
Juminem sudah membaur dengan segala aktivitas masyarakat di Kampung Naga. Bukan sekadar kenal dengan tetangganya, tetapi juga sering bersama atau berbarengan pada berbagai kegiatan. Termasuk arisan. Tentu, kini ia lebih banyak sering bersama dengan para tetangga. Tidak hanya kalau ada kegiatan warga saja, tetapi juga aktivitas lainnya.
Tentu karena rumah Juminem kini ada penghuninya, maka beberapa tetangga sudah sering datang, masuk atau bahkan dolan ke rumah yang dulu pernah dibilang angker oleh para tetangga tersebut. Namun kini, tidak hanya orang tua yang sering mampir atau sekadar dolan, tetapi anak-anak kecil juga sering bermain di halaman rumah Juminem. Apalagi kalau pohon mangga atau pohon jambu yang ada di halaman rumah Juminem itu berbuah, anak-anak, bahkan juga orang tua, banyak yang sengaja datang untuk meminta buah tersebut.
Kini sudah tidak ada yang ditakuti lagi. Rumah tua yang ditempati Jamil dan Juminem itu, kini menjadi asri dan ramai oleh anak-anak yang bermain. Tentu Juminem senang, karena banyak orang yang menemani dirinya dan anaknya. Dan masyarakat di Kampung Naga pun sudah menjadi nyaman serta tidak takut lagi setiap kali melewati bangunan tua tersebut.
Jamil pun semakin rajin dalam bekerja. Semakin tenang hati dan pikirannya. Makanya ia semakin rajin dalam bekerja, fokus menghadapi pekerjaannya. Hasil pekerjaan yang dilakukan pasti menjadi yang terbaik. Pekerja-pekerja seperti inilah yang disenangi oleh majikan, rajin dan baik. Disuruh apapun siap dan pasti dilaksanakan dan dikerjakan sebaik mungkin. Dan tentu majikan Jamil pun sering memberikan uang tambahan untuk dirinya. Yah, kata majikannya untuk tambah-tambah beli susu anaknya. Pasti Jamil senang, bisa untuk tambahan belanja istrinya.
Tentu kalau diberi uang suaminya, Juminem senang dan langsung menanyakan kepada suaminya, "Nanti mau dimasakkan apa, Kang ...?" begitu kata Juminem.
Pagi itu, setelah suaminya berangkat kerja, yang katanya diajak ke luar kota oleh bos-nya, sambil menggendong Melian, ia mencangking tas belanja, bersama ibu-ibu tetangganya berbelanja ke pasar. Letak Pasar Juwana tidak jauh dari Kampung Naga. Cukup berjalan kaki sebentar, maka segala macam kebutuhan berbelanja tersedia di sana. Paling tidak kalau berbelanja di pasar barang dagangannya masih baru, sayur-mayur masih segar dan yang jelas hatganya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan kalau beli di warung. Itulah sebabnya Juminem lebih senang belanja ke pasar.
Seperti pagi itu, ia ingin membelikan sayuran dan buah untuk anak dan suaminya. Dan kali ini Juminem bersama ibu-ibu tetangganya itu berkeliling mencari barang-barang yang ingin dibeli.
Yang namanya ibu-ibu, sudah menjadi kebiasaan kalau menaruh dompet hanya asal dimasukkan ke dalam tas belanja. Hal itu pasti menggoda mata orang yang melihatnya, terutama copet. Seperti halnya ibu-ibu tetangga Juminem tersebut. Ia menaruh dompet uangnya dalam tas keranjang belanjaan yang sangat jelas terlihat oleh orang-orang yang ada di dekatnya atau orang yang berpapasan. Meski tas belanjaan itu berada di lengannya dan diangkat menempel pinggang, tetapi yang namanya copet pasti akan berusaha mencari lengah untuk mengambilnya. Apalagi saat pagi hari, suasana pasar pasti penuh sesak dengan orang yang berbelanja, yang mestinya saling berdesakan. Kesempatan itulah yang sering dimanfaatkan oleh para copet.
"Ma ..., Ma ...! Ma ..., Ma ...!" kata Melian pada ibunya, dan tangannya menunjuk-tunjuk ke seorang laki-laki yang sudah memepet ke tetangganya itu.
"Ada apa Sayang ...?" tanya Juminem pada anaknya.
"Ma ..., Ma ...! Ma ..., Ma ...!" lagi-lagi tangan Melian sudah menunjuk ke arah laki-laki itu.
Dan benar, Juminem melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya, ternyata laki-laki yang ditunjuk anaknya itu sedang berusaha untuk mengambil dompet ibu-ibu tetangganya itu yang sedang berbelanja.
"Ealah .... Copet ....!" spontan Juminem langsung berteriak kalau ada copet.
"Ada apa ...?!"
"Mana Copetnya ...?!
"Mana ...?!"
"Siapa yang dicopet ...?!"
"Ditangkap ...!!"
__ADS_1
Tentu teriakan Juminem itu langsung mengagetkan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Termasuk tetangganya yang bersamanya, serta ibu-ibu yang dompetnya akan dicopet tersebut. Ibu-ibu yang akan dicopet yang secara reflek menengok dompetnya, langsung kaget saat melihat ada tangan yang sedang mengambil dompetnya.
"Copeeett ....!!!" spontan ia pun berteriak.
Tas belanja yang ada di lengannya itu langsung dihimpitkan ke badannya. Tangan copet itu terjepit di ketiak ibu yang akan dicopet tersebut.
"Mana ...?! Mana copetnya ...?!" orang-orang langsung bertanya ingin tahu yang mana copetnya. Tentu dengan kondisi orang banyak yang saling berhimpitan itu bingung untuk menangkap.
"Ini ...!!! tangannya saya cepit ....!!!" sahut ibu itu.
Maka orang-orang, yang sebagian besar laki-laki, langsung menangkap copet yang sudah tidak berdaya karena tangannya dijepit ketiak wanita yang akan dicopet itu.
"Sebenarnya, sang copet itu sudah menarik tangannya saat Juminem bereteriak copet. Namun entah kenapa, tangan yang sedianya ditarik tersebut seakan terkena lem yang sangat kuat dan menjadi kaku, sehingga tangan itu tidak bisa ditarik. Bahkan sangat mudah untuk dijepit ketiak perempuan yang jadi sasarannya. Pasti copet itu kebingungan. Maka dengan mudah ia ditangkap, dan buktinya pun sangat nyata. Dia tidak bisa mengelak apa-apa.
"Gebuki ....!!"
"Hajar saja ....!!"
"Pukuli ...!!"
"Dibakar ...!!!"
Orang-orang langsung beramai-ramai mengerubut copet itu. Ada yang langsung meninjukan bogem mentah di wajahnya. Ada juga yang memukul dari belakang. Ada yang menendang, ada yang menampar, dan tentu memberikan perlakuan kejam pada copet itu. Bahkan ada juga ibu-ibu yang langsung menjambak rambutnya, dioncet-oncet tidak karuan. Ada juga yang meludahi sambil mengucap sumpah serapah.
"Ampuun .... Ampuun ...." copet itu merintih minta ampun.
Tetapi namanya orang banyak, tentu ada yang tidak mau direngeki oleh copet. Maka dia masih saja menyiksa dengan pukulan dan tendangan berkali-kali. Tidak hanya satu orang, tetapi setiap orang yang datang menghampiri copet itu langsung menjatuhkan kepalan tangannya atai tendangan kakinya.
"Ampuuun .... Wuaduuuh ...." copet itu pun mengaduh kesakitan. Wajahnya sudah bonyok dipukuli orang banyak. Bibirnya sudah benkak dan monyong. Mukanya penuh lebam dan darah. Tangannya sudah sulit untuk digerakkan, karena diinjak-injak oleh orang banyak. Pasti ia merasakan sangat kesakitan.
"Sokor ...!!"
"Kapokmu kapan ...!!"
"Ayo dibakar saja ...!!"
__ADS_1
"Ampuuun ........" copet itu ketakutan. Ia merengek-rengek minta ampun.
Lantas beberapa orang laki-laki menyeret tubuh copet yang sudah tidak berdaya itu keluar dari lorong los pasar. Tentu dibawa ke halaman pasar.
"Bakar ...!!"
"Bakar ...!!"
"Ayo dibakar ...!!"
"Ya ampun .... Ngeri sekali ...."
Ya, copet itu sudah tergeletak tak berdaya di depan pasar. Pada saat itulah petugas polisi datang.
"Kenapa ini?" tanya polisi itu.
"Copet ketangkap, Pak .... Ini mau dibakar ...." sahut salah seorang yang ikut menyeret copet itu.
"Jangan ...! Bapak Ibu tidak boleh main hakim sendiri .... Copet ini biar kami yang menangani." kata polisi itu, yang akhirnya menyuruh orang-orang yang ada di situ untuk mengangkat sang copet itu dan ditaruh di atas mobil pick up milik kepolisian. Copet itu dibawa ke kantor polisi.
"Tolong diberi hukuman yang berat, Pak ...!" celetuk salah seorang yang ada di situ.
"Ya, Pak .... Dihukum yang berat, biar kapok ...!" beberapa perempuan pun ikut bersuara.
"Ya .... Tenang .... Biar kami yang menangani semuanya." kata polisi itu lagi, dan langsung pergi membawa sang copet.
Orang-orang yang berkerumun di luar pasar itu pun membubarkan diri. Kembali pada aktivitas masing-masing. Ada yang langsung ke kios atau los untuk kembali berjualan, para pembeli pun langsung kembali berbelanja untuk mendapatkan kebutuhannya. Demikian pula Juminem bersama ibu-ibu tetangganya itu.
"Untung ada sampeyan ya, Mbak Jum .... Kalau tidak ..., waaah ..., sido ilang dompetku ...." kata ibu yang baru saja mau kecopetan tersebut.
"Halah, Mbakyu .... Kita syukuri tidak jadi kecopetan .... Makanya lain kali hati-hati kalau menaruh dompet. Apalagi di pasar ..., banyak diinceng copet ...." sahut Juminem mengingatkan tetangganya.
"Iya, ya .... Itu salah kita juga karena menaruh dompet sembarangan, menarik perhatian copet .... Hehehe ...." kata wanita itu, yang tentu juga merasa bersalah.
"Tadi itu yang tahu Melian .... Dia menunjuk ke copet itu .... Eee, pas tangan copetnya mau mengambil dompet sampeyan .... Lha kok sampeyan itu ya trengginas, begitu saya berteriak, kok langsung reflek menyepit tangan copet itu .... Jian, hebat sampeyan itu ...." kata Juminem yang tentu tidak mau disebut sebagai pahlawan. Ia justru membesarkan hati tetangganya itu yang berhasil menjepit tangan copet.
__ADS_1
"Iya, ya .... Aku juga heran, kok bisa-bisanya langsung saya cepit di ketiak .... Hahahaha ...." wanita itu tertawa senang karena sudah berhasil menangkap copet.