
Melian dan Putri semakin enjoi kuliah di Jakarta. Mereka pun semakin akrab ke mana-mana. Meski Putri anak konglomerat dari Sulawesi Utara, sementara Melian hanya anak pengusaha kerajinan kuningan yang tidak begitu besar, tetapi perbedaan keadaan orang tuanya itu bukanlah pembatas untuk hidup bersama di Kota Metropolitan yang sangat prural. Namun yang pasti, mereka berdua sama-sama ingin menuntut ilmu secara sungguh-sungguh. Setidaknya ingin menjadi pengelola bisnis dari usaha yang dimiliki oleh orang tuanya.
Dua gadis cantik itu ke mana-mana selalu bersama. Benar-benar akrab dan saling bisa menerima. Seperti sore itu, saat mereka harus berangkat kursus bahasa Inggris. Mereka berdua terlihat tergesa, karena jadwal kuliahnya agak molor. Karena takut terlambat, maka dua gadis cantik, Melian dan Putri mencari jalan pintas agar cepat sampai di tempat kursus. Mereka berjalan kaki melintas di gang kecil, yang tentunya padat penduduk. Dan pemukiman semacam itu, pasti banyak anak berlalu-lalang, bermain berlarian berkejar-kejaran. Lantas banyak juga orang-orang yang pada nongkrong di depan rumahnya. Tentu kalau berada dalam rumah, mereka akan gerah dengan udara yang cukup panas. Ya, pemukiman padat penduduk dengan rumah kecil-kecil yang berjubel memang sebenarnya tidak sehat. Tidak hanya sirkulasi udara maupun sinar matahari, tetapi juga dari sedgi sosial budaya. Pasti kurang baik untuk pertumbuhan jiwa anak.
Seperti waktu itu, inginnya Melian dan Putri adalah mencari jalan tercepat. Namun kenyataannya, apa yang ia harapkan tidak sesuai. Justru ketika mereka melintas di gang sempit itu, Melian dan Putri harus sabar melintas. Sabar melewati anak yang bermain di tengah jalan, sabar menyelinap diantara ibu-ibu yang sedang ngerumpi di tengah jalan, bahkan juga harus minggir ke atas got saat ada motor yang nekat lewat. Banyak sekali keanehan-keanehan yang ia jumpai.
Dan tiba-tiba saja, saat melintas di semah yang tidak karuan bentuknya, mungkin tidak pernah diurusi oleh yang punya, ada dua pemuda mirip gembel melompat ke tengah jalan mencegat Melian dan Putri. Dua pemuda itu matanya merah, wajahnya kusut, rambut acak-acakan. Kelihatan sekali kalau dua orang ini sedang mabuk. Dari gerakan tubuhnya agak gintai. Dua laki-laki itu langsung menjulurkan tangan ingin menangkap Melian dan Putri.
"Mel ..., aku takut, Mel ......" bisik Putri yang sudah memepetkan tubuhnya pada Melian.
"Kamu tenang saja, Put .... Jangan takut ...." Melian membisiki Putri.
Tentu Putri sangat ketakutan melihat dua laki-laki brengsek yang menghadangnya itu. Dan dalam kondisi seperti itu, kenyataannya tidak ada warga yang mendekat atau menghalangi sikap jahat dua laki-laki yang mabuk itu. Pasti warga di situ juga takut dengan pemuda-pemuda brengsek itu.
"Hahaha .... Hayo, cepat tangkap ayam kampus itu ....!!!" ternyata beberapa pemuda lagi masih berada dalam rumah tempat asal dua laki-laki yang melompat ke gang dan menghadang Melian dan putri itu.
Pasti mereka adalah komplotan pemuda-pemuda brengsek yang sedang pesta miras. Mereka pada mabuk-mabukan di rumah itu. Pantas rimahnya kotor dan jorok. Ternyata isinya para pemabuk.
Mendengar kata-kata dari teman-temannya yang ada di dalam rumah, seperti disuruh. Sambil tertawa kegirangan, dua laki-laki tidak karuan itu langsung menubruk Melian dan Putri. Pasti akan menangkap gadis yang cantik-cantik itu. Bagi pemuda-pemuda brengsek seperti itu, yang dipengaruhi alkohol, melihat Melian dan Putri pasti langsung tergoda.
Namun saat dua laki-laki itu berusaha menangkap Melian dan putri, tiba-tiba saja terdengar suara.
"Glabrughk ..., brockk ....!!! Pyok ....!!"
Dua laki-laki brengsek itu sudah terjatuh. Seorang jatuh tertelungkup di tengah jalan, presis di depan Melian dan Putri. Sedangkan yang satu lagi masuk ke dalam got. Dua orang itu tak berkutik.
__ADS_1
Melihat dua orang temannya tergeletak tak berdaya, maka beberapa pemuda yang tadinya tertawa-tawa di dalam rumah itu, langsung pada keluar. Pasti mereka juga akan menangkap dua gadis yang diincarnya itu.
"Mel ..., aku takut ...." lagi-lagi Putri ketakutan diagnggu pemuda-pemuda kurang ajar itu.
"Kamu tenang saja, Put .... Kalau takut, pegangan lengan saya. Biar saya yang hadapi pemuda-pemuda brengsek ini." kata Melian yang sudah bersiap untuk menerima tantangan selanjutnya.
"Heh ..., perempuan ****** ...!!! Jangan macam-macam kalian di wilayahku ...!!!"
"Kita seret saja ...!!! Kita perkosa ...!!!"
"Ya ..., kita nikmati .... Hahaha ....!!!"
"Ini enak, bos ....!! Hahaha ....!!!"
"Hati-hati, Mel .... Aku takut ...." kata Putri yang tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Tangkap perempuan ini ........!!!!" teriak salah satu pemuda brengseng itu.
Lantas empat orang pemuda brengsek itu sudah maju bersama-sama, akan menangkap Melian dan Putri. Namun lagi-lagi, saat para pemuda brengsek itu berusaha menangkap dua perempuan yang dipikirnya tak berdaya, ternyata, Melian sudah mengayunkan kaki kanannya. Meski tidak terlihat keras, ternyata tendangan Melian sudah menghantarkan para begundal itu kelimprukan. Semua kebagian tendangan kaki lembut dan mulus milik Melian itu.
"Glabrughk ....!!"
"Gdubraghtk ....!!!"
"Wadauuuuuh ....!! Sakiiiit ....!!!"
__ADS_1
"Ampuuunnnn ....!!!"
Empat orang berandal itu mengikuti jejak dua temannya yang sudah menggeletak di jalan dan masuk got. Tetapi kali ini Melian lebih sadis. Empat berandal yang berusaha melecehkannya itu, ditendang hingga terpental dan berjatuhan di dalam rumah yang dijadikan markas mabuk tersebut. Tentu mereka pada kesakitan. Ada yang jatuh menimpa pagar, ada yang menghantam pintu, dan ada juga yang bergelimpangan di dalam rumah.
Setelah pemuda-pemuda brengsek itu berjatuhan tanpa daya, Melian langsung melangkahkan kaki, kembali mengajak Putri untuk melanjutkan jalannya menuju tempat kursus.
"Mel ..., kamu hebat .... Ternyata sahabat saya yang kelihatannya lemah ini, sangat luar biasa .... Aku kagum padamu ...." puji Putri pada Melian, yang tentu rasa takutnya sudah hilang bersama berjatuhannya para brandal kurang ajar tadi.
"Aah .... Itu kan karena mereka pada mabuk, sehingga tak berdaya .... Kalau mereka normal, ya pasti mereka akan lebih kuat yang kita kira ...." Melian merendah.
"Ah ..., tidak, Mel .... Aku yakin, kamu pandai bela diri .... Nyatanya bisa mengalahkan enam orang sekaligus ...." bantah Putri yang tetap kagum pada kehebatan Melian.
"Ya, sudah .... Kita cepetan dikit, gak enak kalau terlambat masuk kelas kursus .... Karena privat, muridnya hanya kita berdua .... Ayo ...." Melian mengajak jalan lebih cepat.
Sebenarnya, saat Melian melawan para pemuda berandal tadi, banyak warga yang mengintip. Tentunya para warga ini juga was-was. Takut kalau gadis-gadis cantik itu jadi korban pemerkosaan orang-orang yang sedang pesta miras. Namun para warga pun ketakutan. Karena pemuda-pemuda brengsek itu sebenarnya jumlahnya tidak cuman enam orang. Tetapi kalau sudah ngumpul semua, jumlahnya puluhan. Maka kampung itu sebenarnya memang tidak aman. Tetapi seluruh warga tak berdaya untuk mengatasi masalah penyakit sosial itu. Jika laporan ke pihak berwajib, jawabnya malah disuruh menjaga kampungnya sendiri. Istilahnya keamanan swadaya. Warga menjaga lingkungannya sendiri.
Tapi kalau para berandal ini diperingatkan, mereka malah mengancam. Tentu warga yang ada di situ ketakutan. Dan saat para berandal tadi dihajar oleh seorang gadis cantik yang kelihatannya lemah, tentu mereka senang. Mereka bangga. Dan tentunya, mereka berharap para berandal ini pergi meninggalkan kampungnya. Kapok dihajar oleh gadis yang disepelekan. Tidak ada satu warga pun yang mendekat ke berandal-berandal yang bergeletakan kesakitan itu. Mereka masih takut kalau jadi salah sasaran.
Memang, akhirnya setelah mereka bisa bangun, bisa mengangkat tubuhnya, bahkan yang pingsan sudah sadar, satu persatu dari mereka pada pergi meninggalkan tempat itu. Rumah kosong yang selama ini dijadikan markas mabuk-mabukan. Secara tidak langsung, Melian sudah mengusir orang-orang jahat itu dari kampung brengsek tersebut.
"Sorry I came late, sir ...." kata Melian pada instruktur kursusnya yang tentu sudah menunggu beberapa menit.
"No problem. Please, sitdown ...." jawab sang instruktur dari Australia itu.
Selanjutnya, Melian dan Putri kembali mengikuti kursus. Seolah tidak pernah terjadi masalah di jalanan tadi.
__ADS_1