
Malam itu, teman-teman Jonatan dari SMA Nasional, pada berdatangan melayat Jonatan di rumah duka. Tentu suasana duka sangat terlihat jelas dari keluarga Jonatan. Ibunya menangis terus-terusan. Apalagi setiap ada anak SMA, teman-teman Jonatan yang datang. Pasti isak tangis itu semakin menjadi. Tentu ibunya teringat akan anaknya yang meninggal secara tragis. Anehnya kok ya sendirian tanpa ada temannya yang tahu.
Maka teman-teman Jonatan selalu bergantian berdatangan ke rumah duka, untuk memberikan penghiburan kepada keluarga Jonatan. Setidaknya, mereka menemani bapak, ibu sera adiknya yang tentu sangat kehilangan.
Seperti malam itu, ada sekitar tujuh siswa dari SMA Nasional, datang di rumah duka, tempat Jonatan disemayamkan. Ada lima anak laki-laki dan dua anak perempuan. Setelah berdoa di sisi peti mati yang sudah ditutup, karena pihak keluarga maupun dari pihak pemulasara jenazah menghendaki agar wajah Jonatan yang rusak tidak diperlihatkan, mereka langsung duduk berjejeran menjadi satu. Tentu agar lebih nyaman duduk dekat temannya sendiri.
Ya, memang wajah atau kepala Jonatan, saat mengalami jatuh, kepalanya terbentur batu yang ada di jurang, hingga helem yang dikenakan terbelah dan tentu mengakibatkan kepalanya terbentur batuan. Wajar kalau pihak yayasan pengurus kematian meminta kepada keluarga untuk lendung menutup peti, karena tidak dimungkinkan untuk merias wajah. Dan justru dikhawatirkan akan menakutkan orang melihat. Sangat ngeri. Sangat kurang etis untuk dilihat para pelayat.
Teman-teman satu kelas Jonatan yang malam itu datang di rumah duka, duduk di kursi bagian belakang, menghadap ke peti jenazah. Mereka saling bercerita. Tentunya membahas masalah kecelakaan yang dialami oleh Jonatan.
"Memang Jonatan itu ke Bandungan sendirian?" tanya salah satu teman yang membuka pembicaraan.
"Iya, ya .... Masak ke Bandungan kok sendirian .... Nggak mungkin, lah ...." sahut yang lainnya.
"Dulu waktu masih dekat dengan Mei Jing, ke mana-mana pasti sama Mei Jing .... Tapi sekarang Mei Jing keluar, sama siapa ya?" tanya yang lainnya.
"Mungkin kamu tahu, Lan ...? Teman dekatnya siapa?" tanya teman yang lain pada salah satu teman perempuan itu.
"Eh ..., itu dulu pernah dekat-dekat dengan anak kelas I D ..., apa benar?" sahut lainnya.
"Anak I D, siapa?" tentu teman lainnya kaget.
"Katanya mendekati Melian." sahut teman perempuan itu.
"Ihh ...! Bisa disikat sama Melian .... Dulu saja Jonatan sudah pernah dipukul Melan sampai tersungkur di lantai, kok ...." sahut perempuan satunya.
"Iyah, betul .... Tidak mungkin lah, kalau sama Melian. Jonatan mikir dua kali .... Takut kalau dipukul lagi. Hehe ...." teman yang laki-laki itu nyengenges, teringat dirinya juga pernah dipukul sama Melian, sama seperti Jonatan.
"Cewek itu galak, ya ...?!" tanya teman yang lain, yang tentu ingin tahu tentang kegalakan Melian.
"Ya, kalau pengin merasakan pukulannya, coba saja .... Saya sudah pernah merasakan, kok .... Hehe ...." sahut teman laki-laki yang sudah pernah dipukul itu.
"Ssttttt .......! Coba kalian lihat .... Itu ..., pelayat yang datang .... Itu, yang berdiri di sisi peti Jonatan .... Bukankah dia itu Melian ...???" salah seorang dari tujuh anak kelas I B itu menunjuk ke arah orang-orang yang berdiri memberi doa untuk jenazah.
"Yang mana ...?!" teman-temannya bertanya, yang tentu tatapan penglihatannya langsung menuju ke arah orang-orang yang berdiri berdoa di tepi peti jenazah.
"Itu ...! Itu, yang berdiri di ujung peti, dekat foto." kata temannya yang melihat, sambil menunjuk ke arah orang yang dimaksud.
"Mana, sih ...?! Gak ada ya ...." sahut beberapa temannya yang langsung mengamati, tetapi tidak melihat murid kelas I D yang bernama Melian tersebut.
__ADS_1
"Itu, lho ...! Sebelahnya tante-tante yang berdoa pakai baju ungu itu ...." teman yang bilang melihat itu tetap mengeyel.
"Ah ..., gak ada .... Ngacau kamu ...!" temannya yang tetap tidak melihat juga membantah, kalau di orang-orang yang berdatangan memberi doa itu tidak ada Melian.
Merasa tidak dipercaya oleh teman-temannya, dan ingin menunjukkan kalau dirinya tidak berbohong, maka anak itu langsung berdiri dan melangkah, ingin menghampiri Melian. Tentunya nanti akan diajak duduk dengan teman-temannya, agar teman-temannya yang tidak percaya tadi menjadi yakin. Maklum tempat mereka duduk memang cukup lumayan jauh, dari ujung belakang hingga sampai di peti mati. Belum lagi karena banyak pelayat yang ikut berdatangan dan keluar masuk di ruang duka itu, pasti menyebabkan setiap orang yang datang tidak bisa diamati secara sempurna atau jelas. Maka untuk meyakinkan teman-temannya, anak itu akan mengajak Melian duduk bersamanya.
Namun belum sampai di dekat peti mati, gadis yang berdoa dekat foto Jonatan, yang oleh temannya dianggap sebagai Melian tadi, sudah pergi meninggalkan peti jenazah, melangkah keluar dari ruang duka.
Anak kelas I B yang berusaha menemui tadi bergegas keluar, ingin menemui Melian. Namun sesampai di luar rumah duka, Melian sudah tidak ada. Melian sudah hilang.
"Melian ...!! Melian ...!!" anak laki-laki itu berteriak memanggil Melian. Namun tidak ada jawaban, Artinya Melian sudah tidak ada di situ.
"Ah ..., kemana anak itu tadi ...?! Kok cepat sekali menghilang ...." gerutu anak itu, merasa kecewa tidak bisa menemukan Melian.
Akhirnya anak laki-laki itu kembali ke tempat teman-temannya.
"Mana Melian ...?" tanya teman perempuan yang sejak tadi penasaran.
"Sudah pergi .... Mungkin langsung pulang ...." sahut anak yang mengejarnya tadi, pasti dengan wajah agak kecewa.
"Hahaha .... Mana mungkin kamu bisa mengejar .... Baru disentuh Melian saja kamu sudah terjungkal ...." ejek temannya yang tahu kalau temannya itu waktu dipukul Melian juga tergelatak di lantai yanpa daya.
"Gak usah dibahas ...! Itu masa lalu ...." sahut anak itu yang tentu tersipu malu.
"Oh, iya .... Kalau itu memang benar, itu memang Melian .... Sana disamperin ..., ajak ke sini." sahut yang lain.
Spontan anak laki-laki yang mengejar sampai di luar halaman rumah duka tadi, langsung berdiri berniat untuk mendatangi Melian, dan tentu akan mengajaknya duduk kumpul bersama teman-temannya yang sudah menggerombol di belakang peti jenazah. Ia bergeser melingkar mencari jalan di sela-sela tempat duduk tamu-tamu yang lain. Maklum, semakin malam tamu yang datang semakin banyak, dan kursi tamu hampir penuh diduduki. Tentu, anak laki-laki itu tidak bisa cepat untuk mencapai tempat duduk Melian yang ada di dekat pintu, tempat keluar masuk para pelayat.
Dan setelah sampai di dekat pintu, anak itu tengak-tengok, mencari Melian. Namun Melian sudah tidak ada. Kursi yang semula dia lihat diduduki Melian, kini sudah berganti nenek-nenek tua yang duduk di situ. Lagi-lagi Melian sudah menghilang. Tentu dia kecewa untuk yang kedua kalinya. Kembali iamencoba keluar ruangan. Tengak-tengok kanan kiri, melihat ke tempat parkir, juga mengamati ke jalanan, bahkan menuju ke tempat tukang becak yang sedang mangkal di depan rumah sakit itu, menanyakan kalau tahu ada anak gadis yang keluar atau naik becak. Tetapi tukang becak itu mengatakan tidak ada.
Ia kembali ke depan ruang duka. Tidak masuk. Tetapi hanya melambaikan tangannya, memberi tanda memanggil temannya. Tentu agar temannya yang melihat lambaian tangannya itu langsung merespon menuju ke tempatnya.
Dua orang temannya yang melihat lambaian tangan, langsung berdiri dan melangkah keluar. Menuju ke temannya yang memanggil dari luar ruang duka.
"Ada apa?"
"Mana Melian?"
Tentu temannya langsung bertanya. Terutama menanyakan Melian yang katanya akan diajak masuk duduk bersama teman-temannya.
__ADS_1
"Melian pergi .... Tidak ketemu. Mungkin sudah pulang." jawab anak yang tadi keluar mencari itu.
"Ya, sudah .... Mungkin dia boncengan sama orang lain." sahut temannya.
"Tapi baru saja keluar, saya cari kok sudah tidak ada .... Kan aneh ...." bantah anak yang mencarinya.
"Mungkin saja naik motornya ngebut ...." sahut temannya.
"Ya, bisa jadi kalau yang memboncengkan kangsung tancap gas. Atau mungkin jajan ke warung kuliner di Simpang Lima ...." kilah temannya lagi.
"Iya juga .... Mungkin saja diajak jajan ke Simpang Lima." akhirnya anak yang mencari dan tidak menemukan itu pasrah.
"Kita pulang sekarang, yuk .... Takut kemaleman .... Jalan ke rumahku sepi. Aku takut ...." ajak salah satu temannya.
"Halah ..., nggak solider .... Masak temannya meninggal nggak mau nunggui ...." sahut temannya.
"Betul .... Jalan ke rumahku sepi dan gelap ..., nanjak lagi ...." jelas anak yang ingin pulang dahulu.
"Ya, nggak papa sih .... Sana pulang, nanti terlalu malam, malah tambah sepi." sahut teman yang satunya.
"Ya ..., makasih, Bro .... Tolong pamitkan ke teman-teman." kata anak itu yang langsung melangkah menuju tempat parkir motor.
Teman-temannya kembali masuk, kembali berkumpul dengan lima teman yang lain. Sementara yang minta pamit, sudah sampai di tempat parkir sepeda motor, Tentu di situ banyak motor terparkir. Baik dari para pelayat, pembezuk pasien rumah sakit, naupun karyawan maupun keluarga pasien. Memang tempat parkir antara rumah sakit dan rumah duka menjadi satu halaman, karena tempatnya memang bergandengan. Anak itu masih mencari motornya. Walau disorot lampu terang benderang, tetapi mencari motor di malam hari tetap saja agak bingung.
Setelah bebarapa saat, ketemulah motor yang dicari. Namun ia kaget saat menemukan motornya, di jok motor itu ada anak perempuan yang duduk mematung. Pasti jantung anak itu langsung terataban. Ia hanya bisa melihat dari belakang. Rambut dan perawakan serta pakaian gadis itu, persis seperti Melian yang ia dan teman-temannya lihat saat di rumah duka.
Dengan jantung berdebar kencang, anak SMA itu berkata, "Permisi ..., saya mau pulang, mohon ijin saya mau mengambil motor saya ...."
Gemetar suara anak laki-laki yang akan pilang itu. Takut dengan gadis yang duduk di motornya.
Gadis itu turun dari jok motor. Lantas berjalan pergi tanpa menoleh dan memperhatikan orang yang mengajaknya bicara. Diam dan berlalu tanpa suara.
Anak laki-laki siswa kelas I B yang punya motor itu mengamati kepergian gadis yang menduduki motornya. Langkah jalannya betul-betul sama dengan Melian. Pasti gadis ini adalah Melian.
Anak itu kemudian merogoh kantong, mencari kontak kendaraan. Namun beberapa kantong yang dicari belum ketemu. Baru setelah bebarapa saat, ia baru ingat kalau kunci kontak itu dimasukkan ke dalam tas. Maka ia kemudian membuka tas, mencari kontaknya. Dasar dengan rasa agak takut, maka segalanya dilakukan secara grogi. Nah, akhirnya ketemu.
Ia memasukkan kontak di motor dan menstater kendaraan.
"Jrengngng ...." kendaraan menyala.
__ADS_1
Sebelum ia meninggalkan halaman parkir, sebenarnya berniat mengantarkan gadis yang duduk di motornya tadi, seandainya ia benar Melian. Namun setelah tengak-tengok mencari, gadis itu sudah tidak ada,
Mengkorok bulu kuduknya. Ia pun segera menarik gas motor dan melaju kencang untuk segera pulang. Tentu dengan rasa takut.