
Saat sampai di pelataran rumah Engkong, belum juga turun dari mobil, tiba-tiba HP Jamil berdering. Jamil yang sudah mematikan mesin mobil, langsung mengangkat telepon itu. Telepon dari tempat usahanya. Ya, nomor telepon pabrik. Yang menelepon Mbak Ika. Ada masalah pemesanan barang di perusahaan. Ada tamu dari luar kota yang harus ketemu dengan Jamil. Katanya tidak bisa diwakilkan pada siapapun. Yang diminta pimpinannya langsung.
"Jum ..., Nduk ....!" teriak Jamil memanggil istri dan anaknya yang sudah membuka pintu rumah.
"Iya, Kang .... Ada apa?" tanya Juminem yang tentu langsung menoleh ke suaminya.
Demikian juga Melian, yang berhenti membuka pintu. Lantas juga menoleh ke bapaknya.
"Anu ..., ini Mbak Ika telepon .... Ada orang dari luar kota mau pesan barang, dan katanya harus ketemu saya. Tidak mau dilayani oleh karyawan. Maunya ketemu secara langsung dengan pimpinan. Bagaimana ...?" kata Jamil yang pasti bingung.
"Lho .... Lha piye, Kang ...?!" Juminem langsung terlihat kecewa.
"Lha ya itu .... Saya bingung ini .... Bagaimana? Apa saya biarkan saja, atau saya harus pulang ...?!" jawab Jamil yang malah ikut bingung memutuskan.
"Pak-e harus pulang .... Ini pelayanan konsumen, Pak .... Waktu saya kuliah pertama kali, yang menyampaikan perkuliahan Pak Mentri Perdagangan. Beliau bilang kalau ingin sukses harus sanggup melayani permintaan konsumen semaksimal mungkin. Jadi kalau usaha Pak-e ingin lebih maju, maka Pak-e harus pulang, temui pelanggan itu. Mungkin yang datang hari ini hanya satu orang. Tetapi dampak dari pelayanan Pak-e yang bisa menyenanggan pelanggan, besok akan diceritakan kepada calon-calon pembeli yang lain. Dan servis pelayanan itulah yang membuat para pelanggan menjadi senang dan akan mengajak teman-temannya yang lain." kata Melian yang menyampaikan hasil kuliahnya kepada bapaknya.
"Lha terus .... Kamu bagaimana?" tanya bapaknya pada Melian.
"Pak .... Tidak usah khawatir. Melian sudah besar. Toh besok saya sudah bantu-bantu Cik Indra lagi di tokonya. Mas Parmo yang jemput dan antar saya." jawab Melian.
"Lha, Mak-e bagaimana?" tanya Jamil lagi.
"Kamu sendirian nggak papa, Nduk?" tanya Juminem pada Melian.
"Nggak papa, Mak .... Kalau Mak-e mau nemani Pak-e pulang, malah lebih baik. Jadi Pak-e lebih hati-hati. Setidaknya Mak-e bisa menegur kalau Pak-e ngebut." jawab Melian.
"Ya sudah, saya ikut pulang, menemani Pak-e ya, Nduk ...." kata ibunya.
__ADS_1
"Yo wis .... Pak-e pulang sama Mak-e .... Hati-hati ya, Nduk ...." kata Jamil yang langsung keluar dari rumah.
"Hati-hati ya, Nduk ...." Juminem juga ikut berpesan pada anaknya.
"Iya .... Pak-e dan Mak-e juga hati-hati di jalan." jawab Melian yang ikut turun dari teras, melepas pulangnya bapak dan ibunya.
Jamil pun menjalankan mobilnya, keluar dari halaman rumah. Melian langsung menutup pintunya pagar. Meskipun tidak dikunci. Lantas Melian masuk ke rumah. Sengaja tidak menutup pintu rumah, dengan harapan sirkulasi udara akan berganti. Biar rumahnya segar. Melian pun bersih-bersih kamar serta ruangan rumah itu. Sudah enam bulan rumah itu tidak dimasuki. Kalaupun Mas Parmo membersihkan, itu hanya bagia luar rumah saja. Hingga sore hari saat mentari kembali ke tempat persembunyiannya, Melian baru berhenti membersihkan rumahnya.
Seperti yang sudah dipesankan oleh Pak Jamil, malam itu, kebetulan malam Minggu, Cik Indra dan Mas Irul berboncengan motor, main ke rumah Melian. Tentu Irul juga ingin melepas rindunya pada Melian. Sudah enam bulan tidak pernah ketemu. Bahkan berita pun hanya melalui SMS atau BBM istrinya. Maklum, Irul yang sering mengantar barang-barang pesanan pembeli, hanya bawa HP jadul yang hanya bisa untuk SMS dan telepon saja. Sehingga kalau melihat foto-foto Melian, ya melalui HP istrinya. Makanya, kali ini saat Melian liburan semester, Irul ingin bertemu secara langsung.
"Kok sepi ...?! Mobil Pak Jamil nggak ada ...?!" Irul yang sudah berhenti di depan pintu pagar agak heran.
"Sedang keluar, mungkin ...." sahut istrinya, yang turun dari boncengan lantas membuka pintu pagar itu.
Setelah pintu pagar dibuka, Irul langsung menjalankan motornya, dan bablas ke halaman sampai di depan teras rumah. Bersama Indra langsung naik ke teras.
"Bentar ..., Mas Irul ...! Saya sedang mandi ...!" terdengar suara Melian yang sedang mandi di kamar mandi.
"Ya, Mel ...!" Indra menyaut.
Tanpa di suruh, Indra sudah duduk di kursi tamu. Sedangkan Irul keluar, menuju teras, mengamati lingkungan di sekitar bangunan rumah Babah Ho. Tentu angan-angan Irul kembali melayang, mengingat peristiwa sekitar sembilan belas tahun yang lalu. Dimana ia bekerja menjadi karyawannya Babah Ho, dan sering datang ke rumah itu. Bahkan ia ingat persis waktu disuruh memendam atau mengubur ari-ari Melian oleh Babah Ho. Irul benar-benar merasa seperti kembali ke masa lalu.
"Mas Irul ...! Ayo sini .... Masuk sini ...!!" kata Melian yang menyuruh masuk Irul yang masih berada di luar.
"Ya ...." sahut Irul yang langsung masuk ke ruang tamu.
"Mas Irul .... Aku kangen ...." Melian langsung memanja dan memeluk Irul.
__ADS_1
Irul pun juga memeluk Melian. Lantas menarik Melian dan duduk di kursi tamu. Jejer dengan Indra yang sudah duduk di kursi yang panjang. Indra sudah menduga, pasti Melian dan suaminya akan bermanja. Dan kenyataannya memang benar. Mereka kini duduk bertiga. Irul diapit oleh Indra dan Melian. Bahkan Irul juga memeluk istrinya dan juga memeluk Melian. Ibarat seperti memeluk istri dan adiknya. Mereka saling bercerita.
Mereka kelihatan mesra. Indra yang dirangkul oleh tangan kiri suaminya, kedua tangannya juga merangkul leher Irul. Sehingga kepalanya menempel di dada kiri suaminya. Berkali-kali Irul mencium rambut istrinya.
Tidak kalah manjanya, Melian yang juga dirangkul tangan kanan oleh Irul, berkali-kali jemari tangannya mencolek pipi Irul. Bahkan kadang tangan Melian yang memegangi tangan Irul yang memeluk pundaknya, berkali-kali menarik tangan itu dan menempelkan di pipinya. Seakan Melian minta dielus pipinya. Hanya yang membedakan, kalau Indra merebahkan kepala di dada suaminya sambil memejamkan mata, sedangkan Melian justru banyak memandangi wajah Irul.
Indra tidak cemburu. Ia tahu persis seperti apa baiknya Irul pada Melian. Ya,Irul banyak cerita tentang penderitaan Melian pada dirinya. Tentu rasa kasihan itu selalu muncul setiap kali Indra menyaksikan bagaimana Irul mencurahkan kasih sayang kepada Melian, seperti layaknya ingin menebus semua hutang kasih sayang yang dibutuhkan oleh Melian. Bahkan Irul pernah menyesal saat menceritakan Melian yang hilang di pasar. Waktu itu Irul tidak mengawasi Melian yang masih bayi, yang hanya baru bisa merangkak. Dan entah merangkak ke mana, hingga Melian hilang. Kala itu seluruh keluarga Babah Ho menangis. Irul ikut menangis. Dan pasti menyesal dengan kesalahannya yang tidak ikut mengawasi Melian.
Wajar kalau Irul, suaminya itu, selalu memanjakan Melian. Bocah yang pernah hilang dan secara tidak langsung sudah mengakibatkan kematian ibunya saat mencarinya. Termasuk kematian kakek dan neneknya yang berlarut dalam kesedihan. Dan kini, sebenarnya Melian hanyalah anak sebatang kara yang tidak punya siapa-siapa. Beruntung saja Melian dirawat oleh Jamil dan Juminem.
"Mas Irul .... Kita mau makan apa? Melian pasti belum makan ...." kata Indra pada suaminya, yang tentu masih mesra di dadanya.
"Eh, iya .... Melian pengin makan apa? Kamu belum makan, kan? Mas Irul yang carikan ...." kata Irul yang langsung menanyai Melian.
Melian langsung menegakkan tubuhnya, melepas dirinya dari pelukan Irul. Teringat lapar, yang ditahan sejak bersih-bersih rumah tadi.
"Cik Indra penginnya makan apa? Aku ngikut saja sama Cik Indra ...." jawab Melian.
"Lho ..., kok malah saya yang ditanya .... Kalau aku sih penginnya bakmi goreng saja .... Melian gak pengin yang nasi sama lauk atau sayur apa, gitu ...? Gak pengin yang seger-seger ...?" kata Indra yang memang suka bakmi goreng. Indra pun sudah melepas pelukan suaminya, untuk berdiskusi masalah makanan.
"Aku juga bakmi goreng, sama kayak Cik Indra ...." jawab Melian sambil mencium pipi Cik Indra. Melian sangat manja.
Indra tidak mempermasalahkan. Diam saja saat dicium Melian. Ya, itu pasti luapan rasa rindunya.
"Oke .... Bakmi goreng dua .... Saya nasi goreng .... Kalian tunggu di sini, saya belikan dulu ...." kata Irul yang langsung berdiri dan beranjak untuk membeli makan buat mereka bertiga.
"Eh, Mas ..., nasi gorengnya dua .... Siapa tahu nanti saya juga pengin ...." kata Indra menambahi.
__ADS_1
"Oke ...." sahut Indra sambil berlalu. Lantas menghidupkan motornya dan pergi ke warung nasi goreng di depan Pasar Lasem.