
Malam Minggu merupakan akhir pekan yang biasa ditunggu oleh para pekerja yang sibuk. Setidaknya para pekerja yang hampir setiap hari bergelut dengan pekerjaan yang sangat banyak dan melelahkan, di malam Minggu itulah mereka bisa refresing.
"Melian apa sering jalan-jalan kalau malam minggu ?" tanya pak dosen kepada Melian.
"Hampir tidak pernah Pak .... Dulu pernah sekali, waktu saya masih di asrama, bersama Putri. Hanya ingin tahu Jakarta .... Maklum, Pak ..., kami dari desa yang belum pernah ke Jakarta. Itu saja hanya pergi ke Monas ingin melihat Monas dari dalam. Sudah ..., hanya itu saja, Pak." jawab Melian yang memang tidak pernah jalan-jalan berkeliling Jakarta.
"Kok tidak pernah jalan-jalan, sih ...? Biasanya Milian acaranya ngapain, kalau malam Minggu?" tanya pak dosen itu lagi kepada Melian.
"Paling-paling, ya ..., saya bersama anak-anak di sini, Pak. Kadang bikin acara di Kampung Transformer. Ada yang menari-nari, ada yang menyanyi, ada yang baca puisi, bahkan ada juga yang pantomim. Sebenarnya anak-anak di sini nih, kreatif-kreatif, Pak .... Cuman ya memang mereka ini kurang beruntung dari segi ekonomi, mereka ini banyak kekurangan dari segi-segi keuangan. Tetapi sebenarnya kalau kita motivasi, kita gali potensi anak-anak semuanya, ada Pak, banyak anak-anak yang berpotensi. Di sini saya jadi senang dengan anak-anak. Mereka kreatif, mereka mau diajak maju, dan yang jelas sebenarnya banyak bibit-bibit anak yang pintar di tempat yang kumuh seperti itu. Hanya label buruk yang menempel pada mereka, yaitu anak pemulung." begitu kata Melian kepada pak dosen.
"Berarti Melian tidak pernah melihat dunia luar di Jakarta ini?" tanya dosen itu kembali.
"Ya, banyak kegiatan, Pak Endang ....Maaf, Pak .... Bagi saya bisa bersenang-senang dengan anak-anak para pemulung ini saja sudah senang. Saya sudah bisa bergembira. Saya sudah bersyukur. Yach ..., mungkin seperti itulah, Pak ..., sifat saya yang tidak suka dengan glamor, tidak senang dengan dunia luar, apalagi kalau sampai diajak dugem. Saya memang tidak bisa menerima kehidupan-kehidupan yang seperti itu." begitu jawab Melian.
"Melian .... Boleh Bapak tanya? Dulu kalau tidak salah, Melian kan satu asrama, bahkan satu kamar dengan Putri. Itu seingat saya .... Tapi kenapa Melian justru pergi begitu saja meninggalkan asrama?" tanya pak dosen lagi yang tentu pertanyaan itu membuat hati Melian jadi gundah. Sulit untuk jujur, dan tentu sangat tidak bisa untuk menjawab secara berterus terang.
"Maaf, Pak .... Saya ini kan orang yang lahir dari keluarga miskin. Saya dibesarkan oleh keluarga yang serba kekurangan. Saya dibesarkan oleh keluarga yang kesulitan dalam ekonomi. Maka begitu saya menyaksikan anak-anak yang ada di bantaran Sungai Ciliwung ini, yang tinggal di gubuk gubuk kumuh ini, saya prihatin, Pak. Saya sedih, saya berempati kepada mereka. Kalau mereka menangis, mungkin saya juga akan ikut menangis. Dan saya tidak pernah melihat mereka bahagia. Itulah, entah kenapa tiba-tiba hati saya tergerak untuk merombak gubug-gebug yang tidak layak huni, gubug-gubug yang berserakan tidak karuan, hanya merupakan kardus-kardus bekas yang dia gunakan sebagai tempat tidur, itu bukan manusia, Pak. Saya kasihan dengan mereka. Saya kasihan dengan anak-anak yang tidak sekolah. Saya kasihan dengan anak-anak yang tidak punya ilmu pengetahuan. Saya kasihan dengan anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis. Ya ..., mungkin sudah jiwa saya, Pak .... Dan kebetulan ada teman-teman yang mendukung saya, ada volunteer-volunteer yang mau membantu saya, maka saya dan teman-teman mencoba untuk menggerakkan para pemulung ini. Saya bersama teman-teman mencoba untuk memberikan masukan dan memberikan keterampilan untuk merubah pola pikir mereka. Alhamdulillah bisa, Pak ...." jawab Melian.
Sambil menyetir mobilnya, tentu Pak Endang menjadi lebih suka dengan Melian. Gadis seperti Melian inilah yang pantas untuk hidup bersama dengan dirinya. Pak Endang semakin kagum, dan tentu jatuh hatinya semakin mendalam.
__ADS_1
"Terus ...? Hasilnya bagaimana ...?" tanya Pak Endang, yang sebenarnya sudah tahu hasilnya kalau kampung kumuh itu kini sudah berubah menjadi kampung yang tertata rapi dan menghasilkan banyak penghargaan.
"Intinya bahwa kami hanya ingin mengajak anak-anak di tempat tinggal para pemulung itu menjadi lebih maju, dan yang penting bagi saya, anak-anak ini walaupun dia menjadi pemulung, walaupun dia hanya sekedar membantu orang tuanya mencari rongsok, tetapi saya ingin mereka tetap bisa membaca dan menulis. Mereka tetap bisa menguasai ilmu pengetahuan. Dan ternyata ..., saya dan teman-teman bisa merubah. Dan hasilnya seperti itu .... Pak Endang sudah melihatnya seperti sekarang ini." begitu kata Melian kepada pak dosen yang duduk di sopiran mobilnya, tentu dengan senyum yang sangat manis saat menoleh ke dosennya itu.
"Wow .... Keren sekali Melian .... Sungguh luhur budi pekertimu. Saya melihat Melian yang cantik seperti ini, ternyata mempunyai jiwa dan kepribadian yang sangat luhur. Seandainya saja ada seribu orang-orang seperti Melian, saya yakin bangsa ini sudah menjadi bangsa yang sangat maju. Saya salut dengan Melian .... Ya ..., itulah kenapa dari pertama kali saya menyaksikan Melian membangun Kampung Transformer ini, saya sudah tertarik dengan Melian. Maaf Melian, saya ini adalah pengagum kamu yang setia." begitu kata pak dosen sambil sesekali melirik Milian saat ia menyetir mobilnya.
Tentu Melian tersipu malu disanjung oleh dosennya.
"Pak Endang bisa saja .... Itu bukan saya, Pak .... Itu hasil kerja teman-teman saya. Saya tidak mungkin melakukan itu sendirian. Semuanya dibantu oleh teman-teman. Jadi jangan puji saya seperti itu, Pak ..., tapi tolong puji teman-teman saya yang sudah bekerja siang dan malam untuk membangun Kampung Transformers itu." Melian mencoba mengelak, tidak ingin mendapat sanjungan yang terlalu tinggi dari dosennya.
"Ah ..., tidak menyanjung .... Saya percaya kalau tidak ada Melian, pasti Kampung transformer ini tidak akan terwujud. Saya yakin yang menjadi penggerak, yang menjadi motornya, yang menjadi pemimpinnya, di Kampung Transformer ini adalah Melian." lagi-lagi pak dosen muda itu memuji Melian.
"Pak Endang itu loh, selalu saja memuji saya. Maaf ya Pak, jangan terlalu memuji saya tinggi-tinggi seperti itu. Nanti saya jadi orang sombong lho, Pak." begitu sahut Melian.
Melian diam tersipu malu. Dia hanya bisa memainkan jari-jari tangannya di atas pangkuannya.
"Eh ..., Melian .... Enaknya ini kita jalan-jalan ke mana?" tanya dosen muda itu pada Melian.
"Saya kan tidak tahu Jakarta, Pak ...." jawab Melian pada pak dosen itu, yang tentu bingung untuk menentukan ke mana dia akan pergi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita menuju Ancol? Di sana kita bisa ngobrol di tepi pantai, menikmati keindahan laut di malam hari, sambil minum teh atau minum kopi." pak dosen muda itu menawarkan alternatif pilihan tujuan kepada Melian.
"Saya mengikut saja, Pak .... Saya kan tidak tahu Jakarta. Pak Endang yang paham, pasti Pak Endang sering jalan-jalan di Jakarta. Iya kan? kata Melian yang mencoba menelisik kelakuan Pak Endang.
"Ah ..., tidak juga, Melian .... Saya itu di Jakarta kan juga pendatang. Asli saya itu kan dari Sunda. Di sini saya itu hanya bekerja. Jadi fokus saya ya bekerja. Paling-paling kalau saya pergi itu ya mencari bahan-bahan yang akan saya pakai untuk perkuliahan. Lha mau piknik sama siapa? Orang pacar saja saya belum punya ...." begitu kata Pak Endang yang justru membalik kata-katanya untuk mencoba ,emamggapi Mellian.
"Masak sih? Dosen seganteng Bapak ini belum punya pacar?" Melian justru membalik kata-kata yang disampaikan oleh Pak Endang. Melian tidak percaya kalau Pak Endang itu tidak punya pacar. Tapi hati Melian mulai lega, jika memang Pak Endang belum punya pacar, itu artinya ada kesempatan bisa dekat dengan Pak Endang.
"Ya ..., bagaimana ya Mel .... Saya itu kadang-kadang juga berpikir, kapan Tuhan itu memberikan jodoh untuk saya. Padahal dari segi ekonomi saya juga sudah mapan. Pekerjaan, saya juga sudah jadi dosen. Rumah, saya juga sudah punya. Tapi sayang, saya belum punya pasangan .... Yah ..., mudah-mudahan saja Tuhan memberi jodoh kepada saya yang terbaik untuk saya." begitu kesah Pak Endang yang justru mengungkapkan perasaannya kalau dirinya belum punya pacar.
Melian diam, tidak mau berbicara tentang hal-hal yang sensitif. Melian sadar bahwa dirinya adalah wanita yang tidak boleh mengumbar kata-kata tentang cinta, tentang paca,r tentang hasrat, atau apapun yang dikatakan oleh orang-orang tua zaman dahulu, bagi wanita hal itu adalah tabu. Maka Melian hanya berpikir, hanya memendam dalam batinnya. Jika saja Pak Endang itu adalah orang cocok dengan dirinya, biarlah nanti waktu yang akan menyibaknya.
Setelah beberapa saat kemudian, Pak Endang membelokkan mobilnya menuju ke arah Pantai Ancol. Lantas ia memarkirkan mobilnya di bawah pohon-pohon kelapa yang banyak terdapat di pantai Ancol.
Selanjutnya Pak Endang membuka pintu. Ia mengajak keluar Mellian dari mobilnya. Lantas mengajak Melian duduk dikursi yang sengaja disediakan oleh cafe-cafe di situ untuk para pengunjung. Tentu Pak Endang duduk di tempat yang paling dekat dengan pantai, untuk menyaksikan keindahan Pantai Ancol.
Setelah Pak Endang dan Melian duduk di situ, tiba-tiba ada gadis pelayan cafe yang datang menawarkan sajian menu. Pak Endang menyerahkan kepada Melian agar memesan makanan dan minuman. Lantas, kembali menyaksikan pantai yang tidak pernah sepi setiap malam itu.
"Lihatlah, Melian .... Inilah Pantai Ancol yang terkenal di Jakarta. Nah kalau di sebelahnya itu adalah Dufan. Dunia Fantasi. Biasanya kalau hari Sabtu dan hari Minggu sangat ramai, banyak pengunjung, banyak wisatawan, banyak turis yang berdatangan kemari untuk menghibur dirinya, refreshing, bermain di arena permainan yang ada di Dufan." kata Pak Endang kepada Melian.
__ADS_1
"Asyik sekali ya Pak ...." saut Melian.
"Ya .... Kapan-kapan Milian akan saya ajak ke Dufan. Nanti kita bisa naik mainan-mainan yang ada di Dufan." begitu kata Pak Endang, yang mengajak Melian jalan-jalan, menikmati keindahan Pantai Ancol.