GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 147: PINDAH SEKOLAH


__ADS_3

    "Mak ..., Pak .... Melian tidak mau sekolah lagi ...." begitu kata Melian kepada bapak dan ibunya di saat nonton televisi bersama di ruang keluarga.


    "Lhoh ..., kok ...?!" Juminem langsung bengong melihat wajah anaknya.


    "Memang kenapa ...? Nilai raportmu bagus, lho .... Bahkan Melian dapat ranking pertama .... Berarti kan di Semarang, kamu termasuk anak yang hebat ...." sahut Jamil yang memuji anaknya.


    "Melian gak cocok sekolah di Semarang .... Pokoknya Melian gak mau sekolah lagi ...."anak itu ngambek.


    "Hloh .... Kok gak mau sekolah itu bagaimana ...? Terus mau ngapain ...?" Jamil mulai khawatir dengan kata-kata anaknya.


    "Anak Semarang nakal-nakal ...." kata Melian yang kesal.


    "Memang Melian diapain ...?" tanya ibunya yang tentu ingin tahu masalah yang dihadapi anaknya.


    "Melian mau diperkosa ...." jawab Melian sambil mencucu.


    "Hah ...?! Mosok sih ..., yang benar, Nduk ...?!" Juminem kaget.


    "Iya, Mak ...!" jawab Melian yang masih kesal jika teringat kasusnya waktu di Bandungan.


    "Walah .... Kok kurang ajar sekali anak itu .... Lha ..., terus  ..., kamu tidak apa-apa to, Nduk?" tanya Juminem yang tentu sangat khawatir.


    "Tidak apa-apa, Mak .... Tapi saya tidak mau seperti itu lagi .... Kapok ...." kata Melian yang juga kesal dengan orang-orang yang mau mencelakainya.


    "Syukurlah .... Yang penting kamu bisa menjaga diri dan selamat." sahut Juminem.


    "Pak-e yakin, Melian pasti bisa melawan orang-orang jahat ...." Jamil menimpal, yang tentu membanggakan anaknya.


    "Iya, Pak .... Tapi kan Melian juga takut ...." kata Melian yang memelas.


    "Syukurlah, Tuhan masih melindungimu ...." kata Juminem yang tentu senang karena anaknya selamat.


    "Makanya .., Melian gak mau sekolah lagi ...." sahut Melian.


    "Tapi kamu masih kecil, Mel .... Kalau tidak sekolah terus mau ngapa ...? Eman-eman, Nduk .... Wong cah pinter kok tidak mau sekolah itu terus besok mau jadi apa ...." tambah bapaknya yang tentu menyayangkan jika anaknya tidak mausekolah.


    "Pokoknya Melian tidak mau masuk sekolah lagi ...! Melian takut ...." Melian tetap bersikukuh tidak mau sekolah.


    "Ya, sudah .... Tidak mau sekolah di Semarang tidak apa-apa .... Tapi bagaimana kalau misalnya sekolahnya pindah di Pati ...?" kata bapaknya yang memberi alternatif kepada Melian. Tentu berharap anaknya mau sekolah.


    "Iyo, Nduk .... Malah dekat .... Jadi tidak perlu kost .... Mak-e tidak kangen ..., hehehe ...." sahut Juminem yang tentu lebih senang kalau anaknya sekolah di tempat yang dekat.


    "Bagaimana ...? Mau kan, sekolahnya pindah ke Pati ...?" Jamil mencoba merayu anaknya yang sedang mutung tidak mau sekolah.

__ADS_1


    Melian diam. Belum menjawab. Tetapi terlintas di wajahnya, ia mulai berpikir kalau sekolah di Pati, mungkin kondisinya tidak seperti di Semarang. Pati hanyalah kota kecil. Yang tentu anak-anaknya lebih baik dan tidak terpengaruh dengan dunia kebebasan seperti di kota besar. Di Semarang banyak anak orang kaya yang diberi kebebasan oleh orang tuanya, dengan uang yang gampang dicari, mereka berfoya-foya tanpa aturan. Tentu akibatnya banyak yang menyalah gunakan harta kekayaan orang tuanya, hanya untuk kesenangan duniawi. Walaupun ada juga teman yang baik. Tetapi memang hidup di kota besar lebih banyak godaannya.


    Apalagi saat ia ingat waktu SMP dulu, ia dan teman-temannya selalu akrab dan bermain bersama. Sering belajar kelompok. Bahkan banyak temannya yang sering datang ke rumahnya untuk mengerjakan PR bersama-sama. Namun sayang di Juwana belum ada SMA yang terkenal. Kalau ingin masuk sekolah favorit, harus ke Kota Pati.


    "Tidak usah kost .... Biar besok diantar sama Mas Irul. Pulangnya naik angkot ...." tambah bapaknya yang sambil mengelus rambut anaknya yang halus lembut itu.


    "Iya, Nduk .... Dekat kok .... Kalau ada apa-apa gampang, tidak harus pulang pergi jauh-jauh ...." tambah ibunya.


    "Terus minta diajari naik motor sama Mas Irul .... Lhah, besok kalau sudah lancar, sudah bisa naik motor, Pak-e belikan motor sendiri." kata Jamil yang merayu anaknya agar mau sekolah.


    "Mau dibelikan motor ...? Yang bener, Pak ...?" Melian mulai bereaksi. Tentu senang mendengar akan dibelikan motor.


    "Iya .... Asal Melian mau sekolah lagi ...." kata Jamil sambil tersenyum, pasti iming-imingnya akan membuat Melain tertarik.


    "Mau ..., mau ..., mau ..., Pak .... Melian mau ...!" kata Melian yang tentu sangat bahagia mendengar janji bapaknya itu.


    "Kalau memang mau, besok kita daftar ke SMA Ka di Pati .... Di sana banyak anak keturunan Cina. Jadi kamu bisa sepadan. Bagaimana? Atau mau sekolah di Juwana saja ...? Di Madrasah juga boleh ...." kata Jamil mencoba memberi pilihan.


    "Kalau pindah ke SMA Negeri, gitu ..., apa tidak bisa, Kang ...?" tanya Juminem.


    "Ya ..., ada yang bisa .... Tapi belum tentu mau kalau jumlah muridnya sudah penuh. Tapi kalau pertimbangan saya lebih bagus dan lebih dekat ke SMA Ka .... Di tengah kota itu." kata Jamil yang memberi pertimbangan.


    "Lhah, kamu maunya sekolah di mana, Nduk ...?" tanya ibunya.


    "Ya ..., kalau begitu, besok kita ke sekolah itu, daftar pindah .... Biar Pak-e nyuruh Mas Tarno untuk mengantar ke Pati." kata Jamil pada anaknya.


    "Ya, Pak ...." Melian sudah tersenyum senang.


*******


    Akhirnya Mlian pindah sekolah. Kini ia berteman dengan anak-anak yang umumnya berasal dari Pati. Maka logat bahasa, gaya hidup maupun budayanya, masih sama. Tidak berbeda seperti waktu SD maupun SMP. Hanya saat masih SD, teman-temannya sekitar desanya, dan saat SMP juga masih sekitaran desanya ditambah beberapa desa yang berdekatan dengan sekolahan. Tetapi ketika ia pindah untuk bersekolah di SMA Ka, teman-temannya sudah lumayan jauh. Walaupun banyak yang rumahnya di dekat sekolah itu. Kebanyakan muridnya berasal dari anak-anak keturunan Cina yang ada di daerah sekitar Pati, seperti dari Trangkil, Tayu, Juwana, Rembang, Kudus dan Lasem. Ada juga anak yang berasal dari Tuban. Namun kebanyakan, anak-anak yang dari jauh itu punya saudara di Kota Pati. Sehingga saat bersekolah di SMA itu, mereka tinggal di rumah saudaranya. Hanya beberapa anak yang kost di Pati, karena jauh dari saudara.


    Seperti halnya Melian, meski ia dari Juwana, ia tidak minta kost. Takut nanti akan terjadi masalah lagi seperti waktu di Semarang. Dan Juminem, ibunya, tidak membolehkan anaknya kost. Juminem lebih khawatir. Makanya, setiap pagi ia diantar berangkat sekolah. Tidak jauh. Hanya sekitar dua belas kilometer. Kalau naik motor hanya dua puluh menit dengan perjalanan santai. Terkadang diantar oleh bapaknya. Kadang kala juga diantar oleh Irul. Kalau pas hujan, Jamil minta tolong Mas Tarno untuk mengantarkan. Maklum Jamil belum bisa nyopir. Kalau Irul sudah lumayan bisa menyetir, tetapi belum punya SIM. Makanya tidak berani ngantar dengan mobil.


    "Mas Irul ..., nanti siang saya diajari naik sepeda motor, ya ...." kata Melian saat diboncengkan Irul berangkat sekolah.


    "Sore saja .... Siang kan masih kerja ...." jawab Irul yang tentu bersedia, tetapi minta setelah selesai kerja.


    "Yaa .... Terima kasih ya, Mas ...." jawab Melian.


    "Memang besok mau naik motor sendiri, kalau berangkat sekolah?" tanya Irul.


    "Iya .... Kalau saya sudah bisa naik motor, akan dibelikan sama Pak-e ...." jawab Melian.

__ADS_1


    "Asyik ...." sahut Irul.


    "Apanya yang asyik ...?" tanya Melian.


    "Mas Irul nggak ngantar lagi ...." jawab Irul.


    "Iih ..., Mas Irul ...! Ya dianter .... Kan Melian belum bisa naik motor ...." kata Melian yang langsung mencubit pinggang Irul.


    "Auch ...!! Sakit, Mel ...!" Irul menjerit dan pura-pura kesakitan.


    "Alaaa .... Kalau dicubit Cik Indra saja malah minta lagi .... Hehehe ...." goda Melian.


    "Gimana sekolah Melian di Pati? Enak mana dengan sekolah di Semarang?" taya Irul yang ingin tahu.


    "Enak di Pati, Mas Irul .... Anaknya baik-baik. Tidak seperti di Semarang, banyak yang sombong .... Apalagi yang kaya-kaya ..., main perintah kayak sama kacungnya." kata Melian yang masih terngiang dengan kenangannya waktu di Semarang.


    "Oo .... Seperti itu, ya .... Kok tidak punya etika dan perikemanusiaan ...." kata Irul yang tentu juga kurang senang dengan sikap teman-temannya Melian.


    "Makanya, kalau saya disuruh sekolah lagi di Semarang, saya tidak mau ...." kata Melian yang sudah tidak mau sekolah di Semarang lagi.


    "Yah .... Makanya besok kalau berteman, pilih teman yang baik-baik .... Jangan sampai keliru .... Nanti kalau dapat teman yang nggak baik, ya ..., jadinya kayak dulu lagi .... Pasti ngajak-ajak yang tidak baik." kata Irul menasehati Melian.


    "Iya, Mas Iru .... Maafkan Melian ...." kata Melian yang langsung membenamkan kepalanya di punggung Irul. Tentu ia merasa sudah keliru ketika berteman dengan orang yang belum ia kenal kebaikannya.


    Entah kenapa, setiap kali Melian dekat dengan Mas Irul, ia merasa nyaman, merasa tenteram, dan merasa terlindungi. Sebenarnya, bukan mulai dari ketika Irul bekerja di Juwana, di tempat Jamil menjadi karyawan perusahaan kuningan Bima Sakti. Tetapi sejak Melian masih bayi, setiap kali diajak oleh Cik Lan ke kios Babah Ho, selalu meminta digendong oleh Mas Irul. Walau saat itu Melian belum bisa mengucap kata-kata, tetapi tangannya selalu melambai memberi isyarat kepada Irul untuk dibopong.


    Sebaliknya, kalau pas pembeli di kios Babah Ho sepi, Irul juga senang menggoda Melian. Pasti Melian bayi yang digoda langsung tertawa gembira. Lantas merangkak untuk menggapai Irul. Kala itu, Irul yang hanya lulus SMP, harus bekerja untuk mencari uang.


    Apalagi setelah Cik Lan, mamahnya Melian, meninggal, Irul merasa sangat iba dengan keberadaan Melian yang masih bayi, tetapi sudah menjadi yatim piatu. Setiap kali disuruh mengantar susu dan sembako ke rumah Jamil, Irul pasti menggendong dan mencumbu Melian. Maka tidak heran ketika ia mendapat kabar saat rumah Jamil musnah dibakar warga, dan dikatakan kalau seluruh penghuninya terbakar, Irul langsung pingsan. Ia merasa sangat kehilangan.


    "Mas Iru ...." kata Melian yang masih menyandarkan kepala di punggung Irul.


    "Iya .... Ada apa?" sahut Irul yang tentu kaget dengan pikirannya di masa lalu.


    "Nanti siang pulang sekolah, aku di jemput, ya ...." kata Melian meminta kepada Irul.


    "Aku kan kerja, Mel ...." jawab Irul.


    "Bilang Pak-e, aku minta dijemput Mas Irul ...." kata Melian lagi yang tentu sedang memanja kepada Irul.


    "Iya .... Nanti saya bilang Pak Jamil dulu .... Siapa tahu yang disuruh njemput Mas Tarno." sahut Irul yang justru melempar ke orang lain.


    "Iih .... Gak mau ...!! Melian maunya dijemput Mas Irul ...!" Melian langsung memukul manja ke punggung Irul.

__ADS_1


     Itulah .... Setelah Melian pindah sekolah yang dekat rumah, maka Irul jadi sasaran kemanjaannya.


__ADS_2