GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 171: MELAYAT


__ADS_3

    Akhirnya Melian menurut kata-kata bapaknya. Tidak jadi mengurus masalah bank, yang hanya sekadar ingin bertanya bagaimana bisa tanah dan bangunan milik engkongnya bisa dijadikan jaminan di bank. Tetapi mendahulukan untuk melayat ke Semarang. Ya, tentu karena yang meninggal masih saudaranya Babah Ho. Masih ada ikatan persaudaraan dengan Melian. Demikian juga dengan Irul yang pernah menjadi karyawannya, pasti masih ingat betul tentang Koh Han yang sering memarahi dirinya.


    Siang setelah dzuhur, Irul dan Indra yang sudah memasrahkan toko kepada adik-adiknya, tentu untuk mengurusi pembeli, pengantaran barang serta nanti sore untuk menutupnya, mereka berdua berboncengan naik motor menuju Juwana. Pasti ke rumah Pak Jamil. Mereka akan berangkat melayat bersama dengan keluarga Pak Jamil. Irul tidak memakai mobil tepaknya, karena masih digunakan untuk mengantar barang-barang pesanan pembeli. Maka ia memilih berboncengan. Toh tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam perjalanan.


    Meski hanya berboncengan motor, Irul dan Indra justru menikmati perjalanannya. Setidaknya Indra yang membonceng di belakang Irul, mendekap erat tubuh suaminya. Demikian juga Indra, yang merasakan nikmatnya memeluk suaminya. Dan tahu-tahu, motor yang dikendarai itu sudah sampai di rumah mantan bosnya.


    "Nah, itu Mas Irul sama Cik Indra ...." kata Melian yang sudah bersiap bersama ibunya.


    "Wah .... Panjang umur Mas Irul ..., Cik Indra .... Baru saja kami bicarakan ...." kata Juminem.


    "Kok tidak naik mobil tepak, Mas Irul ...?" tanya Melian.


    "Lhah, kan buat kerja ngantar-ngantar barang belanjaan ...." jawab Irul sambil menaikkan motornya di teras. Tentu karena akan ditinggal pergi, biar lebih aman.


    "Saya nggak dibawain jajanan ...?" tanya Melian yang seperti anak kecil, selalu menanyakan jajanan.


    "Dibawain .... Ini ...." sahut Indra yang langsung mengambil plastik kresek yang menggantung di motor suaminya, lalu diserahkan kepada Melian.


    "Asyiiik ......" kata anak itu sambil kegirangan, lantas naik ke mobil bapaknya, memilih di bagian jok belakang.


    "Sudah siap, Jum ...?" Jamil yang keluar rumah menanyai istrinya.


    "Sudah .... Lha ini Mas Irul sama Cik Indra ...." jawab Juminem yang tentu sambil menunjukkan orang yang ditunggu.


    "Yuk, berangkat ...." Jamil mengunci pintu rumahnya, lantas turun dari rumah mengajak berangkat.


    Juminem duduk di depan, disamping suaminya yang menyopir. Sedangkan Irul dan Indra berada di tengah. Yang tentu langsung diajak ngobrol sama Melian.


    "Mas Irul tahu tempat rumah dukanya ...?" tanya Jamil sambil menjalankan mobil keluar dari halaman rumahnya.


    "Dek Indra yang paham, Pak Jamil .... Orang sudah tinggal di Semarang sangat lama ...." jawab Irul.


    "Iya, Pak Jamil .... Tahu .... Tempatnya di Citarum. Terus saja menuju Semarang .... Nanti kalau sudah masuk kota kami arahkan ...." jawab Indra yang tentu sudah paham tempat-tempat di Kota Semarang.


    "Melian kan juga pernah di Semarang ...." sahut Irul yang menggoda.


    "Eh, iya .... Ada Melian, juga pernah tinggal di Semarang ...." timpal bapaknya.


    "Iih ..., Mas Irul .... Saya di Semarang tidak pernah pergi-pergi ke tempat seperti itu, ya ...." sahut Melian protes.


    "Betul, Pak .... Ini rumah duka .... Tempat menyemayamkan orang meninggal. Bukan tempat biasa. Jadi hanya untuk menaruh orang meninggal sebelum dimakamkan atau dikremasi. Anak-anak biasanya takut." kata Cik Indra yang membenarkan kata-kata Melian.


    "Lhoh ..., tuh .... Tempatnya orang meninggal, Mas Irul ...." tegas Melian.


    "Oooo ...." Irul melongo.

__ADS_1


    "Nguburnya kapan?" tanya Juminem yang ingin tahu, karena kalau adat orang keturunan Cina, biasanya penyemayaman jenazah bisa sampai berhari-hari. Ia ingat waktu Cik Lan meninggal, sampai tiga hari jenazahnya dipajang di rumahnya. Hingga sampai ada upacara maisong yang ia bersama suaminya datang mengantarkan Melian.


    "Ini diberita yang ada di koran, besok lusa akan dikremasi." jawab Indra sesuai kabar dari koran.


    "Ooo .... Lama, ya ...?" kata Juminem yang tentu membandingkan dengan adatnya penduduk pribumi Rembang dan Lasem serta Juwana yang sangat berbeda. Orang-orang pribumi kalau meninggal biasanya langsung dikuburkan. Tapi kalau orang keturunan bisa disemayamkan hingga tiga hari. Tentu karena menunggu sanak saudara dari jauh yang butuh perjalanan cukup lama.


    Mereka ngobrol di sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya, mobil yang disopiri oleh Jamil itu sudah masuk Semarang. Tentu Jamil mulai menanyakan arah ke tempat rumah duka.


    "Ini, terus arahnya ke mana, Cik Indra ...?" tanya Jamil sambil melihat arah.


    "Lurus saja terus, Pak Jamil .... Mengikuti jalan utama ...." jawab Indra sambil mengarahkan.


    Jamil mengikuti petunjuk arah yang dikatakan Cik Indra. Mobil itu sudah menyusuri Jalan Kaligawe, jalan masuk ke Kota Semarang dari Pantura arah timur.


    "Setelah jembatan itu, belok ke kiri, Pak .... Pelan saja ...." kata Indra menunjukkan jalannya.


    "Iya, Cik .... Ini terus, ya ...?" kata Jamil yang sudah membelokkan arah mobilnya.


    "Nah, yang di pertigaan itu belok ke kiri lagi, Pak .... Ikuti bus besar itu. Tapi jangan terlalu dekat, itu bus luar kota, bahaya kalau terlalu dekat. Karena nanti di lampu bangjo, kita belok ke kiri lagi." kata Indra yang terus menunjukkan jalannya.


    "Iya, Cik .... Oh, bangjo itu, ya .... Kita belok kiri lagi ...?" kata Jamil sambil mengamati arah jalan.


    "Betul, Pak Jamil .... Ambil kiri, kita berbelok ke kiri ...." sahut Indra.


    "Pelan, Pak .... Itu sudah dekat .... Tempatnya ada di sebelah kiri jalan. Nah, ini Pak Jamil. Masuk ke parkiran .... Kita sudah sampai." kata Indra yang langsung bersiap turun. Tentu sambil mencangklong tas kecil seperti layaknya para wanita kalau bepergian. Ya, isinya dompet dan HP.


    Mereka berlima turun dari mobil. Kemudian berjalan bersama menuju rumah duka. Indra dan Irul disuruh yang berjalan di depan, karena yang paham. Jamil dan Juminem di belakang. Melian berada di tengah. Mereka langsung menuju ke tempat penyemayaman jenazah.


    Sampai di tempat penyemayaman jenazah, mereka menyalami keluarga atau kerabat dari Koh Han yang pada berdiri di samping pintu masuk itu. Lantas masuk menuju tempat penyemayaman jenazah. Seperti orang-orang lain yang datang melayat, mereka menuju ke tempat meletakkan peti. Biasanya para pelayat memberikan doa di depan peti mati. Jamil dan Juminem pernah melihat hal itu saat kematian Cik Lan. Tentu masih ingat bagaimana caranya.


    Peti jenazah belum ditutup, karena belum melewati malam maisong. Sehingga para pelayat masih bisa menyaksikan jenazah yang terbaring di peti mati. Mereka berlima pun berdiri di samping peti mati itu. Meski tidak berdoa, tetapi sempat melihat jenazah yang ada dalam peti mati, yang sudah didandani dengan pakaian terbaiknya.


    Namun alangkah kagetnya Irul, Indra, Juminem, Jamil dan Melian saat menyaksikan mayat yang ada di dalam peti mati itu. Mayat itu terlihat aneh. Tidak seperti layaknya orang meninggal yang terbujur seperti tidur. Tetapi mayat itu terlihat sangat menakutkan. Posisinya tidak seperti orang tidur. Tetapi matanya terbelalak lebar. Bisa disebut mendelik. Lidahnya terjulur keluar seperti anjing yang melet-melet, dan meringis. Sehingga gigi atasnya kelihatan. Kedua tangannya terangkat ke depan dengan jari-jarinya yang seakan mau menerkam. Demikian juga dengan kakinya yang menekuk ke atas dengan lututnya yang terangkat. Ini bukan layaknya orang mati. Tetapi orang yang seakan mau menakuti anak-anak.


    Sungguh mengerikan. Begitu melihat posisi mayat seperti itu, tentu Juminem langsung takut, Lantas memalingkan wajahnya dan dibenamkan di punggung suaminya, tidak mau melihat mayat itu. Jamil yang tahu hal itu, langsung merangkul istrinya yang sudah mau muntah, membawanya pergi meninggalkan peti mati tersebut.


    Berbeda dengan Irul, Indra dan Melian. Ia justru merasa penasaran dengan keadaan mayat yang aneh itu. Maka tiga orang itu terus mengamati mayat yang seperti anjing menyalak mau menerkam orang tersebut. Apa sebenarnya yang terjadi pada orang ini?


    "Mas Irul ..., ini benar Koh Han yang kamu kenal itu?" tanya Indra yang membisik di telinga suaminya.


    "Iya, betul .... Tapi melihat keadaannya kok sangat memprihatinkan, ya .... Saya sampai sulit untuk mengenali wajahnya." jawab Irul lirih, juga menempel di telinga istrinya.


    "Mas Irul .... Apakah ini orang yang sudah mengambil semua milik Engkong? Mengambil toko dan rumah Engkong?" tanya Melian yang juga lirih di dekat telinga Irul.


    "Betul, Melian .... Ini namanya Koh Han .... Dulu yang menyuruh saya mengelola tokonya Babah Ho, tetapi saya selalu dimarahi, karena untungnya kurang besar. Makanya saya keluar." jawab Irul yang teringat saat menjadi karyawannya Koh Han.

__ADS_1


    "Ayo, Mas ..., kita nemani Mbak Jum .... Kasihan itu Mbak Jum ...." ajak Indra pada suaminya, yang tentu juga menggandeng Melian.


    Melian yang meninggalkan peti mati itu, masih sempat memandangi jenazah yang kalau ditengkurapkan pasti seperti anjing mau menerkam orang yang lewat. Entah karena apa, seakan mayat yang ada dalam peti jenazah itu bergerak takut pada Melian yang menatapnya.


    Mereka berlima pun duduk berjejeran. Memilih di kursi yang paling belakang, jauh dari peti mayat itu. Tentu karena Juminem yang masih takut dengan mayat yang ada di dalamnya. Indra membuka tasnya, mengambil minyak kayu putih, lantas diberikan kepada Juminem lalu dioleskan di tengkuk dan di hidung. Untuk mengurangi rasa mual di perutnya.


    Sambil istirahat sejenak, tentu mereka juga mengamati orang-orang datang melayat. Terutama bagi Indra dan Irul, mereka melihat reaksi orang-orang yang berdiri di depan peti dan melihat mayat yang ada di dalamnya. Pasti semua mengalami hal yang sama dengan dirinya, yaitu kaget, heran dan penasaran, menyaksikan perwujudan jenazah yang sangat tidak lazim tersebut.


    Dan saat ada serombongan orang pelayat, mungkin sekitar sepuluh orang yang pada berdiri di dekat peti untuk melihat jenazahnya, alangkah kagetnya mereka, tiba-tiba saja terjadi semacam letupan dari dalam peti mati itu. Asap hitam mengepul dari peti mati tersebut. Tentu orang-orang ini langsung berjingkat saking kagetnya.


    "Masyaalah .......!!"


    "Yaampun .......!!"


    "Ee ..., ada apa ini ...?!"


    Tentu keluarganya yang mendengar hal itu, dan menyaksikan kepulan asap hitam dari dalam peti itu, langsung berlarian ingin tahu apa yang terjadi. Termasuk beberapa tamu yang masih ada di situ, juga ikut berlari menuju ke peti mati tempat penyemayaman jenazah Koh Han tersebut.


    Orang-orang yang menyaksikan pada melongo. Heran dan tidak percaya. Ternyata, mayat Koh Han yang kondisinya seperti anjing melet mau menerkam orang tersebut, kini bertambah mengerikan. Karena sekujur tubuhnya sudah gosong seperti dipanggang dalam bara api.


    Menyaksikan hal itu, keluarganya langsung pada menangis. Termasuk kerabat dekatnya, yang sangat kasihan melihat kenyataan yang memilukan ini. Tidak sedikit yang langsung memalingkan pandangan dan menutup wajahnya. Saking ngerinya melihat mayat yang mengenaskan.


    "Pak Jamil ..., Mbak Juminem .... Sebaiknya kita pulang sekarang saja, supaya nanti tidak kemalaman di jalan." kata Irul mengajak keluarga Pak Jamil untuk pulang. Ia sadar ada hal tidak beres di tempat penyemayaman jenazah ini. Daripada nanti Juminem malah mabok, makanya Irul bergegas mengajak pulang.


    "Iya, betul, Mas Irul .... Kita pulang sekarang saja." sahut Jamil yang langsung berdiri, melangkah pulang. Yang lainnya langsung beranjak jalan.


    "Hee ..., Melian ...!!" tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil nama Melian.


    Melian menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dan ternyata, "Hwa Hwa ...!!" Melian balas berteriak. Ia ketemu teman sekolahnya waktu di Semarang.


    "Kok kamu gak sekolah di Semarang lagi?" tanya temannya itu.


    "Aku pindah sekolah di Pati, yang dekat dengan rumah ...." jawab Melian.


    "Kamu kok melayat Om Han ...? Apa kenal ...?" tanya temannya itu yang tentu kaget karena Melian melayat di situ.


    "Ini, Mas Irul dulu karyawannya. Dan orang ini katanya pernah berbisnis dengan Pak-e saya ...." jawab Melian yang tentu menyembunyikan rahasia hubungan keluarga.


    "Bisnis ...? Kok bisa ...? Om Han itu suka menipu orang .... Papah saya saja ketipu banyak, kok .... Hati-hati kalau bisnis dengan orang lain yang belum kita kenal ...." kata Hwa Hwa temannya Melian satu kelas waktu SMA di Semarang dulu.


    "Ooo .... Begitu, ya ...? Baiklah, akan saya sampaikan ke Pak-e. Ya sudah, aku pulang dulu sama keluarga. Ayo, main ke rumahku ...." kata Melian yang tentu tahu fakta tentang Koh Han yang diceritakan Mas Irul tersebut.


    "Ya, kapan-kapan .... Terima kasih, ya .... Kalau main ke Semarang kabar-kabar ...." kata temannya yang langsung memberi salam.


     Kini Irul yang disuruh menyetir mobilnya Pak Jamil. Maklum, kondisinya saat menyaksikan jenazah yang mirip anjing itu tadi, ternyata kepala Jamil juga terasa agak nggliyer. Ya, mereka pulang dengan perjalanan yang kurang nyaman. Sehingga mobil itu kini baunya minyak kayu putih dan balsem obat gosok. Karena semua memakainya untuk menghilangkan rasa pusing.

__ADS_1


__ADS_2