GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 177: BERSYUKUR


__ADS_3

    Sore itu, setelah menutup tokonya, Irul dan Indra berboncengan sepeda motor menuju rumah Babah Ho. Tentu mau menengok tukang yang pada bekerja memperbaiki rumah warisan Melian. Pasti sambil membawa jajanan untuk para tukang. Indra mencangking plastik kresek berisi roti dan minuman serta bungkusan nasi untuk makan malam. Bahkan juga dibawakan gula, kopi dan teh. Bahkan juga dibawakan serenteng jahe wangi. Siapa tahu para tukang itu akan membuat minum sebagai penghangat. Dan yang jelas, Irul akan menanyakan pada tukang, kira-kira butuh apa lagi untuk memperbaiki rumah itu.


    Begitu sampai di halaman rumah itu, Irul langsung terngungun. Demikian juga Indra. Rumah itu sudah disulap oleh para tukang menjadi seperti baru.


    "Wah ..., wah ..., wah .... Ini benar-benar luar biasa .... Pak tukang ini hebat-hebat .... Bisa menyulap rumah kuno menjadi baru lagi ...." kata Irul yang memuji tiga orang tukang bangunan tersebut.


    "Walah, Mas .... Memang bangunan rumah ini yang bagus, kok ...." jawab si tukang.


    "Monggo ..., ini ada camilan ...." kata Indra yang memberikan satu kantong plastik kresek besar, yang berisi roti dan minuman.


    "Terima kasih, Cik ...." sahut tukang yang menerima jajanan itu.


    Irul dan Indra langsung berkeliling. Mengamati bangunan itu. Melihat hasil pekerjaan para tukang. Mereka berdua masuk ke ruang dalam rumah. Melihat tembok-tembok yang sudah dicat. Bagus dan terlihat cerah. Seperti kembali baru. Demikian juga dengan dapur dan kamar mandi. Sudah tidak lagi kotor dan jamuran. Tetapi benar-benar berubah total. Bahkan lantai pada kamar mandi juga terlihat lebih bersih. Lampunya diganti neon, sehingga lebih terang.


    Seorang tukang, yang terlihat gagah, mengikuti jalannya Irul dan Indra. Tentu ingin tahu komentarnya. Setidaknya kalau masih ada yang perlu diperbaiki, mereka siap untuk memperbaikinya.


    "Mas Irul ..., Cik Indra .... Ini kalau misalnya lantai kamar mandinya diganti keramik, akan lebih bagus ...." kata si tukang itu.


    "Lha kok tidak diganti sekalian?" tanya Irul.


    "Lha ..., kami tidak dapat perintah, he ...." jawab tukang itu.


    "Lho ..., lha Sampeyan tidak bilang, ya saya tidak tahu .... Ya sudah, besok langsung diganti. Dibelikan keramik di toko bangunan." kata Irul yang meminta untuk diganti keramik.


    "Ya, Mas Irul .... Warnanya bagaimana?" tanya tukang itu lagi.

__ADS_1


    "Yang paham sampean .... Pokoknya carikan yang bagus .... Biar besok tidak ngganti-ngganti lagi ...." jawab Irul.


    "Ya, Mas Irul .... Lha terus ..., untuk dapurnya yang di tempat kompor ini perlu dikeramik sekalian, Mas?" tanya tukang itu lagi.


    "Ya ..., sekalian saja .... Tolong yang kira-kira perlu diganti atau dirubah, langsung saja diganti." jawab Irul yang tentu ingin bangunannya itu menjadi baik.


    "Nggih, Mas Irul .... Sama mau usul sekalian, kalau halamannya dipasingi paving block sekalian, bagaimana?" kata si tukang.


    "Lhah ..., iya .... Betul itu .... Saya setuju .... Ya sudah, besok sekalian pesan, biar dikirim bareng." sahut Irul yang tentu senang dengan usulan tukang itu.


    Lantas Irul bersama Indra dan para tukang, duduk di teras. Sambil ngobrol dan menikmati jajanan yang dibawakan oleh Indra. Tentu diambilkan dari tokonya.


    "Pak Tukang ..., Sampeyan selama di sini sudah pernah ditemui kakek tua apa belum?" tanya Indra tiba-tiba.


    "Hush ...! Tidak usah ditanyakan yang kayak gitu ...." Irul menyela.


    "Tidak apa-apa, Cik .... Memang orang tua itu sering ke sini? Orangnya seperti apa?" tanya si tukang, yang tentu ingin tahu orangnya.


    "Hehe .... Anu ..., Pak Tukang .... Kakek tua yang memakai baju lurik sama iket kepala ...." jawab Indra yang sudah terlanjur menanyai.


    "Kalau kakek tua belum ada, Cik .... Tetapi kemarin sore, ada laki-laki yang belum begitu tua, dengan pakaian layaknya tukang .... Dia membantu kami mengecat, bahkan sampai selesai. Jadi ini yang mengecat, ya laki-laki yang datang membantu kami itu .... Memang Cik Indra atau Mas Irul kenal dengan orang itu ...?" kata si tukang yang langsung menanyakan siapa orang itu.


    "Ooh ..., itu .... Ya, orang-orang itu yang sering membantu Kakek ...." jawab Indra yang tentu ingin memberi tahu kalau ada orang yang sering membantu membersihkan rumah itu.


    "Ooo ...." para tukang itu baru nyadar kalau banyak orang baik yang sering membantu merawat rumah itu.

__ADS_1


    "Maaf, Pak .... Ini sudah mau maghrib .... Kami mohon izin pulang." Lantas Irul dan Indra berpamitan pulang.


    Sepulang Irul dan Indra, para tukang itu pun langsung membuka bungkusan nasi, menikmati makan. Nasi rames lauknya ayam goreng.


    Namun saat tiga orang itu sedang menikmati makan, mereka dikagetkan dengan kedatangan orang tua, seperti yang diceritakan oleh Cik Indra tadi. Ya, laki-laki tua yang pantas disebut kakek-kakek, dengan pakaian layaknya orang kuno, mengenakan baju lurik dan iket kepala.


    "Monggo, Mbah .... Monggo pinarak di dalam ...." kata para tukang yang mempersilahkan kakek itu untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Tentu si tukang itu langsung menyalakan lampu rumah. Tentu tukang-tukang itu langsung mengajak si kakek itu masuk. Beruntung Cik Indra sudah memberi tahu tentang si kakek ini. Sehingga mereka langsung menghormat pada kakek itu.


    Dan si kakek itu pun menurut. Langsung duduk di kursi tamu, yang langsung dikelilingi oleh para tukang itu.


    "Sejatinya setiap insan pada saat berada dalam kandungan ibunya telah berikrar bahwasanya Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Sang Pencipta. Serta pada dirinya diperlihatkan perjalanan kehidupannya, dari masa kecilnya hingga saat akan sampai pada ajalnya. Hingga tidak heran kalau terkadang kita merasa pernah berada disuatu tempat yang tidak asing, padahal kita sendiri belum pernah tiba ditempat itu. Ketika ada seorang hamba yang diperlihatkan sisi buruknya, bukan berarti tidak ada kebaikan pada dirinya. Dan sebaliknya bila ada orang yang terlihat kebaikannya, bukan berarti tidak ada keburukan pada dirinya. Maka jangan mudah berburuk sangka pada siapapun. Karena pada hakekatnya hanya Tuhan sajalah yang dapat mengangkat serta menjatuhkan derajat bagi semua hamba-NYA. Terkadang banyak diantara orang yang baik atau pun orang-orang yang taat beribadah kepada Allah dan selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, justru menutupi derajat kebaikannya. Mereka juga lebih suka menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, supaya kemurnian dihatinya tetap terjaga. Sehingga perbuatan baik itu tidak rusak oleh pujian atau sanjungan dari orang lain. Oleh karena itu tetaplah berbaik sangka terhadap siapa saja, dan jangan pula kita disibukkan oleh pandangan atau penilaian dari manusia. Namun utamakanlah kebenaran dari Tuhan Yang Maha Perkasa dan Mulia. Sebab jika kita bersandar kepada ilmu kepandaian, harta benda, jabatan dan kekuasaan, tentu ada batas akhirnya. Namun bila kita bergantung dan berlindung kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan diselamatkan." tutur si kakek itu memberi nasehat kepada para tukang yang duduk bersamanya.


    Bersamaan dengan itu, terdengar suara adzan maghrib.


    "Malam sudah tiba .... Segeralah bersihkan tubuhmu, sebagai penyehat raga .... Bersihkanlah hati dan jiwa, sebagai pembersih ruh kita." kata si kakek itu yang tentu menyuruh para tukang itu untuk mandi dan tentu menghadap memenuhi panggilan Sang Maha Bijak.


    Tiga orang tukang itu pun lantas bergegas ke belakang. Bergantian mandi seperti yang dikatakan oleh si kakek tua itu. Mereka mulai sadar, kalau selama ini ada yang terlupakan, ada yang tidak pernah ia lakukan. Yaitu berdoa, sembahyang, sebagai bentuk bakti pada Tuhan Yang Maha Pengasih.


    Namun, saat tiga orang tukang itu kembali ke depan, si kakek sudah tidak ada.


    "Kakek ........!! Kakek ........!! Kakek ........!!" mereka bertiga mencari keluar, tetapi sudah tidak melihatnya lagi.


    "Waduh .... Kita sudah kedatangan tamu orang sakti .... Sudah dua kali, setiap sore, kita dikunjungi oleh orang yang bukan sembarangan. Pasti ilmunya sangat tinggi dan tidak bisa kita ukur .... Kita harus berguru pada beliau-beliau ...." kata tukang yang paling tua.


    "Tadi kita disuruh sembahyang .... Kalau begitu, ayo kita lakukan .... Kita sembahyang ...." kata tukang yang lain.

__ADS_1


    Mereka pun akhirnya bersembahyang. Menghadap pada Sang Maha Kasih, sebagai bentuk ibadah, sujud syukur pada Sang Pencipta. Bersyukur bagi mereka yang mendapatkan nasehat dari orang baik. Namun mereka lebih bersyukur sudah diingatkan untuk mendekatkan diri pada Yang Kuasa.


__ADS_2