
Seperti yang direncanakan saat akan pergi liburan ke Lasem, yang dikatakan kepada bapak dan ibunya, Melian ingin belajar dagang di tempat Mas Irul dan Cik Indra. Tapi tidak mau menginap di toko. Ia akan tinggal di rumah Engkong yang kini menjadi warisannya itu.
Melian memang pemberani. Tidak takut meski tidur sendirian di rumah kuno yang sangat besar itu. Dan setiap pagi hari, sekitar jam tujuh, Melian dijemput oleh Parmo, diboncengkan menuju Toko Laris. Melian membantu Mas Irul dan Cik Indra melayani para pembeli di Toko Laris. Katanya, sebagai latihan magang. Terserah saja apa maunya Melian. Anak itu kalau sudah punya kemauan harus dituruti. Yang penting baik dan bermanfaat. Makanya Jamil, bapaknya, selalu mengalah.
Maka bagi tetangganya, terutama ibu dan bapak penjual sarapan, merasa heran dengan Melian, yang stiap pagi dijemput oleh Parmo.
"Parmo ..., kamu kok setiap pagi menjemput Melian itu diajak ke mana ...?" tanya ibu penjual sarapan itu, saat bertemu Parmo yang melintas di depannya, dan langsung menghentikan motornya.
"Berangkat kerja to, Bu ...." jawab Parmo.
"Lhoh ..., kok kerja ...? Katanya mau kuliah di Jakarta ...?" tanya si ibu itu.
"Lha ini kan masih liburan .... Dari pada bengong, nganggur ngethekur, lebih baik bekerja .... Kan lumayan punya kesibukan dan juga dapat bayaran ...." jawab Parmo.
"Oo ..., begitu ya .... Walah Cina cantik begitu kok ya sregepnya nggak karuan .... Sudah pinter, cantik, sregep dan mau kerja sembarang ..., sarapannya saja ya nrimo .... Itu pasti diajari sama bapak dan ibunya. Pantesan orang tuanya kaya." kata ibu penjual sarapan itu.
"Iya, Bu .... Maaf, saya mau menjemput Non Melian dulu ...." kata Parmo yang langsung menjalankan motornya.
"Ee, iya .... Hati-hati, Mas Parmo ...." sahut sang ibu itu, yang juga langsung masuk ke warungnya lagi.
Parmo pun langsung membuka pintu pagar rumah, lantas masuk ke halaman rumah Melian. Naik ke teras, mematikan saklar lampu.
"Melian ...!!" Parmo memanggil gadis yang akan dijemputnya.
Tidak ada suara jawaban. Parmo mencoba menengok dari kaca jendela. Tapi juga tidak melihat siapa-siapa. Tapi telinganya mendengar ceburan suara air. Pasti Melian masih mandi. Lantas Parmo kembali turun dari teras. Akan ke samping, untuk mengambil sapu dan engkrak.
Namun saat itu, di jalan ada motor berhenti, meski mesinnya belum dimatikan. Parmo menoleh ke arah jalan. Ada dua laki-laki yang berboncengan di motor itu. Dua pemuda itu memandangi Parmo, seakan penuh selidik. Lantas yang menyetir motor, menarik-tarik gasnya. Motor itu diblayer-blayer. Suaranya nggeber bising. Tentu orang-orang yang di sekitar tempat itu, mendengar suara kendaraan yang digeber-geber layaknya orang kampanye, langsung keluar dan marah pada dua pemuda yang ada di depan rumah Melian itu.
"Heh ...!!! Bising ...!!!" bentak salah satu warga.
"Jangan geber-beber di situ ...!!! Aku lempar batu, tahu rasa kamu ...!!" yang lain juga mengancam.
Motor itu langsung melaju kencang meninggalkan jalan itu. Pergi entah ke mana. Takut dimarahi orang-orang di sekitar tempat itu. Hilang tidak terlihat lagi.
Syukurlah, Parmo tidak kebisingan suara motor lagi. Menurut penglihatan Parmo, seolah dua pemuda yang berboncengan itu tadi meluapkan emosi kemarahan pada dirinya. Karena mereka menatap Parmo dengan pandangan seperti orang yang tidak suka dan menantang. Tapi Parmo membiarkan saja yang telah berlalu. Lantas ia ia melanjutkan niatnya untuk mengambil sapu dan engkrak, menyapu halam rumah hingga sampai ke jalan.
"Mas Parmo .... Saya sudah selesai .... Ayo kita berangkat ...." Melian keluar rumah, dan juga langsung menutup pintunya. Selanjutnya turun ke halaman, yang tentu menuju ke kendaraan Parmo yang diparkir di bawah pohon mangga. Dan pastinya Melian sudah dandan cantik, walau hanya mngenakan rok selutut dan baju kotak-kotak warna kuning.
"Iya, Non .... Sebentar, saya menyelesaikan membersihkan jalan. Ini tinggal ngeruk sampahnya." jawab Parmo yang tentu langsung bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
Melian melangkah ke dekat pintu pagar. Tentu ingin melihat Mas Parmo yang membersihkan jalanan. Dan Melian mendekat ke tempat Parmo yang sedang mengangkat sampah dengan engkraknya. Namun tiba-tiba, dari jalan arah belakang Parmo, ada sepeda motor dengan gas yang digeber-geber melaju kencang akan menabraknya,
"Awas, Mas Parmo .......!!!!" Melian berteriak kencang, sehingga mengagetkan Parmo yang sedang mengangkat engkrak berisi sampah dengan sapunya.
Spontan, Parmo yang kaget mendengar teriakan Melian yang memperingatkan dirinya, dan sadar mendengar ada suara motor yang keras menggeber, ia langsung menoleh. Parmo memutar tubuhnya, menengok ke belakang, tentu ingin melihat motor yang datang dari belakangnya. Saat Parmo membalikkan tubuhnya itu, maka otomatis engkrak dan sapu yang dipegangnya turut memutar. Dan seketika itu, sesuatu terjadi.
"Bruaght ...... Globragk ........!!!" suara benturan terdengar keras.
"Mas Parmo ........!!!!" Melian berteriak melengking.
Parmo ditabrak oleh pengendara motor yang ugal-ugalan itu.
"Ada apa ...?!"
__ADS_1
"Walah ..., tabrakan ...?!"
"Bagaimana ...?!"
"Ayo ditolong ..., dibantu ngangkat ...."
"Waduh ....?!"
"Bagaimana to, ini tadi ...?!"
"Iki piye, leh ...?!"
"Lha ini genah bocah gemblung yang mbleyer-mbleyer kendaraan tadi, to ...."
"Ha, ya .... Betul .... Ini tadi ngebut lewat depan rumah saya."
"Padahal tadi mau saya lempar batu .... Lha kok sekarang malah nabrak orang ...."
"Lha yo, tadi sudah saya bentak ..., sudah saya usir .... Lha kok nggak kapok itu lho ...."
Warga penduduk langsung berlarian keluar. Langsung berkerumun menyaksikan kecelakaan. Termasuk orang-orang yang sedang sarapan di warung, semuanya berlairan menuju ke jalan di depan rumah Melian. Bahkan bakul sarapan itu juga ikut berlari ingin tahu. Ya, pagi itu telah terjadi kecelakaan di jalan depan rumah Melian.
"Mas Parmo gak kenapa-kenapa ...?" tanya Melian pada Parmo.
Parmo bingung. Ia tidak bisa bicara. Tubuhnya tergeletak di jalan, dipeluk Melian. Hanya kepalanya yang tengak-tengok menyaksikan kerumunan orang. Ia tidak ingat apa yang terjadi.
"Ayo digotong ..., bawa masuk ...." kata seorang laki-laki yang sudah memegang tubuh Parmo, dan mengangkat bersama para tetangganya. Lantas tubuh Parmo digeletakkan di teras rumah Melian. Melian sudah menaruh kasur makasar di situ.
"Ambilkan teh hangat, diminumkan .... Biar tenaganya pulih." kata yang lain.
Parmo didudukkan, lantas diberi minum. Tentu ada teh hangat yang mengalir di tenggorokannya, menjadikan Parmo bertenaga lagi. Ia pun mulai sadar dengan ingatannya lagi.
"Mas Parmo ndak apa-apa ...?!" Melian yang khawatir, tentu masih memijit-pijit tubuh Parmo.
"Tidak apa-apa .... Saya ndak papa ...." Parmo bisa menjawab. Bahkan kemudian berdiri.
"Alhamdulillah ........." orang-orang yang mengerubungi Parmo langsung mengucap syukur. Tentu senang menyaksikan Parmo yang tidak apa-apa.
Namun di jalan, orang-orang masih berkerumun mengelilingi dua pemuda yang berboncengan motor yang menabrak Parmo. Dua orang itu duduk sambil meringis kesakitan dipinggir jalan. Tangannya pada lecet. Pasti kakinya juga sakit. Setidaknya memar karena benturan. Di samping dua orang yang kesakitan itu tergeletak engkrak yang terbuat dari blek minyak yang disigar sudah hancur serta sapu lidi yang berserakan di tempat mereka duduk. Ya, engkrak dan sapu itu sudah ditabrak oleh motor mereka.
Warga masyarakat tidak menolong dua orang itu, tetapi malah memarahi mereka. Tentu warga masyarakat kesal dengan ulah dua pemuda yang ugal-ugalan itu, apalagi dengan knalpot yang membisingkan suara. Bikin telinga budeg.
"Kapokmu kapan ...!!"
"Untung gak modar ...!!"
"Besok kalau lewat sini masih ngebrong dan ngebut, aku kalungi arit ...!!"
"Rumahmu mana ...?!! Saya laporkan ke lurahmu ...!!"
"Ampun ..., Pak .... Saya tobat .... Saya kapok .... Hu ..., hu ...." dua pemuda yang duduk kesakitan itu menangis minta ampun.
"Makanya kalau lewat jalannya orang itu pelan-pelan .... Kok malah kayak balapan .... Orang sedang menyapu kamu tabrak .... Ngawur saja ...!!" bentak warga yang lain.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain putar-puter kampung sini ...?! Mau maling, ya ...?!" bentak yang lain lagi.
"Tidak, Pak .... Kami hanya ingin lihat Melian ...." jawab yang satu.
"Iya, Pak .... Kami hanya mau ketemu Melian ...." kata yang satu lagi.
"Memang kamu kenal Melian ...?! Kamu temannya Melian ...?!" bentak salah satu warga lagi.
"Ndak, Pak .... Hanya ingin lihat kecantikannya saja ...." jawab pemuda yang tak berdaya itu.
"Mimpi, kamu .... Kamu itu siapa ...?! Memang Melian mau melihat tampang seperti kamu ...?! Ngaca dulu ...." kata salah satu bapak-bapak yang emosi mendengar jawaban pemuda itu.
"Lho wong Melian mau berangkat kerja, yang njemput malah kamu tabrak .... Lha terus kalau anaknya tidak jadi kerja gitu, apa kamu tidak kasihan ...?! Nanti bayarannya dipotong ...!" kata ibu-ibu yang tahu kalau Parmo itu menjemput Melian karena mau berangkat kerja di Toko Laris.
"Maaf, ampun .... Kami mau pulang, ampun ...." kata dua pemuda yang kesulitan bangun tersebut, minta izin agar boleh pulang.
"Yo wis, kono ndang balik .... Cepetan pulang ...!!" kata warga yang sudah kesal melihat dua pemuda itu.
"Awas kalau berani datang ke sini lagi ...!!" ancam orang-orang yang merasa terganggu.
"Motornya dituntun ...! Awas kalau sampai terdengar suara nggeber, saya bakar ...!!" ancam salah satu warga.
Lantas dengan jalan tertatih-tatih, dua pemuda itu membangunkan motornya yang rusak parah. Tentu agak repot juga menuntunnya. Tidak berani menghidupkan mesinnya, karena diancam warga. Akhirnya dua pemuda yang terpincang-pincang itu menuntun motornya dengan susah payah keluar kampung. Tidak boleh ada yang membantu, yang dilarang oleh salah seorang sesepuh warga, katanya biar menjadi pembelajaran buat pemuda-pemuda yang kurang ajar.
"Mas Parmo ndak papa ...?" tanya suami bakul sarapan yang sudah membawakan yeh hangat tadi.
"Ndak papa, Pak .... Saya sehat, kok ...." jawab Parmo.
"Apa diperiksakan di Puskesmas ...?" kata warga yang lain.
"Tidak, Pak .... Saya tidak apa-apa .... Betul, ini lho, utuh semua .... Terima kasih sudah ditolong ...." jawab Parmo yang memang tidak apa-apa.
"Ya sudah kalau memang tidak apa-apa." kata orang-orang yang menolongnya.
"Nik ..., Melian ..., kamu kenal dengan dua pemuda yang nabrak tadi?" tanya seorang bapak yang tadi sudah memarahi pemuda yang menabrak Parmo.
"Tidak, Pak .... Memang kenapa, Pak ...?" jawab Melian, yang langsung ingin tahu.
"Ooo .... Berarti dua pemuda itu tadi madik-madik .... Mencuri-curi ingin kenal Nik Melian .... Kamu harus lebih waspada dan hati-hati ya, Nik .... Pasti saat kami tinggal di sini nanti, banyak laki-laki yang mencoba mengganggu kamu." kata si bapak itu memberi nasihat kepada Melian.
"Iya, Pak .... Terima kasih sudah dinasehati .... Semoga Yang Maha Kuasa melindungi kita semua, kampung kita aman tidak terjadi apa-apa ...." jawab Melian yang tentu senang warga kampung sudah mau guyup rukun menolong Mas Parmo.
"Aamiiiiinnn ......." para warga pun mengaminkan kata-kata Melian.
"Egh ..., memang ini Nik Melian benar mau kerja ...?" tanya salah seorang ibu.
"Betul, Bu .... Ini Mas Parmo sebenarnya njemput saya untuk kerja. Tapi ..., yah namanya juga nasib, semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan. Kalau tidak ada peristiwa tabrakan ini, pasti bapak ibu semua tidak pada datang kemari. Terima kasih ya, Pak ..., Bu ...." kata Melian yang senang rumahnya dikerumuni orang.
"Wealah .... Jebul Nonik Melian ini bukan anak gedingan .... Sregep ...." kata ibu tadi.
"Lha iya, yang anak orang kaya saja mau bekerja, kok anak saya yang kere disuruh kerja jawabnya cuman males ..., males ..., males .... Dasar bocah keset ...." timpal ibu yang lain.
"Bu ..., Pak .... Kerja apa saja yang penting halal .... Pasti rezeki kita akan menjadi berkah barokah ...." Kini ganti Melian yang menceramahi para warga.
__ADS_1
"Beruntung yang punya anak gadis seperti ini .... Sudah cantik, rajin dan baik .... Mau nggak ya, kalau saya ambil jadi mantu ...?" kata salah seorang.
"Lha wong anakmu keset kok berharap punya mantu yang rajin .... Sudah ada dalilnya ..., orang baik akan dapat orang baik juga .... Gadis yang rajin, ya mesti dapatnya perjaka yang sregep ...." jawab orang-orang yang ada di situ.