
"Selamat pagi, Pak Jamil .... Ini Irul, Pak ...." kata Irul saat menelepon Pak Jamil, mantan pimpinannya dahulu, yang sudah dianggap sebagai bapaknya sendiri.
"Iya, Mas Irul .... Ada kabar apa, Mas ...?" jawab Pak Jamil yang langsung menanyakan kabarnya.
"Anu ..., Pak Jamil .... Mau kasih kabar ...." kata Irul yang masih ragu-ragu untuk menyampaikan.
"Kabar apa, Mas Irul ...?!" Pak Jamil langsung menanyakan, tidak sabar ingin tahu kabarnya.
"Anu ..., Pak Jamil .... Ini Dek Indra dirawat di rumah sakit, Pak ...." jawab Irul.
"Hah ...?! Sakit apa ...?!" tanya Pak Jamil.
"Anu ..., Pak Jamil .... Sedang mengalami kenasipan ...." jawab Irul yang tidak ingin membuat kaget dan kekhawatiran Pak Jamil, hanya mengatakan kalau istrinya sedang nasib.
"Ya sudah, nanti habis mengatur karyawan di pabrik, saya langsung ke Rembang." kata Pak Jamil yang tentu akan memberi tahu istrinya.
Akhirnya benar juga. Hari agak menjelang siang, saat jam bezuk rumah sakit dibuka. Tentu Rumah Sakit Daerah itu sangat ramai dengan para pengunjung, orang-orang yang akan menjenguk keluarga, saudara, tetangga maupun teman yang dirawat di rumah sakit.
Demikian juga Pak Jamil bersama istrinya. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah sakit, mereka berdua langsung menuju pintu masuk rumah sakit. Masuk bersama-sama dengan para pengunjung yang ramai. Tentu akan mencari tempat Indra di rawat.
"Ruangannya mana, Kang ...?" tanya Juminem pada suaminya.
"Walah .... Lha kok tadi tidak tanya sama Mas Irul. Sebentar, Jum ..., saya mau tanya ke bagian informasi dahulu." sahut Jamil yang langsung melangkah menemui petugas yang duduk di bagian informasi.
"Mbak, mau tanya ..., pasien atas nama Cik Indra dari Lasem, dirawat di ruang mana, ya?" tanya Jamil pada perempuan petugas informasi.
"Sebentar, Pak ...." kata petugas itu yang langsung melihat layar komputernya. Lantas katanya, "Masih di ruang ICU, Bapak .... Teras ini masuk, lurus saja sampai tengah."
"Terima kasih, Mbak ...." jawab Jamil yang langsung mengajak Juminem melanjutkan jalannya menuju ke arah yang ditunjukkan oleh petugas tadi.
Dan benar, setelah mereka berjalan melintasi beberapa koridor, sampailah pada tempat yang dimaksud, pada bangunan yang terdapat tulisan ICU besar.
"Apa itu, Kang ...? Itu ada tulisan ICU di dindingnya ...." kata Juminem pada suaminya.
"Ya ..., betul, Jum .... Itu ruangnya. Cik Indra dirawat di situ. Mungkin Mas Irul sudah ada di situ, sedang menunggui Cik Indra." sahut Jamil.
"Ayo, Kang .... Coba kita masuk ...." ajak Juminem.
"Ya ...." sahut suaminya yang langsung melangkah mencari pintu masuk.
Namun ternyata, setelah Juminem dan Jamil sampai di depan pintu, dan akan masuk, ia dilarang masuk oleh petugas, suster yang berjaga di pintu masuk itu. Alasannya ruangan ICU itu untuk merawat pasien secara insentif yang mengalami sakit berat dan penanganan khusus.
"Ini kami mau membezuk saudara .... Namanya Cik Indra, katanya dirawat di ICU. Kami dari jauh datang kemari hanya ingin tahu kondisi dari keluarga kami, Mbak ...." kata Jamil yang bicara pada suster yang berjaga itu.
"Maaf, Pak .... Untuk membezuk pasien di ICU hanya boleh satu-satu .... Harus bergantian. Agar tidak mengganggu pasien yang butuh perawatan serius." kata perawat yang berjaga itu.
__ADS_1
"Berarti kami boleh masuk?" tanya Jamil lagi.
"Sabar ya, Pak .... gantian satu-satu .... Pakaian lab-nya terbatas. Gantian dengan yang lain.
Jamil dan Juminem pun akhirnya sabar mengantri. Menunggi gantian dengan pembezuk yang lain. Dan akhirnya, ada juga orang dari dalam ruang ICU yang keluar. Pasti dia barusan menjenguk keluarganya juga.
Lantas Jamil dan Juminem mau masuk. Ingin melihat kondisi Cik Indra.
"Pak, sandalnya dolepas .... Terus kenakan pakaian lab itu dulu ya .... Nanti jangan lama-lama di dalam." kata perawat yang berada di dekat pintu itu.
Jamil dan Juminem sudah mengenakan jas lab. Warnanya hijau muda seperti telur bebek. Mereka berdua terlihat seperti petugas medis. Lantas melangkah masuk ke ruang ICU.
Namun bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar suara tangis. Tangisan seorang laki-laki.
"Suster ........ Tolong Suster ....... Huuhuuhu ...." suara tangisan dan minta tolong, pasti ada sesuatu dari pasien.
Dari ujung ruang, ada laki-laki yang berlari, bolak-balik menuju ke meja perawat, seakan kebingungan. Juminem yang mengamati ke depan, sadar kalau suara tangis itu dari laki-laki yang bolak-balik ke perawat. Ia mengamati beberapa suster langsung bergegas menuju ke tempat pasien. Termasuk melihat laki-laki yang kebingungan sambil menangis itu.
"Lhoh ..., itu kan Mas Irul, Kang ...." kata Juminem yang langsung menarik lengan suaminya, sambil mengacungi laki-laki yang menangis itu.
"Mana ...?" tanya Jamil pada istrinya.
"Itu, Kang .... Ayo cepat .... Pasti Cik Indra ada apa-apa ...." Juminem langsung menarik lengan suaminya mempercepat jalannya.
Dan setelah sampai di tempat pasien paling ujung, benar Irul sedang sibuk bersama para perawat, mengurusi peralatan medis yang terpasang pada pasien. Yang tentu pasien itu adalah Cik Indra.
Irul langsung bergegas memeluk tubuh manta pimpinannya yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Pak Jamil .......... Huk ..., huhuuhu .... Huuhuhuhu ....." dan pasti Irul langsung menumpahkan tangisnya. Irul membenamkan mukanya di dada Jamil, terisak-isak yang tiada terbendung. Ditumpahkan seluruh kepedihannya di dada Jamil.
Jamil juga memeluk Irul, yang tentu ikut hanyut dalam kesedihan yang dirasakan oleh Irul. Jamil membiarkan dadanya basah oleh linangan air mata yang ditumpahkan Irul, air mata yang membanjiri baju Jamil.
"Sabar, Mas Irul .... Yang tabah .... Tuhan pasti sudah merencanakan yang terbaik. Kami ikut bersedih ...." kata Jamil sambil mengelus punggung Irul.
"Tit .... Tit .... Tit .... Tit .... Tiiiiit ......" suara yang berasal dari peralatan medis. Pertanda denyut jantung pasien telah berhenti.
Dua perawat yang berada di situ tampak bingung dan gedandapan. Ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Pasti terkait dengan masalah kondisi pasiennya. Jantung pasien berhenti berdetak.
Juminem yang menyaksikan kondisi Indra, berdiri seperti patung. Ia menggigit bibirnya. Pertanda sangat khawatir. Namun tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya batinya yang memohon pada Illahi Robi, agar Cik Indra diberikan kesembuhan.
Dua perawat itu semakin sibuk. Semakin bingung, semakin gedandapan. Jamil dan Irul langsung mendekat ke perawat itu. Irul dan Pak Jamil juga ingin tahu kondisi Indra. Mereka juga mengkhawatirkan. Apalagi mendengar peralatan medis yang mendeteksi jantung itu suaranya sudah tidak ada jeda. Pasti ada masalah dengan kondisi Indra.
"Bagaimana, Suster ...?!" Irul bertanya, ingin tahu kondisi istrinya.
"Sebentar, Pak .... Akan kami coba ...." kata perawat itu yang sudah mengambil alat pengejut jantung, kemudian disentuhkan ke dada pasien. Untuk memberi kejutan detak jantung.
__ADS_1
Tubuh Indra langsung terguncang. Dikejutkan oleh alat itu.
"Tit .... Tit .... Tiiiiit ......" suara yang berasal dari peralatan medis kembali berbunyi. Tetapi hanya tiga kali. Kemudian kembali berhenti. Pertanda denyut jantung pasien kembali berhenti.
Perawat itu kembali menempelkan alat pengejut jantung di dada pasien. Kembali memberi kejutan detak jantung. Tubuh Indra kembali terguncang.
"Tit .... Tit .... Tiiiiit ......"
Sama seperti yang tadi. Suara alat kembali menunjukkan detak jantung hanya dua kali. Dan setelah itu, kembali menghilang. Demikian juga grafik detak jantung pada peralatan medis, sudah menandakan grafik tanpa getaran. Artinya jantung Indra sudah berhenti.
"Bagaimana, Sus ...?!" Irul tentu sangat khawatir.
Suster itu diam. Belum berani menjawab. Masih memeriksa. Lantas memegangi pergelangan tangan. Memeriksa detak pada leher. Tetap tidak ada reaksi.
Setelah itu, seorang dokter laki-laki muda datang memeriksa. Hanya menyentuh di bagian leher.
"Maaf, Pak ..., Bu .... Nyonya Indra tidak bisa ditolong." kata dokter itu.
"Ya ampun, Dek Indra ......... Hua ..., huuuhuhuhu ...." Irul langsung menubruk tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa. Pasti langsung menangis sejadi-jadinya.
"Cik Indra ..... Huk ..., huuuhuhuhu ...." demikian juga Juminem, yang langsung berlutut dan memeluk tubuh Indra. Juminem juga menangis sejadi-jadinya. Tentu sangat sedih kehilangan Cik Indra yang sudah dianggap seperti caciknya Melian. Sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Sedangkan Jamil yang berdiri di sisi tubuh Indra, berada diantara Irul terus mengelus wajah istrinya sambil menangis, dan Juminem yang memeluk bagian perut. Walau hanya diam, air mata sudah mengucur deras. Dika yang teramat dalam. Indra sudah banyak membantu keluarganya, terutama dengan Melian. Bagi Jamil, ia merasa sudah terlalu banyak hutang budi pada Indra. Tapi kini, Indra sudah mendahului. Indra sudah kembali pada Sang Khalik.
"Pak Jamil .... Hua ..., huuuhuhuhu .... Mbak Juminem .... Hua ..., huuuhuhuhu .... Indra meninggalm Pak ..., Mbak .... Bagaimana saya, Pak ...??!!" Irul yang berdiri, langsung kembali memeluk Pak Jamil.
"Mas Irul .... Kenapa ini terjadi, Mas ...? Siapa yang melakukan kekejian seperti ini ...? Sungguh biadab orang ini ...." Juminem ikut bangun. Lantas memeluk Irul. Mereka bertiga saling berpelukan, saling menangis. Menangisi kematian Indra. Istri Irul tercinta. Tentu tiga orang ini sangat kehilangan. Kehilangan orang yang sangat dicintai.
"Mohon maaf, Pak, Bu .... Izinkan kami untuk merawatnya ...." kata dua orang perawat yang langsung melepasi peralatan medis yang dikenakan pada tubuh Indra, mulai dari selang pernapasanm bantuan oksigenm infus darah, infus obatm serta kabel-kabel komputer.
Setelah melepasi semua peralatan, lantas suster itu menutupkan selimut ke wajah Indra. Pertanda pasien sudah meninggal.
"Mari, Bapak ..., Ibu .... Kami akan membawa pasien ini ke bagian pemulasaraan jenazah. Nanti Bapak dan Ibu bisa komunikasi dengan petugas di sana, bagaimana baiknya untuk membawa pulang." kata suster itu yang selanjutnya mendorong bed pasien itu,
Irul dan Juminem ikut memegangi dipan tempat terbaringnya Indra yang didorong oleh suster. Dan pasti masih menangisi orang yang didorongnya.
Sementara Jamil berjalan mengikuti di belakangnya, sambil mengangkat teleponnya. Jamil menghubungi Parmo, adik ipar Irul. Jamil punya nomor telepon HP Parmo, karena Parmo yang dipercaya untuk membersihkan serta menyalakan dan mematikan lampu rumahnya Engkong. Tentu Jamil ingin mengabari keadaan kakak iparnya yang sudah meninggal. Agar Parmo nanti yang menyampaikan berita ini kepada keluarganya, sanak saudara serta para tetangganya.
"Halo, Mas Parmo ...." kata Jamil di telepon.
"Iya, Pak Jamil .... Ada apa ya, Pak ...?" tanya Parmo yang pasti menduga ada hal yang harus dilakukan oleh Parmo.
"Mas Parmo, jangan kaget ya .... Ini saya di rumah sakit. Ada kabar duka .... Cik Indra tidak tertolong, Mas Parmo ...." kata Jamil yang memberi tahu keluarga Irul melalui Parmo.
"Apa ...??!!! Saya tidak salah dengar, Pak ...??!!" tentu Parmo tetap kaget mendengar berita itu.
__ADS_1
"Iya, Mas Parmo .... Ini saya masih bersama Mas Irul .... Tolong rumah dipersiapkan. Minta tolong sanak saudara untuk mengatur. Sementara saya akan mengurus yang di rumah sakit." kata Jamil yang tentu langsung menyuruh Parmo mengatur segalanya di rumah.
"Nggih, Pak Jamil ...." Parmo langsung gedandapan, bingung, kelabakan, pikirannya ambyar saat mendengar kabar duka itu.