
Setelah tahu bahwa Jamil adalah juragan yang punya perusahaan kerajinan kuningan Bima Sakti tersebut, maka Irul langsung menaruh hormat. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Jamil yang ia kenal dulu, yang berlatar belakang orang tidak mampu, hanya buruh penambang batu kapur di daerah Pamotan, bahkan untuk makan saja masih dijatah oleh Babah Ho, kini menjadi bos sebuah perusahaan. Dan tentu Irul masih kurang percaya, tidak yakin apa yang dikatakan oleh Mbak Sri yang menceritakan sambil kerja itu. Apalagi melihat penampilan Jamil yang memang tidak meyakinkan. Penampilan seorang buruh yang pakaiannya kotor oleh serbuk-serbuk kuningan. Karyawan yang hanya naik sepeda motor. Bahkan makan saja hanya di warung nasi emplek-emplek pinggir jalan.
Tetapi, ketika Mbak Sri menceritakan tentang bos-nya itu, maka mau-tidak mau, Irul harus menjaga jarak, antara atasan dan bawahan, antara karyawan dan majikan. Walau dulu Irul tahu presis keadaan Jamil, tapi saat ini, Jamil adalah atasannya, Jamil adalah bos-nya.
"Bagaimana, Mas Irul ...? Sanggup kerja di sini?" tanya Jamil pada Irul, yang masih bekerja mengemas barang-barang bersama Mbak Sri.
"Nggih, Pak Jamil .... Sanggup ...." jawab Irul yang langsung berdiri dari dingklik tempat duduknya, sambil membungkukkan badannya, tanda menghormat kepada Jamil yang baru saja ia ketahui sebagai bos.
"Jangan seperti itu .... Saya ini ya ..., karyawan biasa sama seperti Mas Irul .... Tidak usah munduk-munduk seperti itu ...." kata Jamil sambil menegakkan tubuh Irul yang membungkuk.
"Tapi di sini kan, Pak Jamil atasan saya ..., pimpinan saya .... Saya harus menghormati Pak Jamil ...." kata Irul yang lagi-lagi membungkukkan badannya.
"Mas Irul .... Pangkat, jabatan, kedudukan, kehormatan itu sifatnya sementara, tidak ada artinya dibangga-banggakan .... Harta benda dan kekayaan itu hanya titipan dari Allah .... Sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh pemiliknya. Jadi, jangan sombong, jangan takabur, jangan sok, jangan semena-mena hanya dengan mengandalkan uang .... Itu nanti semua akan musnah. Sia-sia untuk kita banggakan." kata Jamil pada Irul, yang tentu sambil menasehati karyawannya.
"Nggih, Pak Jamil .... Tapi bagaimanapun juga, kami harus menghormati atasan." jawab Irul yang tetap menghormati Jamil.
"Ya, sudah .... Sekarang saya mau tanya, kira-kira betah apa tidak, mau apa tidak untuk bekerja di sini?" tanya Jamil untuk meyakinkan niat Irul dalam bekerja.
"Mau, Pak Jamil .... Dengan senang hati, saya akan kerja di sini, Pak." jawab Irul yang tentu senang ditrerima kerja.
"Kalau memang minat untuk bekerja di sini membantu kami, tidak usah pulang." kata Jamil pada Irul.
"Lha, terus ...?! Saya tidur di mana, Pak?" tanya Irul yang tentu bingung untuk tempat tinggal.
"Di sini banyak kamar .... Tinggal di sini saja .... Nah, itu ..., kamar-kamarnya nganggur. Pilih saja mana yang Mas Irul mau tempati ...." kata Jamil menunjukkan kamar-kamar yang ada di belakang tempat mereka bekerja.
"Sendiri, Pak ...?!" tanya Irul ragu-ragu.
"Iya .... Lha karyawan yang kerja di sini sudah punya keluarga semua ..., mereka pulang ke rumah masing-masing .... Lha, kan mereka harus ngurusi keluarganya." kata Jamil.
Irul terdiam. Tentu pikirannya berkecamuk, antara berani tan tidak. Tinggal di tempat yang luas, bangunan yang besar, barang-barang yang banyak. Tinggal sendirian di tengah malam tanpa ada teman. Apalagi dia orang yang baru datang di tempat itu. Walaupun tubuhnya gagah, tetapi nyali tidak bisa dipungkiri.
"Kenapa bingung ...? Takut, ya ...?" tanya Jamil pada Irul, yang menebak keraguan Irul.
"Saya kan belum tahu daerah sini, Pak .... Dan saya juga belum tahu keadaan rumah ini, serta lingkungannya .... Belum tahu para tetangga di sini." jawab Irul yang berusaha mencari alasan.
"Ya sudah .... Kalau memang belum siap tidur di sini, nanti tidur di rumah saya dahulu .... Bagaimana?" kata Jamil yang menawarkan untuk tidur di rumahnya.
"Hehe .... Iya, Pak ...." Irul tersenyum malu.
"Tapi besok mulai menata tempat sini lho, ya .... Kapan-kapan tetap tinggal di sini. Di rumah saya kan tidak ada kamarnya, hanya untuk saya dan anak .... Nanti Mas Irul tidurnya di kursi ruang tamu .... Nah, besok di sela-sela istirahat minta bantuan teman-teman untuk membersihkan kamar yang mau ditempati." kata Jamil menjelaskan, agar Irul paham kondisi keluarga seseorang.
*******
Sore itu, di rumah seperti biasa Juminem dan Melian sudah memberesi semua pekerjaan rumah. Mulai dari ngepel, bersih-bersih, bahkan juga menyiapkan masakan untuk makan malam. Melian memang rajin membantu ibunya. Meski ia sudah tahu kalau ibu yang sebenarnya bukanlah Juminem, Melian tetap patuh dan senantiasa rajin membantu ibunya. Itulah tanda anak yang baik.
Seperti biasa, setelah semua pekerjaan di rumah beres, Juminem bersama Melian duduk di teras menunggu kedatangan bapaknya. Jika ada teman yang datang ke rumahnya, entah itu anak tetangga atau teman sekolahnya, pasti diajak main bersama. Tetapi jika tidak ada teman yang bermain, Melian hanya duduk-duduk di teras bersama ibunya. Paling-paling hanya ngobrol tentang cerita-cerita tadi saat di sekolah maupun cerita yang lain.
__ADS_1
Sore itu, kebetulan rumahnya sepi, tidak ada teman yang main. Hanya Melian bersama ibunya yang duduk berdua di teras. Tentu banyak cerita yang disampaikan Melian kepada ibunya. Termasuk berandai-andai kalau saja mamahnya masih hidup. Lantas melamun membayangkan seperti apa mamahnya.
Saat itu, sepeda motor bebek masuk ke halaman rumah. Bapaknya pulang. Tetapi Juminem dan Melian heran, karena ada laki-laki yang membonceng di kendaraan yang ditumpanginya.
"Siapa ini, Kang?" tanya Juminem yang menyambut kedatangan suaminya, saat melihat orang yang bersama suaminya itu.
"Mas Irul .... Masak lupa?" jawab Jamil.
"Hah ...?! Mas Irul ...?! Walah .... Pangling saya .... Lha sekarang gemuk, he .... Bagaimana kabarnya, Mas Irul ...?" kata Juminem yang tentu lupa dengan Irul yang dulu sering ke rumahnya mengantar susu dan sembako.
"Alhamdulillah baik, Mbak Juminem ..., eh, Ibu Juminem ...." jawab Irul yang tak lupa menyalami Juminem.
Lantas juga menyalami Melian, gadis kecil yang cantik jelita itu. Lalu katanya, "Ini pasti Melian ...."
"Iya, betul .... Melian yang dulu masih bayi itu, saat Mas Irul sering ke rumah ...." sahut Juminem.
"Melian pasti belum kenal saya ...." kata Irul yang memandangi Melian.
"Belum ..... Tapi Mak-e sudah cerita tentang Mas Irul kepada Melian." jawab Melian.
"Iya, Pasti .... Waktu itu Melian masih bayi yang baru bisa merangkak .... Lalu Melian hilang di pasar. Semua orang bingung mencari, termasuk mamahnya Melian yang terus-terusan menangis, karena Melian hilang, dan katanya diculik orang ...." cerita Irul pada Melian.
"Eeh, jangan pada berdiri di luar .... Ayo masuk rumah .... Ceritanya di dalam." Jamil menyuruh istri, anak dan tamunya itu masuk ke dalam rumah.
"Eh, iya .... Asyik, sih ...." sahut Melian.
Akhirnya, mereka berempat melanjutkan ngobrol di ruang tamu. Tentu sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng yang masih hangat juga.
"Mas Irul ..., monggo diminum tehnya, dicicipi pisang gorengnya .... Tidak usah sungkan, ini pisang yang memanen Kang Jamil sendiri ...." kata Juminem menawarkan suguhannya.
"Iya, Ibu .... Terima kasih ...." kata Irul yang sudah menyeruput teh hangat.
"Kapan Mas Irul sampai Juwana?" tanya Juminem lagi.
"Tadi pagi, Bu .... Langsung ke pabrik dan langsung kerja ...." jawab Irul.
"Berarti ikut kerja di tempatnya Kang Jamil?" tanya Juminem lagi.
"Iya ..., betul ...." jawab Irul yang tanpa malu-malu sudah menyantap pisang goreng.
"Mas Irul .... Itu ceritanya saya dulu waktu hilang bagaimana? Diteruskan, Mas...." kata Melian yang meminta Irul untuk melanjutkan cerita.
"Saya mandi dulu ...." Jamil berpamitan pergi untuk mandi.
"Iya, Pak-e .... Mas Irul biar cerita dulu ...." kata Melian pada bapaknya.
"Jadi, dulu .... Sudah lama ...." kata Irul mengawali cerita.
__ADS_1
"Sepuluh tahun yang lalu ...." sahut Juminem.
"Iyam betul .... Pokoknya Melian masih bayi, baru bisa merangkak. Imut-imut menggemaskan. Cantik dan putih. Periang suka tertawa. Semua orang suka. Waktu itu diajak ke pasar oleh Cik Lan, mamahnya Melian. Biasa, kalau pagi setelah selesai masak, Cik Lan sambil menggendong Melian mengantarkan kiriman makanan untuk Engkong dan Amak. Waktu itu pasar sedang ramai-ramainya. Akhirnya Cik Lan meletakkan Melian di kursi yang biasa dipakai duduk oleh Engkong, mamah kamu membantu meladeni para pembeli. Tokonya Engkong ramai sekali. Toko yang paling ramai se pasar. Nah, tanpa diketahui semua orang, Melian hilang .... Tentu Mamah Melian bingung .... Mencari kesana kemari. Kata orang-orang yang melihat, Melian merangkak berkeliling pasar. Tapi ada juga yang bilang, Melian dibawa oleh laki-laki gagah tinggi besar. Kamu hilang. Mamah kamu menangis tidak karu-karuan. Demikian juga Engkong dan Amak. Sampai dilaporkan ke polisi. Dan waktu itu, disimpulkan kalau Melian diculik orang." Irul menceritakan peristiwa masa itu.
"Ternyata, bayinya malah saya temukan ...." Juminem menambahi.
"Lha, terus ...?" tanya Melian.
"Cik Lan ..., Mamah kamu, mencari Melian ke sana kemari, hingga ia terjatuh di jembatan yang baru dibangun, dan mamah Melian meninggal." Irul berhenti. Matanya berkaca-kaca, mengingat peristiwa kala itu yang sangat menyedihkan.
"Sudah ..., tidak usah sedih, Mas Irul ...." kata Melian yang tentu ingin mendengar kelanjutannya.
"Mak-e ...! Juminem ...! Ceritanya nanti lagi. Ayo Mas Irul diajak makan." tiba-tiba Jamil yang dari dalam dan sudah berdiri di dekat ruang tamu itu mengingatkan ke istrinya untuk menyiapkan makan malam.
"Eh, iya .... Sampai lupa .... Ayo, kita makan dahulu ...." kata Juminem yang langsung beranjak dari ruang tamu menuju ruang makan.
"Melian ..., ayo Mas Irul diajak makan malam ...." kata Jamil menyuruh anaknya.
"Ya, Pak .... Ayo, Mas Irul .... Kita cerita sambil makan .... Hehehe ...." kata Melian yang sudah beranjak mengajak tamunya itu menuju ruang makan.
Di meja makan, Juminem sudah menyiapkan masakan untuk makan malam. Nasi yang ada di magicjar, diangkat ke tengah meja. Ada orek tempe pakai lombok hijau, kesenangan Jamil. Ada oseng kacang, dan lauknya telor ceplok. Dan yang tidak pernah ketinggalan, ciri khas orang Juwana, selalu ada bandeng goreng.
"Monggo, Mas Irul .... Seadanya saja ...." kata Juminem menawarkan kepada tamunya,
Jamil langsung mengangkat piring. Mengisi nasi, lumayan banyak. Lalu diletakkan di depan Irul. Jamil meladeni tamunya.
"Ayo, Mas Irul .... Pilih sendiri lauknya." kata Jamil sambil meletakkan piring berisi nasi tersebut.
"Ya ampun, Pak Jamil ..., kok malah ngladeni saya ...?! Saya ambil sendiri, Pak ...." kata Irul yang tentu sungkan diladeni bos-nya.
"Tidak apa-apa .... Di rumah ini Mas Irul adalah tamu saya ...." kata Jamil yang santai.
Namun bagi Irul, dilayani oleh bos-nya tentu sesuatu yang sangat tidak sopan. Kurang ajar. Masak anak buah diladeni oleh majikannya. Walau hal itu sudah biasa dilakukan oleh Jamil.
Mereka berempat menikmati makan malam bersama. Pasti rasanya menjadi berbeda. Enak dan menyenangkan. Ada bahagia yang terpancar di rumah Jamil.
"Mas Irul .... Terus kelanjutan cerita Mamah, bagaimana?" tanya Melian lagi disela-sela makan.
"Ya ..., karena Mamah Meninggal, ya terus dikubur ...." kata Irul.
"Maksud saya, Melian waktu itu bagaimana? Ketemu apa enggak?" tanya Melian.
"Nah, ternyata ..., Melian ditemu oleh Ibu Juminem ini ..., sama Pak Jamil ...." kata Irul, yang tentu tidak tahu bagaiman yang terjadi pada Melian saat ditemu Juminem.
"Waktu itu sudah saya antar Melian ke tempat Engkong .... Tetapi Melian selalu ikut kami. Beberapa kali diantar, tetapi malah milih ikut kami. Bahkan sampai yang terakhir, Melian saya serahkan ke Engkong, itu setelah seminggu lebih pemakaman ibu Melian, namun karena Melian lebih senang ke kami, dan tentu di tempat Engkong tidak ada yang momong kamu, maka Engkong dan Amak meminta kami yang momong Melian. Dan Melian kami ajak pulang, dimomong Mak-e di rumah." tambah Jamil yang menjelaskan. Tentu Jamil tidak mau mengungkit cerita-cerita yang negatif atau kurang baik untuk disampaikan.
"Ya .... Dan akhirnya, Engkong menyuruh saya mengirim sembako dan susu untuk Melian ke rumah Pak Jamil yang ada di Sarang. Saya yang selalu menengok kamu saat dirawat Bu Juminem." kata Irul yang tetap menghormat Jamil dan Juminem, karena sekarang jadi bos-nya.
__ADS_1
Melian terdiam. Ia memang merasakan, orang tua yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang, ya Pak-e sama Mak-e ini. Sampai ia tidak tahu kalau sebenarnya ia bukan anak Jamil dan Juminem, hingga diceritakan oleh Jamil yang sebenarnya. Tetapi siapapun orang tuanya, kenyataannya yang membesarkan dia adalah bapak ibunya yang sekarang bersamanya itu, yaitu Jamil dan Juminem. Maka apapun ceritanya, Melain tetap mengatakan bahwa bapak dan ibunya adalah Jamil dan Juminem. Apapun yang diceritakan Mas Irul,ituhanyalah kenangan masa lalu yang menjadi bagian hidupnya. Tetapi yang sekarang harus diakui, ia adalah anaknya Jamil dan Juminem, sah secara hukum maupun kasih sayang momongan.