
Tanpa terasa, ternyata sudah tiga bulan lamanya Melian kuliah di Jakarta. Tentunya sudah mengikuti perkuliahan setidaknya sepuluh kali pertemuan dengan dosen-dosen yang kebanyakan berasal dari praktisi. Bukan saja bergelar doktor akademik atau profesor, tetapi para dosen ini rata-rata adalah pelaku-pelaku bisnis yang luar biasa. Tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga berasal dari luar negeri. Itulah sebabnya, kalau kuliah di sini harus menguasai bahasa Inggris, tidak hanya pasif, tetapi berbahasa aktif untuk cas cis cus dengan dosen-dosen yang berasal dari luar negeri. Tempat Melian kuliah ini adalah Universitas bertaraf internasional. Bahkan mahasiswanya juga banyak yang berasal dari luar negeri. Otomatis para mahasiswa selalu berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Banyak keuntungan bagi para mahasiswa jika ada mahasiswa dari luar negeri atau dosen-dosen dari manca negara, yaitu memperlancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Dan setidaknya nanti, jika ikut kuliah kerja lapangan atau KKL, yang biasanya adalah ke perusahaan-perusahaan terkenal di luar negeri, maka para mahasiswa harus paham dengan bahasa yang disampaikan oleh para pemapar, yang tentu menggunakan bahasa Inggris.
Di Universitas Harapan itu, khususnya jurusan manajemen bisnis, tempat Melian kuliah, tidak ada mata kuliah bahasa Inggris. Tetapi mahasiswanya dituntut untuk bisa berbahasa Inggris. Karena dosennya yang dari luar negeri pasti dalam mengajar menggunakan bahasa Inggris. Demikian juga buku-buku kuliah, yang rata-rata ditulis dalam bahasa Inggris. Maka mau tidak mau, para mahasiswa itu harus mengikuti kursus sendiri-sendiri. Termasuk Melian, yang harus memperdalam kemampuan berbahasa Inggris. Meski waktu duduk di bangku SMP dan SMA Melian sudah ikut les bahasa Inggris, tetapi guru lesnya itu lebih menekankan bagaimana menjawab soal-soal dalam ujian. Bukan bahasa inggris untuk percakapan atau conversation. Padahal yang dibutuhkan kali ini adalah mendengarkan pembicaraan dosen, apa arti kata-kata yang disampaikan oleh dosen dalam perkuliahan. Termasuk saat ditanya oleh dosen, ia harus mampu berbicara dalam bahasa Inggris.
Itulah sebabnya Melian harus kursus percakapan bahasa Inggris, atau yang lebih dikenal dengan istilah conversation, baik dengan structural conversation, functional conversation, maupun situational conversation. Yang penting Melian sanggup memahami penjelasan dosen dan bisa berbicara saat harus dimintai pendapat.
Saat tanpa malu Melian menyampaikan niatannya itu kepada teman sekamarnya, yaitu Putri, untuk mengikuti kursus bahasa Inggris, yaitu conversation, ternyata Putri juga niatan yang sama.
"Putri .... Terus terang saya kalau menerima penjelasan kuliah dari dosen-dosen luar negeri, agak kurang bisa menangkap, karena kemampuan bahasa Inggris saya masih lemah. Rencananya saya akan ikut kursus. Jadi mohon maaf kalau misalnya hari-hari besok saya sering pulang terlambat." kata Melian yang tentu sambil menunduk malu. Khawatir akan diejek oleh temannya itu.
"Hah .... Yang benar, Mel ...? Kursus di mana? Aku ikut .... Terus terang saya juga tidak sanggup menerima penjelasan dosen-dosen yang memakai bahasa Inggris .... Aku ikut kursus, ya ...." kata Putri yang ternyata malah juga kepingin ikut kursus.
"Lhah .... Kalau begitu kita kursus bersama saja .... Setidaknya ada teman .... Jadi bisa pergi pulang bersama." sahut Melian yang tentu berubah menjadi bingar karena ternyata bukan hanya dirinya yang tidak sanggup bahasa Inggris.
"Terus ..., kursusnya di mana?" tanya Putri.
"Besok kita cari. Setidaknya kita bisa lihat di iklan atau internet, pusat-pusat lembaga bahasa. Pasti banyak .... Jakarta kan kota besar yang penduduknya juga banyak yang butuh bisa berbahasa Inggris. Setidaknya pejabat-pejabat yang mau ke luar negeri, pasti minta dikursusi dahulu oleh lembaga-lembaga kursus." jawab Melian.
"Oke .... Besok kita cari bersama." Putri pun setuju.
Benar. Siang harinya, setelah pulang kuliah, Melian dan Putri berjalan kaki di daerah Legok - Karawaci. Mereka berdua akan mencari tempat kursus bahasa Inggris yang ada di sekitar tempat itu. Sudah umum, di sekitar kampus memang banyak lembaga-lembaga kursus bahasa. Biasanya lembaga kursus itu juga menyiapkan layanan tes ACEPT dan TOEFL. Tentunya untuk membantu orang-orang yang akan pergi ke luar negeri. Apalagi di daerah perguruan tinggi yang sangat maju, banyak mahasiswa yang melanjutkan studi ke luar negeri. Ternyata tidak hanya satu lembaga bahasa, tetapi ada beberapa lembaga penyelenggara kursus. Tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
__ADS_1
Melian dan Putri menyusuri jalan-jalan kampung di daerah Kelapa Dua. Tentu perkampungan di Jakarta berbeda dengan kampung di Pati atau Manado. Yang jelas membedakan adalah kepadatan kampungnya. Ya, tidak bisa dipungkiri lagi kalau perkampungan Jakarta adalah daerah yang padat penduduk. Gambaran itu terlihat dari bangunan-bangunan rumah yang berjubel, empet-empetan, bahkan lebih terkesan semrawut. Jalan gang di perkampungan yang padat itu memang tak begitu luas. Namun deru suara motor tidak pernah berhenti membisingkan telinga. Jalan gang yang sempit itu tidak hanya sebagai sarana lalu-lalang kendaraan, tetapi menjadi tempat beraktivitas masyarakatnya. Bahkan juga, sebagian dari rumah-rumah yang berhimpit itu menjadi tempat usaha, seperti warung rokok, warung makan. Termasuk tempat kursus yang didatangi oleh Melian dan Putri.
Memang kondisi Jakarta seperti itu. Melian dan Putri harus maklum. Tentu demi ilmu. Yang penting apa yang menjadi niatnya bisa terlaksana, yaitu belajar conversation bahasa Inggris.
"Selamat siang .... Silahkan masuk .... Ada yang bisa kami bantu?" kata receptionist LPK itu yang berada di samping pintu masuk, saat ada dua tamu yang datang.
Melian dan Putri masuk ke ruang itu, lantas menuju meja receptionist.
"Maaf, Mbak .... Kami mau tanya kalau untuk ikut kursus bahasa Inggris, apa masih bisa?" tanya Putri yang yang berada tepat di depan perempuan yang jaga di meja receptionist itu.
"Bisa .... Mau kursus yang seperti apa? Untuk keperluan sertifikasi TOEFL, TOEIC, IELTS? Untuk pelajaran? Atau untuk untuk UMKM dan Conversation?" tanya petugas yang menjaga ruang receptionist itu.
"Terus terang kami ingin kursus bahasa Inggris agar bisa memahami apa yang dikatakan oleh dosen saya, serta kalau ditanya kami bisa menjawab dengan berbicara menggunakan bahasa Inggris." Jawab Putri.
"Kapan kami bisa mulai?" tanya Putri.
"Hari ini langsung kursus juga boleh .... Atau nanti bisa memilih jadwal, disesuaikan dengan jadwal kuliah agar tidak tumbukan. Ini formulirnya mohon diisi dahulu ...." Kata si mbak yang berjaga di bagian administrasi tersebut, yang langsung memberikan formulir pendaftaran.
Lantas Putri dan Melian mengisi formulir pendaftaran. Mereka pun langsung memilih jadwal yang dirasa paling enak. Dan tentunya minta waktu yang jumlahnya jam paling banyak.
"Mau mulai kapan?" tanya petugas tersebut kepada Melian dan Putri.
"Gimana, Mel ...? Sekarang apa besok?" tanya Putri yang minta pertimbangan.
__ADS_1
"Ini mulainya jam tiga sore .... Apa kita mau menunggu di sini?" tanya Melian yang juga memberi pertimbangan mulainya kursus.
"Ditunggu di sini juga boleh .... Tidak apa-apa .... Kurang sebentar saja kok ...." kata perempuan petugas administrasi itu.
"Ya sudah ..., kita tunggu saja ...." kata Putri.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sampai pada waktu. Melian dan Putri membuka pintu, akan masuk ke ruang kursus. Di ruang kelas itu sudah ada instruktur, laki-laki tinggi agak kurus, berkulit putih dengan hidung mancung. Melihat ciri-ciri fisik orang itu, pasti berasal dari negeri asing. Sangat meyakinkan untuk mengajar kursus bahasa Inggris.
"Please, come in ...." kata instruktur itu menyuruh muridnya masuk.
Putri dan Melian masuk, sambil tersenyum, dan membungkukkan badan tanda menghormat kepada instrukturnya.
"Please sit down ...." kata instruktur itu lagi yang menyuruh muridnya duduk.
"Maaf, Pak ..., saya belum bisa bahasa Inggris .... Hehe ...." kata Putri yang tersipu malu.
"Ah, tidak apa-apa .... It doesn't matter." kata instruktur itu lagi yang kemudian mengajak berbincang perlahan, lantas disisipi sedikit-sedikit dengan bahasa Inggris.
Mereka selanjutnya mengobrol intens. Tentu si instruktur yang bule itu langsung memulai perbincangan dengan bahasa Inggris. Melian dan Putri pun sudah memulai bicara menggunakan bahasa Inggris, meskipun dengan kata-kata sederhana. Tetapi si instruktur itu sudah mulai membenarkan ucapan-ucapan yang dikatakan oleh Melian dan Putri, yang tentu pengucapannya belum sesuai dengan yang diajarkan oleh instrukturnya. Meski perlahan-lahan, dengan sabar instruktur itu mengajari.
Melian dan putri merasa senang dan cocok dengan pengajarnya itu. Tekniknya sangat baik, mudah dipahami dan cepat ditangkap. Bahkan diajak ngobrol oleh instruktur yang ganteng itu, hingga tidak terasa kalau ternyata waktu kursus sudah berakhir. Dan hari pun sudah menginjak sore.
"Time's up .... Waktu pertemuan kita sudah habis .... See you tomorrow." kata instruktur itu yang mengakhiri pertemuannya.
__ADS_1
Putri dan Melian pulang dengan senang hati. Tentu punya pengalaman baru tentang conversation, yang pasti akan memudahkan dalam menerima perkuliahan yang dosennya menggunakan bahasa Inggris. Dan mereka berdua pun akan memulai bicara menggunakan bahasa Inggris saat dikamarnya. Yang pasti gar bahasa Inggrisnya lebih lancar.