GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 118: PERGUMULAN DAHSYAT


__ADS_3

    "Blught ...!!!"


    "Globragk ......!!!"


    Suara gaduh terdengar dari dalam kamar yang sudah ditutup oleh Cung Kek. Entah apa yang terjadi, suara itu terdengar keras sampai di ruang keluarga, tempat di mana teman-temannya sudah pada teler.


    "Cung Kek .... Jangan keras-keras mainnya .... Pelan pelan saja ...." tentu Kecik beranggapan kalau temannya itu sedang melakukan pergumulan dengan Melian di dalam kamar. Ia tahu hal itu dari video yang dinyalakan, salah satu cara untuk memberi hiburan awal.


    "Globragk ......!!!" terdengar suara gaduh lagi.


    "Auuuuch .........!"


    "Enak, Cung ...? Sudah puncak, ya ...? Gantian, Cung .... Aku juga pengin, nih .... Sudah tegang ...." lagi-lagi Kecik menyaut suara-suara yang didengarnya.


    Tanpa bicara, Prendes sudah berjalan terhuyung menuju kamar, tempat di mana Cung Kek sudah membawa masuk Melian. Tentu jalannya kurang stabil karena sudah ndoyong kebanyakan minum congyang. Sambil menyandarkan badannya di pintu, Prendes langsung membuka pintu kamar itu. Tidak terkunci.


    "Hah ......?! Cleguuk ...." Prendes langsung menelan ludah, begitu melihat di atas tempat tidur terkapar tubuh molek yang tidak tertutup apapun.


    Prendes langsung meloncat. Inginnya menubruk Melian. Tetapi karena kesadarannya sudah tidak sempurna akibat alkohol, laki-laki yang sudah bernafsu itu tidak sampai di kasur. Justru menubruk pinggir tempat tidur.


    "Glabrught ...!!" tubuh Prendes membentur pinggiran dipan. Pasti kesakitan.


    Namun karena pengaruh alkohol, nafsu hewannya yang sudah terlanjur menggelora itu, memaksa Prendes justru membuka seluruh pakaiannya. Tentu karena matanya yang melihat perempuan tanpa pakaian menggeliat di atas kasur itu membuat kesadarannya menjadi fokus pada keinginan untuk segera kembali meloncat di atas tubuh Melian. Bahkan ia tidak mempedulikan sekitarnya. Bahkan ia juga tidak peduli Cung Kek ada di mana. Pikirnya, paling-paling setelah puas, Cung Kek langsung pergi. Matanya hanya fakus menyaksikan barang indah di atas kasur. Ia tidak berfikir lagi tentang temannya.


    "Ndes ..., gantian ...!!" teriak Kecik yang semakin bergairah ketika harus menonton video yang disetel oleh temannya.


    "Brught ...!!"


    "Uuhh ...!!"


    Lagi-lagi terdengar suara gaduh dari kamar. Kecik yang juga sudah geloyoran karena mabuk, mencoba berdiri. Lalu menuju kamar yang kini pintunya sudah tidak ditutup. Sambil rambatan, Kecik menuju kamar itu. Dan saat sampai di pintu, matanya langsung terbelalak. Bukan karena tubuh Prendes yang sudah tergeletak di kasur tanpa daya, tetapi karena di atas kasur itu ada perempuan yang bergerak menggoda nafsu setannya. Ya, karena Melian yang menunggu mangsa berikutnya.


    Tentu laki-laki yang dalam kondisi mabuk itu, yang oleh teman-temannya dipanggil Kecik, langsung akan melaksanakan aksinya, ingin menikmati keindahan malam seperti yang sudah dilakukan oleh teman-temannya. Kecik bergegas naik ke atas kasur. Ingin melancarkan serangan maut terhadap Melian yang seakan menantang di atas kasur.

__ADS_1


    Namun, setelah sampai di kasur, ia mencoba menyingkirkan tubuh Prendes yang dianggapnya mengganggu, ternyata ia mendapati temannya itu sudah tak berdaya. Tubuh Prendes yang lumayan gede, yang tergeletak di samping Melian itu, semula diduga oleh Kecik karena kelelahan dan mabuknya sehingga tidak kuat pergi. Ternyata, Prendes lemas tak berdaya, seperti orang pingsan.


    Kecik yang berusaha menyingkirkan tubuh itu, spontan langsung kaget dan penuh tanda tanya. Ada apa dengan Prendes? Mengapa temannya itu diam saja?


    Dan alangkah lebih terkejut lagi, saat ia melihat ke samping tempat tidur. Ternyata teman yang satunya lagi, yaitu Cung Kek sang pemilik vila itu, yang tadi menyeret masuk Melian, sudah terkapar di lantai dalam keadaan tanpa busana.


    Lantas Kecik tidak jadi menggarap Melian. Ia langsung turun dari tempat tidur itu, bergegas menuju tempat terkaparnya Cung Kek.


    "Kek ...., Cung Kek .... Bangun, Kek ...." Kecik berusaha membangunkan temannya yang tergeletak tengkurap di lantai, tentu sambil benggoyang tubuh Cung Kek.


    Namun tidak ada reaksi sama sekali dari temannya. Cung Kek tidak bergerak. Bahkan tidak bernafas. Lantas Kecik berusaha membalikkan badan Cung Kek yang kurus kerontang itu. Tentu sangat gampang untuk digelempangkan. Dan setelah tubuh kurus itu terlentang ke atas, alangkah kagetnya Kecik melihat temannya.


    "Cung Kek ....!!! Kamu kenapa, Kek ...?!!" Kecik berteriak kencang begitu melihat wajah temannya berlumuran darah, dan Cung Kek sudah tidak bernyawa lagi.


    Lantas Kecik kembali ke tempat tidur, mengamati teman yang satunya, yang masih tergeletak di atas kasur.


    "Ndes .... Prendes ........?!!" Kecik kembali menghoyak tubuh temannya. Sama sekali tidak ada reaksi. Baru sadar kalau temannya, si Prendes juga sudah tidak bernyawa.


    "Boughk ....! Jroossss ...!"


*******


    Jam dua belas malam, saat jam gandul yang terpajang di ruang keluarga itu berdentang. Di tengah malam sunyi, maka suara dentang jam itu sangat keras terdengar di telinga orang yang mendengarnya. Jonatan kaget. Ia berusaha bangun dari tidurnya di sofa. Kepalanya pusing karena pengaruh minuman beralkohol. Meski minumnya tidak begitu banyak, namun karena belum berpengalaman dalam minum minuman keras, ia pun harus mengakui sudah mabuk.


    Begitu bangun ia terkejut. Di ruang itu sudah tidak ada orang. Tempatnya berserakan. Botol berceceran di mana-mana. Kulit kacang juga berserakan. Namun sepi. Pada kemana teman-temannya? Kemana juga Melian? Apa sudah pada tidur?


    Dengan jalan terhuyung-huyung karena pengaruh mabuk, Jonatan menuju kamar mandi. Jonatan langsung mencuci muka agar lebih fres. Rambutnya dibasahi. Tentu biar lebih segar. Dan ternyata benar. Jonatan sudah menjadi lebih baik. Setidaknya mabuknya sudah berkurang. Apalagi sudah tidur lumayan lama. Pasti pengaruh alkohol sudah agak hilang.


    Setelah merasa agak enak, Jonatan bermaksud mencari Melian. Apakah sudah tidur? Di kamar mana Melian berada?


    Jonatan langsung menuju ke kamar yang pintunya terbuka dan lampunya menyala. Dugaannya Melian tidur di kamar itu. Dan ternyata, setelah sampai di kamar itu,


    "Melian ......!!!" Jonatan menjerit. Kaget menyaksikan Melian tak berdaya, tanpa pakaian di atas tempat tidur. Apalagi saat menyaksikan di atas kasur itu juga ada dua laki-laki temannya sendiri. Pasti pikiran Jonatan sudah tidak karuan.

__ADS_1


    "Melian .... Maafkan saya, Mel .... Huk ..., huk ..., huk ...." Jonatan langsung mengambil selimut. Membalut tubuh Melian dengan selimut. Lantas membopong tubuh Melian yang tidak sadarkan diri ke kamar mandi. Tengah malam itu juga Melian dimandikan oleh Jonatan.


    "Byuuurrr .... Byuuurrrr ...."


    "Ada apa ini ...?! Kenapa saya ...?!" Melian sadar. Ia kaget karena tubuhnya terasa dingin terkena air lereng gunung. Tentu langsung menggigil.


    "Syukurlah, Mel .... Kamu sudah sadar .... Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Jonatan yang masih memandikan perempuan yang dicintainya itu.


    "Memang saya kenapa, John? Ada apa dengan saya, John? Apa yang terjadi dengan diri saya, John?" Melian yang bingung pasti banyak pertanyaan.


    "Tenang, Mel .... Tidak apa-apa .... Aku tetap mencintaimu .... Walau kamu sudah dirusak oleh teman-temanku sendiri." berkata begitu, Jonatan sudah mengira kalau Melian sudah diperkosa oleh teman-temannya.


    "Jadi .... Uh .... Jahat kamu, John ...!!! Antarkan aku pulang sekarang juga ...!!!" Melian menampar Jonatan dan minta untuk diantar pulang.


    Jonatan tidak bisa apa-apa lagi. Padahal kondisi dirinya masih belum sempurna. Pengaruh minuman keras itu belum hilang sepenuhnya. Tetapi apa boleh dikata, dengan sangat terpaksa ia harus mengantarkan Melian pulang.


    Setelah Melian mengenakan pakaian. Setelah mengenakan jaket dan sepatunya. Dengan wajah marah, Melian langsung minta diboncengkan, minta diantar pulang.


    Jonatan langsung menyalakan motornya, jalan di tengah malam yang gelap dan dingin. Tampaknya Bandungan habis diguyur gerimis. Jalannya basah. Itu semakin menambah dinginnya malam.


    Melian tidak lagi mau berpegangan pada Jonatan. Tentu karena marah. Ternyata Jonatan bukanlah orang baik. Bukan mengajak refresing. Tetapi justru menyuguhkan dirinya untuk teman-temannya. Sangat keterlaluan. Melian sangat menyesal sudah percaya pada Jonatan.


    Namun sebaliknya, niatan Jonatan yang sebenarnya hanya ingin bersenang-senang dengan Melian, Jonatan yang masih dalam upaya nembak Melian, kini semuanya hancur gara-gara ulah teman-temannya. Tentunya Jonatan lebih menyesal. Ia tidak hanya menyesali kesalahannya itu, tetapi juga kecewa calon pacarnya sudah direnggut teman-temannya.


    Jonatan semakin bingung. Saat ia ingin menyelamatkan Melian, saat ia masih berharap Melian mau dengan dirinya, saat ia ingin Melian tahu ketulusannya, tetapi justru Melian marah. Melian justru tidak mempercayainya lagi. Tentu hal itu membuat pikiran Jonatan menjadi bimbang, apakah akan tetap mencintai Melian dengan keadaannya seperti sekarang ini, ataukah ia akan meninggalkan Melian yang sudah dirusak oleh teman-temannya?


    Dalam kebingungannya itulah, Jonatan tidak konsentrasi dalam menyetir. Di tengah malam gelap, melintas jalan Bandungan yang berkelak-kelok, naik dan menurun serta menikung tajam, kanan kiri terdapat tebing dan jurang, apalagi jalanan yang basah karena gerimis, tentu sangat bahaya jika menyetirnya kurang hati-hati.


   Jonatan menarik gas sangat kencang. Jonatan mulai emosi dengan kemarahan Melian. Jonatan ingin secepat mungkin sampai. Mumpung jalan sepi. Maka kendaraan yang pantas untuk balapan tersebut, sudah melaju sangat kencang. Jonatan tidak memperhitungkan tajamnya tikungan dan turunan. Ia sudah tidak mempedulikan Melian lagi. Apapun yang terjadi pada Melian biarlah ditanggung sendiri. Jonatan justru kecewa, kenapa tadi tidak ikut mencicipi sekalian.


     Namun tiba-tiba, laju kendaraan Jonatan tidak terkendali. Di tikungan yang tajam, motor itu tidak bisa dibelokkan. Motor itu bablas, terbang ke udara dan jatuh masuk jurang.


    "Ngoeeengngng ..... Bruoght ...!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2