
Sementara itu, setelah membawa tiga mayat dari vila, mobil ambilan dan para polisi itu bablas ke Rumah Sakit Umum Daerah. Akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang kasus kematian itu. Yaitu dilakukan autopsi. Ya, kematian-kematian tidak wajar seperti yang terjadi dalam vila di Bandungan itu, harus mendapatkan penyelidikan lebih lanjut, untuk mencari penyebab kematian itu.
Autopsi adalah prosedur untuk mencari tahu tentang sebab, cara, kapan, dan bagaimana seseorang bisa meninggal. Autopsi mayat biasa dilakukan pada kasus kematian seperti tindak kekerasan, kematian tidak wajar atau kematian yang mencurigakan, misalnya tindakan bunuh diri, overdosis obat-obatan terlarang, atau diracun. Kematian dari tiga remaja yang masih sekolah SMA, yang terjadi di vila ini, termasuk kasus kematian yang mencurigakan. Maka oleh pihak kepolisian kasus kematian di vila tersebut harus di selidiki.
Sebenarnya autopsi itu ada banyak jenisnya. Namun pelaksanaannya disesuakan dengan kebutuhan atau tuntutan masalahnya. Misalnya saja autopsi klinis, dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan untuk mengambil kesimpulan dari penyebab kematian. Sedangkan autopsi forensik, dilakukan atas perintah pihak berwajib, seperti kepolisian atau kejaksaan, untuk kepentingan hukum. Autopsi forensik ini dilakukan terutama pada kasus kematian akibat tindak pidana.
Untuk kasus kematian tiga remaja dalam vila di Bandungan ini akan dilakukan autopsi forensik. Karena kematian yang terjadi dianggap ada kemungkinan terkait dengan tindak pidana. Tidak semua orang dapat melakukan autopsi mayat. Kegiatan autopsi ini hanya boleh dilakukan oleh dokter ahli patologi atau dokter ahli forensik.
Autopsi harus dilakukan secepat mungkin. Hal ini dilakukan untuk mencegah hilangnya informasi penting akibat proses pembusukan mayat. Dalam proses autopsi, pertama kali dokter akan melakukan pemeriksaan eksternal atau bagian luar tubuh. Seluruh fakta mengenai kondisi tubuh direkam dan dicatat. Biasanya dilakukan pemotretan seluruh tubuh. Pemeriksaan eksternal meliputi tinggi dan berat badan, bentuk gigi, warna mata, goresan atau bekas luka, hingga tato atau tanda lahir yang bisa dijadikan bukti identitas. Rekaman bisa dibuat dengan menggunakan foto sebanyak dan seakurat mungkin, melingkupi keseluruhan detail tubuh jenazah tersebut.
Proses autopsi selanjutnya adalah pemeriksaan internal atau bagian dalam dari fisik jenazah, yang dilakukan melalui pembedahan untuk memeriksa kondisi organ dalam tubuh. Hal ini bertujuan untuk melihat ada-tidaknya sisa racun atau zat lain dalam jantung, paru-paru, ginjal, hati, hingga isi perut yang mungkin jadi penyebab kematiannya. Di samping itu, pembedahan juga dilakukan untuk melihat adanya kerusakan organ. Ini untuk memastikan penyebab kematian bila tidak ditemukan sisa zat-zat yang mencurigakan.
Namun untuk melakukan autopsi, pihak kepolisian harus mendapatkan izin tindakan autopsi dari pihak keluarga. Meskipun karena peristiwa kematian ini dianggap ada kepentingan hukum atau forensik, maka tindakan autopsi dapat dijalankan sesuai perintah pengadilan atau koroner.
Pihak kepolisian Polsek Bandungan tidak mau melakukan autopsi secara langsung. Pihak kepolisian akan menghubungi keluarga terlebih dahulu, untuk meminta persetujuan.
"Halo ..., selamat pagi .... Ini dari Polsek Bandungan, apakah bisa bicara dengan Pak Pieter?" petugas polisi itu meneleponpemilik vila sebagai tempat kejadian perkara.
"O, ya betul .... Saya sendiri. Bagaimana? Ada apa? Apa butuh sumbangan?" jawab orang yang ada di telepon tersebut.
"Terima kasih, Bapak .... Ini hanya mengabarkan sekaligus memberi tahu, bahwa di vila Bapak Pieter telah terjadi peristiwa kematian di dalam kamar vila." kata polisi itu.
"Yaampun .... Benarkah itu? Siapa? Kapan?" tentu Pak Pieter itu kaget mendengar berita dari polisi yang meneleponnya.
"Kami belum bisa memastikan, Pak .... Karena ini ada tiga mayat. Mohon Bapak kami minta untuk datang ke Rumah Sakit Umum Daerah, untuk memastikan siapa remaja-remaja yang meninggal ini." pinta polisi itu agar pemilik vila bisa membantu.
"Lhah, apa diidentitasnya tidak tertera nama dan alamat? Pak Jan apa tidak tahu?" tanya pemilik vila tersebut.
"Maaf, Pak ..., mohon kerja samanya untuk membantu kami. Karena tiga remaja yang meninggal ini semuanya telanjang. Ada identitas, tetapi saya tidak tahu mana yang anak Bapak. Semua keluarga dari ketiga anak ini sudah kami hubungi. Jadi kami mohon Bapak segera ke rumah sakit. Kami akan minta ijin untuk autopsi." kata polisi itu yang menegaskan kepada pemilik vila.
Mau tidak mau, Pak Pieter, sang pemilik vila itu harus berangkat menuju RSUD Genuk di Ungaran. Ia segera menyuruh sopirnya untuk mengantarkan. Hanya sendiri. Tidak mengajak istrinya. Untuk mengatasi masalah-masalah seperti itu, ia tidak mau mengajak istrinya. Biasanya istrinya lamban dan cerewet. Maunya macam-macam. Malah memperlambat acara.
__ADS_1
Sang sopir langsung ngebut, seperti permintaan majikannya. Menuju arah Ungaran, dan langsung masuk ke halaman parkir rumah sakit.
Pak Pieter, sang pemilik vila, langsung dijemput oleh petugas polisi yang membawa map berisi berkas-berkas, dan diajak masuk ke ruangan. Ada yang akan dibicarakan terkait permasalahan kematian di vilanya.
"Ini kami akan meminta persetujuan dari keluarga untuk melakukan autopsi, Pak." kata polisi itu pada Pak Pieter.
"Saya harus tahu keadaan anak saya lebih dahulu .... Kalau memang tidak perlu autopsi, saya akan ambil saja." jawab orang itu, yang tentu tidak ingin ada proses autopsi karena akan memperlambat pengambilan jenazah.
"Tapi bagaimana dengan kasusnya?" tanya polisi itu.
"Dugaannya apa?" tanya orang tuanya.
"Over dosis, Pak ...." jawab polisi yang menyampaikan dugaan awal.
"Ya, sudah .... Saya lihat dulu. Kalau ada unsur kekerasan, saya minta diselidiki. Tapi kalau hanya over dosis, biar langsung kami bawa ke rumah duka." kata Pak Pieter yang sangat tabah dan bisa menerima kenyataan.
Hanya sebentar masuk ke ruang itu, Pak Pieter langsung mengajak melihat korbannya. Pemilik vila itu ingin segera tahu, apakah benar anaknya meninggal karena over dosis, atau ada kekerasan.
"Ini, Pak .... Tiga jenazah yang meninggal di kamar vila Bapak ...." kata polisi itu yang menunjukkan tiga jenazah yang terbujur.
Dua orang polisi yang sudah berada di tempat itu, langsung membukakan kain penutup mayat, tepat di bagian wajah. Ketiga mayat yang terbaring itu dibuka semua tutup wajahnya. Tentu agar orang tua yang datang itu mengenali anaknya, dan mungkin juga untuk teman-temannya.
"Oh, Tuhan ...." Pak Pieter syok, langsung berlutut di sisi jenazah anaknya.
Tiga orang polisi yang ada di ruang itu, tentu ikut berempati menyaksikan orang tua yang kehilangan anaknya dengan cara yang mengenaskan.
"Kami ikut prihatin, Pak .... Kami ikut berduka cita ...." kata salah satu petugas kepolisian yang mendekat dan menepuk pundak Pak Pieter tersebut.
"Terima kasih, Pak .... Mohan maafkan saya ...." kata Pak Pieter yang mencoba bangun dengan dipapah oleh polisi yang memeluknya.
"Tolong diperlihatkan badan dan kakinya." perintah polisi itu.
__ADS_1
Dua polisi yang tadi membuka tutup jenazah, langsung memperlihatkan tubuh Cung Kek kepada bapaknya, agar diamati secara seksama, memastikan kondisi fisiknya.
"Ini, Pak .... Tidak ada luka fisik. Di vila Bapak, kami menemukan botol-botol minuman keras dan sisa obat-obatan terlarang. Jadi kesimpulan kami, anak-anak ini over dosis. Kalau Bapak ingin memastikan penyebab kematian, maka kami akan melakukan autopsi." kata polisi itu.
"Tidak usah diautopsi. Biar saja anak saya akan saya ambil untuk saya bawa ke rumah duka di Semarang." kata sang bapak itu yang tentu sudah mau menerima kenyataan kematiannya anaknya,
"Nanti Bapak bisa melihat ruang di vila, bukti masih utuh. Petugas kami yang akan mengantarkan. Tapi maaf, untuk sementara vila kami segel, kami tetap akan melakukan penyelidikan." kata polisi itu memberi kesempatan kepada pemilik vila untuk melihat bukti-bukti.
Laki-laki pemilik vila itu diam tidak menjawab. Kesedihan sangat terlihat dari raut wajahnya. Lantas Pak Pieter merogoh kantongnya, mengeluarkan handphone, benda yang belum begitu populer saat itu, sebagai barang mewah yang hanya dimiliki orang-orang kaya. Handphone yang masih berukuran besar dengan antena eksternal.
"Halo ..., Mi ..., Cung Kek, Mi .... Cung Kek meninggal di vila .... Di Bandungan ...." orang kaya itu memberi tahu istrinya. Pasti di rumahnya, istrinya langsung menangis.
Tetapi tidak memperpanjang pembicaraan. Lantas Pak Pieter itu menelepon orang lain.
"Halo ..., Yayasan Budi Kasih .... Ya, saya minta tolong pengurusan kematian anak saya .... Mohon dipersiapkan segalanya di rumah duka, dan tolong kirim mobil pembawa jenazah untuk mengambil anak saya di Ungaran. Ya ..., ya .... Posisi mayat di RSUD Ungaran." ternyata Pak Pieter pemilik vila itu menghubungi layanan kematian, yang biasa mengurusi jenazah sampai pemakaman maupun kremasi, termasuk mengurus tempat di rumah duka. Ya, di kota besar urusan kematian sudah ada organisasi yang menangani. Tentu jasa seperti ini sangat membantu bagi keluarga yang menandang duka.
Setelah selesai telepon dengan yayasan kematian, sang bapak itu mengangkat kembali handphonnya, menelepon saudara dan kerabatnya. Pasti menyampaikan kabar duka itu, dan mungkin juga meminta untuk dibantu berbagai hal yang terkait dengan acara kematian.
Setelah cukup menelepon, berkali-kali bertelepon, lantas Pak Pieter pemilik vila itu mengajak polisi untuk melihat bukti-bukti yang ada di vilanya. Tentu termasuk ada mobil yang diparkir di garasi vilanya.
"Saya pakai mobil pribadi, Pak .... Nanti langsung meluncur turun ke Semarang, untuk mengurus yang di rumah. Administrasi dan lain sebagainya, biaya macam-macam, nanti akan diurus oleh petugas yang mengambil jenazah."
Dua mobil beriringan menuju Bandungan. Yang di depan mobil polisi, di belakangnya sedan putih yang dijalankan oleh sopir pemilik vila. Hanya sebentar, Ungaran - Bandungan tidak jauh. Dua mobil itu sudah sampai di depan vila.
Sontak warga masyarakat yang ada di dekat vila itu langsung berkerumun. Melihat apa yang akan dilakukan oleh polisi. Terutama Pak Jan, yang bertugas menjaga dan membersihkan vila itu. Begitu tahu pemilik vila itu datang, ia langsung berlari menemui dan maenyalami.
Ada dua polisi di vila itu. Polisi sudah melakukan investigasi tempat kejadian perkara atau TKP, di vila itu. Mereka mencari bukti lain yang dapat mendukung kemungkinan terjadinya kematian.
Begitu masuk ke vila, orang tua Cung Kek kaget. Ruangan itu berbau menyengat karena tumpahan minuman beralkohol. Tempatnya berserakan tidak karuan.
Lemas tubuh Pak Pieter. Anaknya sudah salah pergaulan. Dan kini menjadi korban.
__ADS_1