan anak dan ibu itu pun saling bicara. Yang tentunya mamanya Putri banyak memuji tentang kehebatan Melian. Bangga dengan hasil yang dikerjakan oleh Melian. Dan tentu, banyak menuntut kepada anaknya agar bisa seperti Melian.


    "Ini, lhoh ..., kamu mesti belajar sama Melian .... Dia banyak teman ..., baik-baik semua .... Dan pasti volunteer-volunteer itu mahasiswa yang pandai-pandai." kata mamanya, yang ingin Putri ikut kegiatan seperti Melian.


    "Iya, Ma ...." tentu Putri hanya bisa menjawab ya. Tanpa komen macam-macam. Takut dimarahi oleh mamanya.


    Namun saat mereka masih mengamati barang-barang hasil produksi daur ulang, tiba-tiba dua perembuan itu dikagetkan oleh pelukan orang dari belakangnya.


    "Putri ...!! Ibu ...!!" Melian merangkul dua wanita ibu dan anaknya. Sahabat dan ibunya Putri yang pernah dikunjungi di kampungnya yang ada di Manado.


    "Melian .......!" sang ibu itu, mamanya Putri, langsung membalik dan memeluk Melian.


    "Melian .......!" demikian juga Putri, yang tentu memeluk erat sahatnya yang sudah pergi meninggalkan dirinya itu. Ada rasa rindu, ada rasa kengen yang tak terhingga. Dan tentu rasa penyesalan sudah saling meninggalkan.


    "Putri .... Maafkan sikapku selama ini .... Maafkan aku yang pergi dari asrama tanpa pamit pada kamu .... Maafkan aku yang suka mengatur dirimu ...." kata Melian yang seakan tidak mau melepaskan pelukannya dengan Putri. Tentu Melian merasa bersalah setelah meninggalkan Putri tanpa pamit.


    "Aku yang salah, Melian .... Maafkan saya .... Ternyata semua kata-katamu benar, Mel .... Orang-orang yang aku percaya ternyata pendusta semua .... Maafkan aku, ya ..., Mel .... Huk ..., hu ...." Putri menangis dalam pelukan Melian. Pasti menyesali semua yang sudah dilakukan. Dan kini malah dirinya sudah kehilangan segalanya.


    "Yang sabar, Putri .... Hidup itu memang banyak cobaan. Tetapi hadapilah semua rintangan itu dengan kebaikan-kebaikan .... Yang penting kamu sadar dan bisa memilih jalan yang benar. Jangan khawatir .... Aku tetap sahabat kamu ...." kata Melian yang tentu memberi penghiburan untuk Putri.


    "Terima kasih, Melian ...." kata Putri yang langsung menyeka air matanya denga ujung jarinya.


    "Eh ..., ayo .... Ikut aku .... Kita menikmati kuliner di sini, sambil menyaksikan keindahan metropolitan." Melian mengajak Putri dan mamanya menuju cafetaria, yang berada di pinggir sungai Ciliwung.


    Mereka bertiga langsung masuk ke cafe, yang memang sengaja didirikan di tepi sungai. Cafe dengan bangunan unik yang belum ditemukan di tempat lain. Konsep pendekatan ke sungai, memadukan antara air dan daratan. Melian memilih duduk di pojok, yang berada di atas sungai, agar bisa leluasa untuk mengamati alam sekitarnya..


    "Ini belum selesai. Itu, para tukang masih pada bekerja untuk menyelesaikan obyek. Rencananya masih akan dibangun obyek wisata sungai. Rencana teman-teman, nanti ada kuliner yang menggunakan perahu-perahu tradisional. Para penikmat kuliner bisa menikmati hidangan di atas perahu. Otomatis untuk membuat tempay ini romantis, kita akan menjaga kelestarian sungainya. Setidaknya menjaga kebersihan sungai." Melian menjelaskan rencana proyeknya.


    "Hmmm ..., bagus sekali .... Pasti habis uang banyak untuk membangun ini semua ...." kata mamanya Putri.


    "Tidak, Ibu .... Ini semua kerja bareng warga sini .... Prinsipnya, membangun untuk mandiri .... Hasilnya untuk mereka semua. Jadi, ya ..., mereka senang melakukan semua ini." Melian menjelaskan semua proses pembangunan di perkampungan itu.


    "Mau pesan apa, Cik ...?" tiba-tiba seorang gadis menawarkan menu makanan dengan cara menyodorkan lembaran daftar menu kepada Melian dan dua perempuan yang diajaknya itu.


    "E, Mbak .... Minta kelapa muda tiga, ya .... Aku mau bakso. Putri mau makan apa? Ibu Mau mencoba menu apa?" kata Melian yang langsung menawarkan kepada Putri dan mamanya.


    "Aku bakmi goreng, sama cumi bumbu asam manis." kata Putri.


    "Saya mau coba soto betawi, sama mau mencoba kerak telor ...." kata mamanya Putri.


    Gadis yang melayani itu pun langsung bergegas menyampaikan pesanan ke bagian order. Selanjutnya seorang pemuda mengantarkan tiga buah kelapa muda yang sudah dibuka bagian atasnya, dan tentu buah kelapanya sudah diserut, dan ada sedotan di dalamnya. Kelapa muda itu disajikan kepada tiga pembelinya.

__ADS_1


    "Maaf, Melian ..., saat ini kamu tinggal di mana? Terus terang saya sangat khawatir ...." tanya Putri pada Melian.


    "Itu .... Rumah yang dikunjungi banyak orang itu .... Namanya rumah transformasi. Banyak yang tinggal di situ. Teman-teman dari universitas-universitas lain yang bermalam juga pada tidur di situ. Termasuk wartawan atau tamu-tamu dari luar, banyak yang ikut tidur di situ. Jadi tidak usah dikhawatirkan, kami di sini semua seperti keluarga, saling tolong dan saling membantu." jawab Melian yang tentu tersenyum bahagia.


    "Kemarin, waktu Melian dipanggil di jurusan, teman-teman beramai-ramai mengarak Melian, ingin rasanya aku menubruk kamu .... Tapi sayang, tidak bisa karena terhalang banyak mahasiswa." kata Putri mengingat susahnya mau ketemu Melian.


    "Aah, itu teman-teman kita yang terlalu mengada-ada ...." sahut Melian yang tetap merendah.


    "Kamu hebat, Mel .... Dapat penghargaan dari mana-mana .... Bahkan dipanggil pejabat ke mana-mana ...." kata Putri lagi yang tentu merasa sangat jauh bila dibandingkan Melian.


    "Dapat penghargaan apa? Dari siapa?" tanya mamanya Putri yang tentu penasaran.


    "Aah ..., biasa saja, Ibu ..., Putri .... Itu semua karya dan hasil kerja teman-teman dan warga sini kok. Ya, yang dapat penghargaan mereka semua .... Itu, penghargaannya saya taruh di rumah transformer. Eh, kabarnya Wijaya bagaimana ...?" tanya Melian.


    Putri langsung terkejut mendengar pertanyaan itu. Ibarat tersambar petir di siang bolong. Pertanyaan yang sangat mengagetkan. Menggugah masa kelam yang mestinya terkubur jauh.


    "Baik-baik saja, Mel ...." kata Putri yang menyembunyikan putusnya hubungan dirinya dengan Wijaya.


    "Wijaya, siapa ...?" tanya mamanya.


    "Teman kuliah, Ma ...." jawab Putri, yang tentu tidak mau menceritakan masalahnya pada mamanya.


    "Hati-hati kalau berteman dekat dengan laki-laki .... Jangan bermain api, nanti kau bisa terbakar ...." kata mamanya lagi, yang tentu mengingatkan anaknya.


    "Iya, Ma ...." sahut Putri yang sebenarnya hatinya terasa hancur. Tentu apa yang dikatakan oleh mamanya itu sudah terjadi pada dirinya. Ia sudah dicampakkan oleh Wijaya. Dan wajah Putri, kembali menunduk karena menahan pedih dan perih rasa hatinya.


    Mereka bertiga menikmati makan siang. Ada bakso, ada bakmi, ada soto betawi, serta berbagai macam makanan kudapan khas Jakarta. Sangat asyik dan terlihat akrab. Tentu sambil menikmati keindahan Sungai Ciliwung yang punya potensi wisata sangat istimewa. Dan yang pasti ditemani hiruk pikuk kendaraan yang tak henti menghiasi jalanan metropolitan.


    "Melian, Ibu sangat senang dan bangga padamu. Ibu akan langsung pulang nanti sore, balik ke Manado. Terima kasih sudah diajak makan siang. Semoga pekerjaan kalian cepat selesai dan sukses." kata mamanya Putri.


    "Terima kasih sudah mengunjungi kami, Ibu .... Salam buat Bapak dan adik-adik di Manado." kata Melian membalas ucapan mamanya Putri.


    "Ya .... Oh, iya .... Ini ada oleh-oleh dari Ibu. Silakan dinikmati bersama kawan-kawan Melian ...." kata mamanya Putri lagi, yang sambil memberikan kardus oleh-oleh.


    "Terima kasih, Ibu ...." kata Melian sambil menerima kardus oleh-oleh yang dibawa dari Manado tersebut.


    Lantas Putri juga menyalami Melian. Berpamitan dengan Melian. Akan pulang ke asrama.


    "Melian, kamar asrama selalu terbuka untuk kamu .... Aku menunggu kedatanganmu, kembali bersama di asrama." kata Putri pada Melian.


    "Kamu sudah putus dengan Wijaya, kan ...?" bisik Melian di telinga Putri.

__ADS_1


    "Jangan bilang Mama .... Tolong buka HP kamu, nanti malam kita bicara berdua." Putri membalas berbisik di telinga Melian.


    "Dada Ibu ...! Dada Putri ...!" Melian berteriak memberi salam perpisahan, yang tentu ingin menunjukkan kalau sebenarnya mereka berdua terlihat baik.


__ADS_2