
Setelah Jamil, Juminem dan Melian meninggalkan rumah yang ada di Gedongmulyo itu, Irul menyuruh adik iparnya, suami adik-adiknya, untuk menyambangi rumah Babah Ho itu. Setiap sore menyalakan lampu, dan setiap pagi mematikan lampu.
Meski diminta tolong untuk menyalakan dan mematikan lampu, namun adik-adik ipar Irul ini setiap pagi sampai di rumah Melian tersebut, ia menyempatkan diri untuk menyapu. Meskipun hanya menyapu bagian teras dan halaman rumah. Sekarang tentu lebih enak menyapunya halaman. Karena semua sudah dipasangi paving block. Sehingga udah dan kelihatan bersihnya. Tidak lagi menyapu halaman yang berupa tanah. Daun-daun yang berguguran pun mudah untuk disapu dan dikeruk untuk dibuang di pojok halaman yang ada bak sampah terbuat dari bis beton. Nantinya kalau daun-daun itu sudah kering, gampang untuk membakarnya.
Tentu adik ipar Irul, dua-duanya sangat rajin melakukan itu semua. Hal ini karena motivasi dari kakak iparnya, Irul, yang selalu mengatakan bahwa kalau bekerja harus didasari dengan niatan ibadah, harus ikhlas dan sungguh-sungguh. Sehingga nanti, Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberikan rezeki tersendiri yang tidak terduga. Kalau dihitung secara matematika manusia, tentu jika bekerja satu bulan bayarannya adalah lima ratus ribu, maka uang yang diterima ya hanya lima ratus ribu saja. Jika uang sebesar itu dibuat menghidupi keluarga, pasti tidak cukup atau kurang. Namun bagi Tuhan Yang Maha Ajaib, tidak ada kata hal yang mustahil. Semua bisa terjadi. Seorang pejabat yang mendapat gaji sangat besar, bisa tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Tetapi buruh dengan gaji kecil, mampu mencukupi keluarganya, bahkan masih bisa membelikan gelang istrinya. Memang aneh. Tetapi itulah kenyataan hidup. Jadi, segala sesuatu bisa saja menjadi mungkin.
Apalagi saat menyaksikan kenyataan kakaknya, yaitu Mas Irul dan Cik Indra, yang beranjak dari seorang kuli, yang kala itu hanya bekerja sebagai pelayan di tokonya Babah Ho, bisa membantu orang tuanya. Bahkan membantu membiayai adik-adiknya sekolah. Selanjutnya menjadi kuli pabrik pembuat kerajinan kuningan di tempatnya Pak Jamil. Bayarannya pasti tidak seberapa. Namun kenyataannya, kini Mas Irul dan Cik Indra bisa membeli bangunan besar yang dijadikan toko. Bahkan tokonya tidak kecil-kecilan, melainkan sudah menjadi pusat grosir sembako di Lasem. Toko sembako paling murah dan paling besar di Lasem.
Dan yang paling menjadi kekaguman dari adik-adiknya adalah Mas Irul dan Cik Indra itu orangnya blobo. Baik hati dan tidak pelit. Dengan adik-adiknya kalau memberi upah atau sebut saja sebagai bayaran, tidak pernah pakai hitung-hitungan. Seolah hanya diambilkan dari kotak uang yang ada di tokonya begitu saja. Bahkan dengan para keponakannya juga selalu memberi uang saku saat mereka berpamitan mau berangkat sekolah. Termasuk kebutuhan dapur orang tuanya, mulai dari beras, gula, minyak dan berbagai kebutuhan masak, semuanya dipasok dari tokonya Irul. Tetapi kenyataannya tokonya justru semakin laris dan besar.
Hal semacam inilah yang kemudian adik-adiknya menurut dan sangat patuh pada kakaknya, Mas Irul maupun Cik Indra.
Seperti pagi itu, saat adik iparnya, Parmo suaminya Nur, pergi ke rumah Melian untuk mematikan lampu. Ia membuka pintu pagar. Hanya dibuka separo. Lantas memasukkan sepeda motornya ke halaman. Selanjutnya mematikan lampu-lampu, yang saklarnya ada di teras. Seperti pesan Jamil pada tukang agar saklarnya di teras saja untuk memudahkan mematikan dan menyalakannya. Setelah itu, seperti biasaynya ia langsung mengambul sapu ijuk. Menyapu teras rumah. Meskipun tidak kotor, tetapi tetap disapu. Setidaknya menghilangkan debu yang ada di lantai. Setelah selesai menyapu teras, barulah ia mengambil sapu lidi dan engkrak, untuk menyapu daun-daun yang berjatuhan di halaman rumah. Meski hanya sedikit, tetap harus disapu agar tidak jadi sarang nyamuk.
"He ..., Mas ....!! Kalau nyapu yang bersih ....! Jangan hanya menyapu di dalam saja ....! Ini yang dipinggir jalan juga disapu ....!!" tiba-tiba ada laki-laki gagah tinggi besar, kulitnya agak hitam berdiri di tengah pintu pagar, dengan suara keras menegur Parmo.
Tentu Parmo kaget saat mendengar suara itu dan menoleh ke arah laki-laki hitam besar dan kekar itu.
"Nggih, Pak ...." kata Parmo yang langsung menurut karena takut melihat orang itu.
Parmo pun langsung bergegas menyelesaikan menyapu bagian halaman. Lantas ke luar dari halaman, dan menyapu pinggir jalan. Bahkan juga sampai ke tengah jalan. Semuanya di sapu, sepanjang jalan di depan rumah Melian itu. Dan bahkan juga sudah melonjak di tempat tetangganya. Memang setelah kotoran di jalanan itu di sapu, ternyata cukup lumayan tumpukan sampahnya.
Parmo ingat dengan kata-kata kakak iparnya, Irul, "Kalau kerja jangan setengah hati .... Lakukan dengan sungguh-sungguh." Itu kata-kata yang dipegangnya. Maka ia pun menyapu jalanan itu hingga benar-benar bersih. Lantas sampahnya dimasukkan ke bak sampah di pojok halaman.
__ADS_1
Selesai sudah tugasnya pagi itu. Sudah mematikan lampu dan menyapu halaman hingga jalan di depan rumah. Sapu dan engkrak pun dikembalikan di pinggir sebelah kanan teras. Dan tentunya, Parmo ingin bergegas pulang untuk ke toko kakaknya. Ia pun langsung menuju motor yang terparkir di dekat pohon mangga.
"Tidak usah tergesa .... Sini, sarapan dulu ...." terdengar suara orang mencegahnya dan menyuruh sarapan.
Betapa kagetnya Parmo. Tidak melihat kapan datangnya, tidak melihat lewat mana, tiba-tiba saja laki-laki hitam dengan tubuh tinggi besar itu sudah duduk di kursi teras. Suaraya yang terasa sangat berpengaruh itu, menghentikan langkah kaki Parmo. Dan seakan Parmo tidak berani untuk melawan kata-kata orang itu. Ia pun dengan rasa takutnya, naik ke teras, menuju ke tempat laki-laki tinggi besar itu berada.
"Nggih, Pak ...." kata Parmo yang sambil menundukkan kepalanya karena agak takut. Orang itu sangat berwibawa dan terlihat seram.
"Tidak usah takut .... Terima kasih sudah membersihkan jalannya. Besok lagi kalau menyapu, tolong sekalian disapukan jalannya. Biar kelihatan bersih dan rapi. Mosok rumahnya sudah bagus dan kelihatan rapi kok depannya kotor .... itu kurang baik." kata laki-laki itu dengan suara yang sangat kuat terdengar ditelinga dan batin Parmo.
"Nggih, Pak ...." kata Parmo lagi yang masih menundukkan kepalanya karena masih takut.
"Ini .... Sarapan dulu ...." kata laki-laki itu yang sudah memberikan piring berisi nasi dengan lauk pauknya kepada Parmo. Sedangkang gelas berisi teh hangat masih ada di dingklik sebelahnya Parmo duduk.
"Nggih, Pak ...." kata Parmo sambil menerima piring berisi sarapan, dan masih belum berani menatap wajah laki-laki itu. Ia pun langsung memakan sarapan dalam piring yang disangganya.
"Ini teh hangatnya .... Diminum, biar nggak seret ...." kata laki-laki itu.
Tentu tanpa menjawab, Parmo langsung mengambil gelas dan meminumnya. Lagi-lagi, Parmo dibuat heran. Teh hangat yang diminumnya itu, rasanya sungguh enak. Kental, wangi, sedap dan menyegarkan. Bahkan nikmatya rasa teh hangat itu sampai ke ubun-ubun. Entah apa erek teh yang dibuatnya. Baru kali ini ia merasakan enaknya teh yang sangat luar biasa.
"Terima kasih, Pak ..., untuk sarapan dan tehnya .... Saya benar-benar kenyang ...." kata Parmo berterima kasih sudah diberi sarapan.
"Ya sudah ..., sana kalau mau pulang ...." kata laki-laki gagah itu, yang langsung mengangkat piring dan gelas yang sudah bersih dihabiskan oleh Parmo. Tanpa sisa sedikit pun.
__ADS_1
Parmo langsung berdiri, menyalami laki-laki itu. Dan yang ia beranikan, mencium tangan kekar hitam tersebut. Lantas turun dari teras, menuju ke motornya.
Demikian juga laki-laki tinggi besar hitam itu, melangkah menuju pintu pagar. Tetapi berhenti di pintu. Menunggu Parmo keluar dari halaman.
"Jalan saja, biar pintu pagarnya saya tutupkan. Jangan tolah-toleh .... Hati-hati di jalan." kata laki-laki itu saat Parmo yang sudah naik motor melintas di pintu pagar, yang ada laki-laki itu berdiri.
Tentu Parmo menurut saja. Tidak berani berkata apa-apa. Jangankan membantah, menatap wajahnya saja ketakutan. Namun diam-diam, Parmo melihat orang itu dari spion motornya. Dan seketika itu, Parmo kaget dan bingung. Laki-laki itu sudah tidak terlihat di spion motornya. Spontan Parmo menginjak rem, menghentikan motornya. Lantas menoleh ke pintu pagar rumah. Pintu pagar itu sudah tertutup. Tetapi laki-laki tinggi besar dan berkulit hitam itu sudah tidak ada di situ.
Dengan posisi masih duduk di jok motor, Parmo tengak-tengok. Mencari orang yang sudah memberi sarapan itu. Tetapi memang laki-laki itu sudah hilang. Entah ke mana. Begitu cepat orang itu pergi. Kalaupun pulang ke rumahnya, pasti juga jalan, yang tentu butuh waktu. Tapi kok aneh, apa secepat kilat orang itu kembali ke rumahnya?
Bulu kuduk Parmo langsung mengkorok. Ia pun kembali dihantui rasa takut yang semakin tidak kauruan. Ia pun langsung menggenjot motornya, langsung kabur dari tempat itu.
*******
"Hahaha .... Itu orang-orang yang kerja di tempat Kakek .... Sudah biasa orang-orang itu datang ke rumah Melian. Tapi yang ditemui dan yang dibantu, itu hanya orang-orang baik saja .... Berarti kamu sudah melakukan hal yang baik di situ .... Kamu harus bersyukur sudah diberi sarapan enak ...." kata Cik Indra yang menertawakan adik iparnya yang ketakutan bercerita pada orang-orang yang ada di toko.
"Ooo ...." Parmo melongo.
"Kakek itu rumahnya mana, Cik ...?" taya adik-adik iparnya.
"Katanya di dekat situ, dekat rumahnya Babah Ho .... Tapi saya belum pernah diajak ke rumahnya." jawab Cik Indra.
"Cik Indra pernah diteui juga ...?" tanya adik-adik iparnya.
__ADS_1
"Pernah .... Ya, waktu bersih-bersih gitu .... Juga diajak ngobrol di kursi teras itu .... Ini, yang mengirimi aquarium di depan itu, si Kakek ...." kata Cik Indra menguatkan keyakinan adik-adiknya agar tidak takut untuk pergi ke rumah Melian.
"Ooo ...." adik-adiknya melongo semua.