
Setelah sarapan pagi, Irul bersama Indra dan Melian, berangkat menuju bank pemerintah yang ada di kantor Rembang. Mereka akan mencari tahu, siapa yang sebenarnya bisa meloloskan kredit Koh Han dengan jaminan tanah dan rumahnya Babah Ho. Ya, memang hal itu perlu ditelusuri, agar untuk pembelajaran bagi pihak bank tidak semudah itu dalam meloloskan kredit. Apalagi kalau sampai menyita tanah dan bangunan milik orang tanpa sepengetahuan ahli warisnya. Ini termasuk kenakalan dunia perbankan. Tentunya, Indra sebagai mantan pegawai bank juga merasa prihatin dengan peristiwa ini.
Ada benarnya Melian memaksa ingin tahu prosedur bank yang seperti ini. Sebab kalau ini berjalan terus, banyak masyarakat yang tentunya akan dirugikan oleh bank. Pihak bank yang akan menggelontorkan kredit pun tidak boleh sembarangan. Hanya untuk mengejar target pengeluaran kredit, segala cara yang kurang benar akan dilakukan. Pasti hal ini tidak boleh terulang. Jangan menggampangkan permasalahan yang nanti akan menjadi rumit.
Di kantor bank milik pemerintah yang ada di Kota Rembang, Itul memarkirkan mobil Daihatsu Taruna milik Pak Jamil, yang dikendarai untuk mengantarkan Melian dan Indra. Irul ikut masuk ke bank itu. Tentunya juga ingin tahu bagaimana sebenarnya kasus yang terjadi dengan tanah dan bangunan Babah Ho.
Setelah turun dari mobil, mereka bertiga masuk ke bank itu. Kantor cabang bank pemerintah di Kota Rembang. Namun kantor bank itu agak sepi. Meski nasabahnya cukup banyak yang duduk mengantri, tetapi kantornya terlihat lengang.
"Ada perlu mau apa?" tanya satpam yang ada di pinggir pintu. Seperti biasa menanyai keperluan dari nasabah yang datang.
"E ..., kami mau ketemu dengan bagian yang menangani masalah kredit macet. Kemarin saya sudah bertemu." kata Indra yang menjawab si satpam.
"Oh, nggih .... Sebentar .... Monggo ...." kata Satpam itu mengajak masuk.
"Kok sepi, Mas, kantornya ...." tanya Irul pada satpam yang mengajaknya masuk tersebut. Tetu karena petugas-petugas yang biasanya pada duduk di depan kosong semua. Hanya satu orang teller yang berada dalam ruangan tertutup kaca.
"Iya, Pak .... Ini bapak ibu pegawai dan pimpinan sedang melayat. Ada pegawai yang meninggal." kata satpam itu.
"Siapa yang meninggal ...?" tanya Irul ingin tahu.
"Pak Mantri .... Yang biasa mengurusi pinjaman-pinjaman ke masyarakat." jawab satpam itu.
"Sakit apa ...?" tanya Irul.
"Tidak sakit .... Tahu-tahu tubuhnya ditemukan di kamar mandi belakang, sudah kaku. Mungkin dari kemarin, Pak ...." jawab si satpam itu menerangkan.
"Lhoh, kok bisa tidak ketahuan ...? Lha sampeyan jaga sini apa tidak tahu?" tanya Irul lagi, yang tentu terus asyik ngobrol dengan satpam itu.
__ADS_1
"Saya pulang jam empat, Pak .... Yang bagian jaga malam juga tidak tahu. Ketahuan baru tadi pagi saat penjaga mau ke belakang, ternyata ada Pak Mantri yang posisinya itu, maaf ya Pak, seperti anjing mau nyakar dan lidahnya menjulur keluar, tetapi tubuhnya sudah kaku. Makanya terus ribut. Tadi pagi kantor sini geger, Pak. Termasuk tadi pagi ada polisi yang memeriksa kemari. Itu di dalam masih ada satu petugas kepolisian yang masih memeriksa." kata si satpam tersebut.
Irul mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda tertegun dengan cerita si satpam itu. Lalu menyusul istrinya bersama Melian yang sudah duduk berhadapan dengan petugas bagian kredit macet yang kemarin selama tiga hari sudah berurusan dengannya. Tentu untuk menyelesaikan kredit Koh Han dan masalah jaminan yang diagunkan oleh Koh Han.
"Maaf, Ibu ..., kemarin kan sudah diberesi semua. Bahkan surat jaminan juga sudah diambil .... Apalagi yang harus kami bantu?" tanya petugas bank itu.
"Begini, Pak .... Kami ingin tahu, siapa-siapa yang menandatangani akad perjanjian utang tersebut. Karena ini, saudari kami Melian ini adalah pewaris tunggal dari harta kekayaan Babah Ho, ia satu-satunya cucu yang masih hidup, ingin tahu pihak yang ikut tahu tentang warisan Babah Ho. Mungkin bisa untuk memberi tahu, apa saja yang ditinggalkan oleh Babah Ho." kata Indra pada petugas bank tersebut.
"Waduh .... Ya tidak bisa, Ibu .... Ini kan rahasia bank .... Kami tidak boleh membocorkan rahasia itu kepada orang yang tidak ada hubungannya." kata pegawai itu.
"Kok seperti itu? Ini Melian adalah pewaris tunggal. Kenapa tidak boleh mengetahui warisannya digunakan oleh orang lain?" kata Indra mencoba meminta.
"Ya ..., itu kan rahasia, Bu ...." kata pegawai itu lagi.
"Maaf, Pak .... Saya pernah bekerja di bank, walau bank swasta. Setahu saya, ada undang-undang yang melindungi aset nasabah. Terutama pemilik asli dari aset yang dijaminkan ke bank. Kalau di bank kami dulu, yang terkait dengan hak dari oarang yang dirugikan, bisa dibuka untuk mencari siapa yang merugikan. Artinya pihak bank melindungi yang benar. Tetapi mengapa di bank pemerintah justru semena-mena? Dari kemarin sebenarnya saya ingin protes dengan sistem kerja di bank ini, tetapi kami sudah menahannya. Sekarang, kami hanya ingin tahu siapa yang menggunakan aset milik orang itu, kok tidak diperbolehkan ...! Ada permainan apa di bank ini ...?!!" Indra mulai marah. Tentu karena sistem perbankan yang diterapkan jelas-jelas merugikan masyarakat.
"Kalau begitu katakan, siapa yang bertanggung jawab atas permasalahan kredit atas nama Hartono tersebut. Antarkan saya menghadap sekarang juga ...!" bentak Indra.
"Iya, Bu .... Itu ada di tangan pimpinan .... Tapi hari ini sedang melayat, Pak Mantri baru saja meninggal di ruang kamar mandi." kata pegawai itu yang sudah ketakutan karena dibentak Indra.
"Begini .... Tolong saya diperlihatkan berkasnya saja. Saya hanya ingin tahu nama-nama yang membantu meloloskan kredit Hartono. Berkas yang kemarin Bapak lihat itu. Sekarang juga. Maaf, saya juga harus kerja. Tolong hargai waktu orang lain." kata Indra yang mendesak pegawai urusan kredit itu.
"Mohon maaf, Bu .... Berkas itu sudah ada di ruang pimpinan. Saya tidak berani masuk." kata pegawai itu bersikukuh tidak mau membantu.
"Dek ..., sudahlah .... Tidak usah memaksa. Besok masih ada waktu." kata Irul membujuk istrinya, untuk tidak memaksa pegawai bank itu.
"Baik, Pak .... Beruntung suami saya tidak mau memaksa. Maklum dia masih banyak kerjaan. Tapi saya minta tolong kepada Bapak, itu pun kalau Bapak tidak keberatan, mohon catatkan nama-nama orang yang meloloskan kredit atas nama Hartono, yang sudah menggunakan aset Babah Ho untuk dijadikan agunan. Mohon kalau sudah dapat nama itu, sampaikan ke kami di Toko Laris, Lasem. Kami tunggu. Terima kasih, Pak ...." kata Indra pada petugas itu, yang langsung meninggalkan ruangan tersebut. Melian dan Irul juga keluar, mengikuti Indra.
__ADS_1
"Bu ........" petugas itu berdiri, bingung setelah ditinggalkan tamu-tamunya. Serba salah. Tetapi ia memang tidak sanggup untuk menjawab. Tentu takut dengan kebijakan-kebijakan pimpinannya yang berkuasa di bank itu.
*******
Irul mengendarai sepeda motor seorang diri. Dari Juwana. Tadi siang mengantarkan Melian dengan membawa mobil Pak Jamil. Kini ia pulang membawa motor yang kemarin dibuat boncengan sama istrinya saat akan melayat ke Semarang bersama keluarga Pak Jamil.
Sekitar jam lima sore, Irul melintas di Kota Rembang. Jalanan macet. Tidak seperti biasanya, tapi ini macetnya seperti ada sesuatu. Cukup jauh, dari berbagai arah macet semua. Irul sabar. Pasti ada sesuatu yang sedang terkadi sehingga mengakibatkan macet.
"Ada apa, Pak ...?!" tanya pengendara motor yang berada di sebelah Irul. Tentu Irul mendengarnya.
"Kebakaran ....!" jawab pengendara yang dari arah berlawanan. Tentu ia sudah lancar untuk arah yang berlawanan.
"Kebakaran ...?!" orang-orang yang mendengar kembali bertanya, ingin tahu kepastiannya.
Termasuk Irul yang mendengar kata kebakaran tersebut. Walau Irul tidak ikut bertanya. Tapi Irul justru mengamati ke arah depan, menyaksikan jauh di depannya yang macet. Yah, Irul menyaksikan di langit ada kepul asap hitam. Pertanda benar kalau di tengah kota ada kebakaran.
"Kebakaran ...! Bank kebakaran ...!!" teriak orang yang melintas dari arah berlawanan lagi.
Deg ...! Dada Irul bergetar kuat, begitu mendengar orang yang mengatakan ada bank kebakaran. Jangan-jangan, bank yang tadi dirinya bersama istrinya dan Melian datang ke situ.
Sontak Irul langsung ingin tahu, "Bank apa, Pak yang terbakar ...?!!" Irul berteriak bertanya pada orang-orang yang berpapasan dengannya dari arah kota.
"Itu ..., bank pemerintah .... Kantor cabang yang di Rembang ...!" sahut pengendara yang berpapasan dengan Irul.
"Betul ..., pasti bank itu .... Berarti ada yang tidak beres dengan pegawai-pegawai di bank itu ...." kata Irul dalam hati, yang tentu tahu presis dengan karma yang menimpa orang-orang yang telah menyakiti hati Melian. Apa benar Melian tadi waktu di bank merasa tersakiti? Tetapi tadi pagi, waktu di bank Melian keliahatan diam saja. Yah, Yang Maha Kuasa yang tahu segalanya.
Irul mengikuti arus kendaraan yang macet secara perlahan. Tetapi ia ingin melintas di bank yang tadi pagi ia kunjungi, ingin memastikan bahwa yang terbakar memang bank itu. Dan ternyata, sesampai di tengah kota, Irul benar-benar menyaksikan bangunan yang sudah hangus, sedang disemprot mobil pemadam kebakaran.
__ADS_1
Menetes air mata Irul, sedih dengan kejadian yang menimpa para pegawai bank itu, karena sudah melakukan kesalahan-kesalahan yang menyakiti hati orang lain. Itulah sebabnya, Irul antipati dengan bank.