GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 142: MELIAN DI RUMAH DUKA


__ADS_3

    Kala itu ramai diperbincangkan teman-teman sekolahnya, kalau Melian sering muncul misterius di rumah duka. Terutama di tempat Jonatan. Sementara Ivon dan Vanda teman satu kostnya itu bingung mencari Melian ke mana-mana. Namun benarkah Melian menakut-nakuti teman-temannya yang pada melayat ke rumah duka?


    Apalagi begitu mendengar cerita dari anak-anak SMA lain, kalau ada gadis yang selalu menampakkan diri di rumah duka tempat penyemayaman jenazah Cung Kek, Kecik maupun Prendes, yang konon sudah difoto, namun ternyata pada fotonya tidak terlihat orangnya, hanya terlihat berkas cahaya buram, seperti layaknya foto yang terbakar. Kemudian anak-anak yang berteman, saling mengisahkan ciri-ciri gadis aneh yang dilihatnya, dan semua itu presis dengan ciri Melian. Cerita-cerita ini menambah keyakinan teman-temannya, kalau Melian pasti sudah meninggal, dan arwahnya gentayangan karena belum ada yang menemukan mayatnya.


    Tidak hanya satu atau dua anak yang sempat bertemu dengan sosok misterius yang diduga adalah Melian. Tetapi banyak teman yang sudah dijumpai. Terutama teman-teman satu kelas dengan Jonatan, yang dulu pernah mengejek Melian. Tentu mereka merasa kalau Melian akan mengganggu dirinya sebagai belas dendam. Makanya, orang-orang yang pernah melakukan kesalahan kepada Melian, mereka langsung ketakutan.


    Sayangnya, anak-anak yang satu sekolahan dengan Melian tidak ada yang membawa kamera tustel. Sehingga tidak ada yang memotret sosok yang mirip dengan Melian tersebut. Tidak seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari SMA Majapahit, mereka memotret sosok itu. Meskipun gambarnya berubah menjadi semburat cahaya, itu sudah bisa dijadikan bukti cerita. Sehingga, teman-teman Melian hanya bisa ngomong dengan ceritanya sendiri-sendiri, yang kalau orang tidak percaya, maka bisa dibantahnya sebagai cerita bohong yang hanya mengada-ada. Tentu para guru yang mendengar cerita murid-muridnya, juga mengatakan itu hanyalah cerita yang dibuat-buat. Tanpa bukti. Bahkan sang guru juga mengatakan, "Jangan membuat fitnah".


    Tentu dengan adanya arwah Melian yang gentayangan itu, teman-temannya menjadi takut. Terutama mereka yang dekat dan juga anak-anak yang pernah menggoda Melian. Sama dengan yang dirasakan oleh Ivon dan Vanda. Dua anak kelas dua dan tiga SMA ini merupakan teman satu kost, yang tentu sering bercanda dan kadang-kadang juga sering tidur bersama. Kini, karena diliputi rasa takut, jangan-jangan apa yang diceritakan oleh anak-anak di sekolahan itu benar, maka setiap malam Ivon dan Vanda selalu tidur bersama. Terkadang di kamarnya Ivon, dan terkadang juga di kamarnya Vanda. Sedangkan kamar Melian meski lampunya dinyalakan terus agar terang, pintunya tetap ditutup.


    Saat upacara pemberangkatan jenazah Jonatan, teman-temannya mulai lirak-lirik. Melihat ke segala penjuru, mengamati orang-orang yang hadir. Mereka ingin mencari sosok gadis yang mirip Melian itu. Mereka ingin tahu, apakah gadis misterius itu hadir di situ. Pastinya, kalau nanti gadis misterius itu ada di upacara pemberangkatan jenazah, mereka akan beramai-ramai menangkap dan memastikan siapa dia sebenarnya.


    "Coba kamu lihat itu ...! Gadis yang mengenakan jaket coklat ...!" celetuk salah seorang teman sekelas Jonatan, sambil menunjuk ke arah perempuan yang ia lihat, mengenakan jaket coklat seperti ciri-ciri yang disampaikan oleh teman-teman yang lain, kalau Melian sering muncul dengan mengenakan jaket warna coklat.


    "Mana ...?!" tanya temannya sambil mengamati ke arah yang di tunjukkan.


    "Itu ...! yang pakai jaket coklat .... Yang berkerumun dekat peti jenazah ...." kata temannya yang jari tangannya masih menunjuk ke arah orang yang dimaksud.


    Beberapa orang teman langsung ikut mengamati. Lantas mendekat ke perempuan dengan jaket coklat tersebut. Tentu teman-temannya ini penasaran, ingin meyakinkan kalau Melian sudah menjadi arwah dan mengganggu, menakut-nakuti teman-temannya.


    Lantas beberapa orang melipir lewat belakang, ingin mendekat ke perempuan dengan jaket coklat itu. Potongan serta ukuran tubuhnya, jelas perempuan itu adalah Melian. Perlahan dan mengendap, menelusup disela para pelayat yang lain. Tentu harapannya agar arwah Melian tidak tahu dan tidak menghilang lagi. Dan setelah dekat, dua murid laki-laki langsung memegang tangan perempuan itu. Yang satu memegang lengan kiri dan yang di samping kanan langsung memegang tangan kanan. Sedangkan satu murid perempuan berdiri menghadang di belakangnya. Tujuannya agar Melian tidak bisa pergi.


    "Tertangkap ...." perlahan salah satu anak yang sudah memegang tangan perempuan itu berucap. Tentu sambil tersenyum senang bisa menangkap Melian yang diceritakan selalu menghilang itu.


    "Ada apa, Nyo ...?" terdengar suara dari perempuan itu, bertanya pada anak laki-laki yang sudah memegang tangannya, di kanan dan di kiri.

__ADS_1


    "Deg ...!" dua murid laki-laki itu langsung kaget mendengar suara perempuan itu. Jelas bukan suara anak perempuan usia SMA, tetapi suara orang tua.


    "Oh ..., maaf, Tante .... Saya kira teman saya ...." kata dua murid laki-laki yang sudah memegangi dua lengan tante yang melayat di situ.


    Tante itu menoleh kanan dan kiri, tersenyum saat melihat dua anak laki-laki yang mengenakan seragam SMA. Tentu karena anak itu sudah salah pegang orang. Tante itu pun maklum, pasti ini teman-temannya anak yang kecelakaan itu.


    "Apa Tante masih seperti anak SMA?" tanya tante itu meledek.


    "Iya, Tante .... Mirip seperti teman saya .... Hehe ...." tentu dua anak itu sangat malu karena sudah salah menangkap orang. Tante-tante dikira Melian. Karena malu, dua anak laki-laki dan satu perempuan yang berencana akan menangkap Melian itu pun bergegas pergi menjauh, agar tidak terlihat oleh tante yang ditangkapnya tadi. Setelah mereka kembali berkumpul dengan teman-temannya, tentu ditertawakan oleh teman-temannya.


    Namun, saat peti mati itu diangkat dari meja persemayaman, muncul sosok gadis misterius itu. Sontak teman-teman sekelas Jonatan yang melayat saat itu langsung kaget. Mereka pada menyaksikan ada anak perempuan dengan mengenakan pakaian celana jean panjang, kaos putih serta berjaket coklatm berdiri di tempat meja penyemayaman itu, diantara lilin-lilin yang ada di meja. Mereka pada bengong. Tetapi perasaan mereka diselimuti rasa takut, saat menyaksikan gadis yang benar-benar Melian itu dengan wajah pucat pasi yang terlihat sedih dan mengenaskan. Seakan ia mau menangis, tetapi sudah tidak sanggup lagi karena saking sedihnya. Diam dan hampa. Hanya mampu melepas pandangan menyaksikan peti yang akan dibawa ke krematorium.


    "Ya ..., benar .... Itu Melian ...." sahut teman-teman sekolahnya, yang tentu tidak keliru dengan penglihatannya.


    Beberapa anak mencoba untuk mendatangi. Namun karena upacara pemberangkatan jenazah sudah dilakukan, dan peti mati itu sudah diangkat oleh orang-orang dan akan dimasukkan ke mobil jenazah, maka para pelayat yang lain pun sudah mulai berjalan mengikuti orang yang menggotong peti mati. Dan tentu suasana sudah tidak terartus lagi, karena semua orang sudah berdiri dan berjalan keluar ruang duka. Anak-anak yang akan masuk, justru terdorong keluar karena terdesak orang-orang yang akan keluar.


    Benarkah yang mereka lihat itu adalah arwah Melian?


    Sebenarnya itu bukan arwah. Melian masih terjaga di istana Nenek Jumprit. Yang datang di rumah duka itu adalah sukma yang terangkat dari tubuh Melian, yang kala itu raganya masih terbaring dalam pengobatan di rumah Nenek Jumprit. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah "kakang kawah adi ari-ari", kembaran manusia yang berbentuk roh. Tentu karena Melian merasa kehilangan ditinggal oleh Jonatan, laki-laki yang sudah menyampaikan rasa cintanya, meski belum sempat terucap. Kini Jonatan harus mati karena dirinya. Melian tentu bersedih menyaksikan itu semua. Makanya, teman-temannya selalu melihat Melian dalam keadaan sedih.


    Berbeda dengan gadis misterius yang katanya muncul di tempat Cung Kek, Kecik dan Prendes, perwujudan Melian itu menampakkan sikap yang sadis dan marah. Tentu karena anak-anak inilah yang sudah merusak dan menghancurkan mimpinya. Seakan sukma dari Melian ini akan membalas dendam.


*******


    "Cik ..., ini kata teman-teman, arwah Melian gentayangan .... Katanya sering nemui teman-temannya .... Bagaimana, Cik? Saya takut." kata Ivon pada Cik Indra, yang tentu masih bingung karena ditelepon terus oleh keluarga Melian.

__ADS_1


    "Tidak ada arwah gentayangan .... Kalau ada seperti itu, berarti ada setan yang pura-pura jadi arwah Melian, untuk menakut-nakuti orang .... Jadi ..., jangan percaya." jawab Cik Indra.


    "Tapi, Cik .... Kita belum tahu di mana Melian?" sahut Vanda.


    "Itu yang harus kita cari .... Rencananya besok saya akan mencari Melian bersama keluarganya, di tempat di mana Jonatan masuk jurang. Siapa tahu ada warga masyarakat sana yang tahu kejadiannya." jawab Cik Indra.


    "Ke Bandungan?" tanya anak-anak itu.


    "Iya ...." jawab Cik Indra.


    "Ikut ..., Cik ...." anak-anak itu langsung kepingin.


    "Yee ..., ini orang susah mau cari anaknya .... Bukan piknik .... Enak aja ...." sahut Cik Indra yang tentu tidak ingin dua anak itu ikut.


    "Yah ..., gagal deh .... Kapan berangkat?" dua anak itu kecewa.


    "Besok .... Habis mengambil raport di sekolah." jawab Cik Indra.


    "Lhah ..., ngambil raportnya Melian?" tanya dua anak itu.


    "Iya .... Bagaimanapun juga, kita belum tahu nasib Melian. Siapa tahu ia ditolong orang dan selamat ...." jawab Cik Indra.


    "Lha terus ..., arwah yang gentayangan itu ...?!" dua anak melenggong, ragu-ragu dengan keselamatan Melian.


    "Setan ...." sahut Cik Indra yang langsung pergi meninggalkan dua anak itu.

__ADS_1


    "Hantu ...!!" dua anak itu membalas dengan teriakan.


__ADS_2