
Setelah rumah Babah Ho sudah diambil alih kembali oleh oleh Indra dan Irul, dan tentu surat-surat kepemilikan tanah dan bangunan itu diberikan kepada Pak Jamil, yang nantinya akan diberikan kepada Melian sebagai ahli waris dari Babah Ho. Kini Jamil mulai memperbaiki bangunan tersebut. Setidaknya membersihkan dan mengecat kembali rumah yang sudah lama tidak ditempati tersebut. Dan yang paling penting adalah menyambung listrik yang dulu sudah diputus oleh PLN karena lama menunggak.
Hari Minggu, Jamil beserta dengan keluarganya, yaitu Juminem dan Melian, istri dan anaknya, datang ke rumah Engkong untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak. Tentu juga membawa tukang dari Juwana. Tiga orang tukang bangunan. Maklum di kampung itu, tempat dimana rumah Babah Ho berada, tidak ada tukang yang mau mengerjakan. Katanya takut, karena rumahnya serem. Yah, maklum. Namanya juga keyakinan orang. Hal-hal tahayul pasti saja ada. Apalagi kalau hampir seluruh warga di situ menganggap rumah itu angker, maka semuanya percaya kalau rumah itu memang banyak hantunya. Meskipun belum ada yang pernah melihat hantu itu.
Namun setelah listrik terpasang kembali, sengaja Jamil meminta penerangan lebih banyak di setiap sudut tempat. Tentu untuk membuat rumah itu kembali bersinar terang.
"Mas ..., tolong yang di jalan lampunya ditambah. Satu di pintu masuk, dan satu lagi di pojok sisi kiri itu, biar terang." kata Jamil kepada tukangnya yang ada tiga orang itu, yang dibawanya langsung dari Kampung Naga.
"Nggih, Pak .... Yang teras juga dua ya, Pak ..., kanan dan kiri, biar terang sekalian." kata tukang itu.
"Ya, Mas ..... Yang penting semuanya terang .... Lha wong ini listriknya sudah diputus hampir lima tahun, he ...." saut Jamil.
"Mas ..., minta tolong dicek bangunannya, apa saja yang kira-kira perlu diperbaiki .... Nanti dirinci, dibelanjakan materialnya, terus dipasang .... Pokoknya yang rusak-rusak diperbaiki." kata jamil pada tukang-tukangnya.
"Nggih, Pak .... Nanti kami lihat semua dulu, sambil membersihkan sawang-sawangnya .... Yang penting kelihatan bersih, terus dicat lagi. Nanti kelihatan seperti baru, Pak Jamil ...." tutur tukang itu.
"Ya .... Kalau hari ini tidak rampung, nginep sini ya ...." kata Jamil pada tukang-tukangnya.
"Ya, Pak .... Ini ngecat satu rumah ditambah pagar, paling tidak satu minggu, ini, Pak ...." kata si tukang itu.
"Tidak apa-apa .... Satu bulan pun tidak masalah .... Yang penting rumah ini jadi kelihatan bagus." kata Jamil.
"Lha, Pak Jamil juga menginap di sini, kan ...?" tanya tukang itu.
"Lha yo pulang, to .... Kan saya harus ngawasi pabrik .... Melian juga pulang, karena harus sekolah ...." jawab Jamil yang tentu tidak bisa nunggui para tukang itu.
"Lhah .... Lha nanti kalau ada kurang-kurangnya bahan bagaimana? Apa kami ngebon? Tokonya apa percaya?" tanya tukang itu yang tentu khawatir dengan kebutuhannya sehari-hari.
"Nanti ada Mas Irul yang setiap hari ke sini. Kalau kurang apa-apa, bilang saja sama Mas Irul. Itu, dulu karyawan Bima Sakti yang menempati kamar di bangunan belakang itu .... Nah, sekarang Mas Irul sudah jadi juragan sembako di Toko Laris. Situ, tempatnya dekat, kok ...." jelas Jamil yang tentu tukangnya tidak merasa khawatir.
"Oh, Nggih, Pak .... Na, kalau begini ..., cetho ...." kata si tukang itu.
"Yang penting lampunya dicek, sudah nyala semua. Termasuk di ruang dalam, kamar-kamar, dapur dan kamar mandi. Pastikan semuanya terang." kata Jamil pada tiga orang tukang itu.
"Nggih, Pak Jamil ...." sahut si tukang.
Para tukang itu bekerja sepenuh hati. Semua rajin dan terampil. Bisa diandalkan untuk memperbaiki rumah Engkong. Tidak banyak cerita, tidak banyak bicara. Kerja dengan baik dan tentu sangat menyenangkan orang yang menyuruhnya. Ada yang membersihkan lantai, tentu yang sudah ngerak digosok lagi. Ada yang mengamplas dinding, menghilangkan cat-cat yang sudah berjamur, bahkan juga diamplas untuk dihaluskan. Dan yang satu lagi, yang ahli listrik, memasang lampu-lampu penerangan. Semua lampu dicek, karena lama sudah tidak dipakai. Bahkan kabel-kabelnya juga dicek, kalau-kalau ada yang sudah mengelupas langsung diganti. Setelah memasang lampu, lantas dicoba dinyalakan.
Jamil juga membantu. Kesana kemari membantu tukang. Kadang-kadang disuruh mengambilkan kabel, bolam, bahkan juga solasi. Yang penting bisa mempercepat pekerjaan.
Demikian juga Juminem dan Melian, yang ikut sibuk membersihkan dan menata dapur dan ruang makan. Pasti agar suasananya lebih enak dipandang dan nyaman untuk ditempati. Terutama di bagian dapur, Juminem meminta kepada suaminya untuk membelikan kompor gas. Tentu biar masaknya lebih enak dan bersih. Sementara yang tertinggal di dapur itu adalah kompor minyak tanah yang minyaknya sudah kering. Perabotan dapurnya masih ada, tetapi tentu warnanya hitam karena penuh jelaga. Gosong terbakar api kompor minyak. Demikian juga dengan piring dan gelas yang ada dalam rak, tentu harus dibersihkan semuanya. Makanya meski hanya urusan dapur, tetapi membutuhkan tenaga ekstra.
"Kang ..., nanti dibelikan kompor gas, ya .... Biar dapurnya lebih bersih dan nyaman ...." kata Juminem pada Jamil.
"Iya ..., nanti siang kita beli. Minta bantuan Mas Irul juga nggak papa .... Sekalian biar kalau para tukang mau bikin kopi bisa membuat sendiri ...." jawab Jamil.
"Mas Irul nanti ke sini, Kang ...?" tanya Juminem pada suaminya.
__ADS_1
"Iya .... Sudah saya minta untuk membelikan lontong tuyuhan ...." jawab Jamil.
"Alhamdulillah ........ " tentu mendengar lontong tuyuhan, Juminem langsung senang.
Dan benar, siang itu mobil Carry pickup masuk ke halaman rumah tua milik Babah Ho itu. Irul dan Indra turun dari mobil. Lantas mengangkat plastik kresek besar dan membawa masuk ke rumah yang sedang direnovasi itu.
Juminem menyambut kedatangan Irul dan Indra. Demikian juga Jamil, yang langsung membantu mengangkat bungkusan yang dibawa Irul dan Indra. Melian pun ikut membantu. Dan setelah sampai di meja ruang tengah, plastik kresek besar yang diangkat itu langsung dibuka oleh Melian. Ia sudah tergiur dengan baunya yang menggoda. Melian langsung membuka tas kresek itu. Isinya bungkusan-bungkusan lontong tuyuhan.
"Asyiiiik ...... Lontong tuyuhan ...... Makasih, Mas Irul ..., makasih Cik Indra ...." Melian langsung mengambil satu bungkus.
"Eee ..., Melian .... Nanti dulu .... Sabar ya, Nduk .... Ambil piring sama sendok dulu .... Sekalian untuk tukang-tukang." kata ibunya yang menyuruh Melian mengambil piring.
Melian langsung menuju dapur, untuk mengambil piring dan sendok. Indra ikut membantu. Sambil melihat keadaan rumah Babah Ho tersebut, yang tentu juga ingin tahu dapur dan ruangan belakang. Menyaksikan konsep bangunan zaman dulu.
Lantas, mereka makan bersama. Jamil, Juminem, Melian, Irul, Indra dan tiga orang tukang, makan bersama. Menikmati lontong tuyuhan, makanan khas Rembang yang sangat lezat itu. Mereka makan sambil mengobrol. Mereka pun asyik dengan obrolannya masing-masing, yang tentu membahas masalah rumah yang sedang mereka perbaiki itu, rumah Babah Ho.
"Mas Irul .... Nanti kalau para tukang ini minta bantuan, tolong dibantu, ya ...." kata Jamil yang meminta bantuan pada Irul.
"Nggih, Pak ...." jawab Iru. Lantas melanjutkan, "Pak ..., kalau butuh apa-apa, bilang saja .... Jika harus segera, langsung saja menemui saya di Toko Laris .... Itu, tempatnya ada di sebrang jalan terus maju lurus saja ke arah alun-alun .... Saya di toko itu." kata Irul pada para tukang.
"Nggih, Mas .... Terima kasih." jawab para tukang.
"Ini rumah milik engkongnya Melian ...." kata Jamil yang memberi tahu kepada para tukang.
"Kuno tapi kokoh, Pak .... Bangunannya bagus ...." jawab si tukang.
"Ini sejak saya masih kecil, bangunannya tidak berubah. Bahkan belum pernah diperbaiki ...." sahut Irul.
"Sejak lulus SMP .... Lebih dari dua puluh tahun yang lalu." jawab Irul.
"Oooo ...." para tukang itu melongo, tentu terkagum dengan Irul yang setia dengan majikannya. Pantas kalau ada gadis keturunan Cina yang tergila-gila dengannya.
Selanjutnya, mereka kembali bekerja, merenovasi rumah yang menjadi kunci sejarah bagi Melian. Irul dan Indra kembali ke tokonya. Juminem dan Melian memberesi peralatan makan. Mencuci piring dan sendok. Para tukang pun melanjukan pekerjaannya masing-masing. Hingga sore.
"Pak, Mas, ini sudah sore .... Ini saya mau pulang dulu, sama istri dan anak .... Sampeyan saya tinggal, tolong diberesi pekerjaannya. Kalau ada apa-apa tolong menghubungi Mas Irul, ya ...." kata Jamil yang akan pulang ke Juwana meninggalkan para tukang yang masih pada bekerja.
"Ya, Pak .... Kami akan lembur, biar cepat rampung .... Toh lampunya sudah terang semua." jawab tukang-tukang itu, yang tentu ingin terus melanjutkan pekerjaannya. Maklum, kerja borongan.
Setelah Jamil dengan keluarganya pulang, para tukang itu terus melakukan pekerjaannya. Terutama mengecat dinding. Ya, pekerjaan yang bisa dilembur sampai malam, adalah mengecat dinding. Apalagi lampu-lampunya sudah terang benderang, pasti enak dan jelas untuk bekerja.
Matahari belum tenggelam, suasana masih terang benderang, saat ada laki-laki setengah baya dengan mengenakan pakaian layaknya seorang kuli bangunan, datang ke rumah itu.
"Direnovasi ya, Kang ...?!" laki-laki yang sudah berdiri di teras itu bertanya kepada para tukang yang masih mengecat dinding teras.
Pertanyaan orang itu membuat kaget para tukang. Tentu karena mereka asyik bekerja, tidak tahu kalau ada orang yang datang ke rumah itu, dan tiba-tiba langsung mendengar suara orang bertanya.
"Ya ...." jawab para tukang, yang langsung berhenti dan mengamati orang yang datang itu.
__ADS_1
"Ini sudah sore kok tidak istirahat ...?" laki-laki yang sudah mengagetkan itu bertanya lagi.
"Borongan .... Biar cepat selesai ...." sahut salah satu tukang yang sudah berhadapan dengan laki-laki itu.
"Oo .... Coba sini, saya ikut bantu ...." tiba-tiba laki-laki yang mengenakan pakaian seperti tukang itu sudah memegang kuas cat dan mengambil cat dalam kaleng kecil. Lalu mengoleskan kuasnya di dinding rumah Babah Ho itu. Sangat piawai. Berarti orang ini memang tukang yang ahli.
Tiga orang tukang yang dibawa oleh Jamil, tidak bisa berkata apa-apa. Tidak sanggup melarang laki-laki itu. Tentu karena ia langsung mengecat secara baik. Bahkan hasil pengecatannya sangat bagus. Rapi dan rata. Tiga orang tukang itu pun akhirnya mengikuti cara kerja dari orang yang tiba-tiba membantu itu. Tentunya tidak ingin kalah bersaing dengan orang lain. Ingin menunjukkan bahwa tukang-tukang dari Juwana ini juga tukang andalan yang mempunyai kemampuan sangat baik. Bayarannya saja mahal. Malu kalau hasil kerjanya kalah dengan orang lain. Itu yang tersirat dalam benak tiga orang tukang tersebut.
Waktu terus berjalan. Hari sudah berganti malam. Lampu-lampu penerangan sudah dinyalakan. Tetapi para tukang itu terus bekerja tanpa henti. Hingga akhirnya, tiga tukang yang tidak mau disaingi oleh orang yang bilang mau membantu tersebut, merasakan capek dan mengantuk. Tidak kuat lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kang ..., kalau Sampeyan pada capek, istirahat saja dahulu .... Biar saya bantu untuk menyelesaikan mengecat tembok ini." kata laki-laki tukang yang datang tiba-tiba tersebut.
"Lhah, Sampeyan tidak berhenti, istirahat dulu ...?" tanya para tukang pada laki-laki yang membantu itu.
"Saya belum capek .... Nanti kalau sudah selesai, saya nyusul tidur ...." jawab laki-laki itu.
Dan akhirnya, tiga orang tukang yang memang sudah sangat capek, dan tentu juga mengantuk, langsung merebahkan tubuhnya. Ada yang menggeletak di kursi tamu, ada juga yang menggelar tikar di lantai. Dan begitu merebahkan tubuhnya, tiga orang itu langsung mendengkur. Tidur sangat nyenyak.
"Kukuk...keluruk ..........!!! Kukukeluruk ..........!!!" ayam jantan keluruk bersaut-sautan. Pertanda hari sudah pagi. Aktivitas masyarakat pun kembali dimulai. Bagi pedagang pasar, sudah sibuk mengurusi dagangannya. Begitu juga yang berbelanja. Perempuan-perempuan sibuk memasak di dapur. Para petani muali berangkat ke sawah dan ladangnya. Dan karyawan-karyawan perusahaan sudah bersiap untuk bekerja.
"Kang ..., bangun .... Sudah siang ...." pekerja yang merenovasi rumah Babah Ho itu pun menggeliatkan badannya, melepas capek mengendurkan otot-otot yang kaku. Lantas membangunkan temannya yang masih tidur.
"Wealah .... Sudah siang, leh ...?!" temannya yang dibangunkan juga menggeliat.
Lantas setelah mereka bangun, berbuang di kamar kecil. Selanjutnya, mereka membuat kopi di dapur, untuk membuka mata biar tidak mengantuk terus.
"Sini, minum dulu ...!!" kata salah satu tukang yang menyiapkan kopi, dan sudah dibawa ke meja di ruang tamu.
"Kang ..., lha orang yang membantu kita tadi malam di mana ...?" tanya salah satu tukang itu, saat duduk di kursi tamu dan akan minum kopi.
"Lhah ...?! Tadi malam saya tidur duluan ..., tidak tahu ...." jawab temannya.
"Apa tidur di dalam ...? Coba dilihat ...!" kata yang satu lagi.
Lantas dua orang berdiri, mencari laki-laki yang tadi malam membantu mengecat. Melihat kamar-kamar. Tetapi tidak ada orangnya. Lantas membuka pintu depan, menengok ke teras. Tetapi juga tidak menemukan orang itu.
"Kok tidak ada, Kang ....?!" kata yang sudah mencari sampai di luar rumah.
"Lha tadi malam yang menutup pintu sama mematikan lampu-lampu siapa?" tanya orang masih menikmati kopi itu.
"Saya tidak tahu .... Saya tidur duluan ...." jawab tukang yang satunya.
"Kang ....... Ngecatnya sudah rampung semua ...!!! Coba lihat ini ...! Lho, dindingnya sudah dicat semua ...." kata tukang yang satunya lagi, yang tentu kaget saat melihat tembok-tembok rumah itu sudah dicat semuanya.
"Walah, iya .... Berarti semalaman orang itu nglembur .... Lha terus sekarang di mana dia ...?!" tentu tiga orang tukang itu heran dan bingung. Hanya semalam, orang itu bisa menyelesaikan pengecatan rumah dengan hasil yang sangat bagus. Rapi dan bersih. Bahkan tidak ada tetesan cat yang tercecer di lantai.
"Ayo dicari .... Di mana orang itu ...?! Kalau ketemu kita ajak sarapan ....!! Dan kita harus berterimakasih ...." kata salah satu tukang itu.
__ADS_1
"Iya ..., kita juga belum kenal siapa dia .... Kok tadi malam tidak ditanyai siapa namanya, rumahnya mana .... Kita kok diam saja, ya ...?!" kata yang lainnya.
Akhirnya, mereka mencari laki-laki yang sudah membantunya mengecat rumah itu. Ke seluruh ruang rumah, sampai belakang rumah dan sela-sela pekarangan, tidak ketemu. Bahkan juga ditanyakan ke tetangga yang dekat dengan rumah itu, juga tidak ketemu. Termasuk ditanyakan ke warung yang jualan sarapan. Tetapi semuanya tidak ada yang tahu laki-laki yang sudah membantunya bekerja semalaman.