GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 195: PULANG KAMPUNG


__ADS_3

    Setelah tiga hari keliling Manado, Melian pun berpamitan kepada bapak ibunya Putri untuk pulang ke Jawa. Tentu ia juga sudah ditunggu dan dirindukan bapak ibunya. Hampir enam bulan tidak bertemu. Paling hanya telepon. Pasti kurang puas jika tidak ketemu secara langsung. Makanya, meski orang tua Putri menghendaki Melian untuk lebih berlama di Manado, ia tetap berniat untuk pulang.


    Malam itu pun, sebelum beranjak tidur, Melian menelepon bapaknya. Pasti Juminem juga ikut nimbrung.


    "Pak, besok sore saya di jemput di Bandara Amad Yani Semarang. Rencana Melian sampai di Semarang sekitar jam tiga sore." kata Melian pada bapak dan ibunya melelui telepon.


    "Iya ..., iya .... Berarti besok pesawatnya sampai Semarang jam tiga ...?" tanya bapaknya.


    "Iya, Pak .... Mak-e diajak njemput ...." kata Melian lagi.


    "Ya, Nduk .... Mak-e sudah kangen, kok .... Yo mesti ikut, leh ...." sahut Juminem yang ikut nimbrung di telepon.


    "Yo, wis .... Hati-hati yo, Nduk ...." kata bapaknya yang kemudian menutup teleponnya.


    Melian pun beranjak tidur. Tentu capek setelah seharian diajak keliling oleh Putri meninkmati keindahan kota-kota di Sulawesi Utara. Dan siang tadi, Melian diajak berkeliling ke Tomohon dan Minahasa. Menikmati keindahan Kota Bunga dan menyaksikan sejuknya Danau Tondano. Dan pasti, diajak menikmati makanan khas dari daerah Tondano, yaitu pepes ikan seribu yang dibungkus daun nasi, yang hanya terdapat di Minahasa. Ia pun segera memejamkan mata, agar besok bisa bangun pagi.


    Melian pun bangun pagi. Langsung mandi dan mengemas pakaian yang akan dibawa pulang. Hanya pakaian ganti yang dimasukkan dalam tas punggungnya. Tinggal berangkat pulang saja.


    Pagi itu, sekitar jam tujuh, di hotel milik orang tuanya Putri, Melian sudah dijemput oleh sopir keluarga Putri. Tentu akan diajak ke rumah Putri. Diajak sarapan pagi bersama dengan keluarganya Putri. Dan tentunya sambil ngobrol dengan keluarga Putri.


    Melian yang sudah bersiap sejak pagi, begitu dihubungi oleh petugas dari front office, yang memberi tahu kalau dirinya sudah di jemput, maka Melian langsung turun dari kamar hotelnya. Dan setelah menyerahkan kunci kamarnya, ia pun langsung menemui sopir keluarga Putri yang sudah menunggu di lobi. Sang sopir pun langsung membukakan pintu mobilnya untuk Melian. Sang sopir langsung melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Putri.


    Di rumah keluarga Putri, Melian sudah ditunggu oleh bapak ibunya Putri.


    "Hae ..., Melian .... Ayo sini .... Mari ..., torang makang bersama ...." kata bapaknya Putri yang langsung berdiri dari kursi makan dan menghampiri Melian yang baru datang. Lantas mengajak duduk di tempat makan. Putri juga muncul dari dalam, dan langsung bergabung di ruang makan.


    "Ayo, Mel .... Makan yang banyak .... Perjalananya seharian nanti ...." kata Putri yang menyuruh Melian makan banyak.


    "Ah ..., ini ada ayam woku balanga, masakan khas Manado .... Coba dinikmati ...." kata ibunya Putri yang langsung menyeret mangkuk besar berisi ayam  woku. Masakan ayam berkuah dengan racikan aneka rupa bumbu, terasa pedas dan sedikit asam, segar dengan bau daun kemanginya.


    Melian mengambil sedikit. Tentunya juga ingin mencicipi rasanya. Setidaknya ingin tahu bagaimana rasanya ayam woku balanga dari Manado.


    "Nah ..., yang ini sambal dabu-dabu .... Enak ini .... Sambal khas Manado. Cara membuatnya cabe dipotong kotak-kotak, kemudian disiram dengan perasan jeruk nipis, dan ditambahkan irisan kemangi. Dicoba, Mel ...." kata Putri yang memang doyan pedas. Dan Putri, sudah mengambilkan sepucuk sendok serta menaruhnya di piring Melian.


    "Jangan banyak-banyak, Putri .... Aku mau perjalanan jauh, ya ..., nanti bisa sakit perut." kata Melian yang tentu tidak berani terlalu banyak makan pedas.


    "Nah ..., kalau yang ini harus dicoba .... Ini namanya klappertaart, kue khas Manado. Kue ini adalah kue tart kelapa yang rasanya istimewa." kata bapaknya Putri yang menyodorkan sepotong kue klappertaart di cawan kecil. Memang kue tart ini berbahan dasar kelapa muda dicampur dengan susu, keju, kacang kenari, dan kismis. Terkadang ada juga yang menambahkan rhum dan kayu manis. Kue klappertaart ini rasanya sangat enak, lembut dan langsung leleh di lidah.


    Mereka asyik makan pagi. Melian sangat menikmati. Demikian juga Putri yang merasa senang, karena teman sekamar dalam asramanya yang sudah dianggap sebagai sahabatnya itu sudah sudi datang ke rumahnya, menyaksikan kampung halamannya. Apalagi kedua orang tuanya sangat senang dengan kehadiran Melian. Bahkan inginnya Melian tidak boleh pulang, sebagai tanda senangnya.


    Papa Putri juga terlihat senang. Tentu menyaksikan kehadiran Melian, anak yang cantik dan pintar itu, apalagi ramah dan mudah bergaul. Dan ketika mendengar cerita dari anaknya, saat bagaimana Melian bisa mengalahkan enam orang berandal di Jakarta sekaligus, pasti papanya sangat berterima kasih pada Melian.


    Apalagi mamanya Putri, yang sangat senang dengan kehadiran Melian. Semua makanan yang disajikan oleh keluarganya dinikmati dengan senang hati. Itu pertanda anak yang mau diajak bersaudara. Meski anaknya sudah menceritakan kehebatan Melian mengalahkan orang-orang jahat, tapi tidak nampak sedikitpun wajah sangar atau kejam pada diri Melian. Pastinya Melian adalah anak yang baik.


    "Melian .... Jangan kapok main ke Manado .... Pintu rumah kami selalu terbuka untuk Melian. Besok kapan-kapan, ajak Papa sama Mama kamu liburan ke Manado. Kami semua di sini sudah menganggapmu sebagai keluarga sendiri. Jadi ..., jangan sungkan-sungkan untuk datang kemari." kata bapaknya Putri yang tentu merasa senang dengan kedatangan Melian yang sudah berkali-kali menyelamatkan putrinya.

__ADS_1


    "Terima kasih, Pak .... Saya juga senang bisa diajak berlibur menyaksikan keindahan Manado ...." jawab Melian.


    "Oh, iya .... Ini ada oleh-oleh dari kami, untuk keluarga Melian di Jawa. Dan ini tiket pesawatnya. Nanti biar diantar Kaka sopir ke bandara. Salam buat keluarga di Jawa, ya .... Oh, ya ..., mohon dijaga Putri saat di Jakarta, ya ...." kata ibunya Putri yang memberikan tiket pesawat dan satu kardus berisi oleh-oleh. Entah apa isinya, tapi lumayan berat.


    "Terima kasih, Bu .... Akan kami sampaikan salam keluarga di sini kepada orang tua kami.Tentu, Ibu .... Kami saling bantu dan saling jaga." jawab Melian yang menerima tiketnya, dan langsung dimasukkan ke tas kecil yang menyelempang di pinggangnya.


    "Terima kasih ya, Mel .... Sudah mau main ke rumahku ...." kata Putri yang langsung terlihat kesepian karena akan ditinggal Melian.


    "Kembali kasih, Putri .... Besok gantian main ke rumahku, ya .... Ke Jawa ...." sahut Melian.


    Sang sopir sudah mengangkat kardus oleh-oleh yang diberikan oleh ibunya Putri, dinaikkan ke mobil. Melian langsung bersalaman pada kedua orang tua putri. Tentu sambil mencium tangan orang tua itu. Berpamitan untuk pulang ke Jawa.


    "Dadah, Putri .... Sampai ketemu lagi di Jakarta ...." kata Melian yang sudah masuk ke mobil. Siap diantarkan ke bandara.


    Bandara Sam Ratulangi di Manado lumayang ramai. Sesampai di bandara, Melian langsung check-in. Tentu sambil memasukkan bagasi, yaitu kardus yang berisi oleh-oleh dari keluarga Putri tadi, harus masuk bagasi. Selanjutnya Melian masuk ke ruang tunggu. Dan yang pasti mencari toilet lebih dahulu, karena ini nanti akan menempuh perjalanan panjang. Penerbangannya nanti akan transit di Ujung Pandang, di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, yang merupakan pintu masuk utama penerbangan internasional di Indonesia timur. Bandara Hasanuddin ini semula bernama Lapangan Terbang Kadieng, yang dibangun pada tahun 1935 oleh pemerintah Hindia Belanda. Jadi, bandara ini sudah sangat tua.


    Hanya menunggu sebentar. Melian sudah masuk ke pesawat yang akan terbang dari Manado menuju Ujung Pandang. Kali ini penerbangannya siang hari. Jadi Melian bisa leluasa menikmati pemandangan Kota Manado dari dalam pesawat. Melian terus menyaksikan pemandangan indah dari langit. Terlihat bukit-bukit dan pegunungan yang indah dan menawan. Namun, sebentar kemudian, Melian hanya menyaksikan awan putih yang menutup bumi. Pesawat itu sudah terbang tinggi di atas awan. Hingga kembali menembus awan dan turun di Bandara Internasional Hasanudin. Semua penumpang turun. Melian kaget, karena dia juga disuruh turun oleh pramugari. Tentu tahunya Melian ia tetap berada dalam pesawat itu, karena tujuannya adalah Semarang. Lantas ia mengikuti penumpang-penumpang yang lain, turun dari pesawat. Melewati lorong bandara.


    "Penumpang transit lewat sini .... Penumpang transit lewat sini ...." kata seorang petugas maskapai yang memberi petunjuk kepada para penumpang,


    "Mbak, saya mau melanjutkan perjalanan ke Semarang, bagaimana ....?" tanya Melian pada petugas maskapai itu.


    "Lewat sini, Mbak .... Silahkan lapor kepada petugas check-in di counter transit itu, Mbak ...." jawab petugas tersebut.


    "Terima kasih, Mbak ...." Melian langsung menuju ke petugas check-in yang stanby di belakang petugas yang memberi tahu tadi.


    "Tiketnya, Mbak ...?" petugas itu menanyakan tiket untuk pengecekan.


    Melian langsung mengambil tas selempangnya. Lantas membuka dan mengambil tiketnya yang tadi dari Bandara Manado.


    "Ini, Mbak ...." kata Melian sambil memberikan tiketnya.


    Petugas counter transit itu kemudian mencatat tiket boarding pass Melian untuk ditukar dengan boarding pass yang baru. Lantas petugas maskapai itu memberikan boarding pass yang baru kepada Melian.


    "Silakan masuk lewat sini, Mbak .... Langsung menuju boarding gate lima." kata petugas itu yang menunjukkan kepada Melian tempat masuknya dan langsung menuju ke pintu lima.


    "Terima kasih, Mbak ...." jawab Melian yang langsung berjalan mencari gate lima.


    "Semarang .... Lewat sini ...." ada petugas yang memberi tahu.


    Melian langsung menuju pintu lima. Lantas menunjukkan tiketnya kepada petugas. Selanjutnya berjalan masuk ke pesawat. Melian lagi-lagi menunjukkan tiket kepada pramugari yang berjaga di dekat pintu. Pramugari itu menunjukkan kursi tempat duduk Melian. Ada di tengah.


    Melian langsung memasukkan tas punggungnya di kabin atas kursinya. Lantas duduk. Kebetulan duduknya di pinggir jendela. Lantas mengenakan sabuk pengaman. Namun ternyata, Melian sudah tertidur sebelum pesawat itu berangkat.


    Ya, mungkin karena kelelahan selama tiga hari di Manado, dimana Melian diajak keliling siang malam. Tentu rasa kantuk itu terkumpul menjadi satu. Dan saat posisi yang nyaman, ia pun tertidur pulas. Tanpa terasa, hingga penerbangan dari Bandara Hasanudin di Ujung Pandang itu sudah sampai di Bandara Ahmad Yani Semarang.

__ADS_1


    Melian tersentak kaget, saat pesawat mendarat. Ia pun tergagap bangun. Tentu tidak menyangka, kalau dirinya ternyata sudah sampai di Semarang.


    "Selamat datang di Kota Semarang .... Semoga perjalanan Anda menyenangkan, sampai jumpa lagi di penerbangan lain waktu." begitu terdengar suara pramugari menyampaikan informasi.


    "Hah ..., sudah sampai Semarang ...?!" gumam Melian yang bingung.


    "Mbak-e dari tadi tidur terusm sih ...." kata penumpang laki-laki setengah baya yang duduk di sampingnya.


    "Iya, Pak .... Saya ngantuk sekali ...." Melian tersenyum malu.


    Para penumpang mulai turun. Melian mengambil tas punggungnya yang ada di kabin. Lantas dicangklong di punggungnya, dan berjalan mengikuti penumpang yang lain. Setelah turun dari tangga pesawat, langsung menuju pintu keluar. Lantas menunggu kardus oleh-oleh dari orang tuanya Putri, yang sebentar lagi akan berputar di conveyor bandara.


    Setelah mengambil kardus oleh-oleh itu, Melian keluar.Ia mendengar suara yang tidak asing memanggil namanya, "Melian ...!" Ya, suara bapak dan ibunya.


    "Pak-e .... Mak-e ....!!" Melian langsung berlari menubruk orang tuanya. Pasti saking kangennya. Hampir enam bulan tidak bertemu.


    "Melian ...." Juminem langsung memeluk erat anaknya. Pasti sambil diciumi pipi kanan kirinya. Demikian juga Jamil.


    "Ayo, lewat sini .... Mobilnya parkir di lapangan. Apa ini kok berat sekali?" kata Jamil yang mengajak anaknya menuju ke tempat parkir mobil, dan pasti menjinjing kardus yang dibawa anaknya.


    "Oleh-oleh, Pak .... Dikasih orang tuanya Putri." jawab Melian.


    "Walah ..., kok dikasih oleh-oleh segala ...." kata ibunya yang pasti senang,


    "Orang tuanya Putri itu kaya raya, ya .... Punya hotel di beberapa tempat .... Waktu di Manado, saya menginap di hotelnya. Bagus Mak ...." jelas Melian pada ibunya.


    "Walah .... Kok baik banget, ya .... Sampai kamu disuruh nginep di sana segala ...." sahut ibunya.


    Dan mereka pun sampai di parkiran mobilnya. Mas Tarno sudah menunggu di mobil itu.


    "Lhoh ..., yang jemput Mas Tarno, to ...? Kok tidak Mas Irul ...?" tanya Melian.


    "Mas Irul masih sibuk ya .... Kasihan wira-wiri terus ...." sahut ibunya.


    "Hmmm, Melian kangen sama Mas Irul ...." Melian agak kecewa.


    "Besok .... Kalau sudah tidak capek, ke Lasem .... Bantu Mas Irul lagi ...." Jamil yang tahu watak anaknya, langsung memberi usulan, tentu biar anaknya senang.


    "Ya ..., asyiiiik ...." Melian langsung bahagia.


    "Ayok, Mas Tarno .... Kita langsung pulang .... Nanti mampir rumah makan. Ini pasti Melian lapar ...." kata Jamil yang memberi aba-aba pada Mas Tarno.


    "Nggih, Pak ...." jawab Tarno yang langsung menjalankan mobilnya, keluar bandara.


    Di dalam mobil, Juminem terus saja memeluk anaknya. Dan tentu banyak tanya tentang apa saja yang dilakukan oleh anaknya.

__ADS_1


    Melian tak henti bercerita. Terutama menceritakan keluarganya Putri, temannya yang mengajak ke Manado itu. Dan yang pasti menceritakan berbagai keindahan tempat wisata di Manado.


    Tak henti-henti Juminem mencium kepala anaknya. Pasti sebagai pengobat kangennya. Mereka pun tak henti mengobrol hingga sampai rumah. Sampai ke kampung halaman Melian, di Kampung Naga.


__ADS_2