
Sesampai di rumah, Meski sudah menjelang malam, Melian meminta ibunya untuk membantu membuka kardus oleh-oleh yang dibawakan oleh ibunya Putri. Tentu Melian juga ingin tahu isinya.
"Mak .... Kardus oleh-olehnya kita buka, ya ...." kata Melian pada ibunya.
"Eh, iya ..., Mel .... Siapa tahu ada yang bisa basi." sahut ibunya, yang kemudian mengangkat kardus itu di meja ruang keluarga. Lantas mengambil pisau untuk membuka solasi yang melapisi kardus tersebut.
Lantas mereka berdua membuka kardus, dan mengeluarkan isinya. Satu persatu dikeluarkan.
"Wao .... Ini kaos gambar Bunaken, Mak .... Kemarin Melian piknik ke sini ...." kata Melian sambil membuka kaos itu, dan memamerkan kepada ibunya.
"Kok ini gambarnya orang menyelam di dalam laut?" Jamil yang melihat langsung berkomentar.
"Iya, Pak .... Saya kemarin menyelam ke laut .... Memang ini namanya Taman Laut, Pak .... Jadi kalau ingin menyaksikan keindahan laut, maka kita harus menyelam. Kalau hanya nonton dari atas kapal, kurang bagus .... Paling hanya bisa melihat ikan-ikan saja." jelas Melian pada orang tuanya.
"Kamu masik ke dalam laut, Nduk ...?" tanya ibunya.
"Iya, Mak .... Eh, sebentar .... Saya ambilkan fotonya waktu saya berada di dalam laut." kata Melian yang langsung berlari mengambil foto yang tersimpan di dalam tas. Lantas setelah mengambil foto-foto waktu piknik, langsung ditunjukkan kepada ibu dan bapaknya.
"Ini .... Foto Melian saat di dasar laut ...." Melian menunjukkan foto yang diperoleh saat berada di dalam laut. Tentu foto dari pemandu snorkeling, yang jadi satu paket dengan pemotretan.
"Waah ..., bagus banget .... Kamu tidak takut, Nduk?" tanya ibunya yang menyaksikan foto anaknya bermain ikan dan terumbu karang di dasar laut.
"Tidak lah, Mak .... Kan ada pemandunya. Saya dan Putri bareng-bareng dibantu oleh pemandu. Ini .... Foto saya dengan Putri saat bermain dengan ikan .... Nah ..., yang ini saat berada di terumbu karang yang beraneka warna. Lha yang ini saat kami menyelam sampai ke dasar laut .... Bagus kan, Mak ..., Pak ...." kata Melian sambil menunjukkan foto yang lain. Ya, waktu itu Putri dan Melian memang minta difoto cukup banyak dan akan menambah ongkosnya. Makanya ia bisa menunjukkan foto yang banyak kepada bapak dan ibunya.
"Ooo .... Jadi ada orang yang ngajari, gitu ya, Nduk ...?" tanya ibunya.
"Sama menjaga keselamatan, Mak .... Walau belum bisa renang, nanti dibantu sama pemandunya ...." jawab Melian.
"Lhah, itu alatnya yang dipakai untuk menyelam beli di sana, gitu ...?" bapaknya ikut bertanya.
"Tidak, Pak .... Itu sewa di sana. Paketan dengan wisata snorkeling, ya pakaian, pemandu sama foto-foto jadi satu paket. Nanti kita keluar dari laut, terus ke tempat pengelola wisata, mengembalikan pakaian, fotonya sudah jadi.
"Wah .... Bagus sekali .... Bayarnya mahal, nggak ...?" kata bapaknya.
"Tidak, Pak .... Kan yang menyewa banyak .... Pasti untungnya juga besar." jawab Melian.
"Ooo .... Begitu, ya ...." sahut bapaknya.
"Ini kaosnya ada tiga potong, Mak .... Untuk Mak-e satu, Pak-e satu .... Yang satu buat Melian." kata Melian yang langsung membagi kaosnya pada bapak dan ibunya.
"Iya .... Terima kasih ya, Nduk ...." kata bapak dan ibunya.
__ADS_1
Selanjutnya Juminem mengeluarkan lagi barang yang ada di kardus itu. Lantas mengeluarkan dus yang ada di dalam kardus itu. Kemudian membuka dos itu.
"Lhah, ini roti .... Ada rotinya .... Ini roti apa, Nduk ...?" tanya ibunya.
"Ini namanya kue klappertaart .... Roti taart khas Manado, Mak .... Rasanya enak banget." kata Melian yang sudah merasakan.
Juminem lantas mengambil pisau, kemudian memotong-motong kue itu. Kue satu loyang itu sudah dibagi-bagi menjadi potongan kecil-kecil. Dan tentu langsung mengambil potongan kecil serta memasukkan ke mulutnya.
"Hmm .... Enak banget .... Lembut, manis .... Pokoknya enak banget .... Ini, Kang .... Cobalah ...." kata ibunya, yang kemudian mengambil sepotong dan diberikan kepada suaminya.
"Iya, betul .... Enak banget .... Roti apa namanya, Nduk?" Jamil yang merasakan enaknya kue itu, lantas menanyakan namanya.
"Ini namanya kue klappertaart, Pak .... Ada susunya, kelapa muda, almon, rum .... Empuk dan enak, Pak ...." sahut Melian.
"Kalau yang ini apa ya, Nduk ...?" tanya ibunya yang sudah mengangkat bungkusan plastik satu pak, berisi lonjoran-lonjoran kecil yang terbungkus daun yang sudah kering atau semacam terbakar.
"Hah ..., apa ya ...?! Ini ada tulisannya. Kue bagea ...." kata Melian yang sudah membaca plastik pembungkus kue itu.
"Kue bagea ...? Apa ya ...? Mak-e kok belum pernah dengar, leh ...." kata Juminem yang bingung.
"Dicoba saja, Mak ...." kata Melian yang langsung membuka plastik pembungkusnya, lantas mengambil selonjor dan dibuka daun pembukusnya yang gosong karena terpanggang. Lantas kue itu ia gigit.
Ibunya mengambil dua lonjor. Yang satu diberikan kepada suaminya.
"Agak keras .... Tapi rasanya enak ...." kata Jamil yang sudah mencicipi kue bagea itu.
"Iya, enak .... Ini dibuat dari tepung sagu .... Ini kalau di tempat kita sama dengan kue sagu .... Cuman bedanya kalau kue sagu hanya diemplek-emplek begitu saja, langsung disangan, tanpa dibungkus daun." kata Juminem yang juga sudah mencicipi kue bagea itu.
"Iya ..., betul .... Ini rasanya seperti kue sagu kalau lebaran itu ...." sahut bapaknya.
"Ini isinya masih banyak, lho ...." Juminem menunjukkan isi kardus oleh-oleh yang dibawa Melian.
"Dibuka saja, Mak .... Siapa tahu ada yang bisa basi, harus dimakan sekarang atau dimasukkan ke kulkas." kata Melian yang meminta ibunya untuk mengeluarkan semua oleh-oleh itu.
"Iya, Nduk .... Ini .... Apa, ini ...? Kue pia amurang. Apa ya ...?" kata Juminem yang sudah mengeluarkan dus kecil ada tulisan pia amurang.
"Ini kan kue bakpia." kata Jamil yang sudah mengambil satu dan menggigitnya.
Ya, kue pia amurang memang merupakan bakpia khas Manado. Seperti bakpia dari Jogja, bakpia Patuk, atau bakpia dari daerah lain, kue ini terbuat dari campuran gula, kacang hijau dan terigu. Hanya namanya saja yang tiap daerah berbeda-beda.
"Ini botol apa ya, Nduk ...?" tanya Juminem pada anaknya, sambil menunjukkan botol plastik yang diangkat dari kardus.
__ADS_1
"Bentar, Mak .... saya bacanya ...." kata Melian yang langsung mengamati tulisan yang tertempel pada botol itu. Lalu katanya, "Ini sambal, Mak .... Sambal roa. Ah, iya .... Kemarin Melian sudah mencoba menikmati sambal roa, tapi langsung, tidak dimasukkan ke botol. Malah baru saja ngulek. Enak, Mak." kata Melian.
Sambal roa menrupakan sambal khas Manado, sangat dikenal oleh masyarakat luas karena rasanya yang enak. Sesuai dengan namanya, yaitu sambal roa, sambal ini terbuat dari olahan ikan roa yang banyak dijumpai di perairan Laut Manado. Cara pembuatannya, ikan roa yang diasap terlebih dahulu, kemudian diambil dagingnya saja dan digiling hingga halus. Nanti untuk dijadikan sambal. Kemudian bahan sambalnya yang terdiri dari cabai keriting, bawang merah, bawang putih, terasi, gula pasir, daun jeruk, dan batang serai. Lantas digongso dahulu, selanjutnya diulek atau digiling hingga halus. Setelah itu masukkan ikan roa tadi dan digiling bersama hingga tercampur merata. Jadilah sambal roa.
"Kalau yang ini kue apa?" Jamil ganti bertanya, setelah mengangkat bungkusan kue.
"Ini di plastiknya tertulis kue panada, Pak." jawab Melian yang sudah membaca tulisan yang tertera di bungkus plastik itu.
"Rasanya kok aneh ...." kata bapaknya lagi, yang sudah mencicipi.
"Saya coba, Pak .... Eh, kayak pepaya .... Tapi kok ada ikannya ya .... Kayak pastel ikan ...." kata Melian yang ikut mencicipi.
Memang benar, kue panada ini merupakan salah satu kue yang unik, karena berbahan dasar dari parutan pepaya muda dengan campuran ikan cakalang. Kue ini pun hanya bisa ditemukan di Manado saja, tidak ada di daerah lain.
Lantas Juminem mengambil lagi oleh-oleh yang masih ada di kardus. Ia mendapati bungkusan plastik berisi kacang. Ada tulisannya "kacang goyang". Kalau hanya makanan kacang, di setiap daerah pasti ada. Bahkan di Pati atau Juwana juga ada makanan dari kacang sangrai. Tetapi nama kacang goyang, merupakan salah satu yang khas dari Manado dan memiliki penggemar yang cukup banyak. Seperti namanya, jajanan ini terbuat dari kacang yang disangrai dan cara menyangrainya harus digoyang-goyang. Itulah sebabnya maka diberi nama kacang goyang.
Yang terakhir ada dalam kardus adalah satu tepak plastik yang berisi seperti gula kacang. Di tepak plastik itu tertempel pres bertuliskan "Halua Kenari". Makanan ini merupakan salah satu jajanan yang juga terkenal di Manado. Memang bentuknya sama persis dengan gula kacang yang banyak diproduksi di Jawa, Rasanya pun sama, yaitu manis dan gurih. Hanya bedanya adalah bahan kacangnya. Bukan dari kacang tanah, terbuat dari kenari yang dicampur dengan gula merah sehingga memiliki rasa yang khas.
"Naaa .... Kalau ini saya suka .... Kayak gula kacang, tapi enak banget ...." kata bapaknya yang sudah menggigit dan habis satu.
"Iih ..., Pak-e .... Jangan terlalu banyak makan yang bergula, Pak .... Hati-hati sudah tua, nanti kalau kena sakit gula, lho ...." Melian mencoba mengingatkan bapaknya.
"Sedikit saja .... Kan mencoba rasanya ...." kata Jamil yang tetap melanjutkan makan sampai habis.
"Eh ..., ini Mas Irul sama Cik Indra mau kamu kasih apa nggak, Nduk?" tiba-tiba Juminem teringat dengan Itul dan Indra.
"Iya, Mak .... Dikasih yang nggak cepet basi .... Setidaknya tahu jenis makanan dari Manado, Mak ...." jawab Melian.
"Ya .... Nanti Mak ambilkan .... Saya simpan di kulkas dulu." jawab ibunya.
"Iya, Mak ...." sahut Melian.
"Kapan mau ke rumah Mas Irul ...?" bapaknya langsung bertanya.
"Sabtu saja ya, Pak .... Melian mau istirahat dulu .... Capek diajak keliling Manado sama keluarganya Putri. Oh, iya ..., Mak, Pak ..., orang tuanya Putri bilang, kalau ada waktu Pak-e dan Mak-e disuruh berkunjung ke Manado." kata Melian menyampaikan pesan dari ibunya Putri.
"Iya, Nduk .... Besok kita ngumpulkan uang dulu .... Piknik ke Manado itu biayanya pasti banyak ...." sahut bapaknya.
"Ya sudah, Mak ..., Pak .... Melian mau rebahan dahulu .... Ngantuk dan capek." kata Melian yang langsung beranjak masuk kamar.
"Gak makan lagi ...?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Ndak, Mak .... Masih kenyang ...." jawab Melian yang bablas saja.
Melian pun langsung merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Memandangi atap langit, dinding-dinding kamar, bahkan juga meja riasnya yang sekaligus jadi meja belajar. Enam bulan ia meninggalkan kamar itu. Tentu sangat kangen untuk memeluk bantal gulingnya. Lantas terlelap.