
Hari-hari bahagia sudah menghiasi keluarga Jamil. Kelancaran usaha kerajinan kuningan yang diproduksi oleh Pusat Kerajinan Kuningan Bima Sakti, memberikan kesejahteraan yang sangat lumayan. Tidak hanya para karyawannya yang merasa senang dengan penghasilan yang lebih dari cukup, tetapi juga kenyamanan dalam bekerja. Demikian juga bagi Jamil sendiri, yang berkedudukan sebagai pimpinan perusahaan. Hidupnya lebih mapan dan lebih sejahtera.
Sore itu, Jamil yang duduk bersama anak dan istrinya, ngobrol banyak berbagai hal dengan pengalamannya masing-masing. Juminem pasti membicarakan ibu-ibu tetangganya. Sedangkan Jamil, pasti membicarakan tempat usahanya. Melian juga menceritakan teman-teman di sekolahnya.
"Pak .... Ada teman saya yang tanya, begini ..., 'Mel, bapakmu itu hitam, ibumu juga hitam, kamu kok putih dan sipit kayak Cina, itu turunan dari mana?' .... Begitu tanya teman saya, Pak ...." kata Melian yang tentu menyampaikan kata-kata temannya itu.
"Hehehe .... Terus, Melian menjawab apa?" tanya bapaknya yang ingin tahu jawaban dari anaknya.
"Ya Melian langsung bilang saja, kalau fisik seseorang itu hanyalah pemberian dari Tuhan. Mau berkulit putih, hitam, rambut keriting, lurus atau tinggi, pendek .... Itu semua kehendak dan wewnangnya Tuhan .... Betul, nggak, Pak ...?" jawab Melian, yang juga menceritakan saat menjawab pertanyaan temannya.
"Wuaaah .... Bagus itu .... Jawaban yang sangat betul .... Anak-e Pak-e pinter tenan ...." kata Jamil sambil mengacungkan jempol pada anaknya.
"Teman kamu percaya?" tanya ibunya.
"Ya ..., diam saja ...." jawab Melian.
"Gak papa .... Itu biasa terjadi. Yang penting Melian tetap baik dan jangan saling benci sesama teman-teman." kata Jamil menguatkan perasaan anaknya.
"Melian ..., Memang sebenarnya kamu itu anak Cina ...." tiba-tiba saja Juminem nyeletuk.
"Ah, yang benar, Mak ...?!!" Melian jadi kaget dengan kata-kata ibunya itu.
"Maaf, Melian .... Pak-e dan Mak-e sebenarnya belum inin menyampaikan hal ini .... Penginnya memberitahu kamu saat sudah dewasa nanti .... Tapi ..., yach ..., Mak-e sudah kadung nyeletuk." timpal Jamil yang agak menyesal dengan kata-kata istrinya.
"Lhah ..., terus ..., sebenarnya orang tua saya siapa?!" tanya Melian yang sudah langsung ingin tahu.
"Besok kalau sudah besar saya ceritakan ...." sahut Juminem.
__ADS_1
"Saya pengin ngerti sekarang .... Ayo, kasih tahu, Pak ..., Mak ...." oyok Melian.
"Yakin, Melian mau dengar sekarang ...? Nanti nggak nangis ...?" tanya Juminem lagi, ingin meyakinkan anaknya.
"Iya, Mak .... Ayo, cepat .... Siapa ayah dan ibu saya ...? Di mana sekarang ...?" Melian sudah tidak sabar ingin tahu.
"Ceritanya sangat panjang dan sangat menyedihkan. Orang tua Melian sudah tidak ada semua." kata Jamil perlahan, sambil memeluk anaknya.
"Terus ...? Memang Ayah dan Ibu, kenapa ...?!!" tanya Melian yang sangat ingin tahu.
"Ayah Melian sudah meninggal lama, saat saya belum kenal Melian. Melian masih jauh dari kami. Tapi saya tidak tahu kubur ayahnya Melian, karena waktu itu tinggal di kota lain. Katanya di daerah Pasar Gombrang. Tetapi di mana saya tidak tahu. Kalau Ibunya Melian meninggal di Lasem, jatuh dari jembatan yang sedang dibangun. Ibunya Melian namanya Cik Lan .... Sekarang di kubur di Bong Cina Bukit Lasem, di Gunung Bugel. Karena Melian sudah tidak punya ayah dan ibu, orang tua Melian sudah tidak ada semua, maka oleh kakek dan nenek, Melian disuruh momong kami .... Setiap bulan kami dikirimi sembako oleh kakek neneknya Melian." tiba-tiba Jamil terhenti bercerita. Lantas matanya menerawang, dan berkaca ingin menangis.
"Kok berhenti ...? Pak-e kok menangis ...? Kenapa, Pak ...?" Melian yang ingin mendengarkan cerita itu jadi penasaran karena Jamil menghentikan ceritanya.
"Kami hidup bahagia bersama kumu, Sayang ...." kata Juminem yang ingin membesarkan hati anaknya.
"Iya .... Awalnya memang kita bahagia. Saya senang punya anak Melian. Mak-e juga senang momong kamu setiap hari. Tapi rupanya ada yang tidak senang melihat kebahagiaan kita." kata Jamil yang sudah lebih banyak meneteskan air mata.
"Terus ..., kenapa, Pak ...?! Siapa yang tidak senang ...?!" tanya Melian yang sangat ingin tahu.
"Saya tidak tahu .... Tapi malam itu, tiba-tiba saja rumah kita dibakar orang. Banyak sekali yang ada di sana dan beramai-ramai membakar rumah kita. Pintunya diikat dari luar, sehingga kita tidak bisa keluar. Beruntung mereka tidak mengunci pintu yang ke sumur. Dalam tengah malam yang gelap gulita itu, saat itu kamu dan Mak tidur pulasa. Mak-e langsung saya bangunkan dan saya seret. Dirimu saya gendong, saya ajak keluar lewat pintu belakang, berlari menghindari api yang sudah berkobar membakar rumah kita. Saya yang menggendong kamu, dan menyeret Mak-e, menerobos kegelapan malam. Lari sejauh mungkin, untuk mencari aman. Dasar orang-orang biadab, mereka itu ...!" kenang Jamil, yang kali ini seakan meluapkan emosi kejengkelannya.
"Rumah kita terbakar, Pak?" tanya Melian.
"Iya .... Api membumbung tinggi ke langit. Rumah kita ludes terbakar. Dan mereka pun mengira kita ikut terbakar di dalamnya." jawab bapaknya sambil menggigit bibirnya, tanda sangat marah.
"Ya ampun .... Jahat-jahat sekali orang-orang itu."Melian pun merasa sudah dizolimi.
__ADS_1
"Mereka tidak tahu kalau kita sudah lari ...." timpal Juminem.
"Terus, kita bagaimana, Pak ...?" Melian penasaran, dan juga merasa sedih dan kesal dengan orang-orang jahat yang membakar rumahnya.
"Kita lari lewat tengah sawah .... Kamu tertidur saya gendong .... Mak-e yang saya ajak meloncat-loncat di pematang sawah hingga jatuh bangun. Pokoknya malam itu kita berlari terus .... Takut dikejar orang-orang yang membakar rumah kita. Hingga akhirnya, kita sampai di pinggir jalan, bertemu tukang gerobak sapi, dan kita ditolongnya sampai di tempat ini. Ya di rumah ini .... Ada nenek baik yang memberi tumpangan rumah kepada kita." kata Jamil yang menceritakan kisahnya kepada anaknya.
"Terus ... Kakek sama Nenek bagaimana? Apa mereka ikut terbakar?" tanya Melian yang ingin tahu.
"Tidak. Sebenarnya Kakek dan Nenek, engkong Melian tidak apa-apa. Namun waktu mendengar rumah kita di bakar orang, mereka kaget. Bingung dan khawatir. Akhirnya Nenek jatuh sakit karena memikirkan kita. Waktu itu mau dibawa ke rumah sakit di Semarang, tapi ambulan yang membawanya mengalami kecelakaan. Engkong sama Nenek Melian, termasuk sopir ambulan itu meninggal dalam dalam kecelakaan. Beritanya ada di koran, dan koran itu disimpan oleh Mak-e." kata Jamil yang menceritakan kepada anaknya.
Tiba-tiba Melian mendekap tubuh bapaknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Juminem yang menyaksikan itu, ikut menangis. Kasihan pada anaknya yang sangat malang hidupnya. Ia pun ikut memeluk anaknya. Tiga orang, saling berpelukan dan menangis bersama-sama, mengenang masa sedih dan duka yang dialaminya.
Sejak bayi Melian ikut Juminem dan Jamil. Sejak kecil Melian dititipkan ke Pak-e sama Mak-e. Yang momong dari kecil hingga sekarang sudah kelas empat SD, adalah Juminem dan Jamil. Melian pun hanya tahu kalau dirinya adalah anak Juminem dan Jamil. Bahkan waktu laporan ke kelurahan, yang akhirnya diterbitkan surat-surat administrasi, Jamil, Juminem dan Melian adalah keluarga. Melian adalah anak dari Jamil dan Juminem. Itulah sebabnya, semua orang hanya tahu kalau Melian benar-benar anaknya Jamil dan Juminem.
"Maafkan Pak-e sama Mak-e, ya, Sayang .... Selama ini kami sudah menganggap dirimu sebagai anaknya Pak-e sama Mak-e." kata Jamil sambil mengelus-elus kepala anaknya.
"Iya, Mel .... Mak-e juga minta maaf ...." timpal Juminem.
"Terima kasih, Pak ..., Mak .... Saya senang sudah dianggap anak dan dirawat oleh Pak-e dan Mak-e. Saya tetap menganggap Pak-e dan Mak-e adalah orang tua saya yang asli. Pak-e sama Mak-e sedah merawat saya sejak kecil. Pak-e dan Mak-e sudah repot dan susah payah ngurusi saya .... Apapun yang terjadi, saya tetap menganggap anaknya Pak-e sama Mak-e." kate Melian yang semakin kencang mendekap ibu dan bapaknya.
"Iya, Sayang .... Terima kasih, ya Sayang ...." Juminem mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Saya tetap menganggap Melian anak kami. Dan jangan pisah dengan kami .... Kasihan Mak-e yang sudah terlanjur tidak bisa dipisahkan dari kamu .... Pak-e juga sudah terlanjur sangat sayang sama kamu .... Pokoknya Melian tetap tinggal bersama kami, ya ...." kata Jamil yang juga khawatir kehilangan anaknya itu.
"Iya, Pak ..., Mak .... Kalau Melian pergi, mau ke mana? Melian sudah tidak punya siapa-siapa .... Hanya Pak-e dan Mak-e yang saya punya. Melian tidak mungkin meninggalkan Pak-e sama Mak-e ...." kata Melian yang tentu akan takut kalau kehilangan orang tuanya.
"Iya, Sayang .... Tapi bagaimanapun juga, Melian harus tahu Mamah kamu yang asli. Kalau Melian ingin menengok, besok kita ke kuburan Mamah, sekalian ziarah." kata Jamil menawarkan ke anaknya.
__ADS_1
"Iya, Pak .... Saya ingin tahu tempatnya Mamah .... Kita ke sana semua ...." Melian senang, dan langsung terlihat ceria, akan ditunjukkan tempat makam ibunya.