GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 30: POLISI ANEH


__ADS_3

    Maling-maling yang menjadi patung itu tentu semakin takut. Mereka pasti takut kalau tidak bisa kembali normal. Mereka takut kalau dirinya yang menjadi patung dipajang di perempatan jalan. Mereka takut diamuk masa, takut kalau diarak keliling kampung, dan yang jelas takut kalau diserahkan ke polisi, tentu akan dipenjara. Maka keempat kawananan pencuri itu menangis merengek-rengek minta dilepaskan, minta dibebaskan. Tentu sambil berjanji tidak akan mengulangi lagi. Mereka sudah kapok.


    Tapi yang namanya masyarakat, penduduk kampung yang banyak dan kemauannya beda-beda, tentu ada yang ingin maling-maling itu diikat di pohon beringin yang ada di lapangan desa. Ada yang ingin maling-maling itu diserahkan ke polisi agar dihukum di penjara. Ada juga yang menghendaki maling-maling itu ditelanjangi dan diiring keliling kampung. Orang-orang saling mengungkapkan alasannya masing-masing. Pasti hal itu menambah takutnya para maling yang akan menerima akibatnya.


    Namun, saat para warga itu ramai-ramai akan memutuskan hukuman apa yang akan diberikan, keramaian para warga itu akhirnya membangunkan Melian yang tadinya nyenyak tidur.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." begitu suara Melian, yang tentu mencari Juminem saat ia terbangun.


    "Ee .... Anakku sudah bangun ...." kata Juminem yang langsung mengankat Melian dari tempat tidur, dan pasti langsung dibawa ke kamar mandi untuk dibantu pipis. Ya, meski belum pernah punya anak, tapi Juminem sangat pandai merawat bayi.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." kata Melian pada Juminem.


    "Jangan mama .... Mak-e saja .... Wong ndeso kok dipanggil mama kaya orang kaya ...." sahut Juminem yang merasa risih kalau dipanggil mama.


    Selesai dari kamar mandi, Melian langsung dibopong lagi oleh Juminem, tentu kembali nimbrung menyaksikan maling-maling yang menjadi patung itu.


    "Ma ..., ma ..., ma ...." kata Melian lagi, sambil menunjuk-tunjuk para maling itu.


    Namun, hal aneh terjadi. Saat Melian menunjuk para maling yang menjadi patung itu, tiba-tiba saja maling-maling itu bisa bergerak. Lantas maling-maling itu mengembalikan barang-barang yang dibawa ke tempat asalnya. Dua maling yang masih mengangkat mesin jahit, langsung mengembalikan mesin jahit di tempat asalnya di dekat jendela. Demikian juga yang memanggul televisi, yang sudah berada di teras. Ia langsung masuk ke ruang kembali dan menaruh televisi ke atas meja di tempatnya semula. Yang paling sibuk adalah maling yang mengambil pakaian dari lemari. Ia menata lagi pakaian-pakaian yang sudah diturunkan, memasukkan kembali ke rak-rak lemari pakaian itu. Tentu butuh waktu lumayan.


    Setelah mengembalikan barang-barang yang akan dicuri itu, empat orang maling itu langsung bersujud menyembah Jamil dan Juminem yang berdiri di dekat pintu. Mereka minta ampun dan meminta dibebaskan. Mereka kapok tidak akan mengulangi lagi.


    "Ampin, Pak .... Ampun, Bu ...." rengek maling-maling itu, dan bahkan ada yang menangis.


    "Ayo diarak ...!!"


    "Ya, diarak keliling kampung ...!!"


    "Biar kapok ....!!"


    "Biar tidak masuk kampung kita lagi ...!!"


    Para warga sudah ramai berteriak untuk memberikan hukuman kepada para maling itu. Mereka menghendaki maling-maling itu diarak ramai-ramai keliling kampung.


    Akhirnya, beberapa warga sudah langsung memegang maling-maling itu dan dibawa keluar rumah. Di halaman rumah Jamil maling-maling yang dibawa itu langsung diikat tangannya dengan tali tambang, bekas dadung kambing. Ada yang melepas pakaiannya, baju serta celana. Hanya tinggal ****** ***** yang dikenakan oleh empat orang maling itu. Lantas warga pun ramai-ramai mengarak para maling itu keliling kampung.


*******


    Kabar tentang maling yang diarak keliling kampung di daerah Sarang itu ramai sampai terdengar keluar daerah. Dan tentu juga didengar oleh pihak Polsek Lasem. Maka untuk memastikan kebenaran beritu itu, dari pihak kepolisian langsung menyuruh dua orang petugasnya ke lapangan. Berangkatlah dua orang polisi berboncengan naik motor polisi menuju Sarang.


    Dua orang petugas dari kepolisian itu langsung menemui kepala desa. Tentu ingin meminta laporan tentang kasus pencurian itu, sebagai bahan laporan keamanan di Polsek.


    Pasti ada banyak cerita yang disampaikan oleh Kepala Desa. Dan tentu banyak pula bumbu yang ditambahkan. Pastinya dua petugas polisi itu setengah percaya dan juga tidak percaya. Masak ada pencuri kok bisa menjadi patung. Kalau itu benar terjadi, pasti tidak ada orang jahat yang berani mencuri. Ah ..., ada-ada saja. Mustahil.


    Dua orang petugas polisi itu meminta alamat orang yang kemalingan. Pasti mereka akan memeriksa lokasi.


    "Maaf, Kang Jamil .... Apa benar Kang Jamil rumahnya kemalingan?" tanya polisi itu saat sampai di rumah Jamil.


    "Halah ..., tidak, Pak .... Itu cuma orang kesasar, kok ...." jawab Jamil yang akhirnya tidak berangkat kerja karena terbawa warga mengiring maling keliling kampung.


    "Yang dicuri apa saja?!" tanya polisi itu lagi.

__ADS_1


    "Tidak ada, Pak .... Mereka itu cuma melihat kok. Itu barang-barang di rumah saya masih utuh." jawab Jamil.


    "Katanya maling-maling itu jadi patung di sini?!" tanya polisi itu lagi yang tentu tidak percaya.


    "Ah ..., siapa yang bilang, Pak ...? Mereka itu cuma leren kok ....Cuman ikut berteduh ...." jawab Jamil yang tidak ingin peristiwa maling jadi patung di rumahnya itu dibesar-besarkan.


    "Aneh, ada orang kok bisa jadi patung .... Kayak sulapan saja. Hati-hati lho, ya .... Kalau berbohong sama polisi kamu bisa dihukum ...!" polisi itu menakut-takuti Jamil.


    Tentu sebagai orang desa, jika mendapat ancaman hukum seperti itu, apalagi yang menyampaikan polisi, pasti Jamil menjadi takut.


    "Iya, Pak .... Warga sini tahu semua. Para warga yang mengiring tamu-tamu itu keliling kampung. Itu bukan ide saya, Pak ...." jawab Jamil.


    "Ada-ada saja .... Terus malingnya di mana sekarang?!" tanya polisi itu lagi.


    "Ya sudah dilepas oleh para warga to, Pak .... Wong mereka sudah minta ampun dan mengaku kapok, kok ...." jawab Jamil.


    "Lhoh, kenapa tidak diserahkan ke polisi?! Kamu bisa saya tangkap, lho ...!" kata polisi itu, lagi-lagi menakut-takuti Jamil.


    "Lhah, saya tidak tahu to, Pak .... Yang menangkap para warga, yang ngiring juga warga, yang melepaskan juga warga kampung .... Saya tidak tahu ...." jawab Jamil yang memang bingung dengan kata-kata polisi itu.


    "Lhoh ..., kejadiannya kan di rumahmu! Masak kamu tidak tahu ...?!" polisi itu membentak Jamil.


    "Lha yang nangkap kan warga, bukan saya ...." sahut Jamil yang tetap membela dirinya.


    "Sudah ..., pokoknya kamu siap-siap .... Nanti kalau ada panggilan dari polisi, kamu harus datang. Dan siap-siap saja kalau kamu dimasukkan penjara ...!" lagi-lagi polisi itu mengancam.


    Memang, dua polisi itu tentu kecewa dengan sikap warga Sarang yang main hakim sendiri. Maling-maling yang ditangkap itu tidak diserahkan ke kepolisian, tetapi justru diadili sendiri dengan cara diarak keliling kampung. Dan sayangnya, setelah itu maling-maling tersebut dilepaskan. Tidak dibawa ke kantor polisi. Tentu hal itu menjadi catatan sendiri bagi pihak kepolisian dalam menangani maslah di wilayah kerjanya.


    Tanpa pamitan, dua orang polisi itu pergi meninggalkan rumah Jamil, pasti dengan rasa jengkel. Sudah tidak disuruh masuk rumah, hanya bediri di halaman saja, tidak dapat apa-apa. Keterlaluan.


*******


    "Ada polisi muter-muter ...!!"


    "Ada polisi bingung ...!!"


    "Ada polisi nginjak oyot nimang ...!!"


    Orang-orang kampung pada berteriak, menyaksikan ada dua orang polisi yang berboncengan, dari pagi muter-muter terus mengelilingi jalan kampung berkali-kali. Tentu bagi warga yang ada di rumah dan kebetulan menyaksikan polisi yang berboncengan naik kendaraan itu berkali-kali melintasi jalan depan rumahnya, pasti ia heran dengan apa yang sedang dilakukan oleh polisi itu. Aneh, dari pagi hingga lewat sore, dua polisi itu melintasi jalan kampung sampai berkali-kali.


    Maka warga kampung yang tahu, mereka curiga. Pasti ada yang tidak beres dengan apa yang dilakukan oleh dua orang polisi tersebut.


    "Kok dua orang polisi yang berboncengan itu, dari tadi muter-muter di kampung kita terus, ya ...." tanya salah seorang ibu-ibu yang curiga.


    "Iya .... Saya juga heran ...." sahut ibu-ibu yang lain.


    "Aah, beneran .... Itu polisi-polisi menjaga kampung kita agar tidak ada pencuri yang berani masuk lagi ...." sahut yang lain.


    "Tapi kok aneh, dari tadi muter-muter terus ...." yang curiga ikut nimbrung.


    "Apa menginjak oyot nimang, ya ...? Itu, yang kata orang-orang kalau nginjak oyot nimang dia jadi lupa jalan, muter-muter terus di tempat yang sama ...." kata yang lain dengan cerita tahayul.

__ADS_1


    "Lha mbok coba dicegat ..., dihentikan ..., diampirkan .... Pasti haus dan lapar .... Suruh istirahat dahulu, suruh makan dan minum .... Kasihan ...." timpal ibu-ibu yang lain.


    Lantas salah seorang dari ibu-ibu yang membahas polisi itu, saat tahu dua polisi yang berboncengan itu melintas menuju jalan dekat rumah tempat mereka ngrumpi, begitu mendengar suara kendaraan ja langsung berlari ke jalan.


    "Pak ...!! Pak Polisi ...!! Berhenti dulu ...!!!" teriak ibu yang mencoba menghadang petugas polisi itu.


    "Pak Polisi .... Sini minum dulu ...!!!" yang lain ikut berteriak.


    "Mampir sini, Pak .... Makan dulu ...!!!" yang lain lagi juga ikut meneriaki polisi yang lewat tersebut menawarkan makan siang.


    "Walah .... Piye, leh ...."


    Perempuan-perempuan itu kecewa. Dua polisi yang dihadang itu bablas saja. Tidak berhenti. Seakan mereka tidak mendengar teriakan orang-orang yang menghadangnya itu.


    Maka ibu-ibu itu langsung menyampaikan apa yang terjadi itu kepada orang laki-laki yang ada di rumah. Tidak hanya lapor kepada laki-laki, tetapi berita itu juga tersampaikan ke seluruh warga. Tentu berita tentang polisi yang muter-muter kampung itu langsung menyebar ke seluruh warga.


    Orang-orang yang diberi tahu langsung keluar, ada yang ke jalan, ada yang mencoba berteriak, ada juga yang mencoba mencegat. Tetapi ternyata benar yang diceritakan ibu-ibu. Polisi itu seakan tidak melihat orang dan tidak mendengar kalau diteriaki atau dipanggil.


    "Ada polisi muter-muter kampung terus ...!"


    "Hah ...?!"


    "Ada apa ...?!"


    "Nginjak oyot nimang ...."


    "Walah ..., terus bagaimana ...?!"


    "Dicegat orang banyak .... Biar berhenti ...."


    "Dijatuhkan dari motornya, biar sadar .... Nanti kalau terjatuh dia akan sadar."


    "Ya ..., ya ..., ya .... Kita cegat terus kita jatuhkan dari motor ...."


    Akhirnya, hingga matahari sudah mau tenggelam, polisi itu baru bisa dihentikan oleh warga. Polisi itu dijatuhkan oleh para lelaki dewasa yang berani menghadang motor. Tentu dua polisi itu langsung tergeletak di jalan.


    Para warga langsung menolong. membantu membangunkan dua petugas polisi itu, yang kelihatannya sangat lemas dan kelelahan. Tentu karena dua orang petugas kepolisian itu mengendarai motor berputar-putar kampung sampai berjam-jam, bahkan hampir seharian lamanya.


    "Ambilkan teh hangat ...." kata salah seorang yang membantu mengangkat.


    Salah seorang ibu yang rumahnya dekat langsung mengambilkan minum, teh hangat manis. Lantas diminumkan kepada dua orang polisi itu tadi. Lumayan bisa memberi tenaga.


    "Dimana saya ...?" polisi itu mulai sadar dan bertanya keberadaannya.


    "Alhamdulillah .... Sudah sadar ...."


    "Apa yang terjadi dengan kami...?" tanya polisi yang satunya.


    "Pak Polisi muter-muter kampung seharian .... Memang Bapak tidak sadar?"


    "Hah ...?!"

__ADS_1


    Tentu polisi itu kaget dengan apa yang terjadi. Ya, tadi memang dia tidak sadar saat mengendarai motor keliling kampung berkali-kali. Itu terjadi di luar nalarnya.


    Ada apa sebenarnya yang terjadi, sehingga polisi-polisi itu berputar-putar keliling kampung seharian?


__ADS_2