GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 62: KARMA


__ADS_3

    Pagi itu, di depan rumah juragan kuningan, bos-nya Jamil, berdiri tenda deklit yang menutup jalan dari barat ke timur. Bahkan hingga menutup seluruh halaman rumahnya. Kursi dari besi tertata cukup banyak. Ya, untuk tempat duduk para pelayat. Maklum kenalan, rekan dan saudara Pak Bos juragan kuningan ini sangat banyak, nanti yang melayat pun pasti banyak.


    Di ujung tenda deklit yang ada di jalan, baik di bagian barat maupun timur, terdapat kotak besar yang terbuat dari papan kayu, tempat memasukkan amplop sumbangan dari para pelayat.


    Para karyawannya semua ikut membantu. Para karyawan laki-laki membantu menata kursi, sedangkan yang perempuan, yang hanya ada dua karyawan, sibuk menata permen dan kacang kulit di piring, untuk suguhan para tamu. Demikian juga hanya dengan Jamil, yang tentu sibuk menata kursi bersama teman-teman kerjanya.


    Bos-nya belum terlihat di rumah. Ia masih mengurus jenazah istrinya yang dibawa ke rumah sakit untuk divisum oleh pihak berwajib. Di rumah hanya ada dua anaknya yang masih remaja. Tentu masih menangis karena ditinggal ibunya. Beberapa saudara, entah dari pihak Pak Bos atau dari keluarga istrinya, yang perempuan ada di dalam rumah. Sedangkan yang laki-laki duduk di kursi luar dekat pintu masuk ke rumah. Pasti mereka menyambut dan menyalami para tamu yang pada datang untuk berbela sungkawa.


    Setelah selesai menata kursi serta mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan nanti saat jenazahnya datang, para karyawan yang bekerja di tempat kerajinan kuningan itu, duduk bergerombol di kursi yang tadi sudah ditatanya. Termasuk karyawan perempuan, yang semula membantu menata permen, kacang kulit dan minuman mineral, kini juga ikut nimbrung bersama karyawan yang lain. Pasti mereka lantas membicarakan masalah kematian istri bos-nya yang bunuh diri dengan cara menggantung.


    "Kok tega-teganya, ya ..., istri Pak Bos ini sampai gantung diri?" salah satu karyawan yang berkemupul itu memulai pembicaraan.


    "Iya, Ya .... Padahal Bu Ambar itu orangnya baik, lo ...." sahut yang lainnya.


    "Apa mungkin karena krismon ini, ya ...?" yang lain mencoba berpendapat.


    "Iya, mungkin .... Karena krismon memang menghancurkan segalanya .... Istri saya sering meminta uang untuk beli beras, tapi kalau saya tidak punya uang mau apa lagi ...? Paling-paling saya utang ke warung tetangga." sahut yang lain memberi pendapat.


    "Iya, kalau istrimu hanya butuh beras .... Lha kalau istrinya Pak Bos kan butuhnya macam-macam .... Jadi kebutuhan uangnya juga besar .... Lhah kalau kita saja diistirahatkan ke rumah, dilereni kerja, itu kan artinya Pak Bos tidak punya uang .... Mungkin istrinya langsung stres ...." yang lain berpendapat.


    "Ya, kita tidak tahu .... Doakan saja semoga diampuni dosa-dosanya ...." Jamil ikut menimpal.


    "Tapi ini sudah hampir siang, kok jenazahnya belum dibawa pulang ke rumh, ya ...?" ada yang bertanya seperti itu. Wajar, karena melihat yang melayat sudah banyak berdatangan, tetapi jenazah dan Pak Bos sendiri belum terlihat alias belum datang.


    "Iya, ya .... Kok sampai siang begini, ya ...?" sahut yang lain yang tentu juga bertanya-tanya.


    "Jangan-jangan ....???" yang lain mulai berandai.


    "Jangan-jangan apa ...? Kalau ngomong itu yang ceto ...!" teman yang lain jadi emosi.

__ADS_1


    "Tapi ini masalahnya Pak Bos diajak petugas kepolisian .... Saya khawatir ...." kata karyawan yang bilang jangan-jangan tadi.


    "Lha terus kenapa ...?!" tanya yang lain yang tentu masih bingung dengan kata-kata temannya.


    Bersamaan dengan itu, dari arah barat terdengar suara sirine ambulan. Ya benar, mobil ambulan yang membawa jenazah istri Pak Bos itu datang memasuki halaman rumah duka. Orang-orang langsung bergegas membantu peti mati yang diturunkan dari ambulan.


    Di belakangnya ada mobil bak terbuka milik polisi, mobil kijang yang dimodifikasi dengan dua kursi dari kayu yang dipasang saling membelakangi. Di mobil polisi itu yang di depan ada sopir dengan mengenakan seragam polisi lengkap. Sedangkan di bagian belakang, yang duduk di kursi kayu, ada satu orang polisi yang menghadap ke samping kanan mobil dengan memegang senjata laras panjang. Dua orang polisi di samping kiri, mengapit laki-laki yaitu Pak Bos. Dan ternyata tangan Pak Bos dikecrek alias diborgol. Pak Bos dipegangi oleh dua polisi yang ada di samping kanan kirinya. Dan Pak Bos menangis.


    Pasti orang-orang kaget menyaksikan hal itu. Mereka pun bertanya-tanya, ada apa? Demikian juga para karyawan yang tentu sangat kaget saat melihat bosnya yang diborgol oleh polisi. Ada tanda tanya besar terkait dengan majikannya.


    Dan yang paling bingung adalah keluarganya, saudara dan anak-anaknya.


    "Bapak kenapa ...?! Huhuhu ...." kedua anaknya langsung menubruk bapaknya yang tangannya terborgol dan masih dipegangi polisi, mereka menangis sejadi-jadinya.


    Bapaknya tidk bisa menjawab, hanya mampu menangis dalam pelukan anaknya.


    "Pak Polisi ..., Bapak saya kenapa, Pak ...?! huu ..., huu ..., huu ...." dua anak remaja itu memegangi tangan polisi yang membawa bapaknya, menangis ingin tahu masalahnya.


    Tidak hanya anak itu yang menangis karena saking sedihnya. Tetapi juga saudara-saudaranya, keluarganya, dan tentu juga para pelayat. Mereka merasakan ada kesedihan yang teramat berat dengan kematian istri bos juningan itu. Tidak ketinggalan, para karyawan yang menyaksikan bosnya yang sangat menyedihkan tersebut. Dan tentu dugaan para pelayat, bos kuningan itulah yang sudah menjadi tersangkan terhadap kematian istrinya. Setidaknya, ia sudah dituduh menyebabkan kematian istrinya.


    Wajar saja para pelayat maupun saudara-saudaranya, apalagi karyawannya beranggapan istrinya sudah dibunuh oleh suaminya. Hal itu karena bos pengusaha kuningan itu tangannya diborgol serta dijaga oleh polisi. Itu hanya rasa kemanusiaan saja, polisi membawa dirinya untuk menyaksikan pemakaman istrinya. Dan setelah itu, sang suami akan dijebloskan ke dalam penjara.


    Dua polisi yang lain menjaga agak jauh dari bos kuningan yang berdiri diapit dua rekannya. Polisi yang berjaga itu mengatur para pelayat yang akan memberikan salaman dan ucapan bela sungkawa. Salamannya tidak boleh lama, begitu bersalaman langsung disuruh menyingkir. Semua tamu tidak bisa bersalaman lama. Meski tangan juragan kuningan itu terborgol. Tetapi para petugas itu menghendaki agar cepat dalam memberi ucapan duka.


    Satu persatu tamu pelayat memberikan ucapan berbela sungkawa, sambil bersalaman. Dan tentu dengan perasaam sedih. Bos kuningan itu menerima salaman dari para pelayat dengan derai air mata. Sedih yang sangat menyayat hati.


    "Cepat ..., cepat ..., cepaaat ...!" kata petugas polisi yang menyuruh para pelayat itu mempercepat salamannya.


    Tidak hanya para tetangga dan kenalan yang memberi salaman ucapan duka. Tetapi para karyawannya, anak buahnya, pekerja-pekerjanya juga antri bersalaman memberi ucapan bela sungkawa. Tentu perasaan hati juragan kuningan itu semakin nelangsa saat melihat para karyawannya. Dan terutama, saat ia disalami Jamil.

__ADS_1


    "Mas Jamil ....! Mas Jamil ....!! Ampun, Mas Jamil .... Maafkan saya, Mas Jamil ...." bos kuningan itu menangis mengisak tidak karuan saat disalami Jamil. Ia berusaha memeluk Jamil.


    "Cepat ..., cepat ..., cepaaat ...! Tidak boleh pakai peluk-pelukan ...!" petugas kepolisian itu membentak, dan mendorong tubuh Jamil agar segera pergi meninggalkan bosnya.


    Jamil yang hanya diam, pasrah tidak melawan. Ia tahu aturan yang dibuat oleh polisi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka Jamil pun segera pergi berlalu, sambil menundukkan kepala. Ikut prihatin dengan nasib majikannya.


    "Mas Jamil ....!! Mas Jamil ....!! Ampuni saya, Mas Jamil ...! Huuk ..., huk ..., huk ....." bos kuningan itu menangis sangat keras, seakan merasa bersalah dengan Jamil. Ingin rasanya ia mengejar Jamil. Tapi ia tak kuasa, karena sudah dipegangi oleh dua orang petugas yang ada di kanan kirinya itu.


    Dan hanya beberapa saat saja polisi itu memberi kesempatan kepada para pelayat untuk mengucapkan bela sungkawa kepada juragan kuningan itu. Dan selanjutnya, mayat istrinya harus segera dikuburkan. Semuanya diminta cepat oleh para petugas dari kepolisian tersebut.


    Masyarakat hanya sanggup menurut perintah polisi. Mereka pun langsung bergegas menggotong keranda menuju kuburan.


    Acara pemakaman yang sangat menyedihkan. Tragis dan dramatis. Linangan air mata dan duka dalam yang mengiringi penguburan istri bos juragan kuningan Kota Juwana tersebut. Sedih bagi anaknya, sedih bagi saudara-saudaranya, dan ratapan pilu dari suaminya.


    Tapi bagi para pelayat, menimbulkan seribu tanda tanya dengan kematian gantung diri itu. Apalagi saat melihat suaminya justru diborgol dan dijaga oleh polisi. Benarkah pembunuhan istrinya itu dilakukan oleh suaminya?


    Pada saat pemakaman, di tanah pekuburan, bos kuningan itu membisikkan kata-kata kepada kedua anaknya. Tentu pesan-pesan yang harus dijalankan oleh anaknya, manakala nanti ayahnya ditahan oleh polisi dan dimasukkan ke penjara.


    "Hancur sudah harapan kita .... Kita semua akan jadi pengangguran ...!" kata salah seorang karyawan kerajinan kuningan itu kepada teman-temannya.


    "Lhah ..., kok ...?!" teman-temannya yang lain tentu tanda tanya.


    "Kalau Pak Bos ditahan, terus siapa yang akan melanjutkan usahanya ...???" kata orang itu tadi.


    "Iya ..., ya .... Berarti kita harus segera cari pekerjaan lain. Setidaknya untuk menyambung hidup kita ...." sahut karyawan yang lain.


    "Kalian masih muda .... Lha saya masih tua .... Mau kerja apa lagi? Siapa yang mau menerima saya kerja?" kata salah seorang karyawan yang memang sudah tua.


    "Apa perlu kita minta pesangon pada anaknya ...?!" sahut yang lain, yang agak emosional.

__ADS_1


    "Jangan sekarang .... Besok kalau sudah tujuh hari kirim doa yang meninggal .... Biar arwah ibunya tenang dulu ...." sahut yang lebih bijaksana.


    "Yah ..., saya setuju. Besok setelah kirim doa tujuh hari, kita langsung menyampaikan hal ini kepada anak-anaknya. Setidaknya kita dapat pesangon. Lumayan untuk kepul-kepul dapur." yang lain pun setuju.


__ADS_2