GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 32: TEROR HANTU CEKIK


__ADS_3

    Semenjak merawat Melian, Jamil dan Juminem mengalami perubahan dalam kehidupannya. Yang jelas perekonomiannya menjadi lebih sejahtera. Tentu, selain Jamil yang semakin semangat dalam bekerja sehingga mendapat penghasilan yang lumayan. Juminem yang dulu hanya menjahit borongan kerudung dari juragannya, kini ia sudah bisa kulakan kain sendiri, tidak lagi memborong jahitan, tetapi Juminem sudah membuat kerudung sendiri. Pasti hasilnya lebih lumayan. Disamping itu, untuk keperluan makan dan sembako lainnya, Babah Ho masih mengirim beras, gula dan minyak goreng setiap bulannya. Tentu sebagai jatah untuk membesarkan cucunya. Yang pasti, Juminem masih diberi amplop uang untuk beli berbagai kebutuhan jajan cucunya.


    Melian pun tumbuh sehat. Bayi kecil yang dulu baru bisa bicara ma ..., ma ...,ma ..., kini Melian sudah bisa berlari-lari kecil. Teman bermainnya pun banyak. Setiap hari anak kecil, baik bersama orang tuanya sambil menonton tivi maupun anak-anak yang sudah bisa bermain sendiri di halaman rumah, berdatangan meramaikan suasana rumah Juminem. Juminem tidak merasa repot. Tidak susah. Tetapi sebaliknya, Juminem justru senang karena banyak teman di rumahnya. Rumah yang tidak pernah sepi dari anak-anak dan para tetangganya.


    Seperti halnya kampung yang aman tenteram sejahtera itu, tidak hanya orang tua yang merasa hidup nyaman, anak-amak pun bahagia bermain bersama.


    Dan rupanya, berita tentang amannya Desa Sarang menjadi terganggu oleh kasus aneh yang melanda kampung itu. Ya, di Desa Sarang kini tengah terjadi teror hantu cekik. Entah siapa yang pertama kali menyaksikan hantu cekik, siapa yang sudah melihatnya, dan dari mana asal berita hantu cekik itu, serta siapa yang menyebarkan berita tentang adanya hantu cekik tersebut. Yang jelas, adanya hantu cekik itu sudah menjadi bahan pembicaraan warga Desa Sarang.


    "Iya, semalam saya tidak bisa tidur .... Takut ada hantu cekik datang masuk rumah ...."


    "Sama .... Kami serumah tidak berani tidur ...."


    "Kalau saya tidur, bapaknya yang saya suruh berjaga .... Nanti kalau bapaknya sudah ngantuk, gantian saya yang berjaga ...."


    "Sama, Yu .... Tempat kami juga begitu ...."


    "Kalau di rumah saya, saya menngelar tikar di lantai .... Tidurnya di bawah. Katanya hantu cekik lewatnya atas .... Yang dicekik yang tidur di dipan tempat tidur ...."


    "Oalah .... Begitu, to ...."


    "Iya, leh ...."


    Seperti halnya di rumah Juminem, yang biasa ramai dijadikan tempat berkumpulnya ibu-ibu, siang itu pun ramai dengan cerita tentang hantu cekik. Ada yang bercerita semalam tidak tidur karena takut didatangi hantu cekik, ada pula yang cerita katanya pernah melihat hantu cekik.


    "Lah, Mbakyu ..., seperti apa sih hantu cekiknya?" tanya salah satu ibu yang penasaran ingin tahu hantu cekik.


    "Kang Marto itu, yang katanya pernah melihat .... Kantanya hantu cekiknya itu melayang, mengenakan kain putih, tangannya merentang, kukunya panjang-panjang, siap mencekik orang yang ditemui. Hantunya itu terbang, begitu ...." jawab yang bercerita.


    "Wealah .... Jadi hantu cekiknya itu terbang melayang-layang begitu, to ...?"


    "Iya .... Makanya kalau tidur di lantai saja .... Biar tidak bisa dimakan hantu cekik ...."


    "Oo ..., iya leh .... Nanti malam anak-anakku mau saya ajak tidur di bawah. Nanti bapaknya aku suruh nurunkan kasur ke lantai."


    "Lhah, kalau memang tahu hantunya itu melayang-layang, lha mbok bapak-bapak itu disuruh jaga, lantas menangkap hantu cekik itu ...!"

__ADS_1


    "La opo yo wani ...?! Lha nanti kalau mereka dicekik bagaimana ...?"


    "Maksud saya, kalau pas hantu cekiknya itu lewat, langsung digebugi .... Biar mampus ...!"


    Ya, pembicaraan hantu cekik itu semakin ramai. Tidak hanya di rumah Juminem, tidak hanya dibicarakan oleh ibu-ibu, tetapi juga menjadi bahan pembicaraan anak-anak di sekolah maupun bapak-bapak yang tentu bingung untuk menyelamatkan keluarganya. Hingga akhirnya, Pak Kades dan beberapa orang perangkat desa meminta seluruh warga laki-laki untuk giliran berjaga keliling kampung. Setiap malam ada yang mendapat giliran jaga secara berkelompok. Setidaknya ada sekitar tujuh sampai sepuluh orang yang berkeliling menjaga desa setiap malamnya.


    "Toloooong ....!! Tolooong ....!! Tolooong ...!!!"


    Tiba-tiba, di tengah malam yang sunyi senyap dengan rasa ketakutan itu terdengar teriakan orang minta tolong. Arahnya dari pojok kampung sisi timur. Rumah yang agak jauh dengan tetangga-tetangganya. Tentu para bapak yang mendapat giliran jaga langsung berlarian menuju arah suara tersebut. Tidak hanya orang-orang yang berjaga, tetapi juga beberapa orang yang ikut terbangun karena mendengar jeritan orang minta tolong tersebut.


    "Ada apa ...?!" tanya orang-orang yang sudah membuka pintu dan menengok ke luar.


    "Ada orang minta tolong ...."


    "Ayo ke sana ...!"


    "Ya ..., ya ..., ya ...."


    Maka yang berlarian menuju rumah asal suara minta tolong itu bukan hanya tujuh orang yang sedang berjaga, tetapi bertambah banyak dari bapak-bapak yang terbangun dan ikut berlarian menuju rumah orang tersebut.


    "Toloooong ....!! Tolooong ....!!" suara itu kembali terdengar saat orang-orang sudah sampai di rumah itu.


    "Ada .... Ada .... Ada hantu cekik ...!" kata yang laki-laki, kepala rumah tangga itu yang tentu dengan wajah ketakutan.


    "Hu ..., hu ..., hu .... Yang perempuan, istrinya, menangis sambil memeluk dua orang anaknya yang masih kecil-kecil.


    "Mana ...?!"


    "Di mana ...?!"


    "Tak gebugane ...!"


    "Mana hantunya, biar kami pukuli ...!!"


    "Ya ..., mana hantunya, kita pukuli ramai-ramai biar mati ...!!"

__ADS_1


    Tentu orang-orang yang datang itu penasaran dan ingin menangkap hantu yang sudah meneror kampungnya tersebut. Mereka semua sudah siap untuk menangkap dan memukuli hantu cekik. Tentu dengan berbagai alat yang dibawanya. Ada yang membawa kayu, ada yang membawa sabit, bendo, serta berbagai alat pemukul lainnya. Bahkan ada juga yang membawa dadung tali pengkikat kambing. Pasti akan digunakan untuk mengikat hantu cekit itu.


    "Mana hantunya ...?!" tanya laki-laki brewok yang bertubuh besar dan terlihat sangar itu.


    "Anu .... Anu .... Sudah terbang ke sana ...." kata lelaki yang kelihatan ketakutan, pemilik rumah itu. Jari tangannya menunjuk ke arah barat.


    "Bentuknya seperti apa?!" tanya orang-orang yang berada di situ.


    "Menakutkan .... Kerudungan kain putih, seperti kain pembungkus mayat, tidak kelihatan wajahnya, hanya hitam saja. Mungkin dia mayat hidup yang bangkit dari kuburan .... Tapi tangannya terlihat menyeramkan. Lengannya sudah kelihatan tulangnya, jemarinya juga kelihatan tulangnya, kukunya panjang-panjang, mau mencekik kami. Pokoknya menakutkan." jawab laki-laki itu.


    "Terus ..., kamu diapakan?" tanya yang lain lagi.


    "Kami tidur, hantu itu melayang di atas tempat kami tidur. Beruntung saya bangun, hantu itu langsung melayang pergi .... Ke sana ..., ke arah barat ...." jawab pemilik rumah itu.


    "Waduh ...,  ke arah barat ...?! Berarti masuk kampung .... Ayo kita kejar ...!!" kata laki-laki yang mungkin jadi pimpinan regu jaga tersebut.


     "Ya ..., ya .... Kita harus segera ke tengah kampung! Jangan sampai hantunya menyerang kampung ...!"


    "Ya ..., ayo kita kejar ...!"


    Orang-orang yang semula beramai-ramai ke rumah orang yang berteriak minta tolong itu, rumah yang berada di ujung timur pinggir kampung, satusatunya rumah yang paling jauh dari pusat kampung, lantas bersama-sama dan beramai-ramai mengejar hantu cekik.


    "Bangun ...! Bangun ...! Ada hantu cekik ...!"


    Orang-orang yang berjaga dan yang ikut keluar rumah berteriak membangunkan para tetangganya, mengingatkan agar waspada karena ada hantu cekik. Tidak sedikit dari warga yang akhirnya juga keluar untuk ikut berjaga. Tetapi bagi ibu-ibu, mereka tentu ketakutan, tidak berani keluar. Ibu-ibu lebih memilih untuk mendekap anaknya di rumah.


    "Di mana hantu cekiknya ...?!" orang-orang pun bertanya ingin tahu.


    "Katanya lari ke arah barat .... Pokoknya hati-hati ...."


    "Tadi di pinggir kampung, di sebelah timur sudah ada yang melihat ...."


    "Ya ..., saat mau mencekik, orang yang tidur terbangun lantas hantunya lari ke barat ...."


    "Pokoknya kita hati-hati, berjaga-jaga ...."

__ADS_1


    "Siapa tahu nanti hantunya memasuki rumah kita ...."


    Akhirnya, semalaman hingga pagi, orang-orang kampung Desa Sarang, terutama bapak-bapak, tidak tidur karena harus berjaga. Menjaga kampungnya dari serangan hantu cekik.


__ADS_2