
Pagi itu Jamil, Juminem, Melian dan Irul, mereka berempat pergi ke puncak bukit Gunung Bugel. Mereka akan mencari siapa sebenarnya Nenek Amak seperti yang diceritakan oleh Juminem maupun Jamil, yang kala itu memang Nenek Amak ini pernah menanyakan tentang gelang giok berukir naga yang dikenakan oleh Melian. Waktu itu Melian memang masih bayi, yang tentunya belum tahu apa-apa dan tidak ingat tentang sejarah kehidupannya.
Dari bawah bukit, mereka berjalan untuk mencapai tempat pemakaman yang paling atas. Tempatnya masih lebih jauh dari pemakaman Cik Lan, Mamahnya Melian. Mereka berempat berjalan beriringan menuju ke pemakaman yang menurut cerita Jamil, tempat pemakaman itu dulu pernah menarik tubuh Nenek Amak. Tempatnya memang berada paling atas di puncak Gunung Bugel tersebut. Dulu, waktu Melian masih bayi, Jamil dan Juminem pernah mengantarkan Nenek Amak mencari kuburan Cik Lan, yang dikira ada hubungan kekerabatan dengan dirinya. Namun ternyata mamahnya Melian bukan kerabatnya. Di saat itulah, Nenek Amak yang penasaran, Nenek Amak yang ingin tahu siapa sebenarnya orang tua Melian, siapa sebenarnya garis keturunan Melian, maka kala itu saat mereka menemukan tempat pemakaman di puncak bukit itu, tidak pernah menyangka bahwa ia akan menemukan kuburan dari orang tuanya, yaitu ayahnya Nenek Amak.
Memang, menurut cerita orang-orang yang asli tinggal di Kampung Naga, orang-orang yang sudah lanjut usia, orang-orang yang sudah tua-tua, yang konon pernah mendengar kisah tentang awal terbentuknya Kampung Naga, mereka mengatakan kalau Nenek Amak itu umurnya mestinya sudah ratusan tahun. Namun entah apa rahasianya, Nenek Amak itu masih terlihat segar, bahkan dengan nenek-nenek tua yang ada di kampung itu pun masih kelihatan lebih muda Nenek Amak. Konon katanya Nenek Amak adalah pewaris rumah tua di kampung Naga yang kini ditinggali oleh Juminen dan Jamil serta milihan itu.
Memang, waktu itu banyak orang ingin membeli rumah yang ditempati oleh Jamil itu. Tetapi setiap akan dibeli orang, Nenek Amak selalu tidak pernah mengizinkan. Bahkan mengatkan kalau rtumah itu tidak pernah akan dijualnya. Entah karena apa, ketika Jamil yang membawa istri dan anaknya, menginap di emperan rumah itu, yang sebenarnya tidak tahu, karena kala itu mereka hanya nunut orang yang mengendarai gerobak sapi, yang waktu itu si tukang gerobak sapi itu tanpa sepengetahuan Jamil, mereka bertiga diletakkan di rumah itu, di emperan teras rumah tua. Tentu mereka tidak tahu, karena semuanya tertidur saat naik gerobak sapi itu.
Namun ketika pagi itu tiba, Jamil yang kemudian membangunkan istri dan anaknya, ia ditemui nenek tua pemilik rumah itu. Ya, dialah Nenek Amak yang mempunyai rumah kuno, yang konon katanya rumah itu adalah rumah pertama yang dibangun di Kampung Naga.
Jamil ingat betul, kalau rumah tua itu tiba-tiba hanya diberikan kepadanya saja. Waktu itu katanya uang yang dibawa oleh Jamil sudah cukup untuk membayar rumah itu. Padahal seingat Jamil, ia tidak membawa uang sama sekali. Namun Jamil yang saat itu pasrah dengan keadaannya, ia menurut saja apa kata Nenek Amak. Mereka pun akhgirnya menempati rumah tua tersebut, hingga kini Melian sudah menjadi perawan dewasa.
Waktu itu, Nenek Amak setiap pagi datang ke rumah Jamil, hanya ingin melihat Melian, kemudian menggendongnya, lantas menidurkan Melian di gendongannya. Hingga kemudian, pada suatu hari, Nenek Amak menanyakan tentang gelang giok yang dikenakan oleh Melian. Jamil yang tidak tahu, apalagi Juminem, tentu tidak bisa memberikan jawaban. Karena Melian memang bukan anak kandungnya.
Lantas, Nenek Amak juga menanyakan siapa sebenarnya orang tua Melian. Jamil pun mengatakan kalau orang tua Melian sudah tidak ada, sudah meninggal, sudah dikuburkan, sudah dimakamkan. Lantas Nenek Amak itu pun meminta agar dirinya diantarkan ke kuburan orang tua Melian. Ya, Jamil ingat persis peristiwa kala itu. Saat mereka berempat sampai di puncak Gunung Bugel itu, saat Nenek Amak ditunjukkan kuburan Cik Lan. Namun waktu itu, Nenek Amak mulai ragu, karena katanya, itu bukan kuburan yang diharapkan. Katanya, ada keturunan lagi dari orang lain yang lebih berkuasa di Kampung Naga.
Lantas Nenek Amak meminta Melian yang kala itu digendong Juminem. Melian yang mengenakan gelang giok dengan ukiran naga itu di bopongnya. Nenek Amak membawa bayi yang masih kecil itu mendekat ke bongpai ibunya. Lantas Nenek Amak menyatukan gelang giok yang ada di lengan tangan Melian dengan liontin kalung yang ia kenakan. Kemudian tiba-tiba saja angin ****** beliung datang menerpa di daerah puncak pemakaman itu. Bahkan kala itu, langit pun berubah menjadi gelap. Dan tiba-tiba Nenek Amak yang menggendong Melian itu langsung melayang dan berpindah tempat. Seakan seperti terbang. Ya, kala itu Nenek Amak bersama Melian sudah terbawa oleh angin ke tempat pemakaman yang berada di tempat paling atas. Dua orang itu, nenek dan bayi Melian seakan dikuasai oleh kekuatan gaib, dan terjatuh di sebuah bongpai yang lebih besar dan sangat kokoh, yang berada di puncak Gunung Bugel itu.
Jamil ingat betul dengan Juminem yang berlari akan meminta kembali Melian yang dibawa oleh Nenek Amak. Tetapi mereka berdua, Jamil dan Juminem tersapu oleh angin yang kencang, dan jatuh di pinggiran bongpai. Jamil tahu persis tempat itu. Ia ingat tempatnya. Ia ingat bongpai yang ada di tempat pemakaman paling atas tersebut. Lantas, jamil mengajak Juminem, Melian dan Irul menuju ke tempat itu.
__ADS_1
"Tdak keliru .... Inilah tempatnya. Ya ..., saya masih ingat betul, ini bongpai yang kala itu Nenek Amak memasukkan lengan Melian dengan gelang gioknya." kata Jamil yang menunjukkan bongpai yang sudah tidak terawat, yang ditumbuhi oleh rumput-rumput ilalang, hingga bongpai itu tertutup seluruh bangunannya. Bongpai itu tidak kelihatan lagi dari luar. Hanya tumbuhan ilalang saja yang subur dan seakan-akan merahasiakan keberadaan tempat itu. Pasti tidak ada orang yang mau datang menginjakkan kaki ke tempat itu.
"Benarkah tempatnya ini, Pak Jamil? tanya Irul yang mulai menyibak rumput-rumput ilalang. Bahkan ia mulai mencabuti rumput-rumput ilalang yang ada di sekitar pemakaman itu.
"Iya .... Saya ingat betul .... Memang ini tempatnya. Cobalah lihat ini .... Ya, ini .... Batu bongpai ini ada lobangnya. Dulu Nenek Amak memasukkan tangan Melian yang menggunakan gelang giok itu ke dalam lubang ini. Lihat ini ..., lubangnya memang benar-benar bisa dimasuki lengan Melian ...." kata Jamil yang menunjukkan lubang yang ada di tengah-tengah batu nisan itu.
"Untuk apa Nenek Amak memasukkan lengan Melian ke dalam lubang batu itu, Pak Jamil ...?" tanya Irul yang ingin tahu.
"Ya .... Lobang batu itu yang dulu digunakan oleh Nenek Amak untuk membuka bongpai tersebut." kata Jamil yang menjelaskan kejadiannya.
Melian pun kemudian maju, mendekati batu besar yang seakan-akan menjadi dinding bagi pemakaman itu. Melian memperhatikan secara seksama lobang yang ada di tengah-tengah dinding batu besar itu. Melian melihat sekitarnya, dan tentu di situ ada tulisan-tulisan yang menggunakan huruf-huruf di Tiongkok kuno. Mungkin Melian tidak tahu artinya, namun ia mencoba untuk memahami bahwa ini bukanlah pemakaman sembarangan. Ya, ini pemakaman yang terbuat dari sebuah batu besar yang dipahat menjadi dinding. Ini suatu karya yang maha hebat, yaitu karya yang sangat-sangat sukar untuk dilakukan oleh orang-orang jaman sekarang. Tentu orang yang mempunyai makam seperti ini adalah orang yang kaya raya, atau setidaknya dia adalah seorang pemimpin yang dihormati oleh rakyatnya. Ya, tentu untuk membuat bangunan bongpai dari batu yang tebal itu, pasti dibutuhkan waktu yang sangat lama, pasti dibutuhkan tenaga yang cukup banyak, dan tentunya juga tukang-tukang yang bisa memahat batu itu dengan sempurna. Pasti orang yang ada di dalam pemakaman itu bukan orang sembarangan. Pastilah orang itu orang yang punya wibawa dan pengaruh sangat besar.
Melian diam. Melian memperhatikan secara seksama lobang itu. Melian ingin mencoba memasukkan tangannya ke dalam lubang itu. Dia ingin tahu, apa kira-kira yang akan terjadi kalau saja tangannya yang mengenakan gelang giok berukir naga itu, ia masukkan ke dalam lubang yang sebesar lengan tangannya itu. Apakah tangannya bisa masuk? Apakah gelang giok itu juga bisa masuk ke dalam lubang itu?
Melian mencoba mengukur lubang itu. Ia ingin tahu kemungkinan tangannya bisa masuk atau tidak. Tetapi tiba-tiba saja, tangan kiri Melian yang mengenakan gelang giok itu, langsung masuk ke dalam lubang yang ada di tengah batu itu. Ya, lubang itu sudah menyeret masuk tangan Melian yang mengenakan gelang giok berukir naga tersebut.
"Au ......!!!"
Tiba-tiba Melian menjerit kaget. Melian terkejut, tangannya yang ia masukkan ke dalam lubang itu seakan bergetar, seakan bergerak kencang, bahkan seakan ada tenaga, ada kekuatan yang maha dahsyat masuk ke dalam lengan itu. Melian ingat persis bagaimana reaksi dari gelang giok itu jika akan terjadi sesuatu. Dan ternyata benar, sesuatu terjadi di puncak bukit itu. Secara tiba-tiba, langit pun seakan tertutup awan hitam. Langit berubah menjadi gelap. Awan tebal yang ada di langit itu berputar mengelilingi puncak bukit Gunung Bugel. Angin kencang pun berputar, seperti layaknya ada tornado yang akan menyapu tempat tersebut.
__ADS_1
Jamil yang sadar dengan peristiwa itu, yang tentunya akan sama dengan peristiwa yang dulu pernah terjadi. Pasti peristiwa itu akan terulang lagi, ketika gelang giok yang dikenakan Melian itu masuk ke dalam lubang batu bongpai itu. Maka Jamil meminta agar Melian berpegangan pada batu bongpai. Tentunya agar dirinya tidak disapu angin kencang yang berputar itu.
Demikian juga Irul yang belum pernah tahu peristiwa itu, ia diminta untuk waspada dan berpegangan kuat, agar tidak terbawa oleh angin kencang yang tiba-tiba datang menerpa puncak bukit itu.
"Awas ...!! Hati-hati .... Pegangan yang kuat, jangan sampai terombang-ambing oleh angin ...! Jangan sampai terbawa oleh angin ribut .... Jangan sampai dilempar ..... Pegangan yang kuat ...! Ayo kita mendekat, saling berpegangan. Jangan sampai kita jatuh .... Jangan sampai kita terbawa angin yang berputar ini .... Kalau ingin tahu, inilah yang terjadi saat Melian masih bayi, saat Melian dibawa Nenek Amak ke sini ...." begitu kata Jamil pada Irul maupun Juminem.
"Iya Kang .... Saya ingat persis .... Waktu itu saya sempat pingsan ya, Kang ...." kata Juminem yang juga masih ingat peristiwa sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu.
"Apa yang akan terjadi, Pak?" tanya Iru yang tentu ingin tahu peristiwa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ya .... Sebentar lagi bongpai itu akan naik ke udara, terangkat oleh putaran angin dan kekuatan gaib .... Nanti dari dalam tanah kuburan itu akan keluar peti mati yang terbuat dari giok yang sangat besar, peti yang sangat megah dan sangat indah .... Kamu perhatikan saja, tapi jangan lupa untuk berpegangan yang kuat .... Ini nanti akan terjadi keanehan, orang-orang yang ada di dalam peti giok itu akan keluar dan menemui Melian." kata Jamil yang masih ingat jamannya Nenek Amak.
Dan benar apa yang dikatakan oleh Jamil. Sebentar kemudian angin tornado berputar sangat kuat, bahkan dsertai dengan gelegar suara petir yang menyambar-sambar. Kemudian, entah ada kekuatan gaib dari mana, angin tornado itu bisa mengangkat bongpai yang terbuat dari batu yang sangat besar dan berat. Ya, bongpai itu langsung terangkat naik ke atas. Dan tiba-tiba saja, dari bawah bongpai itu muncul peti yang terbuat dari batu giok berwarna hijau mengkilap, yang sangat indah. Peti giok itu terbuka. Dua orang keluar dari dalam peti itu. Yang satu laki-laki dengan pakaian seakan-akan baju kebesaran kerajaan. Sedangkan yang satu lagi adalah perempuan yang juga mengenakan pakaian khas tradisional dari orang-orang Tiongkok kuno.
Jamil ingat persis, wanita itu adalah Nenek Amak. Sedangkan laki-laki itu adalah orang yang dianggap sebagai bapaknya Nenek Amak. Dua orang itu berdiri tepat di depan Melian. Lantas yang laki-laki dengan pakaian kebangsawanan itu, tangannya terjulur memegang pundak Melian.
"Gadis yang baik .... Di sini tempat kakek buyutmu bersemayam .... Dirimu adalah pewaris Kampung Naga, yang dulu pernah berjaya memberikan kemakmuran. Dirimu pewaris gelang giok berukir naga, yang mempunyai kekuatan penuh sebagai pemimpin kebajikan, penguasa atas kebenaran, pembela atas keadilan. Kenakanlah gelang giok berukir naga itu dengan baik. Apa yang kamu miliki itu adalah simbol kebijaksanaan, jangan sampai orang lain yang jahat akan merusak tatanan kehidupan. Jangan ragu untuk menebar kebaikan, jangan khawatir dalam menegakkan kebenaran. Seluruh punggawa, prajurit setia pengikutku akan melindungimu. Berbuatlah kebaikan demi kebenaran ...." begitu suara menggelegar yang diucapkan oleh laki-laki berpakaian bangsawan itu.
Lantas, dua orang itu pun kembali ke dalam peti yang terbuat dari batu giok tersebut. Dan seketika itu, peti itu pun sudah kembali masuk ke dalam tanah, bersamaan dengan turunnya bongpai yang kembali seperti semula.
__ADS_1
Angin pun berhenti bergerak. Awan hitam kembali berubah menjadi biru. Suara petir yang menyambar, sudah berganti menjadi kicau burung yang menentramkan. Jamil mendekati Melian. Demikian juga Juminem, yang langsung memeluk anak perempuannya itu. Tidak ketinggalan, Irul juga ikut memegangi tangan Melian. Mereka meninggalkan puncak bukit itu, tentu dengan perasaan yang lega.