
Setelah pulang sekolah, Melian langsung bergegas ke rumah kost. Berlari kecil agar cepat sampai rumah. Tentu sambil membawa bungkusan bandeng presto yang sedianya akan diberikan kepada Mei Jing, tetapi tidak jadi karena ditolak. Maka bungkusan bandeng presto itu ia bawa pulang kembali.
Setelah sampai rumah, meletakkan bawaannya di kamarnya, lantas menuju ruang makan. Tidak banyak nasi, ditambah pepes waleran kesukaannya. Lantas minum segelas air putih, dan makan pisang satu buah. Sudah kenyang.
Setelah istirahat sejanak, Melian mandi. Tentu agar tubuhnya segar. Lantas mengenakan baju wushu kesayangannya. Akan berangkat ke tempat latihan wushu di klenteng.
"Mau ke mana, Melian ...?" tiba-tiba temannya satu kost kakak kelasnya itu pulang dan bertanya pada Melian.
"Mau ke klenteng, ke tempat latihan ...." jawab Melian yang semangat, dan kelihatan happy saja.
"Tadi Melian di sekolah berkelahi, ya ...?" tanya teman kostnya itu. Meski sudah tahu tetapi ingin meyakinkan.
"Iya .... Di sidang sama kepala sekolah." jawab Melian.
"Memang kenapa?" tanya teman kostnya itu.
"Anak-anak kelas I B pada mengejek saya. Padahal sudah saya diamkan. Saya berlalu ingin menghindari mereka, tetapi anak-anak itu justru mau mengeroyok saya. Yah, akhirnya saya balas mereka. Ternyata begitu saya pukul anak laki-laki yang mengeroyok saya itu pada berjatuhan, bergelimpangan tak berdaya. Payah .... Hehehe ...." jelas Melian yang tanpa beban.
"Jadi ..., anak-anak yang mengeroyok Melian kalah semua ...?" tanya temannya.
"Iya ...." jawab Melian.
"Memang ada masalah apa?" tanya teman kostnya itu.
"Mereka pada mengejek, katanya ibu saya itu babu meteng .... Begitu katanya .... Kalau kamu dibilangin begitu kira-kira sakit hati, nggak?" kata Melian yang langsung menanyakan ke temannya.
"Masak, sih ...?!" tanya temannya.
"Iya .... Itu kan namanya penghinaan .... Mereka itu belum tahu siapa saya, kok sudah menuduh yang tidak karuan. Makanya harus diberi pelajaran." kata Melian sadis.
"Lha, terus ..., waktu tadi disidang oleh kepala sekolah bagaimana?" tanya temannya lagi.
"Iya, yang anak laki-laki disidang di BP. Saya sama Mei Jing disidang oleh ibu kepala sekolah. Tapi Mei Jing tidak mau meminta maaf. Saya tetap memaafkan kok .... Tapi ...." kata Melian yang selanjutnya berhenti.
"Tapi kenapa?" tanya temannya lagi.
__ADS_1
"Saat keluar dari ruang kepala sekolah, Mei Jing menantang Melian untuk tanding. Rupanya ia tidak rela teman-temannya saya pukuli. Ia ingin membalas dan membuktikan kehebatan saya. Melian setuju, tapi di tempat latihan." kata Melian.
"Kamu berani?" tanya temannya.
"Berani, lah .... Siapa takut? Ini cara sportif untuk membuktikan kebenaran." jawab Melian.
"Aku lihat boleh, nggak?" tanya temannya yang tentu penasaran.
"Mau ...? Ayo, ikut ...." ajak Melian.
"Ya ..., ya ..., ya .... Tunggu sebentar ...." kata temannya itu yang ikut bersemangat.
Akhirnya, mereka berdua naik becak, berangkat ke tempat latihan wushu. Tentu dengan banyak cerita yang dibicarakan.
Sesampai di tempat latihan, rupanya Melian sudah ditunggu oleh Mei Jing. Mei Jing juga mengenakan pakaian wushu warna biru. Wajah Mei Jing tampak kaku. Yang jelas ingin melampiaskan dendam teman-temannya yang dipukuli oleh Melian. Dan tidak hanya Mei Jing yang menunggu kedatangan Melian. Tetapi banyak anak laki-laki yang ikut, dan tentunya ingin menyaksikan pertarungan antara Mei Jing, teman yang didukungnya itu. Kebanyakan, mereka adalah teman-teman Mei Jing yang tadi pagi dipukuli oleh Melian. Ibarat kata, mereka adalah suporternya Mei Jing.
Begitu melihat kedatangan Melian, anak-anak yang masih mengenakan seragam abu-abu putih itu, langsung berteriak-teriak, ramai dan gaduh. Tentu mereka lagi-lagi mengejek dan menghina Melian. Apalagi kali ini Melian akan dihabisi oleh Mei Jing. Maka anak-anak yang menjadi superter itu beramai-ramai meneriaki Melian.
Tentu keributan teman-teman Mei Jing itu mengganggu ketenangan klenteng. Termasuk telah mengusik para pendeta yang sedang melakukan sembahyangan. Maka beberapa orang pendeta langsung menuju ke halaman dalam yang biasa digunakan untuk latihan wushu itu, ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya pendeta itu.
"Ini, Pak Pendeta .... Mei Jing mau tanding sama Melian ...." jawab salah satu anak laki-laki yang masih mengenakan seragam SMA.
"Tanding? Tanding apa ...?" tanya Pak Pendeta.
"Wushu .... Mereka mau bertanding wushu ...." kata anak itu lagi, yang tentu gembira memberi suport kepada Mei Jing.
"Mana anak yang mau tanding wushu?" tanya pendeta itu lagi, yang tentu ingin tahu anaknya yang akan tanding.
"Itu, Pak Pendeta .... Yang pakai pakaian biru itu Mei Jing .... Dan di sana, yang pakai pakaian merah." jelas anak itu sambil menunjukkan orang yang akan tanding.
"Lhoh ..., siapa yang akan jadi jurinya? Pelatihnya mana?" tanya pendeta yang sudah cukup tua itu, dengan kepala gundul dan memakai jubah oranye.
"Tidak ada ...." jawab anak-anak yang ingin menyaksikan.
__ADS_1
"Waduh ...." Pendeta itu kaget. Akhirnya ia menuju tengah lapangan, berencana ingin mencegah.
Namun, saat pendeta tua itu maju ke lapangan tempat latihan, justru Mei Jing dan Melian juga ikut masuk ke lapangan, dan bersiap bertanding. Dipikirnya, pendeta itu yang akan menjadi jurinya. Maka mereka berdua pun bersiap untuk berduel.
"Tenang saja, Melian .... Tidak usah takut .... Ada Pak Pendeta yang akan membantumu." kata teman kostnya itu, yang menjadi satu-satunya suporter bagi Melian.
"Ya .... Semoga Tuhan berpihak pada saya ...." sahut Melian santai.
Dua gadis itu sudah berada di kanan dan kiri Pak Pendeta. Bahkan sudah siap untuk saling melawan.
"Ini ada apa?" tanya Pak Pendeta.
"Saya ingin menghancurkan anak babu itu ...!" jawab Mei Jing sadis.
"Kok seperti itu ...? Kalian ini kan sama-sama latihan di sini .... Kenapa harus bermusuhan?" kata Pak Pendeta lagi.
"Saya tidak mau tempat ini dikotori oleh anak babu hasil dihamili majikannya ...!" lagi-lagi Mei Jing memperlihatkan sikap tidak suka dengan Melian, karena menganggap Melian adalah anak kotor dari pembantu rumah tangga yang dihamili majikannya.
"Lhoh, kata-katamu kok seperti itu? Itu tidak baik ...." kata Pak Pendeta mengingatkan Mei Jing.
"Memang begitu kenyataannya!" Mei Jing tetap bersikeras.
Sementara itu, Melian tetap tenang menunggu pertandingan akan dimulai. Ia tidak menggubris kata-kata Mei Jing, yang sebelumnya adalah teman yang sudah melatih dan mengajarinya bermain wushu.
"Apakah seperti itu, Nik ...?" tanya Pak Pendeta kepada Melian yang diam di sisi kirinya.
"Maaf, Pak Pendeta, pertandingan inilah yang akan membuktikan, siapa sebenarnya orang tua yang tidak baik. Nanti akan bisa dilihat kenyataannya." jawab Melian yang masih sangat tenang dan tidak marah meski dihina sebagai anak babu.
"Kamu berani melawan Mei Jing?" tanya Pak Pendeta, yang dulu pernah memegang tangan Melian, mengamati gelang giok yang dikenakan.
"Demi kebenaran, saya tidak pernah takut." jawab Melian.
"Baiklah kalau kalian sudah tidak mau dicegah lagi. Berhati-hatilah. Saya yang akan jadi jurinya." kata Pak Pendeta yang bersiap untuk mengawasi pertarungan yang memang harus dilakukan antara pelatih dan muridnya.
Memang saat itu, sang pelatih yang oleh anak-anak dipanggil suhu, belum datang. Maka tidak baik untuk dibiarkan ada anak bertarung tanpa ada yang memimpin. Maka Pak Pendeta itu pun berinisiatif menjadi juri, sekaligus membimbing anak-anak dalam belajar wushu.
__ADS_1
Maka, Pak Pendeta itu pun langsung bersiap di tengah, untuk memimpin dua anak yang ingin membela harga diri. Tentu Pak Pendeta itu sudah menilai, anak yang baik dan anak yang sulit dinasehati. Anak yang sabar dan anak yang berandal. Dan yang paling menyinggung perasaan, adalah kata-kata anak babu, itu sangat tidak boleh dikatakan. Maka sebenarnya, Pak Pendeta itu ingin rasanya untuk membela Melian, dan ingin rasanya menampar Mei Jing yang tidak sopan. Tetapi karena menyaksikan kebaikan Melian, maka Pak Pendeta memberi kesempatan apa yang akan dilakukan oleh dua gadis itu, yaitu bertanding. Itu memang jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Tetapi harus ada yang mengatur dan membimbingnya, agar tidak mencelakai keduanya.