
Melian sudah tergila-gila untuk ikut latihan wushu. Gerakan anak-anak yang kompak dan indah yang dilihatnya di halaman klenteng itu, sudah membius hatinya untuk terlibat dalam latihan wushu. Apalagi saat ia menyaksikan remaja-remaja yang juga berlatih di situ. Semuanya terlihat gagah, anggun dan berwibawa.
Mei Jing mengajak Melian menemui pelatihnya, guru wushu yang berdiri di teras klenteng. Mungkin pelatih senior, hanya mengawasi anak-anak yang latihan. Dan yang memberi aba-aba latihan adalah anak-anak muda.
"Halo Mei Jing .... Gimana kabarnya?" tanya laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun, yang memakai celana hitam comprang bawah lutut, serta kaos putih. Tubuhnya tegap dengan dada yang lebar. Berotot kuat dan kekar.
"Kabar baik, Suhu ...." Mei Jing menyalami dan mencium tangan sang pelatih, yang dipanggilnya sebagai suhu.
"Tidak ikut latihan?" tanya pelatih itu kepada Mei Jing.
"Ini, Suhu .... Teman sekolah saya ingin ikut latihan wushu di sini. Boleh apa tidak?" tanya Mei Jing pada guru wushu tersebut.
"Anak ini? Siapa nama kamu? Dari mana?" tanya guru wushu itu pada Melian yang sudah dihadapinya.
"Melian .... Saya dari Juwana, teman sekolah Mei Jing. Mohon izin ikut belajar wushu di sini." jawab Melian yang langsung menyalami dan mencium tangan guru wushu tersebut.
"Boleh .... Tapi wushu di sini tidak untuk berkelahi, ya .... Ini hanya untuk seni dan olah raga." kata guru wushu itu pada Melian.
"Saya tidak senang berkelahi, Suhu ...." jawab Melian yang langsung memanggil suhu.
"Silahkan langsung bergabung dengan teman-teman kalian." kata pelatih itu, nebyuruh Melian dan Mei Jing untuk ikut berlatih.
"Tapi, saya belum bawa kaos olah raga ...." kata Melian yang ragu-ragu karena tidak membawa kaos.
"Ikut dulu saja .... Pakai baju juga tidak apa-apa, yang penting bisa gerak." kata pelatih itu.
"Jing ..., kalau misalnya saya pulang sebentar ganti kaos dan training bagaimana? Habis, tadi tidak tahu kalau mau langsung latihan .... Kamu juga tidak bilang kalau langsung pakai kaos ...." kata Melian yang berbisik pada temannya. meminta pertimbangan pada Mei Jing.
Tentu Mei Jing langsung menyampaikan kepada pelatihnya.
"Suhu, teman saya, Melian, mau pulang sebentar untuk ganti kaos dan celana. Kostnya dekat, kok .... Di Jagalan." kata Mei Jing pada pelatihnya.
"Silahkan .... Hati-hati, tidak usah tergesa." jawab guru wushu itu.
Tentu, Melian sangat senang karena dibolehkan berganti kaos untuk ikut latihan wushu. Dan ia pun langsung berlari keluar, dan naik becak untuk diantarkan ke rumah kostnya. Jaraknya tidak terlalu jauh. Sebenarnya kalau Melian mau jalan kaki, paling-paling hanya sekitar lima menit. Tetapi karena saking senangnya dan sangat bersemangat, maka ia ingin segera sampai dan berganti kaos.
"Pak, tunggu sebentar .... Nanti saya balik ke klenteng lagi. Saya hanya mau ganti kaos." kata Melian menyuruh Pak Becak untuk menunggu.
"Ya, Nik ...." jawab tukang becak itu yang sudah kembali memutar becaknya.
Sungguh sangat bahagia Melian, karena begitu datang, inginnya melihat temnpat latihan wushu terlebih dahulu, ternyata langsung disuruh ikut latihan. Maka begitu masuk kamar kost, ia langsung terburu-buru untuk ganti celana training dan kaos. Setelah itu, ia sudah keluar lagi dari rumah kostnya itu, langsung naik ke becak.
"Cepetan ya, Pak ...." kata Melian pada Pak Becak yang sudah siap mengantar kembali ke klenteng.
"Siap, Nik .... Nonik ini kok tergesa-gesa sekali, memang ada apa?" tanya Pak Becak yang langsung mengayuh pedal becaknya.
"Mau latihan wushu, Pak ...." jawab Melian dengan penuh semangat, saking gembiranya.
__ADS_1
"Walah .... Mau bertarung dengan pedang-pedang itu ...?" tanya tukang becak itu.
"Ini seni, Pak .... Tidak untuk bertarung. Tetapi menari dengan memainkan pedang ...." jawab Melian sekenanya. Maklum dia belum paham tentang wushu yang sesungguhnya.
"Sama saja, Nik .... Intinya kan juga bela diri .... Seperti silat gitu, lho ...." protes tukang becak tersebut.
Dan becak itu sudah sampai kembali di depan klenteng. Padahal belum sempat Melian membantah tukang becak itu. Tetapi si tukang becak sudah menghentikan becaknya dan langsung mengangkat roda bagian belakang.
Melian pun segera melompat dari jok becak. Membayar, dan langsung berlari masuk ke dalam klenteng. Ikut menyusul teman-temannya yang sudah mulai berlatih wushu.
Mei Jing sudah berada di tengah lapangan, bersama anak-anak kecil. Ternyata Mei Jing sudah ikut melatih gerakan-gerakan dasar pada pemula.
"Melian ...! Ayo, ikut sini ...!" kata Mei Jing yang memanggil Melian, agar bergabung dengan anak-anak yang dilatihnya.
Tentu Melian langsung bergabung. Ia menurut saja apa kata temannya.
"Melian, kita bersama-sama latihan dasar. Tidak apa-apa bersama anak-anak yang masih kecil. Yang penting kita mulai dari dasarnya dulu. Ibarat orang membangun, gerakan-gerakan dasar ini adalah pondasinya." kata Mei Jing yang tentu agak kurang nyaman menyuruh Melian berlatih bersama anak kecil.
"Tidak apa-apa .... Memang kan harus mulai dari nol .... Aku senang kalau kamu yang melatihnya." sahut Melian yang tetap tersenyum.
"Kita akan melakukan gerakan dasar dalam wushu yang harus dikuatkan. Ikuti aba-aba saya, dan tirukan gerakan saya. Semuanya mengikuti. Ma bu ...!" teriak Mei Jing.
Lantas para peserta latihan yang dibimbing Mei Jing itu menggerakkan kakinya, terbuka dan lututnya ditekuk. Ma bu artinya kuda-kuda. Seperti bela diri lainnya, wushu juga menekankan gerakan dasar kaki kuda-kuda. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan pada tingkatan yang lebih rumit.
Lantas kata Mei Jing, "Tubuh berdiri tegak .... Kedua kaki dibuka selebar bahu. Lalu tekuk lututnya ..., hingga posisi seperti setengah duduk. Badan tetap tegak ..., jangan terlalu kaku." Mei Jing memberi instruksi. Lantas berkeliling ke barisan, memeriksa satu persatu anak-anak yang dilatihnya. Setelah benar cara melakukan kuda-kuda, Mei Jing kembali ke depan. Siap memberi aba-aba berikutnya.
"Posisi tetap melakukan ma bu ...! Kuda-kuda yang kuat .... Sekarang lakukan nan quan ..., pukulan tinju selatan. Lakukan pukulan tinju sekuat mungkin .... Kiri .... Kanan .... Satu ...!" teriak Mei Jing memberi aba-aba.
"Hikqht ...!" para peserta melakukan pukulan tentu sambil menghentakkan nafasnya.
"Dua ...!"
"Hikqht ...!"
"Hikqht ...!"
"Empat ...!"
"Hiyaaa .......!!!" para peserta latihan itu berteriak keras.
Ya, tinju selatan atau nan quan, merupakan teknik dasar pukulan-pukulan tangan yang keras dan kuat. Tentu harus ditopang dengan gerakan kuda-kuda yang baik, posisi sikap badan yang rendah. Gerakan tangan dari pukulan tinju selatan ini sebenarnya sangat rumit dan cepat, yang biasa digunakan untuk melakukan serangan-serangan jarak dekat. Serangan yang dihasilkan dari pukulan tinju selatan ini cukup efektif untuk menjatuhkan lawan, bahkan dapat mematikan. Biasanya pada pukulan tinju selatan ini ditambah dengan gertakan dan teriakan pada saat menyerang.
Melian terlihat senang. Ia menikmati latihan itu. Walau keringatnya langsung mengucur deras membasahi pakaiannya.
"Sekarang kita berlatih tan tui atau tendangan tajam. Cara melakukannya, luruskan tangan kanan di depan dada sambil tekuk pergelangan tangan sampai jari-jari tangan menghadap ke langit-langit. Seperti orang mau meminta sesuatu. Lantas tangan kiri, berada di pinggang sambil membentuk tinju dan posisi siku kiri rapat dengan badan. Posisi pergelangan tangan menghadap ke atas. Selanjutnya ..., lakukanlah satu tendangan kencang ke depan dengan memakai kaki kanan ..., sekuat-kuatnya. Nah seperti ini ...." kata Mei Jing sambil memberi contoh.
Anak-anak pun menirukan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Mei Jing. Termasuk Melian yang mengikuti secara bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Selanjutnya, kita akan melakukan ce chuai ti .... Tendangan menyamping .... Cara melakukan ce chuai ti atau tendangan samping adalah ..., Anda tetap berdiri tegap dan tangan mengepal, seperti mau meninju. Pergelangan menghadap ke atas. Letakkan di pinggang, sikunya menempel badan .... Nah, seperti ini." kata Mei Jing sambil memberi contoh, lantas memeriksa satu persatu anak-anak yang latihan. Termasuk membetulkan posisi Melian yang masih kurang pas.
"Selanjutnya ..., tarik kaki kanan sedikit ke belakang. Kemudian kaki kiri diangkat lututnya hingga berada di pinggang .... Selanjutnya tendangkan kaki ke samping setinggi mungkin. Nah ..., seperti ini ...." Mei Jing memberi contoh.
Anak-anak menirukan gerakan Mei Jing. Tentu ada yang langsung bisa, tetapi ada juga yang masih kesulitan, bahkan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Sekarang ganti kaki kanan yang menendang. Lakukan hal yang sama seperti tadi, ganti untuk kaki kanan yang menendang. Seperti ini ...." kata Mei Jing sambil memberikan contoh.
Kembali anak-anak menirukan gerakan Mei Jing. Termasuk Melian. Sama seperti tadi, ada yang langsung bisa, tetapi ada juga yang masih kesulitan.
"Mari kita ulangi bersama-sama ..., untuk kaki kiri lebih dahulu .... Satu ...!" seru Mei Jing.
"Hikqht ...!" para peserta melakukan tendangan samping kaki kiri setinggi meungkin, sambil menghentakkan nafasnya.
"Dua ...!"
"Hikqht ...!"
"Hikqht ...!"
"Empat ...!"
"Hiyaaa .......!!!" murid-murid itu berteriak keras sambil menendangkan kakinya sekuat tenaga.
"Gantian kaki kanan .... Satu ...!" teriak Mei Jing lagi.
"Hikqht ...!" teriakan murid-murid sambil menendangkan kaki kanannya.
"Dua ...!"
"Hikqht ...!"
"Hikqht ...!"
"Empat ...!"
"Hiyaaa .......!!!" lagi-lagi para murid itu berteriak keras sambil menendangkan kakinya sekuat tenaga.
Mereka terus berlatih dan tetap bersemangat. Karena wushu inilah tradisi peninggalan nenek moyangnya, yang oleh para pelatih mengatakan harus dilestarikan.
"Nah ..., yang terakhir, kita akan melakukan gerakan tinju utara atau yang dikenal dengan nama chang quan. Gerakan chang quan inilah yang sering diperlihatkan dalam atraksi-atraksi wushu. Nanti gerakannya sudah dipadukan antara pukulan dan tendangan, tetapi tidak berhenti di tempat .... Melainkan pukulan dan tendangan ini ditambah dengan gerakan loncatan dan putaranm seperti layaknya kita menari balet yang indah dan menawan. Kita harus lincah, cepat, gesit, dan lentur atau fleksibel. Nah ..., gerakannya seperti ini ...." Mei Jing langsung memberikan contoh gerakan chang quan.
Lantas anak-anak pun langsung mempraktekkannya. Berkali-kali. Melompat kian kemari, sambil memukul, menandang, bahkan melayang di udara. Sangat bagus, memang terlihat seperti penari balet. Oleh karena itu, dalam latihan wushu sangat tepat bila diajarkan sejak kecil. Meski sudah besar, namun Melian tetap bisa mengikutinya.
"Gong bu ....!" teriak Mei Jing, serta memberi contoh gerakannya.
Anak-anak langsung melakukan posisi menunduk, dengan memposisikan kaki kiri ke depan dan lututnya ditekuk, sedangkan kaki kanan berada di belakang lurus. Lantas merapatkan kedua tangan di depan dada, dan menganggukkan kepalanya. Gerakan ini sebagai salam penghormatan.
__ADS_1
Mei Jing sudah melatih anak-anak dan juga Melian. Tanpa terasa, ternyata waktu sudah sore.
Keringat mengucur di seluruh tubuh Melian. Baru kali ini ia mengenal wushu. Sudah mencoba berlatih. Dan sangat menyenangkan. Gerakan-gerakannya terlihat lemah, tetapi setelah dipraktekkan ternyata sangat luar biasa kuat. Sehingga harus menguras energi yang tidak sedikit.