
Jamil, Juminem, Melian dan Irul, sudah kembali dari Gunung Bugel, tentu langsung menuju ke rumah Engkong. Tentunya mereka akan saling cerita, akan membicarakan pengalamannya tadi, kejadian ajaib yang mereka alami di puncak bukit Gunung Bugel. Yaitu semua apa yang tadi dilihatnya, saat peristiwa aneh terjadi.
Setidaknya, Jamil, Juminem, Irul dan Meliana, yang sudah yang sudah menyaksikan peristiwa aneh yang terjadi pagi itu, mereka pastinya akan membahas, siapa sebenarnya leluhur dari Melian. Ya, siang itu akhirnya mereka pun untuk sementara harus beristirahat di rumah Engkong, tentu setelah kelelahan membantu Melian saat harus menahan dirinya, melawan kuatnya angin tornado, dan tentunya sambil waspada jika terjadi sesuatu pada tubuh Melian. Apalagi Melian, yang tentunya paling kelelahan, karena berjuang mempertahankan tangan dan tubuhnya, saat harus ditarik oleh kekuatan gaib yang keluar dari dalam kuburan itu. Ya, Melianlah yang bersusah payah menjaga dirinya.
Setelah minum beberapa gelas air dingin, lega rasanya bagi Melian. Ia pun langsung menyandsarkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di ruang tamu itu. Tentu karena saking kelelahannya.
Sementara itu, Juminem menyiapkan makanan, menata aneka menu di meja makan. Irul membantu Juminem untuk menyiapkan peralatan makan. Ya, saat mau berangkat ke makam Gunung Bugel tadi pagi, Juminem sudah memasak nasi di magiccom. Kini tinggal memanasi sayur dan lauk pauk.
Sedangkan Jamil, ia duduk di kursi yang ada di teras. Ia masih terbayang-bayang peristiwa yang terjadi di puncak bukit tadi. Ya, peristiwa sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu, kini terjadi lagi. Namun pagi itu, dua orang yang keluar dari dalam peti giok raksasa itu, memberikan petuah kepada Melian. Ya, tentunya petuah-petuah kebajikan. Seolah petuah antara seorang kaisar yang meminta kepada calon penggantinya, memberi wejangan kepada putri mahkota. Benarkah Melian itu keturunan raja? Benarkah Melian itu putri mahkota?
Sementara itu, saat Melian berbaring menyelonjorkan kakinya, tiba-tiba saja, ia ingin melihat kembali album foto keluarganya. Melian rindu ingin menyaksikan foto-foto mamah dan engkongnya. Maka, ia langsung bangkit dari berbaringnya. Ia menuju lemari bufet yang digunakan untuk tempat barang-barang bagus yang dulu mungkin pernah ditata oleh mamak maupun mamahnya.
Melian kembali mengambil album foto keluarga. Melian melihat foto-foto pernikahan orang tuanya, foto-foto yang ada di album yang selalu tersimpan rapi di dalam lemari bufet milik engkongnya itu.
"Mas Irul ...! Pak-e ...! Mak-e ...! Kemari ...! Coba lihat ini .... Lihat foto ini." kata Melian yang berteriak memanggil Iru, bapaknya dan ibunya.
"Ada apa, Nduk ...?! Kok pakai teriak-teriak segala, Mak-e gaket, Nduk ...." kata ibunya yang tentu terkagetkan oleh panggilan Melian.
"Ini, Mak .... Lihat foto ini .... Ini seperti seorang bangsawan yang saya saksikan tadi. Seperti orang yang berdiri di depan saya tadi .... Ya, lihat pakaiannya ...." kata Melian kepada ibunya, bapaknya dan Irul yang sudah berdiri mengerubungi Melian yang membuka album foto itu.
"Mana ...?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Yang ini .... Coba lihat yang foto ini ...." kata milihan yang menunjuk pada sebuah foto yang ada di dalam album itu.
Jamil yang sempat ikut menyaksikan, demikian juga Irul yang tadi ikut memperhatikan keluarnya dua orang dari dalam peti mati yang terbuat dari batu giok besar, masih terbayang orang-orang itu. Tentu, Jamil maupun Irul langsung menyaksikan secara seksama foto-foto yang ditunjukkan oleh Melian itu.
Memang, di album foto pengantin ibunya itu, ada seakan terdapat foto laki-laki yang mengenakan pakaian aneh, pakaian ala orang tiongkok jaman kuno. Laki-laki dengan pakaian tradisional itu tidak berbeda dengan orang yang terlihat di pemakaman tadi. Ya, foto itu memang sangat mirip dengan laki-laki yang keluar dari peti mati yang terbuat dari batu giok yang saat itu terbuka. Laki-laki itu ternyata berada di dalam foto yang terdapat di album pernikahan orang tuanya.
Irul terheran, mengapa laki-laki ini muncul di pekuburan? Dan mengapa juga foto ini kembali terlihat? Padahal Irul ingat betul, dulu waktu menyerahkan album foto ini kepada Melian, yang ingin tahu foto-foto keluarga dari ibunya dan juga keluarga dari bapaknya, foto-foto dari keluarga bapaknya tidak terlihat wajahnya. Ya, kala itu keluarga bapaknya Melian, semuanya tidak terlihat. Foto-fotonya buram. Wajahnya seperti terkena cahaya yang sangat kuat. Dalam foto kuno istilahnya terbakar. Tetapi kenapa kali ini bisa terlihat dengan jelas? Anah ...?!
"Coba lihat yang ini .... Pasti ini adalah orang yang tadi ada di pemakaman itu. Postur tubuhnya, gaya dan logatnya, presis sama seperti orang gagah yang muncul dari pekuburan tadi. Ya, ini .... Dia mengenakan pakaian yang sama. Ya, benar-benar orang ini." kata Melian yang menunjuk kepada salah satu foto dari keluarga bapaknya.
Mereka tidak menyangka, kalau ternyata orang-orang yang ada di dalam foto itu, yang merupakan kerabat dari ayah Melian, adalah orang-orang hebat, orang-orang yang berjasa membangun Kampung Naga, orang-orang bijak yang sudah memimpin sebuah perkampungan, yang tentunya waktu itu bisa disebut sebagai kerajaan kecil. Ya, di dalam foto itu, terlihat laki-laki yang tadi menemuinya di pekuburan, yang tentunya orang itu adalah engkong buyut dari Melian.
"Tapi, kenapa Nenek Amak tidak ada di dalam foto ini ...?" tanya Melian yang tentu ingin tahu, kenapa dalam foto keluarga bapaknya itu tidak terlihat adanya Nenek Amak.
"Mas Irul .... Kalau kubur Papah ada di mana?" tanya Melian yang juga ingin tahu makam bapaknya.
"Katanya tidak ada yang tahu .... Waktu Papah Melian meninggal karena tertembak saat emonstrasi, semuanya bingung, semuanya panik .... Bahkan polisi juga tidak ada yang mengakui kalau melakukan penembakan." kata Irul yang memang tidak tahu. Kala itu ia hanyalah pegawai Babah Ho, yang tidak berani ikut campir lebih jauh tentang masalah keluarga.
Melian terdiam. Namun tentunya, Melian yang merupakan anak cerdas itu, mulai berfikir, ada keanehan dalam kehidupannya. Jika saja orang mengatakan, kalau Nenek Amak itu usianya sudah ratusan tahun, lantas jika memang benar, Nenek Amak itu keturunan dari laki-laki yang muncul dalam kubur itu, berarti usia laki-laki itu tentulah juga ratusan tahun. Tetapi kenapa mungkin, orang yang berusia ratusan tahun itu muncul dalam foto pernikahan ibunya? Tentunya kalau dihitung secara normal, tidak mungkin orang dengan usia ratusan tahun itu berada di pernikahan orang tua Melian yang baru sekitar dua puluh lima tahun yang lalu.
"Ini sesuatu yang aneh ...." begitu gumam Melian.
__ADS_1
"Melian, saya yakin, kalau orang yang muncul dari dalam kubur itu, orang yang terlihat di foto ini, adalah penguasa Kampung Naga .... Atau setidak-tidaknya, ia adalah orang yang punya pengaruh kuat dalam pendirian Kampung Naga .... Mungkin juga ia itu seorang kaisar atau raja. Dan tadi, ia sudah memberikan titah kepadamu, Melian .... Dirimu adalah pewaris kebajikan. Itu mungkin artinya, siapa saja yang melakukan kejahatan, atau berniat berbuat buruk kepadamu, dia akan mengalami petaka. Ya ..., Melian .... Benar itu. Kenyataannya, peristiwa-peristiwa yang terjadi, orang-orang jahat yang mendekat kepadamu, selalu berakhir tragis. Itu saya yakin, mereka yang meninggal itu adalah orang-orang yang berniat jahat kepadamu." begitu kata Irul yang mencoba mengait-kaitkan peristiwa yang terjadi selama ini.
Melian merenung. Mungkin saja kata-kata Irul itu memang benar. Mungkin saja Melian itu memang dilindungi oleh para ponggawa kerajaan, atau laskar-laskar yang memang diperintahkan untuk menjaga dirinya. Berarti, mereka, para lelaki yang mendekati dirinya, yang berusaha untuk mencelakai Melian, itu terbunuh lebih dahulu oleh para laskar yang menjaga dirinya.
Pantas saja, Melian melawan berandal-berandal yang sangat banyak jumlahnya, dikeroyok para penjahat, semuanya mampu dikalahkan. Bahkan semuanya bertekuk lutut minta ampun tanpa sanggup melawan Melian sedikitpun. Itu pasti pekerjaan para laskar yang tidak bisa dilihat mata manusia.
"Nduk ..., dirimu itu pewaris Kampung Naga .... Berarti kamu mestinya tinggal di Kampung Naga, Nduk ...." kata Juminem yang tentu tetap menginginkan anaknya itu tinggal bersamanya.
"Betul, Nduk .... Pak-e ingat persis, waktu Nenek Amak itu menyerahkan rumahnya kepada kita. Dia hanya melihat gelang giok yang ada di tanganmu. Lantas begitu mudahnya ia menyuruh kita menempati rumah itu." tambah Jamil yang masih ingat bagaimana Nenek Amak dahulu itu menyuruh mereka tinggal di rumah itu. Meskipun katanya dibeli dengan uang yang ada dalam buntalan plastik, namun tentunya Jamil tidak pernah merasa kalau punya uang sebanyak itu.
"Iya, Pak ..., Mak .... Melian akan berada di sana dan di sini ...." jawab Melian.
"Tapi satu hal yang harus kamu ingat, Melian .... Pesan orang hebat tadi. Melian harus menebar kebajikan." tambah Irul mengingatkan amanah dari orang yang dianggapnya sebagai kakek buyut itu.
"Iya, Mas Irul .... Namun tentunya, saya selalu butuh bantuan Mas Irul .... Seperti waktu kita melawan panglima perang dari Sungai Kuning dulu itu ...." kata Melian yang mengingatkan Irul pada pertempurannya di pemakaman ibunya.
Ya, Irul ingat peristiwa itu. Ia harus berjuang bersama-sama saat harus mengalahkan ponggawa perang dari Sungai Kuning.
--------
Dua Episode lagi, GELANG GIOK BERUKIR NAGA akan tamat.
__ADS_1
Baca cerita mistis yang baru: PULAU BERHALA