
Kematian Ibu Ambar sudah menginjak malam ke tujuh. Seperti biasa, keluarga yang ditinggalkan mengadakan kirim doa. Seperti halnya anak-anak juragan kuningan itu yang didampingi saudara-saudaranya mengadakan selamatan mengenang kematian orang tuanya. Tapi yang pasti, pengiriman doa itu juga ditujukan untuk keselamatan ayahnya yang berada di dalam penjara. Ayahnya masih ditahan oleh pihak kepolisian.
Para tetangga ikut memanjatkan doa tujuh hari sepeninggal istri juragan kuningan tersebut. Demikian juga para karyawan yang dirumahkan, sebagai rasa simpatinya, mereka ikut datang mengirimkan doa. Meski tidak semuanya hadir. Tetapi sebagian besar pada datang.
Jamil tidak datang dalam acara itu. Ia membantu istrinya menyelesaikan jahitan di rumahnya. Maklum, waktu itu ada tetangga yang menjahitkan pakaian, tetapi tergesa akan segera dipakai. Maka jahitan yang digarap oleh Juminem itu harus segera selesai. Oleh sebab itulah, dari pada menganggur, tidak ada pekerjaan yang pasti, Jamil membantu istrinya.
Namun sebenarnya, kedatangan para karyawan yang ikut berdoa tujuh hari kematian juragan perempuannya itu, ada maksud tertentu. Kala kematiannya, mereka sudah membicarakan akan minta pesangon jika saja usaha kerajinan kuningan itu ditutup. Apalagi saat melihat bos-nya diborgol oleh polisi, yang jelas akan dihukum cukup lama. Para karyawan ini sudah membayangkan kalau usaha itu pasti akan ditutup. Karena anaknya tidak mungkin bisa melanjutkan usaha ayahnya. Maka, yang pada berdatangan ke rumah bos-nya, ikut memanjatkan doa tujuh hari almarhum juragan putrinya, adalah para karyawan yang berniat akan meminta pesangon pada anak-anaknya.
Maka setelah acara pengiriman doa itu selesai, para mantan karyawan ini tidak ikut bibar. Tidak langsung pulang. Tetapi mereka justru mengambil waktu para tetangganya pada pulang, untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Mas Danang, mohon maaf ya .... Terus terang kami ingin menanyakan terkait nasib para karyawan ...." kata Pak Eko yang merupakan orang yang ditunjuk untuk mewakili teman-teman karyawan.
"Njih, Pak Eko .... Kami paham. Tapi keadaan kami masih berduka seperti ini ...." jawab anak juragan kuningan yang dipanggil Danang tersebut.
"Maksud kami ..., teman-teman karyawan ini ingin tahu kejelasan nasibnya. Mas Danang ...." kata karyawan yang mewakili teman-temannya itu.
"Iya, Pak .... Tapi kami belum tahu akan berbuat apa .... Kami hanyalah anak kecil yang belum punya tanggung jawab, Pak ...." sahut anak remaja itu.
"Betul, Mas Danang .... Tapi, kami ini ingin tahu apakah kami akan bekerja lagi atau pabrik ini mau ditutup?" kata laki-laki kekar yang cukup tua itu.
"Pak ..., kami tidak tahu tentang pabrik ini .... Bahkan kami nanti akan tinggal di mana saja belum tahu .... Huk ..., huh..., huh ...." jawab remaja yang bernama Danang tersebut yang langsung menangis, yang tentu bertambah sedih karena dituntut tanggung jawab oleh para karyawan bapaknya.
"Ee ..., begini Bapak-bapak .... Mohon maaf saya ikut nimbrung pembicaraan .... Terus terang usaha adik saya ini sedang mengalami kebangkrutan. Dalam istilah keuangan sedang mengalami pailit. Perusahaan adik saya ini sudah tidak punya apa-apa lagi. Dan kemarin sebenarnya tempat ini sudah disita oleh bank. Adik saya stres .... Dan saya tidak tahu, kenapa juga ini istrinya meninggal gantung diri .... Dan malah adik saya yang ditangkap polisi .... Kasihan sekali adik saya ini .... Tetapi minggu kemarin utang perusahaan sudah dibayar oleh Mas Jamil .... Jadi sebenarnya, kalau bapak-bapak pada tanya tentang tanggung jawab, itu nanti tergantung Mas Jamil yang sudah mengambil alih. Terus terang kemarin hal ini disampaikan adik saya kepada anak-anaknya." kata kakak laki-laki dari bosnya itu.
Sebenarnya, waktu pemakaman ibunya, dua anak remaja itu sudah dipesan oleh ayahnya agar menemui Mas Jamil. Ayahnya mengatakan kepada anaknya, kalau rumah dan tempat usahanya yang menjadi agunan di bank, yang mestinya disita oleh bank, sudah dilunasi semua oleh Mas Jamil. Maka sebenarnya kalau bis kuningan berterus terang, setidaknya ia harus menyerahkan tempat itu kepada Jamil. Kalaupun tidak mau melepas rumah dan tempat usaha itu berarti ia mempunyai hutang kepada Jamil sebesar seluruh harta miliknya.
Tetapi, kala itu, saat Jamil datang menemui juragannya, sesaat mendengar lengsernya Pak Harto, bos kuningan itu tidak menghiraukan kata-kata Jamil. Bahkan ia melupakan jasa-jasa Jamil untuk menyelamatkan harta kekayaannya. Yang akhirnya, malamnya terjadi ribut antara dirinya dengan istrinya terkait dengan hutang-hutang yang sudah tidak mungkin dibayarnya lagi. Entah bagaimana, tahu-tahu dua anaknya menemukan ibunya sudah menggantung diri dan meninggal.
Tentunya bos kuningan itu menyesali segala yang telah terjadi. Ia baru sadar, kalau ia pernah menyampaikan kepada Jamil, jika hutangnya bisa dilunasi, maka seluruh bangunan tempat usaha dan rumahnya akan diserahkan kepada Jamil. Tapi semuanya sudah terlambat. Dan kini, ia justru harus mendekam di penjara.
"Lhah, terus ..., kami bagaimana?" tanya orang-orang itu.
"Tanyakan ke Mas Jamil .... Mana karyawan yang bernama Mas Jamil?" tanya pakde dari dua anak remaja yang ditinggal orang tuanya tersebut.
"Lho ..., Mas Jamil kok tidak kelihatan?" teman-temannya tengak-tengok mencari Jamil.
"Iya, tidak ada ...."
"Dari tadi tidak kelihatan ...."
"Walah ..., kemana orang ini ...."
__ADS_1
"Tolong disusul ke rumahnya .... Ajak kemari!" kata Mas Eko yang seakan jadi pemimpin karyawan tersebut.
"Ya ..., sebentar saya susul ...."
"Pakai motor, diboncengkan ..., biar cepat!"
"Ya ...."
Akhirnya, Jamil yang disusul datang diboncengkan temannya.
"Mas Jamil ...! Walah, kok tadi nggak ikut slametan ...?!" kata Mas Eko yang langsung merangkul Jamil tersebut.
"Maaf, saya harus membantu istri disambati tetangga ...." jawab Jamil.
"Oo .... Dapat borongan, ya ...?" tanya temannya.
"Alhamdulillah, untuk menyambung hidup .... Biar dapurnya tetap ngebul ...." jawab Jamil.
"Pak ..., Mas ..., ini yang namanya Mas Jamil ...." kata Mas Eko itu sambil menunjukkan Jamil ke saudara bosnya.
"Iya, saya sudah kenal ...." sahut anak muda bernama Danang, anaknya bos kuningan itu.
"Ooo .... Nggih .... Walah Mas Jamil .... Maturnuwun, Mas ...." sahut laki-laki yang kakaknya bos kuningan itu.
"Kami yang minta maaf, sudah mengganggu dan merepotkan Mas Jamil ...." kata kakanya bos kuningan itu.
"Kalau boleh tahu, ini saya mau disuruh apa, ya ...?" tanya Jamil yang tentu tidak enak karena tidak ikut mendoakan arwah juragan putrinya.
"Itu, Mas Jamil .... Para karyawan ini menuntut minta pesangon .... Kami selaku kakanya dan pakdenya anak-anak ini bingung, Mas Jamil ...." kata orang itu.
"Iya, Mas Jamil ...! Kami menuntut pesangon ...!" teriak salah seorang karyawan yang ikut datang.
"Betul ...! Kami minta pesangon ...!!" balas yang lainnya.
"Pokoknya kalau kami diberhentikan, kami harus mendapat pesangon ...!"
"Waduh ..., waduh ..., waduh .... Kalian ini bagaimana, to ...? Majikan kita itu masih dalam suasana berkabung, suasana duka .... Apalagi Pak Bos masih ditahan oleh polisi .... Lha kok malah kalian teriak-teriak seperti itu ..., tidak baik, tidak etis, tidak sopan ...." Jamil berkata santai, ingin mengingatkan teman-temannya.
"Pokoknya Mas Jamil harus memberi pesangon ke saya ...!" kata salah seorang yang dari tadi bengak-bengok.
"Ya ..., Mas Jamil harus memberi pesangon kami ...!" teriak yang lain.
__ADS_1
"Lho, kok saya ...?" Jamil yang ditunut jadi bingung.
"Ya, betul ...! Kan tempat usaha ini sudah diserahkan Mas Jamil .... Maka Mas Jamil yang harus tanggung jawab ...!!" sahut Mas Eko yang jadi pemimpin.
"Lho, kok begitu ...?! Siapa yang bilang ...?!" Jamil justru semakin bingung.
"Bapak itu yang bilang ..., Pakde-nya Mas Danang .... Kakaknya Pak Bos ...!" sahut orang-orang itu.
"Iya ..., benar, Mas Jamil .... Kemarin saat pemakaman istrinya, adik saya menyampaikan hal itu. Rumah ini dan seluruh tempat usahanya katanya milik Mas Jamil .... Mau dilanjutkan usahanya atau ditutup, itu diserahkan semuanya kepada Mas Jamil .... Nanti anak-anak biar ikut kami. Monggo, saya pasrah pada Mas Jamil ...." kata laki-laki yang sudah menginjak tua itu.
"Waduh ...?! Kok bisa begitu ...?!" Jamil menjadi bingung.
Persoalan baru yang dibebankan oleh majikannya, pasti akan merepotkan dirinya. Bagaimana mungkin dalam kondisi krisis moneter yang menghancurkan ekonomi bangsa ini, ia harus menangani permasalahan perusahaan bosnya. Dan yang namanya pesangon, pasti tidak sedikit jumlahnya. Lima belas orang karyawan minta pesangon semuanya. Uang dari mana? Tentu ia sangat terbeban.
"Ya, Mas Jamil .... Tolong kami diberi pesangon ...!" lagi-lagi, teman-temannya berteriak minta pesangon.
"Betul ...! Anak istri kami butuh makan ...!" sahut yang lain.
"Ini benar-benar beban bagi saya .... Saya tidak mungkin bisa .... Saya itu kan karyawan biasa, sama seperti kalian ...." Jamil benar-benar bingung, tidak bisa berbuat apa-apa saat dituntut oleh teman-temannya.
"Ya harus bertanggung jawab ...! Usaha ini kan sudah diserahkan ke Mas Jamil ...! Katanya milik Mas Jamil ...! Maka Mas Jamil yang harus bertanggungjawab ...!" sahut temannya yang lain.
"Betul ...!!!" sahut teman-temannya.
"Ya, Mas Jamil .... Kata Bapak, ini semua sudah diserahkan oleh Bapak kepada Mas Jamil, maka tanggung jawab itu tentunya juga menjadi bebannya Mas Jamil ...." tiba-tiba Danang, anak bos kuningan itu ikut menyampaikan beban kepada Jamil.
"Tolonglah, Kami ..., Mas Jamil .... Kami pasrah semuanya pada sampean ...." kata laki-laki tua kakaknya bos kuningan itu.
"Waduh ...?! Bagaimana ini ...?! Ya sudah .... Saya akan mencari jalan keluar .... Tapi saya mohon teman-teman semuanya pulang dahulu .... Tidak baik malam-malam ribut di kampung orang. Mengganggu warga kampung sini yang akan tidur. Besok pagi semuanya datang. Seluruh karyawan kumpul semua. Yang malam ini tidak datang, mohon dikasih tahu. Kita akan membahas masalah ini bersama-sama besok pagi. Sekali lagi saya mohon, malam ini tolong teman-teman pulang semua, dan besok pagi datang semua. Yang tidak datang saya anggap tidak butuh." tiba-tiba saja Jamil sanggup berkata tegas. Suaranya berwibawa dan menggema di telinga teman-temannya.
"Ya, Mas Jamil ...." sahut teman-temannya yang langsung menurut.
Mereka pun satu persatu pulang ke rumah masing-masing, tenang dan tertib. Tidak ada keributan lagi.
Jamil yang masih berada diantara anak dan kakak majikannya itu, lantas bertanya lagi, ingin menandaskan apa yang dikatakan orang-orang itu tadi.
"Benarkah Pak Bos mengatakan hal itu?" tanya Jamil pada dua orang itu. Kini tidak hanya dua orang. Tetapi saudara-saudara yang lain dan adiknya Mas Danang, yang tadinya takut tidak berani keluar, kini ikut nimbrung di situ.
"Betul, Mas Jamil .... Sebenarnya Bapak sudah menceritakan hal ini kepada keluarga, termasuk Ibu, saat belum meninggal. Kata Bapak, tempat ini seluruhnya sudah dibayar oleh Mas Jamil untuk menutup utang Bapak. Waktu itu Bapak hanya bingung karena tempat ini memang akan disita oleh pihak bank. Itu yang disampaikan Bapak. Maka kami mohon dengan sangat, Mas Jamil tetap bantu kami. Kami sudah tidak punya siapa-siapa, Mas ...." kata bocah bernama Danang, anak sulung majikannya tersebut.
"Iya, Mas Jamil .... Tolonglah kami ...." tambah laki-laki yang mulai tua itu, kakak dari majikannya.
__ADS_1
"Betul, Mas Jamil .... Tolonglah kami ...." tiba-tiba seluruh keluarga itu menyaut dan megiba pada Jamil.
Sanggupkah Jamil menghadapi masalah baru ini lagi? Bagaimana sikap Jamil menghadapi teman-temannya yang menuntut pesangon?