
Halaman Toko Laris langsung penuh dengan orang yang ingin tahu peristiwa yang terjadi di sana. Mobil polisi juga sudah terparkir di halaman toko. Tentu petugas dati kepolisian sudah melakukan tempat terjadinya perkara. Bahkan juga berkali-kali menanyai Nurjanah yang tahu presis peristiwa yang terjadi. Tetapi Nurjanah setiap kali ditanya malah menangis sejadi-jadinya. Orang Lasem menyebutnya nagis ngglolo. Pasti saking sedihnya Nurjanah, dan tentu masih sangat trauma dengan peristiwa yang baru saja menimpanya. Demikian juga adiknya yang baru datang. Hanya bisa menangis. Parmo bingung harus berbuat apa. Tidak bisa berfikir. Demikian juga karyawan yang lain. Semua jadi linglung, tidak bisa berkata apa-apa. Peristiwa yang terjadi sangat cepat. Hanya ditinggal pergi istirahat sebentar, para perampok itu sudah mengacak-acak tokonya. Bahkan sudah menganiaya Cik Indra sebagai pemilik toko itu.
"Uwiiiing ........ ungngng ...... Uwiiiing .......!!"
Mobil ambulan masuk ke halaman Toko Laris. Para warga yang berkerumun langsung minggir. Memberi jalan mobil ambulan untuk mendekat ke depan toko. Langsung memutar dan bagian belakannya sudah menghadap ke pintu toko.
"Terus .... Terus .... Terus ....!!" beberapa orang memberi aba-aba ambulan yang mundur itu.
"Hops ..., hop ..., hop ....!!" serentak orang-orang yang memberi aba-aba langsung menyuruh sopir berhenti.
"Awas ..., awas ..... Minggir ....!!" salah seorang menyuruh minggir warga yang mengerubung di sekitar belakang ambulan. Ambulan itu akan membuka pintunya untuk mengangkat tandu ambulan. Tandu seperti dipan atau bed di rumah sakit yang bisa dilipat kakinya. Saat di bawah atau di jalanan, tandu ini kakinya ditarik keluar dan bisa didorong seperti dipan dengan roda di bagian bawahnya. Dan saat masuk ke mobil, kaki-kaki itu terlipat dan rodanya langsung menempel pada rel yang sudah terpasang pada mobil ambulan, sehinggi sangat mudah untuk didorong masuk.
Tandu ambulan itu langsung di bawa masuk, melewati ruangan toko, terus ke belakangnya. Di mana tubuh Indra terkulai bersimbah darah di lantai. Lantas yandu itu dilipat hingga menempel lantai. Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Indra yang sudah dibalut dengan kain jarik untuk mengurangi pengeluaran darah. Lantas tubuh yang lemas tanpa daya itu diangkat sedikit oleh tiga orang, kemudian tandu ambulan langsung didorongkan ke bawahnya. Selanjutnya, tubuh Indra sudah diletakkan di atas tandu. Petugas ambulan itu langsung menarik pegangan tandu ke atas, tandu itu sudah berubah menjadi bed pasien yang langsung didorong keluar, dan dimasukkan ke ambulan.
"Awas ..., awas ..... Minggir ....!!" teriak beberapa orang yang menyuruh orang-orang yang berkerumun ingin melihat agar memberi jalan untuk lewatnya tandu.
Setelah masuk ke dalam ambulan, petugas langsung menutup pintu belakang ambulan. Ambulan itu bersiap untuk membawa Cik Indra ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan medis.
"Dari pihak keluarga siapa yang mau ikut?" kata polisi menanyai orang-orang yang masih berkerumun mengelilingi ambulan.
"Saya saja, Pak .... Saya ketua RT di sini .... Sama dia, karyawannya Cik Indra. Ini suaminya masih perjalanan belum sampai." kata ketua RT yang siap untuk mengawal Cik Indra ke rumah sakit.
"Ya, silahkan ...." kata petugas polisi yang langsung menyuruh Pak RT untuk masuk ke ambulan.
"Uwiiiing ........ ungngng ...... Uwiiiing .......!! Ungngng ...... Uwiiiing .......!!" ambulan itu langsung meninggalkan halaman toko, melaju kencang di jalan raya, ke arah barat. Pasti menuju Rumah Sakit Rembang. Yang pasti membawa orang sakit yang harus mendapatkan penanganan secepatnya.
Setelah ambulan melaju, halaman Toko Laris masih saja tetap ramai. Terutama orang-orang yang berusaha menenangkan Nurjanah yang masih saja menangis. Bahkan bapak dan ibunya Irul juga sudah sampai di toko. Tentu menanyakan kondisi menantunya. Kondisi Cik Indra yang katanya terluka parah. Begitu juga bapaknya. Ia langsung mendatangi Nurjanah. Ingin tahu peristiwa yang terjadi.
"Ini bagaimana tadi, Nur ...?" tanya bapaknya.
"Huhuhu .... Cik Indra, Pak .... Cik Indra luka parah melawan rampok .... Huhuhu ...." jawab anaknya yang terus menangis.
"Kamu sudah telepon Mas Irul?" tanya bapaknya lagi.
"Mas Parmo, Pak .... Huhu ..., huhu ...." jawab Nurjanah.
"Mo .......! Parmo ....!!" bapakya berteriak memanggil suaminya Nur.
"Nggih, Pak ...." Parmo yang dipanggil langsung mendekat,
__ADS_1
"Mas Irul sudah kamu telepon apa belum?" tanya mertuanya.
"Tadi sudah, tetapi tidak diangkat. Mungkin masih nyopir. Tadi para tetangga melarang saya telepon lagi, katanya biar nyopirnya tidak kaget dan malah jadi bingung .... Biar konsentrasi nyopir dulu ...." jawab Parmo yang juga bingung saat akan menghubungi kakak iparnya itu.
"Kamu telepon lagi .... Tanyai sampai mana .... Bilang dicari Pak-e .... Jangan katakan yang lain." kata bapak mertuanya lagi.
"Nggih, Pak ...." jawab Parmo, yang langsung mengambil HP Nokia. Lantas ia pun sudah menelepon Irul, kakak iparnya. Beberapa kali menelepon. Tetapi tetap tidak diangkat oleh Irul.
"Bagaimana ...?" tanya bapak mertuanya.
"Tidak diangkat, Pak .... Mungkin masih konsen menyetir dan tidak mau diganggu. Telepon sambil nyetir itu bahaya kok, Pak ...." jawab Parmo.
"Sudah ..., ditunggu saja .... Paling-paling sebentar lagi juga sampai." kata para tetangganya.
Dan memang benar. Selang sesaat, mobil Carry brundul masuk ke halaman toko. Mobilnya Toko Laris yang disetir oleh Irul bersama satu karyawannya yang membantu mengangkat barang-barang. Pasti melihat suasana di tokonya yang sangat ramai, jantung Irul langsung berdebar. Pasti ada sesuatu yang terjadi di tokonya. Maka begitu masuk halaman, tanpa mengatur posisi parkirnya, ia langsung berhenti, mematikan mesin mobil dan langsung keluar.
"Ada apa ini ...?!" Irul yang heran langsung bertanya pada orang-orang yang banyak di tokonya. Apalagi saat Irul juga melihat di halaman tokonya ada mobil polisi. Pasti ada yang tidak beres.
"Ada perampokan, Mas Irul ...!" jawab salah seorang yang ada di situ.
"Perampokan ...?!" Irul kaget. Pasti tokonya sudah dirampok orang.
"Ada apa, Mak ...?! Ada apa, Nur ...?!" tanya Irul yang semakin deg-degan.
"Mas Irul ..... Huhuhu .... Cik Indra, Mas ..... Huhuhu ...." Nurjanah langsung memegangi lengan kakaknya.
"Cik Indra kenapa ...?! Ada apa ...?!" tanya Irul yang semakin gelisah dan penasaran.
"Cik Indra dibacok perampok, Mas ...." sahut Nur.
"Hah ...?!! Terus bagaimana ...?!" sontak Irul menjingkat kaget. Darahnya langsung mengalir cepat ke kepalanya. Pasti jadi emosi.
"Mas Irul .... Cik Indra sudah dibawa ke rumah sakit. Ini kami menunggu Mas Irul, untuk menyaksikan kondisinya. Mari saya antar ke rumah sakit." tiba-tiba seorang polisi sudah berada di samping Irul.
"Ya, Pak ...." Irul pasrah dengan kata-kata polisi yang sudah memegangi pundaknya.
Lemas tubuh Irul mendengar berita itu. Ia pun menurut dengan petugas polisi yang akan mengantarnya ke rumah sakit. Ia mengikut dengan polisi itu, dan masuk ke mobilnya.
"Saya ikut, Pak ...." tiba-tiba Parmo sudah mengikut di belakang polisi itu.
__ADS_1
"Itu adik saya, Pak .... Biarkan Parmo ikut serta ke rumah sakit." kata Irul yang sudah menoleh ke Parmo.
"Ya, silahkan ...." kata polisi itu.
"Nguwiiiiuuung ........!!" sirine mobil polisi itu berbunyi sekali. Lantas melaju di jalan raya. Membawa Irul dan Parmo menuju Rumah Sakit Rembang, untuk melihat kondisi Indra yang menjadi korban perampokan.
Sepeninggal mobil polisi yang akan mengantarkan Irul dan Parmo ke rumah sakit, tetap saja para warga masih ramai berkerumun di Toko Laris. Mereka belum juga beranjak pulang. Tetapi justru pada saling tanya dan berceritatentang kasus perampokan yang terjadi di Toko Laris itu. Tentu dengan versi masing-masing. Dan pastinya yang menjadi sumber utama sebagai tempat bertanya adalah Nur, yang tahu presis peristiwanya. Lantas orang-orang pun mulai berspekulasi tentang lima orang dengan wajah tertutup topi kopyah yang hanya terlihat matanya saja. Pasti sulit untuk menggambarkan seperti apa wajah para perampok itu. Apalagi dalam suasana ketakutan, yang pasti tidak berani menatap wajah para perampok. Tetapi yang diketahui ada lima orang.
"Ini pasti orang dekat ...." tiba-tiba salah seorang nyeletuk berpendapat.
"Kok kamu tahu kalau orang dekat ...?" tanya yang lain.
"Dia mengenakan topeng, kopyah penutup wajah .... Berarti dia tidak mau dilihat wajahnya. Lhah, kalau wajahnya kelihatan, akan ketahuan orang itu .... Jadi para perampok ini sengaja menutupi wajah karena takut ketahuan." jelas orang yang berspekulasi itu tadi.
"Benar juga pendapatmu .... Apalagi ia juga tahu saat-saat karyawan pada pergi .... Tahu kalau pas istirahat di toko ini sepi. Itu artinya para perampok ini sudah tahu saat-saat yang tepat." timpal yang lain ikut membenarkan.
"Lha terus siapa ...? Apa para tetangga tega melakukan kayak gitu?" yang lain kurang setuju.
"Siapapun orangnya, dia sudah paham dengan kondisi Toko Laris. Bahkan dia juga tahu kunci gudang, kok ...." jelas yang lainnya.
"Betul juga .... Tapi siapa orang sini yang punya truk box?" tanda tanya kembali muncul.
"Kalau truk itu gampang. Mereka bisa sewa di pangkalan." sahut yang lainnya lagi.
"Yah, semoga saja nanti polisi bisa mencarinya." kata yang lain ikut pasrah.
"Berarti gudangnya habis-habisan?" tanya yang lain.
"Tidak .... Separo saja tidak ada. Tadi karyawannya bilang, hanya mengambil sekitar dua puluh karung beras sama dus-dus mi dan minyak serta bebarapa dus jajanan ringan." kata yang lain, yang tentunya sudah mendapat cerita dari karyawannya.
"Walah .... Rampok goblok itu .... Mosok ngrampok kok makanan kecil yang harganya murah. Lha mbok satu truk, paling-paling ya cuman dapat uang sedikit." salah seorang warga membodohkan para perampok.
"Tapi ada beras dan minyak, kok ...." sahut yang lain.
"Mungkin truknya sudah penuh." sahut yang lain lagi.
"Wah .... Ini bahaya .... Kita harus waspada .... Jangan-jangan besok akan diulangi lagi ini." salah satu warga mulai khawatir.
"Ya .... Kalau begitu kita harus aktifkan lagi jaga ronda." sahut warga yang lain.
__ADS_1