
Jamil memulai usaha, melanjutkan kerajinan kuningan milik mantan bos-nya. Dengan delapan orang pekerja, dua diantaranya perempuan. Semuanya masih muda. Masih dibawah usia Jamil. Tentu dengan usia yang masih muda-muda, para karyawan ini mempunyai tenaga yang prima, dan semangat yang masih membara. Dan setidaknya, Jamil tidak merasa sungkan untuk menyuruh ataupun memberi nasihat. Tentu demi kebaikan para pekerja dan perudahaan.
Tentu Jamil sangat bersyukur, para karyawan yang tua yang kebanyakan sudah malas-malasan, mereka semua memilih keluar. Orang-orang yang susah untuk diajak maju ini lebih memilih diberi pesangon dari pada disuruh bekerja yang menurut mereka tidak pasti dan tidak bisa diharapkan hasilnya. Mereka lebih memilih uang yang sudah jelas-jelas tampak di depan matanya. Sementara kalau bekerja, dalam kondisi krismon ini sangat tidak bisa diharapkan. Apalagi keputusan bos yang lama, mereka dirumahkan karena tidak ada pekerjaan. Jamil justru senang para karyawan tua itu keluar.
Setelah orang-orang yang memilih minta pesangon semua pulang, kini di tempat tamu itu, dimana tadi sudah dijadikan tempat berkumpul bersama seluruh karyawan, kini hanya tinggal delapan orang karyawan ditambah Jamil yang kembali duduk membaur dengan para karyawan itu. Tentu Jamil akan memberikan pengarahannya pertama kali sebvagai seorang bos.
"Teman-teman, adik-adik semua ...." kata Jamil membuka pembicaraan.
"Iya, Pak ...." sahut para karyawannya.
"Saya mengucapkan terima kasih, karena saudara-saudara muda saya ini mau membantu saya. Saya bersyukur sebab teman-teman masih mau bekerja di sini." kata Jamil pada karyawannya.
"Kami yang berterima kasih, Pak Bos ...." celetuk salah satu karyawan.
"Jangan panggil saya bos .... Saya itu juga pekerja biasa sama seperti sampeyan .... Kita semua sama ...." kata Jamil yang risih dipanggil Pak Bos.
"Nggih, Pak ...." kata orang yang nyeletuk tadi.
"Hari ini kita belum memulai kerja. Tepatnya kita akan menata lebih dahulu tempat kerja kita. Menata posisi, menata lokasi, dan menata yang bertanggung jawab. Walaupun kita itu nanti semuanya saling membantu, tetapi harus ada yang bertanggung jawab pada masing-masing bagian. Supaya bagian-bagian itu tahu, mana yang kurang, mana yang lebih, mana yang harus didahulukan, dan mana yang harus ditinggal. Setidaknya masing-masing penanggung jawab ini tahu kelebihan dan kekurangannya. Maka sebagai penanggung jawab masing-masing bidang saya pasrahkan pada sampeyan-sampeyan yang kemarin sudah berada di bagiannya masing-masing. Nah, silahkan kalian merasa punya keahlian di bagian apa, tolong disampaikan." kata Jamil yang sudah mulai menata personilnya.
"Pak Jamil .... Boleh saya usul?" kata salah seorang karyawan yang masih muda.
"O, ya .... Silakan ...." saut Jamil.
"Kalau bisa, kerajinan kita itu jangan hanya membuat itu-itu saja .... Paling-paling kran air, handle pintu, yang paling besar cuman lampu hias ...." kata anak muda itu.
"Lhah, yang kamu maksud kita mesti buat kerajinan apa lagi? Terus terang saya butuh masukan dari kalian .... Saya itu orang desa yang tidak sekolah, sehingga tidak mudeng tentang kerajinan-kerajinan itu .... Tolong kalau kamu punya ide dikembangkan di sini ...." kata Jamil yang memang hanya bisa mengamplas kuningan selama sepuluh tahun.
__ADS_1
"Sekarang ini kita kan sedang krismon, Pak .... Harga bahan bakunya mahal, tapi kalau sudah jadi barang maudijual mahal tidak laku. Bagaimana kalau kita membuat hiasan-hiasan kecil-kecil yang bisa dijual murah dan banyak disenangi orang ...?" kata anak muda tersebut.
"Nah ..., inilah karyawan-karyawan jenius .... Saya tidak pantas disebut bos, karena tidak bisa berpikir seperti yang muda-muda. Ayo, kembangkan ide-ide kalian ...." kata Jamil yang memotivasi para karyawannya.
"Hiasan-hiasan kecil yang bisa dijual murah dan banyak disenangi orang itu contohnya apa ...?" tanya salah satu temannya.
"Ya ..., misalnya bros. Kaum wanita banyak yang menggunakan bros ini sebagai asesoris pada pakaiannya." kata anak muda yang punya ide itu.
"Oooo ..., iya ..., ya .... Saya tahu yang kamu maksud .... Itu, to ..., yang sok ditempelkan di baju-baju orang kaya itu, kan ...." sahut temannya yang mulai terbuka wawasannya.
"Iya ..., saya juga punya bros, tapi dari plastik ...." sahut karyawan perempuan yang sudah tahu maksudnya juga.
"Betul .... Tapi jangan hanya bros saja .... Bisa bentuk-bentuk lain yang dimungkinkan laris dibeli orang." kata yang lainnya.
"Nah ..., kan .... Kalian semua memang sebenarnya punya banyak ide .... Tetapi kenapa tidak dituangkan di sini ...?" kata Jamil yang memuji para karyawannya.
"Habis, dulu produknya sudah ditentukan hanya itu kok, Pak ...." jawab salah seorang karyawan.
"Eh, iya ..., Pak Jamil .... Mohon maaf, gaji kami bulan kemarin belum dilunasi, Pak ...." tiba-tiba salah seorang karyawan menyampaikan masalah gaji yang belum dilunasi.
"Hah ...?! Yang benar ...?!" tentu Jamil kaget mendengar hal itu.
"Betul, Pak .... Kami yang tetap mau bekerja di sini ini, yang karyawan-karyawan baru, gaji bulan kemarin baru dibayar separo, Pak ...." sahut yang lain lagi.
"Apa benar begitu, Mabak Ika ...?" Jamil menanyakan ke Mbak Ika yang mungkin lebih tahu.
"Benar, Pak .... Saya juga baru dibayar separo ...." jawab Ika.
__ADS_1
"Mas Bono juga sama seperti itu?" tanya Jamil pada karyawan bernama Bono, yang oleh Jamil dianggap paling dewasa.
"Iya, Pak .... Oleh Pak Bos dulu dijanjikan tengah bulan, tapi sampai Pak Harto lengser kami tetap belum dibayar." jawab karyawan paling senior di antara mereka yang bernama Mas Bono itu.
Jamil terdiam. Bingung akan berbuat apa. Ternyata perusahaan yang ditinggalkan oleh bos-nya itu, yang disuruh mengelolanya, benar-benar dalam kehancuran. Utangnya ada di mana-mana. Bahkan juga utang kepada karyawan. Namun disisi lain, Jamil juga bingung, harus mencari uang dari mana untuk membayar tunggakan gaji para karyawan tersebut.
"Maaf, Pak .... Kami tahu kondisi keuangan di perusahaan ini .... Kami rela kekurangan gaji kami tidak dibayar atau dibayar nanti kalau perusahaan sudah membaik. Kan Pak Jamil dulu juga rekan kami, kami paham dengan kesulitan ekonomi di masa krismon ini ...." kata Mas Bono yang memang semenjak bekerja di situ orangnya sangat baik dan peka dengan masalah perusahaan.
"Ya ampun Mas Bono .... Kamu benar-benar orang baik. Tetapi bagaimana dengan yang lain ...?" kata Jamil yang memuji Mas Bono.
"Tidak apa-apa, Pak ...."
"Kami juga sama seperti Mas Bono, Pak ...."
"Yang penting kita jalan dahulu, Pak ...."
"Betul, Pak .... Soal gaji nanti bisa dicicil ...."
"Yang penting tempat usaha kita berjalan lancar, Pak ...."
Teman-teman .... Sebenarnya Pak Jamil ini sudah berkorban lebih banyak daripada kita ....Beliau tidak hanya gaji saja yang dikorbankan, tetapi untuk menutup utang perusahaan dan memberi pesangon teman-teman kita yang keluar, iyu semua berasal dari uang pribadi Pak Jamil .... Jadi, kita harus membantu Pak Jamil untuk memulihkan tempat usaha, tempat kerja kita ...." tiba-tiba Mbak Sri, karyawan perempuan bagian packing itu nimbrung berbicara.
"Ah, Mbak Sri .... Tidak usah dibicarakan itu .... Justru saya sangat sakut dengan para karyawan ini yang rela dipotong gajinya untuk nomboki perusahaan. Sudah, tidak usah khawatir .... Nanti kalau kondisi keuangan kita sudah membaik, semua kekurangan bayaran kalian akan saya berikan .., akan saya lunasi ...." kata Jamil berjanji pada karyawannya.
"Horeee .... Terima kasih, Pak Jamil ...." sambut para karyawan yang tentu senang dengan harapan yang diberikan oleh bos barunya tersebut.
Pembagian kerja pun berjalan lancar. Bagian-bagian pekerjaan, mulai dari produksi pencampuran tembaga dengan bahan-bahan lain seperti seng, pembuatan produk kerajinan, penghalisan atau finishing, packing dan penjualan. Semuanya sudah terbagi penanggung jawabnya. Dan sekarang, walau karyawannya berkurang banyak, tetapi bagiannya justru ditambah, yaitu desainer, pembuat rancangan model barang-barang seperti asesoris yang akan dicetak.
__ADS_1
Jamil senang melihat karyawannya berlomba-lomba untuk mengeluarkan idenya. Tentu nanti akan banyak variasi produk yang dihasilkan. Dan tentunya untuk mencari barang yang mudah pemasarannya serta tidak terpengaruh oleh krismon.
"Baiklah, terima kasih .... Saya senang bisa bersama kalian semua, bekerja bersama, dan nantinya untuk mendapatkan hasil yang bisa kita bagi bersama. Untuk hari ini kita cukup, kalian boleh pulang. Besok pagi kita mulai kerja." kata Jamil pada para karyawan.