
"Iih ..., kenapa sih, Melian .... Kok HP-nya juga gak pernah diangkat ...?!" gerutu Putri yang jengkel dengan sikap Melian sudah pergi dari asrama.
Sejak ditinggalkan Melian, memang Putri merasa bersalah. Awalnya ia memang menyalahkan Melian. Tetapi pagi hari setelah Melian hilang dari kamarnya, dan pergi entah ke mana, kini Putri baru sadar kalau dirinya sudah keliru. Dirinya terlalu memaksakan kehendak pada Melian agar mau berdekatan dengan Kim Bo. Ia berusaha menjodohkan Melian dengan Kim Bo. Karena menurut Putri, Kim Bo adalah anak dari pengusaha kaya raya. Segala yang diminta pasti akan diberikan.
Namun rupanya, pandangan hidup Melian berbeda dengan Putri. Ketidak cocokan itulah, yang akhirnya menyebabkan Melian lebih baik mengalah dan pergi meninggalkan kamar asramanya, dari pada harus berseteru terus menerus dengan Putri. Melian tidak ingin ribut dengan oarang yang sudah dekat pada dirinya. Apalagi mereka berdua sudah saling menganggap sebagai sahabat. Kalau memang Putri sudah tidak bisa menerima nasehat dari Melian, ya sudah. Lebih baik Melian yang mengalah.
Dan kini, Putri benar-benar merasa kehilangan. Melian sudah tidak ada di dekatnya lagi, tentu sangat kesepian di dalam kamar asrama sendirian. Dan jika diingat, Melian sudah beberapa kali menyelamatkan dirinya. Bahkan Melian seakan menjadi pelindung dirinya.
Namun ketika mendengar curhatan dari Kim Bo, yang mengatakan kalau dirinya dikeroyok oleh orang-orang suruhan Melian, kalau dirinya dirampok oleh orang-orang suruhan Melian, itu berarti Melian sangat jahat. Melakukan kelakuan yang tidak terpuji peda Kim Bo, yang tentu tidak pantas dilakukan kepada anak seorang pengusaha kaya. Mau minta apapun akan diberi, tidak perlu merampok atau menyuruh orang mengeroyoknya. Ini Melian benar-benar keterlaluan. Begitu yang masih ada dalam benak Putri.
"Biarlah Melian pergi .... Mau hidup di mana dia ...? Memang di Jakarta ini ada yang enak dan gratis .... Biar dirasakan .... Nanti kalau sudah kapok dan menderita hidup di luar, pasti akan ngemis-ngemis minta bantuan. Nah ..., itu kesempatan bagi Kom Bo untuk kembali menangkap Melian." begitu gumam Putri.
Dan tentu, setelah satu minggu Melian tidak kembali, atau bertemu dengan Putri, rasanya sudah biasa. Putri sudah tidak mencemaskan atau memikirkan Melian lagi. Terutama setelah Wijaya, cowoknya yang sering mengajak bersenang-senang, mengatakan tidak usah memikirkan Melian. Wijaya menganggap Melian bukan kelasnya. Apalagi kalau harus didekatkan dengan Kim Bo, Melian terlalu rendahan.
Lama kelamaan, Putri pun melupakan begitu saja tentang Melian. Toh dari berbagai pandangan hidup memang dirinya jauh berbeda dengan Melian. Bagi Putri, hidup harus dibuat bersenang-senang. Apalagi Putri sudah mendapatkan cowok Wijaya, yang glamour dengan harta bendanya. Bius kemewahan duniawi itu sudah memisahkan dirinya dengan Melian.
Siang itu, Putri berangkat ke kampus sendiri. Ia akan mengikuti kuliah Ekonomi Mikro. Dan saat masuk kampus, tentu langsung duduk di depan. Maklum, siang itu yang akan mengajar dosen muda yang sangat ganteng. Dan tentunya dosen itu sangat pintar. Enak cara menjelaskannya serta membuat para mahasiswa yang mengikuti perkuliahannya tidak mengantuk, meski kuliah di siang hari, jam-jam rawan mata terpejam. Dan memang, dosen muda itu sangat bisa membawa perkuliahan menjadi hidup, terjadi komunikasi dua arah yang sangat aktif.
Secara umum, perkuliahan ekonomi mikro membahas masalah perilaku ekonomi dalam lingkup individu, rumah tangga, perusahaan, dan pasar. Pembahasannya meliputi pemanfaatan sumber daya ekonomi bagi kehidupan masyarakat serta perilaku produsen dan konsumen dalam melakukan interaksi di pasar. Sesuai dengan nama mata kuliahnya, ekonomi mikro ini membahas tentang peran individu-individu pelaku ekonomi, bagaimana rumah tangga dan produsen membuat keputusan, serta bagaimana mereka berinteraksi di dalam pasar tertentu.
Pertama kali membuka kuliahnya, dosen muda itu menampilkan paparannya, potret perkampungan kumuh.
"Ada yang tahu gambar ini ...?" tanya dosen muda itu kepada para mahasiswanya.
"Tahu, Pak .... Itu foto daerah kawasan kumuh ...." jawab salah seorang mahasiswanya.
"Itu pemukiman di Bantar Gebang, Pak ..." jawab yang lain.
__ADS_1
"Itu pemukiman kumuh para pemulung, Pak ...." jawab yang lain lagi.
"Iya, betul .... Ini adalah pemukiman kumuh yang menjadi tempat hunian para pemulung. Kebetulan ini saya mengambil gambar di daerah bantaran Sungai Ciliwung." kata si dosen muda tersebut menjelaskan fotonya.
"Apa hubungannya dengan mata kuliah kita, Pak ...?" tanya salah seorang mahasiswa.
"Inilah yang akan saya bahas di siang hari ini. Coba perhatikan gambar ini ...." kata dosen yang sudah mengganti paparannya. Gambar seorang gadis yang dikelilingi oleh anak-anak kecil. Lokasinya masih di daerah yang sama, dengan latar belakang Sungai Ciliwung. Hanya saja gadis itu terpotret dari belakang. Sehingga tidak kelihatan wajahnya.
"Apakah ada yang tahu, kira-kira ini gambar apa?" tanya dosen itu kepada para mahasiswanya.
Semua diam, tidak ada yang sanggup memberi komentar. Tentu bukan piknik. Siapa yang mau piknik ke tempat kumuh itu. Dan tentunya juga tidak ada hubungan dengan masalah ekonomi.
"Ini salah seorang mahasiswi yang sudah menggerakkan ekonomi rakyat." kata sang dosen muda itu kepada para mahasiswanya.
"Menggerakkan ekonomi yang seperti apa, Pak ...?" tanya salah seorang mahasiswa yang tentu ingin tahu kegiatannya.
"Coba lihat gambar yang ini ...." kali ini dosen muda itu menunjukkan wajah gadis yang dikerubut oleh para pemulung yang rata-rata adalah laki-laki setengah baya.
"Itu Melian ...!!" tiba-tiba Putri berteriak. Begitu melihat gambar yang ditampilkan oleh dosennya, yang terlihat wajah gadis itu. Gadis itu adalah Melian.
"Anda kenal mahasiswi ini?" tanya sang dosen itu pada para mahasiswanya.
"Kenal, Pak ...!! Itu Melian, Pak ...!!" teriak para mahasiswa yang tentu mengenal temannya.
"Ya, betul .... Dia adalah teman kita .... Namanya Melian. Saya menemukan mahasiswa ini di tempat pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung. Perempuan ini adalah penerima penghargaan penggerak pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi lemah dari Kementerian. Saya bangga dengan perempuan ini, yang tentunya akan menggerakan perekonomian bangsa. Dan kalian mesti bisa meniru jejak gadis ini ...." kata dosen muda itu yang membanggakan Melian sebagai mahasiswi yang sudah berhasil memperoleh penghargaan dari kementerian.
Tentu para mahasiswa itu langsung riuh membahas keberhasilan temannya itu. Tapi Putri, memandang berbeda dengan cara Melian. Putri sudah terlanjur terbius dengan dogma dari Wijayam cowoknya itu, serta Kim Bo yang sudah menjelek-jelekkan Melian dan menganggap merampok dirinya. Tetapi Putri menjadi bimbang dengan kata-kata Kim Bo. Mungkin saja Melian yang benar. Tetapi fakta yang disampaikan oleh dosennya, Melian adalah gadis yang berhasil.
__ADS_1
"Maaf, Pak .... Apa kesuksesan Melian sehingga mendapat penghargaan?" tanya Putri yang tentu penasaran dengan Melian.
"Coba perhatikan foto ini ...." dosen itu kembali menunjukkan Melian yang dikerubung anak-anak. Lantas katanya, "Gadis ini mengajar anak-anak para pemulung .... Anak-anak ini tidak bersekolah .... Gadis ini mencurahkan perhatiannya untuk mengajari anak-anak belajar menulis dan membaca. Nah, sekarang yang ini ...." Dosen itu memindahkan gambarnya yang ada Melian dikerubung para pemulung. Lantas katanya lagi, "Sedangkan yang ini, Melian sedang menjelaskan proses pembuatan alat teknologi tepat guna. Alat yang digunakan untuk mencacah barang-barang hasil pulungan. Saya akan menjelaskan alat ini dalam kuliah hari ini." kata dosen itu.
"Di mana kegiatan ekonominya, Pak ...?" tanya salah seorang mahasiswa.
"Ya .... Saya akan membahas ekonomi mikro dari kegiatan para pemulung, yang dalam hal ini telah diaangkat oleh teman kita Melian, menjadi kelompok masyarakat yang produktif. Melian telah menggerakkan ekonomi kerakyatan di kampung pemulung yang ada di bantaran Sungai Ciliwung. Sehingga pendapatan para pemulung ini meningkat. Para pemulung ini sudah menjadi produsen untuk hasil pulungannya sendiri, sehingga barang-barang yang didapat, rongsokan yang diperoleh, akan bertambah nilai ekonominya." kata dosen muda itu, yang selanjutnya menunjukkan slide-slide berikutnya.
"Nah, perhatikan gambar ini ...." kata dosen itu yang menayangkan foto para pemulung bersama Melian, yang sedang mengoperasikan alat pencacah botol plastik.
"Nah, perhatikan yang ini ...." kata dosen itu yang menunjukkan gambar selanjutnya. Lalu katanya, "Ini besi-besi bekas yang diolah menjadi kerajinan. Ada yang dibuat tempat pot, ada yang jadi tempat lampu, ada pula tempat sepatu, dan ada juga yang jadi hiasan-hiasan taman. Ini memberi nilai tambah terhadap barang rongsokan tersebut. Yang pasti akan menambah pendapatan bagi parapemulung tersebut." kata dosen muda itu lagi yang menjelaskan bertambahnya nilai ekonomi.
"Tapi, Pak ...?!" tiba-tiba salah seorang mahasiswa menyela ingin berpendapat.
"Bagaimana ...?" tanya dosen itu.
"Itu hasilnya kan tidak seberapa .... Bagaimana mungkin aktivitas seperti itu bisa meningkatkan perekonomian bangsa?" tanya mahasiswa itu lagi.
"Mungkin Anda hanya menghitung satu atau dua barang saja. Coba Anda bayangkan pabrik rokok. Sebatang rokok harganya berapa? Harga tembakau berapa? Ongkos atau upah buruh pabrik rokokper orang berapa? Tetapi pengusaha pabrik rokok itu nyatanya kaya raya. Sama dengan kegiatan di bantaran Sungai Ciliwung ini, yang dikelola oleh teman kita Melian. Potongan besi-besi itu tidak beli. Pemulung hanya mendapatkan di tempat sampah atau tempat pembuangan. Ia hanya modal kretivitas dan keterampilan mengelas ditambah cat satu kaleng untuk hasil produk yang sangat banyak. Kamu tahu berapa hasil yang diperoleh dari penjualan produk itu? Setiap harinya tidak kurang dari satu juta masuk kantongnya Melian. Coba lihat foto yang ini." kata dosen itu yang menunjukkan slide terakhirnya.
Sebuah foto bangunan rumah yang unik dan antik. Bangunan yang terbuat dari barang-barang bekas, tetapi sudah diubah menjadi sebuah karya seni yang sangat indah. Karya bangunan yang dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa dari Institut Kesenian Jakarta. Mahasiswa seni rupa dan desain interior ekterior yang sudah mendesain rumah antik yang luar biasa bagusnya itu. Dan tentu, di depan rumah antik itu terdapat berbagai macam produk yang sudah diciptakan oleh para pemulung, yang tentunya juga diajari oleh mahasiswa dari IKJ untuk menciptakan barang-barang bernilai seni.
"Anda tahu rumah antik ini? Sudah pernah ke sana? setiap hari para wisatawan berdatangan ke situ untuk menyaksikan keunikan rumah itu, dan pastinya berbelanja barang-barang produk dari hasul karya para pemuluh yang sudah dilatih. Dan itu menambah pemasukan yang tidak sedikit jumlahnya. Rumah itu milik Melian. Ia rela tidur bersama dengan anak-anak pemulung, untuk memintarkan anak-anak yang bernasib kurang beruntung." kata dosen muda itu.
Semua mahasiswa terdiam. Tidak ada yang berkomentar. Tetapi pikirannya sudah melayang dengan aneka ragam pendapat. Mungkin banyak yang jijik mendengar cerita itu. Tetapi pasti juga banyak yang kagum dengan kiprah Melian yang benar-benar luar biasa untuk memperjuangkan rakyat kecil.
"Dan perlu saya sampaikan, saat kemarin saya bertemu langsung pada Melian, dalam waktu dekat, Melian akan membangun pabrik pengolahan atau daur ulang barang-barang bekas. Pasti omsetnya akan lebih besar lagi. Dan bagi saya, bukan masalah omset yang besar, tetapi Melian sudah membantu pemerintah, dan bahkan dunia, telah mengurai masalah sampah. Anda tahu, siapa yang akan menjadi karyawan? Ya, para pemulung itu. Melian akan mengangkat para pemulung itu, yang jumlahnya ada sekitar dua ribu orang, menjadi karyawannya. Ini bukan perusahaan kecil. Tapi ini sudah perusahaan yang sangat besar." kata dosen itu yang tentu langsung mengkaitkan dengan mata kuliahnya. Bahwa ekonomi mikro janganlah dipandang remeh. Tetapi ketika orang-orang itu digerakkan secara bersama, akan membentuk kekuatan yang luar biasa, kekuatan yang sanggup menopang perekonomian bangsa.
__ADS_1
Putri terdiam tak bergeming. Meskipun teman-temannya, para mahasiswa sudah pada keluar dari ruang kuliah setelah selesai mengikuti perkuliahan, tetapi Putri terasa enggan untuk mengangkat pantatnya dari tempat duduk. Ia termenung membayangkan Melian, sahabat yang sudah ia pandang sebagai orang yang tega menyakiti Kim Bo. Sahabat yang sudah ia bentak karena tidak setuju dengan pendapat-pendapatnya. Ternyata kata-kata Melian memang benar adanya. Pasti Putri sangat kecewa sudah menyakiti hati Melian, hingga mengakibatkan Melian pergi meninggalkan asrama. Ia sudah kehilangan sahabat yang baik.