GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 35: CERITA-CERITA SERAM


__ADS_3

    Sejak peristiwa pembakaran rumah Jamil, suasana Desa Sarang berubah seratus delapan puluh derajat. Kampung yang dahulu aman tentram dan nyaman, kini mendadak berubah menjadi kampung yang menakutkan. Pasalnya, di bekas rumah Jamil yang dibakar oleh warga desa, kini terlihat seram dan menakutkan. Bekas rumah yang kini hanya terlihat puing-puing kayu yang terbakar, yang hanya sisa abu dan arang hitam teronggok di atas lahan berlantai keramik itu, memang tidak didekati lagi oleh orang-orang. Warga mengira di tumpukan bekas bakaran itu masih ada sisa-sisa abu Jamil, Juminem dan anaknya yang terbakar bersama hangusnya harta bendanya, yang oleh warga kampung dituduh hasil pesugihan dengan cara memelihara hantu cekik.


    Memang setelah rumah Jamil itu dibakar, warga kampung langsung meninggalkan begitu saja. Mereka tidak mau berurusan dengan pembakaran itu. Maka mereka semua menganggap bahwa Jamil, Juminem dan anaknya sudah terbakar di dalam rumah yang sudah diikat pintunya dari luar tersebut.


    Kini, puing-puing sisa pembakaran rumah Jamil teronggok tanpa ada yang mau menengok, membersihkan, bahkan tidak mau menyingkirkan abu dan arang yang berserakan tersebut. Yang pasti pemandangan tidak indah itu jadi mengotori kampung. Yang pasti, bekas rumah Jamil itu menjadi tempat yang mulai dihindari orang yang lewat.


    Memang, suasana menyeramkan selalu datang setiap matahari mulai tenggelam. Ya, orang yang melintas di bekas rumah Jamil itu pasti ketakutan dan berteriak minta tolong. Katanya, ia menyaksikan makhluk hitam besar semacam raksasa yang mengangkat tangannya dengan bulu yang lebat, seakan mau menerkam dan memangsa siapa saja yang melintas di tempat itu.


    Pernah, suatu sore, ada ibu-ibu yang membeli belanjaan di warung tetangganya. Kebetulan ia harus melintas di depan bekas rumah Jamil tersebut. Saat itu matahari baru saja tenggelam. Suasana gelap pun mulai menyelimuti kampung.


    "Tolooooong ....!!!" suara teriakan keras dari seorang wanita minta tolong.


    Namun habis itu suara minta tolong itu terhenti. Orang-orang yang mendengar langsung keluar. Tentu mencari asal orang yang minta tolong. Terutama kaum lelaki yang lebih berani jika dibandingkan wanita. Tentu orang-orang yang mencari asal suara itu kebingungan karena sudah berhenti.


    "Siapa yang minta tolong?"


    "Tidak tahu .... Suara perempuan ...."


    "Di mana ...?!"


    "Kedengarannya asal suaranya dari sini ...."


    "Tolong ambil baterai .... Mungkin tidak terlihat ...."


    Ya, memang karena tempat itu sudah gelap, sehingga tidak begitu jelas penglihatan orang-orang yang mencari. Dan setelah lampu baterai disorotkan, terlihat ada seorang wanita yang tergeletak di pagar halaman rumah Jamil. Pagar yang terbuat dari bambu, yang sebagian sudah roboh karena diinjak-injak oleh warga kampung saat mengepung rumah Jamil.


    "Ini .... Ada orang pingsan di sini ...!"


    "Hah ...?! Ada yang pingsan ...!!!"


    "Ada orang pingsan ...!!!"


    Begitu suara teriakan orang-orang yang mencari suara wanita minta tolong tadi. Tentu teriakan yang mengabarkan kalau ada orang pingsan, langsung didatangi oleh warga yang lain. Pasti mereka ingin tahu, siapa yang pingsan.


    "Walah, Mbakyu Tirah ...." kata salah seorang yang sudah melihat wajahnya.


    "Ya, ini Mbakyu Tirah .... Tadi baru saja belanja ke warung saya ...." sahut perempuan pemilik warung yang baru saja melayani tetangganya itu.


    "Ayo digotong .... Diantar ke rumahnya ...." sahut laki-laki yang menolong.


    "Ayo ..., ayo ..., ayo .... Kita gotong bersama ...." sahut orang-orang yang lain.


    Akhirnya, wanita yang pingsan itu langsung digotong bersama dan diantarkan ke rumahnya. Lantas digeletakkan di tempat tidur. Suaminya langsung memijit-pijit kakinya, agar istrinya cepat siuman.


    Seorang wanita, tetangganya, mengambilkan minum teh hangat diberi gula dan garam sedikit, lantas memakai sendok dimasukkan ke mulutnya.

__ADS_1


    "Hah ...? Haah ...?! Haah ...? Ada apa? Aku di mana?" setelah sadar Mbahyu Tirah itu terlihat bingung.


    "Ini di rumahmu .... Kamu tadi pingsan .... Ini minum dahulu untuk memberi tenaga tubuhmu ...." kata wanita yang memberikan minum itu.


    "Walah .... Pingsan ...?" tanya wanita yang baru saja sadar dari pingsannya.


    "Lhah, kok bisa pingsan itu kamu tadi nglihat apa?" tanya salah seorang laki-laki yang ikut membantu mengangkat tetangganya itu.


    "Yaampun, Kang .... Saya masih selamat ini, ya ...?!" tanya Mbakyu Tirah, ibu muda yang baru punya anak kelas empat sekolah dasar itu.


    "Iya ..., kamu selamat, Yu .... Ini lho suamimu ..., itu anakmu ...." sahut orang-orang yang masih mengerubung.


    "Memangnya ada apa to, Yu ...?" tanya yang lain.


    "Tadi itu saya belanja, beli obat nyamuk .... Lhah, saat lewat depan rumahnya Juminem, ada bayangan hitam besar ..., mau menerkam saya .... Saya lari, tiba-tiba tangan makhluk raksasa itu sudah menyeret saya. Saya sudah menjerit minta tolong .... Tapi saya terus diseret sama makhluk hitam besar itu." kenang Mbakyu Tirah saat mengingat kejadiannya.


    "Walah .... Apa itu genderuwo, ya ...?"


    "Untuk kamu masih tersangkut pagar bambu pekarangan itu, Yu ...."


    "Iya, ya .... Kalau tidak tersangkut bisa jadi sudah dimakan sama yang nunggu pekarangan Jamil itu ...."


    "Waduh .... Lha kok menakutkan begitu ...."


    "Nanti saya pulangnya bagaimana ...? Saya takut lewat depan rumahnya Juminem ...."


    "Hiya, yae yo ...."


    "Walah .... Kemarin baru saja kita diteror hantu cekik .... Lha kok sekarang ganti genderuwo .... Malah tambah serem ...."


    "Lha yang memelihara kan sudah mati, to ...? Sudah dibakar oleh warga begitu, kok .... Masak makhluk peliharaannya masih keluyuran ...."


    "Ya bisa saja to, Yu .... Nanti kalau sudah ada orang lain yang mengambil untuk dipelihara, dia ikut majikannya yang baru."


    "Oo .... Begitu ya  ...."


    Dua hari berikutnya, malam yang gelap, kebetulan malam itu sedang turun rintik gerimis. Cuaca yang tidak baik untuk keluar rumah.


    Tetapi ada seorang ayah yang memaksa anaknya yang masih SD, untuk pergi ke warung membelikan rokok. Namanya anak, jika disuruh oleh orang tuanya, apapun yang terjadi ia tetap berangkat ke warung untuk membeli rokok.


    Namun, sudah cukup lama si anak yang masih kecil itu, yang masih kelas empat sekolah dasar, pergi ke warung tetapi belum juga pulang.


    "Buk .... Ini si tole pergi ke warung kok lama sekali. ya ...?" kata sang ayah itu kepada istrinya.


    "Lhah ..., Bapak itu bagaimana, to ...? Wong gerimis-gerimis begini kok malah nyuruh anaknya pergi ke warung ...." sahut yang perempuan.

__ADS_1


    "Saya suruh beli rokok .... Saya nggak bisa udut, Bu ...." sahut sang bapak.


    "Ealah ..., bocah cilik kok dipaksa hujan-hujanan ke warung beli rokok .... Bapak itu gimana, sih ...?!" kata yang perempuan lagi.


    "Iya, ya Buk .... Kok lama sekali, ya ...?" sang bapak kini menjadi bingung, karena merasa ada yang aneh dengan anaknya yang pergi ke warung tidak pulang-pulang.


    "Wis, kono ndang disusul ke warung .... Siapa tahu anaknya tidak berani pulang ...." sahut sang istri meminta suaminya untuk menyusul ke warung.


    "Ya, Buk ...." sang Bapak yang heran dengan lamanya sang anak pergi ke warung, segera pergi ke warung untuk menyusul anaknya.


    Sambil menyorotkan lampu senter, sang bapak itu melintas jalan menembus gerimis, berlari menuju warung, tempat dimana anaknya disuruh beli rokok.


    "Yu ..., anakku tadi beli rokok ke sini?" tanya laki-laki itu kepada pemilik warung.


    "Yam betul .... Tapi sudah pulang dari tadi, kok ...." jawab wanita pemilik warung itu.


    "Lhoh ...?! Lha kok belum sampai rumah, ya ...?!" tentu sang bapak itu langsung terkejut dengan jawaban pemilik warung, kenapa anaknya belum sampai rumah?


    "Lhah, piye, to .... Jadi si kenang belum sampai rumah? Lha terus ke mana?" wanita pemilik warung itu ikut bingung.


    "Waduh .... Terus ke mana anak ini ...?! Yo wis, Yu .... mau saya cari dulu ...." sang bapak langsung meninggalkan warung untuk mencari anaknya.


    Lampu baterai langsung disorotkan ke pinggir-pinggir jalan. Ia mengamati sekitar jalan yang dilalui. Dan saat sorot sinar dari lampu baterai, menerpa barang yang tergeletak di pinggir jalan, tepat di depan pekarangan Jamil. Ya, sebuah payung terbuka yang tergeletak di pinggir jalan. Payung yang tadi dikenakan anaknya saat pergi belanja.


    "Deg ...!"


    Jantung sang bapak itu berhenti sementara. Lantas berdetak cepat. Hatinya tidak karuan. Khawatir anaknya dimakan gengeruwo penunggu pekarangan Jamil.


    "Tolooong ...!! Tolooong ...!! Tolooong ...!!" sang ayah itu langsung berteriak minta tolong.


    Orang-orang pun langsung berdatangan ke arah laki-laki itu.


    "Ada apa?"


    "Kenapa ...?!" orang-orang langsung bertanya, apa yang terjadi.


    "Anak saya .... Anak saya hilang .... Ini payungnya tergeletak di sini, tapi kenang tidak ada ..., huk ..., huk ..., huk ...." laki-laki itu menuturkan dan langsung menangis karena anaknya hilang.


    "Ayo dicari ...!"


    "Dicari ...!!"


    "Ya, ayo ambel baterai .... Ambil senter .... Bawa lampu sorot ...!!"


    Malam itu pun, warga Desa Sarang beramai-ramai mencari anak yang hilang. Hingga larut malam, si anak itu belum ketemu.

__ADS_1


    Bapak dan ibunya hanya bisa menangis, penuh penyesalan karena sudah memaksa anaknya untuk keluar rumah malam-malam.


    Kini, setiap malam hari di Desa Sarang, menjadi hari yang menyeramkan. Desa yang dulunya makmur, tenteram dan damai, kini berubah menjadi kampung yang menakutkan. Kampung seram. Terutama bagi kaum wanita dan anak-anak. Dan tentu, pekarangan rumah Jamil yang sudah hancur dan tinggal sisa-sisa pembakaran itu kini menjadi obyek cerita seram tersebut.


__ADS_2