GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 145: NEMBUNG


__ADS_3

    Saat disuruh cuci tangan dan cuci kaki oleh ibunya, Irul juga mandi. Seperti halnya Melian. Tentu karena merasa risih, sehari semalam belum mandi. Namun saat akan melepas celana, Irul merogoh kantong celananya. Ia baru ingat, kalau kemarin, dirinya diberi bekal oleh Nenek Jumprit, saat akan menjemput Melian. Irul pun kala itu langsung mengambil buntalan dari kain warna pustih. Semacam sapu tangan yang terbuat dari kain sutera. Perlahan Irul membuka bungkusan itu. Namun alangkah kagetnya saat Irul mengetahui isinya. Dalam bungkusan kain putih tersebut terdapat lima bauah batu permata yang sangat indah.


    Irul mengamati secara saksama batu-batu permata tersebut. "Ini pasti permata yang sangat mahal harganya ...." Gumam Irul sendirian. Lantas ia membungkusnya kembali dengan kain sutra itu. Kemudian disimpan kembali dalam saku celananya. Dan selanjutnya, ia merahasiakan hal itu.


    Siang itu di rumah Irul benar-benar sangat ramai. Tentu karena rasa bahagia bisa berkumpul kembali keluarga yang lama tidak berjumpa. Apalagi saat bapaknya Irul sudah pulang dari ladang. Tentu suasana bertambah ramai. Dan saat itu, bapaknya Irul langsung menyuruh orang untuk memberi tahu kepada adik-adiknya, agar keluarganya disuruh datang ke rumah orang tuanya.


    "Tolong adik-adik-e Irul, suaminya dan anak-anaknya disuruh kemari .... Ini ada calon mbakyunya yang datang." kata bapaknya yang langsung mengatakan kalau di rumahnya sudah datang calon istrinya Irul.


    "Pak-e ki lho ..., omong opo ...? Kok pakai calon istri-calon istri .... Calon istrinya siapa ...?!" Irul yang malu langsung protes.


    "Lha ini .... Gadis ini siapa kalau bukan calon istrimu ...?" kata bapaknya yang langsung menunjuk kepada Cik Indra.


    Tentu semua orang yang ada di situ langsung tertawa. Gembira menyaksikan sikap bapaknya Irul yang berterus terang. Tentu karena saking senangnya akan punya menantu. Maklum, Irul sudah tua dan belum menikah sendiri. Demikian juga ibunya Irul. Yang tentu sangat senang karena akan punya menantu yang sangat cantik. Seperti yang diceritakan oleh Melian sebelum mereka datang.


    "Pak ..., Mak .... Cik Indra itu bukan orang seperti kita .... Dia itu pegawai bank. Duwitnya banyak. Tenpat kerjanya juga di gedung mewah dan dingin .... Kok mau mbok jodohkan dengan saya itu ketemu pirang perkoro .... Mbok yo ngilo ...." kata Irul yang tentu malu dengan sikap orang tuanya pada Cik Indra.


    "Wealah .... Lha kalau yang namanya jodoh itu kan tidak pandang bulu to, Nang .... Mau anak raja dengan anak petani, anak pejabat dengan jongos, anak jendral dengan kacung .... Yang namanya jodoh itu bisa saja terjadi .... Bukan begitu, Nik ...." kata ibunya Irul pada Cik Indra.


    "Iya, Bu ...." sahut Indra yang tentu sambil tersenyum.


    "Halah ..., Mas Irul malu-malu kucing ...." Melian ikut nyeletuk.


    "Betul itu, Nik ...." sahut Ibunya Irul.


    Bersamaan denga itu, saudara-saudara Irul, dua adik perempuannya beserta suami dan anak-anaknya pada berdatangan.


    "Assalamualaikum ...." salam dari adik-adiknya.


    "Waalaikumsalam ..... Ayo masuk .... Sini ..., sini ..., sini .... Wah, ramai sekarang .... Ini Pak jmail ..., yang ini adiknya Irul yang nomer dua .... Ini suaminya, dan ini anaknya, sudah punya anak dua, sudah sekolah .... Lha yang ini adiknya Irul yang nomer tiga .... Ini suaminya, anaknya masih kecil. Hehe ...." kata bapaknya Irul yang mengenalkan keluarganya.


    "Wah ..., cantik-cantik cucunya ...." kata Jamil sambil menyalami saudara-saudara Irul yang baru datang tersebut.


    "Ayo ..., kasih salam sama Pak Jamil .... Itu bosnya Pakde Irul ...." kata bapaknya Irul yang menyuruh cucu-cucunya memberi salam pada Jamil.


    Dua cucunya pun langsung berlari menyalami Jamil.


    "Lha ..., sekarang kasih salam sama Cik Indra .... Itu calon bude kamu ....Calon istrinya Pakde Irul ...." kata bapaknya Irul lagi, sambil menunjuk ke arah Cik Indra.


    Tentu adik-adiknya langsung terbengong saat mendengar penuturan bapaknya. Karena perempuan yang sangat cantik itu ternyata disebut oleh bapaknya sebagai calon istri kakaknya.


    "Mas Irul .... Istrimu cantik banget, Mas ...." adik-adiknya sangat bahagia.


    Mereka langsung menyalami Cik Indra yang tersenyum manis. Dan tentu bahagia bisa bertemu dengan keluarga besar Irul. Orang-orang desa yang sangat polos dan jujur.


    "Kenalkan, Cik .... Saya adiknya Mas Irul ...." kata perempuan adiknya Irul tersebut, dengan senyum lebar dan tentu juga memeluk Indra sambil mencium calon mbakyu iparnya tersebut.


    "Indra ...." kata Cik Indra sambil menyalami perempuan itu.


    "Ini suami saya .... Iparnya Mas Irul .... Ini anak-anak saya .... Ayo, kasih salim sama Bude yang cantik ...." kata perempuan itu lagi.

__ADS_1


    Tentu Cik Indra tersenyum manis, senang bisa berkenalan dan disambut baik oleh keluarganya Irul. Pasti Indra kaget, karena ternyata saudara-saudara Irul bisa menerima dirinya dengan baik dan menyenangkan. Tidak seperti yang diperkirakan. Maka Cik Indra langsung mengangkat anaknya yang kecil, lalu dibopong dan diciumi.


    Ibu dan bapaknya tertawa girang, karena ternyata calon kakak iparnya juga ramah dan baik. Mau membopong anaknya, dan bahkan menciumi.


    Demikian juga dengan adik Irul yang kedua. Yang juga menyalami Indra sambil mengenalkan diri. Anaknya yang masih kecil dan dibopong oleh ibunya itu, diminta oleh Cik Indra. Lalu bayi itu digendong. Tentu sambil dicumbu rayu. Sangat pantas dan tidak sungkan. Tentu orang-orang yang ada di situ pada tertawa menyaksikannya.


    "Awas, nanti kalau ngompol, lho ...." kata ibunya Irul. Sang nenek itu tentu paham dengan cucunya.


    "Ndak papa, Bu ...." jawab Cik Indra yang masih membopong calon keponakannya itu.


    Irul melenggong menyaksikan perlakuan Cik Indra pada adik-adiknya dan keponakan-keponakannya itu. Tentu ada rasa heran dalam hatinya. Cik Indra benar-benar sudah memikat hati keluarganya, jauh sebelum ia memika dirinya. "Benarkah ini jodohku ...?" tanya Irul dalam hatinya.


    "Loh, Mak .... Ini kok tidak pada ke dapur, terus makannya bagaimana?" tanya bapaknya Irul kepada istrinya.


    "Wee .... Lah .... Malah lupa ...." kata sang istri yang langsung buru-buru menuju dapur.


    "Eh, Bu .... Tidak usah masak .... Saya mau beli lontong tuyuhan .... Kita makan lontong tuyuhan saja ...." kata Jamil yang langsung melarang ibunya Irul untuk memasak.


    "Mau beli di mana? Kalau ke Pamotan jauh, Kang ...." tanya Juminem yang tentu paham daerah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya.


    "Yang di dekat sini saja ada kok .... Tidak usah ke Pamotan." kata suami dari adiknya Irul, yang tentu juga paham yang jualan lontong tuyuhan di sekitar kampungnya.


    "Hooh, di tempatnya Pak Yus ...." sahut istrinya.


    "Ya, monggo, Mas .... Kami diantar ...." kata Jamil yang mengajak adik iparnya Irul tersebut.


    "Lah .... Yo wis, saya tak menyiapkan piring ...." kata ibunya Irul yang langsung ke dapur.


    "Aduuh ..., Nonik ..., Cik Indra .... Kamu jangan ikut repot-repot .... Sudah sana duduk saja di ruang tamu. Biar Ibu saja yang menyiapkan." kata Ibu Irul yang sungkan dibantu oleh calon menantunya itu.


    "Tidak apa-apa, Bu .... Kami sudah biasa, kok ...." kata Cik Indra yang tetap ikut membantu.


    "Biar saya saja yang membantu Mak-e, Cik .... Cik Indra duduk di depan saja." kata adiknya Irul yang sudah menyusul ke dapur.


    "Ndak papa .... Saya sudah biasa kok .... Kalau di kost, saya juga meladeni sendiri. Semua saya lakukan sendiri, kok ...." sahut Indra yang menceritakan kebiasaannya kepada adiknya Irul.


    "Memang Cik Indra di Semarang kost ...?" tanya adiknya.


    "Iya .... Di Semarang harga rumah mahal ...." jawab Indra yang tentu memberi gambaran mahalnya harga di Semarang.


    "Memang, Cik Indra aslinya dari mana?" tanya adiknya lagi.


    "Dari Cirebon .... Daerah Pantura juga .... Kebetulan diterima kerja di Semarang." jawab Cik Indra.


    "Oo .... Kok bisa ketemu sama Mas Irul ...?" tanya adiknya lagi.


    "Ketemu di rumahnya Pak Jamil ...." jawab Indra.


    "Oo .... Kok Cik Indra mau sama Mas Irul ...?" tanya adiknya lagi.

__ADS_1


    "Tidak tahu lah .... Yaa, begitu saja .... Suka, begitu saja ...." jawab Indra yang sebenarnya belum pernah dibilang cinta oleh Irul.


    "Pantesan Mas Irul gak mau nikah-nikah .... Ternyata nunggu istri yang cantik ...." kata adiknya yang memuji Indra.


    "Wis ..., ayo .... Piringnya dibawa ke depan .... Kok malah pada cerita di sini .... Itu lho, lontong tuyuhannya sudah datang ...." kata ibunya yang menyuruh membawa piring.


    "Yo, Mak ...." jawab anaknya. Kemudian bersama Cik Indra membawa piring dan bakul berisi nasi.


    Di ruang tamu sudah ramai, karena akan menikmati lontong tuyuhan. Terutama Melian, yang jarang makan makanan khas dari Rembang tersebut. Demikian juga dengan anak-anak dari adiknya Irul. Meskipun masih kecil-kecil, tapi terlihat senang akan makan makanan yang ia suka.


    "Ini piringnya ...." kata Cik Indra yang membawa piring dan sendok.


    "Yang mau pakai nasi, ini ada nasinya ...." tambah adiknya Irul yang besar.


    "Aku mau sama lontong saja ...." sahut anak-anak.


    "Ayam sama kuahnya di masukkan ke panci, biar tidak tumpah ...." kata ibunya Irul yang sudah membawa panci besar untuk menaruh ayam beserta kuahnya, dari bungkusan plastik.


    "Ayo makan .... Lontong tuyuhan, makanan khas Rembang .... Monggo, Pak ..., dhahar dulu." kata Jamil mengajak Makan, terutama pada bapaknya Irul.


    Si nenek langsung menagambil piring, merajang lontong. Kemudian mengambil ayam lantas dipotong-potong. Dikasih kuah, lantas diberikan kepada cucunya yang masih kecil-kecil. "Ayo dimakan ...." Begitu katanya pada cucunya.


    Mereka pun semunya makan. Menikmati enaknya lontong tuyuhan. Yaitu makanan khas dari Rembang yang berupa lontong ditambah dengan opor ayam dengan bumbu yang khas dari daerah Pamotan di ujung timur selatan Kota Rembang. Tentu suasananya senang dan gembira. Kumpul seluruh keluarga, seperti layaknya saat lebaran.


    "Pak Jamil .... Ini sebenarnya kedatangan Pak Jamil kemari dalam rangka apa ...? Kok saya jadi bingung .... Sudah membawakan jajanan yang tidak karuan banyaknya .... Malah juga dibelikan lontong tuyuhan ...." kata bapaknya Irul yang tentu tidak tahu cerita dari awalnya.


    "Yaah, hanya dolan saja, Pak .... Kita sudah lama bersaudara, tetapi kok belum pernah ketemu .... Makanya kami sengaja sowan kemari untuk silaturahmi ...." kata Jamil yang sebenarnya menyembunyikan masalah anaknya.


    "Ooo .... Ya ..., kami sekeluarga berterima kasih, Pak Jamil .... Terutama Pak Jamil sudah memberi pekerjaan pada Irul .... Mohon maaf kalau misalnya Irul kurang berkenan pada Pak Jamil ...." kata bapaknya Irul lagi.


    "Iya, Pak .... Saya senang sudah dibantu Mas Irul .... Dia orangnya baik kok ...." jawab Jamil.


    "Semoga Irul betah di sana .... Dan jika dibolehkan, sekalian saya mau bicara, mbok ini ..., Irul ini bisa menikah dengan Nonik yang cantik ini ..., Cik Indra .... Hehehe ...." kata bapaknya Irul yang langsung ingin anaknya segera menikah.


    "Kalau itu bukan wewnang saya, Pak .... Biarlah Cik Indra sendiri yang menyampaikan." kata Jamil yang tidak mau mencampuri urusan cinta seseorang.


    "Bagaimana, Cik Indra ...? Kalau Pak-e langsung nembung, apakah mau kalau misalnya Pak-e melamarkan Irul untuk menjadi suamimu ...?" kata bapaknya Irul yang tentu penuh harap agar Cik Indra mau menjadi menantunya.


    Tentu Cik Indra malu untuk menjawabnya. Ia hanya tertunduk. Walau mestinya hatinya merasa senang, namun tidak berani untuk mengatakan ya. Ia hanya melirik ke arah Irul, pertanda senang dengan apa yang dikatakan oleh bapaknya Irul, dan tentu ia mengharapkan respon dari Irul.


    "Bagaimana, Irul ...? Kamu setuju kan, kalau Cik Indra ini jadi istrimu ...? Kamu sudah tua, lho .... Nunggu apa lagi ...?" bapaknya ganti menanyai Irul.


    "Setuju, Pak ...!!" adik-adiknya yang menjawab secara serempak.


    Irul hanya tersenyum memandangi adik-adiknya, yang tentunya juga sebagai pertanda setuju.


    "Alhamdulillah .... Nah, Nik Indra ..., tolong sampaikan orang tuamu, besok kita akan segera meramai-ramaikanmu." kata bapaknya Irul yang sudah menganggap kalau keduanya sudah setuju untuk menikah.


    "Iya, Pak .... Terima kasih .... Mohon maaf, karena saya sudah tidak punya orang tua, saya tidak tahu harus berbuat apa ...." sahut Cik Indra yang berterus terang, dan tentu langsung berubah sedih.

__ADS_1


    "Tidak masalah .... Semuanya nanti saya yang bertanggung jawab. Saya yang akan menjadi walinya." kata Jamil yang langsung bersedia untuk menikahkan Cik Indra dengan Irul.


    "Horeee ......... !!!" tentu semuanya senang.  Terutama Irul dan Cik Indra.


__ADS_2