GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 249: MENGUNGKAPKAN PERASAAN


__ADS_3

    Pak Endang terus memandangi Melian. Tenti karena saking inginnya untuk selalu dekat dengan Melian. Dan pastinya Pak Endang terus terang ingin memiliki Melian untuk dijadikan istrinya.


    "Ada apa, Pak ...?" tanya Melian yang tentu malu dan risih dipandangi terus-terusan oleh dosennya itu. Walau sebenarnya Melian juga senang dipandangi seperti itu, yang pastinya ia berharap Pak Endang akan berterus terang pada dirinya kalau ia mencintai dirinya. Dan juga, berkali-kali Melian melirik dosen muda yang ngganteng itu.


    "Ah, tidak ..... Melian, nah ..., sekarang mari kita nikmati indahnya gelombang ombak lautan yang ada di Pantai Ancol ini. Lautan yang meneduhkan hati masyarakat Jakarta." kata Pak Endang kepada Melian, yang tentunya malu saat ditanyai oleh Melian, karena ketahuan kalau dirinya memandangi Melian terus-terusan.


    Dua orang yang sedang dalam pendekatan itu duduk di kursi yang tersedia di bawah pohon kelapa, yang sengaja disediakan oleh pemilik cafe, untuk para pengunjung yang akan menikmati indahnya lautan. Mereka berdua menikmati indahnya alunan gelombang laut di Pantai Ancol. Suasana di Ancol malam hari yang selalu membawa ketentraman tersendiri bagi insan yang sedang memadu kasih. Apalagi kebetulan malam itu adalah malam bulan purnama. Bulan yang menampakkan tubuhnya secara penuh, dengan sinar keemasan yang sangat elok, memberikan keindahan tersendiri pada malam Minggu untuk mereka berdua.


    "Melian, lihatlah ombak-ombak itu, yang selalu berkejaran menuju pantai. Tiada henti-hentinya, dan tak pernah bosan-bosannya. Ia datang ..., kemudian kembali dan datang lagi .... Kembali lagi, kemudian datang lagi .... Dan seterusnya, gelombang-gelombang yang indah itu, gelombang-gelombang yang menaburkan pesona cinta .... Pantai ini merupakan zona alam yang memikat. Dan tentunya, seperti itulah gambaran kehidupan manusia yang sesungguhnya, bahwa kita selalu ingin datang menemui orang yang disayangi .... Lantas terkadang harus pergi, karena tugas atau aktivitas lainnya. Lalu ia rindu, lantas kembali lagi untuk melepaskan kerinduannya itu." ungkap Pak Endang.


    Kata-kata Pak Endang yang terdengar di telinga Melian itu sudah membius hatinya. Tentu karena Melian sendiri sebenarnya juga menaruh hati pada dosen muda yang ganteng itu. Tetapi namanya perempuan, Melian tidak mungkin untuk mengungkapkan perasaannya secara berterus terang kepada laki-laki yang juga belum mengatakan niatnya yang sebenarnya. Maka pilihan Melian saat ini hanya menunggu kata-kata cinta yang keluar dari mulut Pak Endang. Dan pasti Melian akan menyambutnya dengan senang hati.


    "Melian ...." Pak Endang mulai menyampaikan kata-kata, yang kemudian terputus karena ragu-ragu.


    "Iya, Pak Endang .... Ada apa, Pak?" Melian menyahut. Tentunya Melian juga berharap Pak Endang akan mengatakan bahwa dirinya mencintainya.

__ADS_1


    "Maaf ..., Melian ...., seandainya kata-kata ini kurang pas di hati kamu, seandainya apa yang kamu dengarkan nanti, kata-kata yang keluar dari mulut saya kurang berkenan pada dirimu. Tetapi Melian ..., perlu kamu ketahui bahwa sesungguhnya ketika saya menyaksikan kamu, ketika saya tahu kamu membangun Kampung Transformer, saya sudah menaruh hati kepada kamu. Saya tertarik dengan sikapmu. Saya tertarik dengan cara kamu membangun masyarakat. Terus terang, saya siang dan malam mulai memikirkan dirimu. Siang dan malam susah untuk memejamkan mata, karena bayang-bayang wajahmu selalu mengganggu pikiranku." seperti itu kata-kata yang disampaikan oleh Pak Endang pada Melian.


    "Maaf, Pak Endang ..... Maksud kata-kata Pak Endang ini, kira-kira apa ya?" tanya Melian yang pura-pura tidak tahu apa yang akan disampaikan oleh Pak Endang.


    "Begini, Melian .... Jujur saja, saya sampai hari ini memang tidak punya pacar, memang belum pernah mendekati wanita. Karena apa ...? Terus terang saya berharap wanita yang akan mendampingi saya ini adalah wanita yang mirip seperti kamu. Wanita yang baik, wanita yang mengerti dengan pekerjaan orang, mengerti dengan kesusahan orang, mengerti dengan segala urusan yang menjadi masalah orang. Dan saya berharap wanita yang mau mendampingi saya adalah gadis seperti kamu. Saya ingin gadis sepertimu yang mau mendampingi diriku untuk hidup berumah tangga, dalam membangun keluarga." Demikian kata Pak endang yang tentu sangat berat untuk diungkapkan. Dan ia pun tidak berani mengatakan bahwa dirinya hanya mengharapkan Melian yang mengisi hatinya.


    Melian diam. Tentu dia tidak berani menjawab. Bahkan dia tidak berani berkata apa-apa. Karena ia tahu bahwa maksud dari Pak Endang itu adalah mengenai pada dirinya, wanita yang mirip dengan dirinya, wanita yang seperti dirinya. Siapa lagi kalau bukan Melian itu sendiri. Itulah kenapa Melian mulai menundukkan kepala, pertanda bahwa dirinya itulah wanita yang dimaksud oleh Pak Endang. Melian itulah, gadis yang diharapkan mau mengisi hati Pak Endang. Dan Melian itulah perempuan yang diharapkan bisa diajak hidup bersama dalam membangun rumah tangga. Melian sudah jelas, mulai ada tanda-tandabahwa Pak Endang ingin hidup bersama Melian.


    Begitu melihat Melian yang hanya diam saja, tanpa berkata apa-apa, tentu Pak Endang juga tidak ingin mengungkapkan lagi menyangkut masalah yang sensitif pada diri Melian. Ia tidak berani langsung mengatakan atau menanyakan bagaimana kalau Melian yang menjadi gadis yang diharapkan itu. Namun saat menyaksikan Melian tertunduk diam, Pak Endang mengerti, kalau Melian sudah tahu dengan apa maksud yang dibicarakan itu.


     Lantas Pak Endang mencari cara untuk mengungkapkan kata-kata lain, yang mungkin bisa membuka pikiran Mellian, agar tidak hanya diam, tetapi juga mau berbicara.


    Tentu Melian malu untuk mengungkapkannya secara berterus terang. Lantas Melian berkata juga dengan simbolis.


    "Sebenarnya saya sudah menaksir seorang laki-laki, Pak. Laki-laki itu sangat baik. Laki-laki itu sangat bijaksana. Dan laki-laki itu juga sangat berpengaruh pada diri saya. Laki-laki itu sudah membangun inspirasi saya. Laki-laki itu sudah memberi motivasi kepada saya. Tentu saya juga akan senang kalau misalnya laki-laki yang saya harapkan itu bisa memberikan motivasi dalam hidup saya. Laki-laki itu mau berada di samping saya dan selalu memberikan inspirasi-inspirasinya setiap hari kepada saya. Tentu saya juga ingin hidup bersama dalam membangun rumah tangga, bersama laki-laki itu." begitu kata Melian yang juga sangat-sangat disimbolikkan, untuk tidak langsung berterus terang pada perasaan Pak Endang.

__ADS_1


    "Emm ..., seperti itu, ya .... Kalau boleh tahu, siapa laki-laki yang sudah kamu idam-idamkan itu? Siapa laki-laki yang sudah kamu kagumi? Siapa laki-laki yang kamu harapkan bisa menjadi motivator buat dirimu? Sungguh beruntung laki-laki itu." tanya Pak Endang yang tentu ingin tahu. Pastinya, Pak Endang mulai cemburu. Pak Endang mulai curiga. Dan mungkin juga, ia merasa tersaing oleh orang yang diharapkan Melian itu.


    "Maaf, Pak Endang .... Bukan maksud saya untuk berani berkata seperti itu, bukan niatan saya untuk pamer cowok di depan Pak Endang. Bukan maksud saya untuk mengatakan yang tidak sopan. Tetapi mungkin saya harus jujur, saya juga mengagumi Pak Endang saat pertama kali saya kuliah di perguruan tinggi. Ketika saya juga menyaksikan bagaimana Pak Endang mengajar dengan baik, Pak Endang memberikan motivasi kepada para mahasiswa dengan baik, Pak Endang bahkan sudah ikut terjun turun ke kampung Transformer. Dan Pak Endang juga memberikan motivasi-motivasi, memberikan pengarahan-pengarahan kepada saya. Terima kasih, Pak Endang ..., karena Pak Endang adalah orang yang saya harapkan bisa memotivasi diri saya setiap saat." Begitu jawab Melian pada Pak Endang.


    Plong hati Pak Endang. Bagai disiram air es, langsung sejuk rasanya. Ibarat kata gayung bersambut, apa yang dikatakan oleh Pak Endang ternyata juga disambut oleh Melian. Kata-kata yang disiratkan oleh Pak Endang, juga menjadi kata-kata yang disiratkan pula oleh Melian. Melian yang sudah berterus terang, tentu membuat hati Pak Endang menjadi nyaman.


     "Melian .... Izinkan perahu cintaku saya tambahkan di pelabuhan hatimu. Izinkan bahtera cinta ini berlabuh di dermaga hatimu." kata Pak Endang yang mulai memegang tangan, sembari memandangi wajah Melian yang diterpa sinar rembulan.


    Hati Melian pun bergetar, langsung menuju ke jantungnya yang mengakibatkan jantung Melian juga berdetak kencang, karena Melian merasa bahwa dirinya sangat tersanjung bisa berdekatan dengan Pak Dosen yang dikaguminya, bisa menjadi satu dengan Pak Endang.


    Namun hal di luar dugaan Melian, saat ia ingin merasakan genggaman tangan Pak Endang yang mengalirkan energi cinta, tiba-tiba saja, gelang giok yang melingkar pada pergelangan tangan Melian juga ikut bergetar. Melian melirik gelang gioknya yang berukir naga itu, seakan gelang giok itu bergerak hidup. Entah ada apa dengan gelang giok itu? Tetapi Melian harus waspada, dan harus berhati-hati. Gelang giok itu, bukanlah gelang sembarangan. Tetapi gelang wasiat yang selalu menunjukkan keajaiban. Melian langsung menarik tangannya dari genggaman pak dosen itu.


    "Terima kasih, Pak Endang .... Maaf, Pak Endang .... Saya mau tanya tentang masalah yang kemarin disampaikan oleh Pak Endang ke saya, terkait dengan rencana belajar ke luar negeri atau saya menjadi pengajar di Universitas tempat kita, kembali ke almamater. Itu sebaiknya menurut Pak Endang, saya harus bagaimana ya, Pak? kata Melian yang langsung mengalihkan pembicaraannya. Tetapi Melian pun sudah bisa menerima bahwa Pak Endang akan diizinkan berlabuh di hatinya.


    Pak Endang mengangkat gelas berisi minuman coklat. Ia meneguknya cukup banyak. Pasti ingin melepas hasrat yang sempat menggebu saat memegang jemari Melian.

__ADS_1


    "Kalau saya ingin, Melian sekolah ke luar negeri ...." jawab Pak Endang ringan saja, tanpa beban.


    "Tapi saya inginnya jadi dosen, kembali ke almamater .... Biar bisa selalu bersama Pak Endang .... Hehehe ...." kata Melian yang tentu membuat Pak Endang semakin gemas.


__ADS_2