GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 205: PASRAH BERSERAH


__ADS_3

    Kondisi Irul sudah membaik. Sudah bisa mengajak bicara Parmo. Dan pastinya sudah menyuruh Parmo untuk lebih sering berada di ruang tunggu ICU. Siapa tahu dipanggil oleh dokter atau perawat terkait dengan kondisi caciknya. Memang sebenarnya Irul tidak sakit, mungkin hanya karena kelelahan dan kepikiran saat menyaksikan kondisi istrinya.


    "Parmo .... Sini sebentar ...." Irul memanggil adik iparnya untuk mendekat ke samping bed tempat berbaringnya.


    "Iya, Mas .... Ada apa, Mas Irul?" tanya Parmo yang sudah duduk di kursi bulat di depan kakak iparnya.


    "Mo ..., istrimu ditelepon ..., suruh ngurusi toko, suruh menekel semua pelanggan dan pesanan-pesanan. Tukijan disuruh mengatur karyawan yang mengantar barang, sama suruh nyari sopir, pocokan tidak apa-apa. Kalau mau ya disuruh jadi sopir tetap, biar bisa ngantar barang ke seluruh pelanggan. Kalau Nurjanah keberatan ngurusi pembeli, suruh karyawan membantu. Yang tahu baca tulis. Setidaknya bisa mencarikan pesanan orang. Sementara waktu tidak usah order ke pemasok dulu, nunggu saya agak sehat. Nanti kalau saya sudah lumayan, kamu pulang, bantu istrimu. Kamu yang di dalam, biar Tukijan yang ngatur bagian luar."


    "Iya, Mas ...." jawab Parmo yang tidak berani membantah kakak iparnya.


    "Ini kamu nunggunya ke ruang tunggu di ICU, biar kalau ada kabar apa-apa mudah dihubungi oleh perawat." kata Irul lagi agar Parmo menunggui caciknya.


    Memang Parmo sudah lebih banyak berada di ruang tunggu ICU. Karena yang dikhawatirkan, kalau ada panggilan keluarga, jika terlalu jauh tidak dengar atau tidak tahu. Maklum, satu orang menunggui dua pasien. Pasti Parmo sangat kelelahan dan mengantuk. Tetapi ia tetap menahannya, menguat-kuatkan dirinya.


    "Ya, Mas .... Mas Irul ..., ini Pak Jamil tidak dikabari?" tanya Parmo tiba-tiba.


    "Tunggu sehari lagi ya, Mo .... Kalau saya sudah sehat. Besok saya sudah boleh keluar, kok .... Kata dokter ini infus terakhir. Kalau infus ini sudah habis, dan selang-selangnya ini sudah diambil, saya sudah boleh menengok Cik Indra. Jadi kalau Pak Jamil ke sini, tidak bingung karena dua orang sakit semua. Saya sakit, Cik Indra sakit .... Malah nanti pada ribut, kayak para tetangga tadi .... Itu kan gara-gara kamu nelepon Nurjanah. Saya khawatir nanti malah Pak Jamil dan Mbak Jum ikut ngabari Melian. Kasihan Melian yang masih kuliah di Jakarta, kalau tahu saya sakit, pasti akan memaksa pulang." jawab Irul yang penuh pertimbangan.

__ADS_1


    "Iya, Mas .... Saya minta maaf. Habis ..., saya juga bingung kok .... Berarti besok yang ngabari Mas Irul saja. Biar Pak Jamil hanya tahu yang sakit Cik Indra." tandas Parmo.


    "Yo, wis ....  Besok saya yang telepon Pak Jamil. Sana kamu ke ruang tunggu di ICU saja. Tunggui Cik Indra, kalau ada apa-apa. Saya tak Istirahat dulu." sahut Irul yang langsung menyuruh adik iparnya itu menunggui caciknya.


    Sebenarnya Irul memang tidak ingin merepotkan orang lain. Tidak ingin memberi tahu kalau dirinya sakit. Namun terkadang justru orang lain yang sering marah-marah kalau tidak dikasih tahu. Katanya sudah nggak butuh, gak mau kenal, gak menganggapsaudara lagi dan lain sebagainya. Intinya, orang-orang itu setiap ada apa-apa harus kabar-kabar. Sehingga semua tahu. Padahal terkadang hal itu justru membuat repot orang lain. Mestinya kerja harus membolos atau ijin tidak masuk hanya gara-gara urusan sepele. Tapi yah, seperti itulah fakta yang terjadi di masyarakat. Apalagi di pedesaan. Seperti halnya di kampung tempat tinggal Irul. Segala sesuatu adalah kebersamaan dan kekeluargaan. Satu orang yang sakit, warga satu kampung ikut merasakan kesedihannya.


    Parmo langsung berdiri dari kursi yang ada di samping tempat pembaringan Irul. Ia meninggalkan ruangan Irul, dan menuju ke ruang tunggu yang ada di samping ICU.


    Selanjutnya Irul menata posisi tubuhnya agar terasa nyaman. Maklum sudah hampir dua hari ia terbaring di bed pasien rumah sakit. Pungngungnya sudah terasa panas. Tubuhnya malah terasa kaku semua. Apalagi ia juga harus menjaga tangannya yang diinfus. Pasti rasanya tersiksa. Dan jika teringat kondisi istrinya yang memprihatinkan, pasti rasanya ingin segera mendatangi intrinya yang terbaring tanpa daya.


    "Kakek ...?!" Irul yang kaget dan terheran itu, sempat menyapa laki-laki tua yang duduk di sampingnya berbaring. Ya, si kakek tua yang menemuinya kemarin siang, kakek tua yang sering menemui Indra, kini sudah dua kali menemui dirinya.


    Kakek tua itu masih diam. Hanya bibirnya yang tersenyum. Duduknya di kursi sangat santai. Kaki kanannya ditumpangkan ke kaki kiri, dua telapak tangannya berada di atas lututnya. Seakan sedang membezuk atau menunggui Irul.


    "Maafkan saya, Kek .... Mungkin saya belum bisa ikhlas .... Saya masih menangisi istri yang menderita. Bahkan dalam kondisi seperti ini, saya masih mengatur adik-adik saya .... Mohon bimbingan dari Kakek ...." kata Irul yang sangat menyesal belum bisa melakukan ajaran si kakek kemarin siang.


    Kakek itu tetap diam. Hanya senyumnya yang semakin menenangkan hati Irul. Pertanda kakek itu tidak marah. Tetapi Irul justru bingung, apa yang mestinya harus dilakukan.

__ADS_1


    "Kakek ..., jika kami bersalah, berikanlah teguran .... Atau jika perlu berikanlah hukuman kepada kami. Apakah istri saya sudah keliru? Ataukah saya yang tidak patuh?" tanya Irul lagi, yang tentunya ingin mendapat wejangan serta nasehat dan petuah dari si kakek itu.


    Tetapi, lagi-lagi si kakek itu hanya tersenyum. Tidak berkata apa-apa. Bahkan tubuhnya pun tidak ada gerakan sama sekali. Hanya wajahnya yang terlihat bingar dengan senyumannya.


    "Maafkan kami yang sudah terlalu banyak menimbun harta .... Maafkan kami yang selalu memikirkan keuntungan .... Maafkan kami jika kami masih membawa atau ada bagian dari harta kami yang bukan hak atau milik kami. Namun mohon izinkan saya bertanya, Kek ..., apa kesalahan kami sehingga Yang Maha Wenang memberi ganjaran seperti ini?" kini suara Irul semakin bergetar. Bibirnya sudah mulai mimbik-mimbik pertanda mau menangis. Dan air matanya sudah mentes di pelipis serta membasahi bantal.


    Namun, lagi-lagi si kakek itu hanya tersenyum. Tanpa ada kata apapun. Tentu hal ini semakin membuat Irul menjadi bertambah bingung.


    "Jika Kakek ini utusan Sang Khalik, katakan saja dan lakukan apa yang telah dititahkan oleh Sang Khalik kepada kami. Sampaikanlah kepada kami suratan takdir yang harus kami terima. Apapun kehendak Sang Khalik, kami akan menerimanya dengan lapang. Tidak ada yang akan kami pertahankan, tidak ada yang akan kami rebut. Lakukanlah, Kek .... Kami pasrah dan berserah ...." kata Irul yang mulai mengecil hatinya, merasa tidak berwenang mengatur hidup. Yang ia mampu hanya pasrah pada suratan takdir.


    Tiba-tiba si kakek itu bangkit dari duduknya, lantas berdiri. Kini tangannya sudah terlipat sedekap di dada.


    "Ikhlas tidak harus tegar. Bisa jadi menangis itu juga pertanda ketulusan hati. Banyak harta bukan berarti serakah, tetapi bisa jadi itu adalah berkah. Bekerja keras hingga larut pun bukan berarti tergila-gila dengan keduniawian, tetapi itu bisa jadi sebagai bakti dalam ibadahnya. Tetapi yang harus diingat adalah bahwa semuanya itu bersumber dari Yang Maha Memberi. Maka dekatkanlah dirimu pada Sang Kuasa. Suratan takdirmu tak seorangpun tahu. Tidak juga saya .... Bahkan Sang Khalik pun akan merubah takdir seseorang sesuai dengan tabiatnya. Oleh sebab itu, senantiasa bersedialah untuk menerima semua kenyataan. Entah itu pahit yang tidak boleh diludahkan atau dimuntahkan, dan manis yang tidak harus selalu dijilati. Lahir, jodoh, rezeki dan kematian, yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa. Berserahlah pada apa yang akan dititahkan oleh Sang Khalik, karena semua rencana-Nya lebih baik dari apa yang kamu harapkan. Tidurlah ..., hari sudah larut. Besok pekerjaanmu cukup berat." kakek itu sudah menasehati Irul.


    Tentu Irul sudah mendengarkan, memasukkan dalam sanubarinya. Ia pun berjanji dalam hatinya, akan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin, pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dan yang pasti, Irul akan berusaha berbakti untuk kebaikan.


    Irul pun menuruti kata-kata si kakek yang menyuruhnya tidur. Ia pun memejamkan mata. Dan tidur. Apa yang akan terjadi esok, ia sudah siap menyongsongnya. Irul pasrah dan berserah pada rencana Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


__ADS_2