
Pagi itu, di teras depan ruang kelas I B, Jonatan duduk di buk tempat duduk. Sendirian. Kelihatannya sengaja menunggu Melian lewat. Dan rupanya memang benar. Saat Melian datang, dan seperti biasa pasti melintas di teras ruang kelas I B untuk menuju ke kelasnya, Jonatan langsung berdiri. Mencegat Melian.
"Gimana kemarin ...?" tanya Jonatan pada Melian. Maksudnya pasti menanyakan keadaan Mei Jing.
"Tidak apa-apa, John .... Mei Jing hanya butuh penenangan diri." jawab Melian yang bablas berjalan.
"Mel ...." Jonatan berusaha menghentikan, namun Melian berlalu begitu saja. Jonatan hanya bis mengacungkan tangannya, tetapi tidak ditoleh oleh Melian.
Dan akhirnya bel masuk pun berbunyi. Jonatan juga masuk ke kelas. Seperti hanlnya Melian yang sudah masuk lebih dulu, yang menghilang dari pandangan Jonatan.
Entah kenapa, Jonatan jadi ingin menemui Melian. Terutama ingin bicara, walau sekadar menanyakan keadaan Mei Jing. Tetapi sebenarnya bukan masalah Mei Jing, melainkan memang ingin bertemu Melian. Maka saat istirahat pun, Jonatan langsung keluar kelas. Dan matanya langsung menatap ke arah kelas I D. Pasti mengamati pintu, menunggu keluarnya Melian.
Namun sayang, hingga waktu istirahat habis, hingga bel masuk kembali berbunyi, orang yang diharapkan tidak kunjung keluar. Jonatan menarik napas panjang. Melepas kecewa dalam hatinya. Hanya ingin sekedar memandang saja, ternyata tidak kesampaian.
Entah ada apa yang terjadi pada diri Jonatan. Semalam ia tidak bisa tidur, hanya karena memikirkan Melian yang pernah memukul dirinya hingga roboh gelimpangan di lantai. Jika mengingat peristiwa itu, tentu Jonatan sangat malu. Karena tubuhnya yang tinggi besar, bahkan teman-temannya sangat tunduk dengannya, dan tiba-tiba saja ia roboh oleh tangan kecil yang terlihat tak berdaya dari perempuan yang dianggap lemah itu.
Namun saat kemarin, di parkiran, ia harus memboncengkan Melian, dan mendengar ejekan dari teman-temannya, Jonatan memang malu. Malu memboncengkan Melian, malu dituduh memacari Melian. Apalagi waktu itu, Melian yang membonceng dengan cara mekangkang, tubuhnya merebah ke depan dan menempel di punggung Jonatan. Terlihat sangat enjoi seperti anak yang berpacaran.
Mestinya Jonatan ingin menolak. Namun karena ia merasa kalah oleh Melian, apalagi pernah dipukul jatuh, maka Jonatan tidak sanggup untuk mengatakan tidak. Dan kerena Mei Jing adalah teman akrabnya, maka Jonatan pun terpaksa memboncengkan Melian ke rumah Mei Jing.
Namun melihat sikap baik yang ditunjukkan oleh Melian, rupanya Jonatan mulai menilai, kalau Melian adalah anak baik. Melian tidak hanya pandai membela diri, tidak hanya pandai bersilat dengan wushu, tetapi juga bertanggung jawab dan mau mengerti keadaan temannya.
Mulai saat itulah, hati Jonatan bergejolak. Ia baru tahu kalau sifat Melian sangat baik dan tulus. Jonatan kembali mengingat apa yang ia tahu dari Melian saat melamawan Mei Jing, maupun saat memukul dirinya dan teman-temannya. Baru ia sadari bahwa waktu itu, waktu Melian tanding dengan Mei Jing, Melian tidak melawan. Hanya mengelak, menghindari serangan. Melian tidak mau membalas. Demikian juga saat diserang teman-teman di depan kelas, Melian juga tidak menyerang, hanya menghindar. Itu yang menjadi pikiran bagi Jonatan. Ternyata Melian memang anak baik.
Maka sepulang dari rumah Mei Jing, habis mengantarkan Melian, wajah Melian langsung terbayang. Bahkan semalaman ia tak bisa tidur, hanya karena terbayang-bayang dengan Melian. Apalagi jika mengingat saat memboncengkan Melian, betapa nikmatnya kalau bisa setiap hari menjemput dan mengantar Melian.
Saat bel istirahat kedua berbunyi, seperti tadi saat bel istirahat pertama. Jonatan langsung keluar. Dan tentu pandangannya langsung mengarah ke kelas I D.
"Heh ... Minggir ...! Jangan di jalanan .... Tubuh sebesar kingkong berdiri di tengah jalan ...." bentak temannya yang mau keluar kelas. Wajar saja karena tubuhnya besar berdiri di depan pintu, pasti menghalangi orang lewat.
__ADS_1
Jonatan terus minggir. Namun hanya menggeser ke samping. Pandangannya tetap mengamati ke arah kelas Melian.
"Kamu itu nglihatin apaan, sih ...?!" tanya temannya yang terhalang.
"Sssttt ....!" Jonatan menempelkan jari telunnuknya di bibirnya. Tanda menyuruh temannya diam.
"Oooh, aku tahu .... Pasti naksir cewek kelas I C, ya ...." sahut temannya sambil nyengenges menggoda.
"Sssssttt ........!" lagi-lagi Jonatan menempelkan jari telunnuknya di bibirnya, meminta agar temannya diam.
Temannya pergi berlalu. Tidak mau mengganggu orang yang sedang jatuh cinta.
Sementara Jonatan yang sudah duduk di buk tempat duduk teras kelas, tetap memandangi ke arah kelas sebelah. Pasti dengan rasa penasaran. Menunggu nongolnya orang yang diharapkan akan keluar dari kelas. Namun sama seperti saat istirahat pertama, Melian juga tidak keluar kelas.
Tentu Jonatan penasaran, ada apa sebenarnya Melian, kok sampai istirahat saja tidak keluar kelas. Padahal teman-temannya pada keluar kelas, termasuk teman-teman perempuan di kelas itu. Maka untuk mengetahui hal itu, Jonatan pura-pura jalan di teras kelas, menuju ruang kelas I D. Tentu Jonatan mepet tembok kelas. Tubuhnya yang tinggi cukup leluasa untuk melihat ruang kelas dari jendela kaca. Sehingga tidak perlu masuk ke dalam kelas.
Dan saat sampai di kelas I D, Jonatan memperlambat jalannya. Meski sudah tinggi dan mencapai jendela, kepalanya masih didongakkan. Tentu agar bisa melihat ke dalam kelas lebih jelas. Pasti matanya berputar mencari Melian.
"Kok aneh ...?" Jonatan bingung sendiri. Tentu karena tadi pagi sempat ketemu Melian.
Maka setelah sampai depan pintu kelas I D tersebut, Jonatan memasukkan kepalanya, menengok ke dalam kelas. Saking tidak percayanya kalau dalam kelas itu tidak ada Melian. Namun setelah ia tengok dalam kelas itu, faktanya juga tidak ada Melian.
"Nyari siapa, John ...?!" tanya salah seorang murid yang ada di dalam kelas.
"Hehe ...." Jonatan nyengenges, tidak menjawab.
Jonatan pasrah. Akhirnya ia kembali ke depan kelasnya. Tentu sambil mengamat-amati. Siapa tahu Melian tadi keluar duluan sebelum dirinya keluar kelas. Bisa jadi Melian masih makan di kantin. Maka ia kembali duduk di buk teras kelas. Dan pasti tetap mengamati ke kelas Melian.
"Teeet ...... Teeet .....!" hingga bel masuk kembali berbunyi.
__ADS_1
Anak-anak pada masuk kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Namun Jonatan, masih duduk di buk teras kelasnya, tentu sambil memandangi ke arah pintu masuk kelas I D. Sampai akhirnya, dari belakang ada guru yang sudah meletakkan jemari di bagian pinggang Jonatan. Guru Tata Negara itu sudah mencubit pinggang Jonatan.
"Aduh ..., Pak .... Ampun ..., Pak ...." teriak Jonatan yang tentu tidak berkutik saat dicubit guru Tata Negara tersebut. Ia langsung menurut cubitan dan masuk ke kelas.
"Amsyong ..., amsyong ...!!" teman-temannya yang sudah ada di dalam kelas meledek Jonatan. Jonatan jadi bahan tertawaan teman-temannya.
Dua jam pelajaran terakhir, merupakan mata pelajaran yang paling membuat resah bagi Jonatan. Pasalnya guru Tata Negara itu hanya cerita, bikin ngantuk, sementara pikiran Jonatan masih bingung dengan keberadaan Melian. Tentu Jonatan merasakan sangat lambatnya jarum jam yang berputar. Kok tidak cepat-cepat bel pulang. Ingin rasanya ia segera keluar. Sangat lama untuk menunggu waktu pulang.
"Hahaha ...." anak-anak di kelas itu pada tertawa.
Beruntung ada hiburan temannya yang tertidur, pasti jadi sasaran Pak Guru Tata Negara itu untuk melancarkan aksinya, mencubit perut murid yang tertidur.
Spontan anak yang dicubit perutnya langsung kaget terbangun. Lantas ditertawakan oleh teman-temannya. Yah, lumayan untuk selingan menunggu waktu pulang.
"Teeet ...... Teeet ..... teeet .....!" Dan akhirnya, bel pulang pun berbunyi.
"Horeeeee ....!!" tiba-tiba Jonatan bersorak sendiri. Mungkin luapan kegembiraannya.
Pasti Jonatan langsung jadi sasaran empuk bagi Pak Guru untuk dicubit perutnya.
"Amsyong ..., amsyong ...!!" teman-temannya langsung menertawakan.
Anak-anak pulang. Jonatan keluar kelas, langsung menoleh ke kelas I D. Pasti mencari Melian. Tengak-tengok mengamati anak-anak yang keluar dari kelas. Namun hingga hampir habis, Melian juga tidak terlihat.
"Vik ..., Melian ada?" Jonatan bertanya kepada Vivi, teman sekelas Melian.
"Sudah pulang." jawab Vivi.
"Tadi masuk?" tanya Jonatan lagi.
__ADS_1
"Masuk ...." jawab Vivi lagi, lantas balik bertanya, "Memang ada apa?"
"Ndak papa .... Ya udah, makasih ...." sahut Jonatan yang langsung melangkah menuju halaman parkir, mengambil kendaraan untuk pulang. Hampa membawa keresahannya sendiri.