GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 148: PENGORBANAN CINTA


__ADS_3

    "Halo, Mas Irul .... Gimana kabarnya?" Cik Indra menelepon Irul, dari Semarang ke Juwana. Malam harinya Sabtu, malamnya Minggu. Malam yang mestinya dinikmati berdua oleh orang-orang yang sedang kasmaran. Setidaknya seperti Cik Indra dan Mas Irul.


    "Baik, Cik Indra .... Cik Indra baik-baik saja, kan ...?" jawab Irul yang menerima telepon di pereusahaan.


    "Loh, kok Cik ...? Panggil aku Dek, dong, Mas .... Masak memanggil pacarnya dengan sebutan Cik ...?" protes Cik Indra, yang masih saja dipanggil Cik oleh Arul.


    "Sudah kadung terbiasa, Dek ...." sahut Irul yang memang lebih senang kalau Indra itu dipanggil Cik. Tentu seperti yang lain-lainnya, memanggil Nonik cantik itu biasa menggunakan sapaan "Cik".


    "Iya ..., harus mulai berubah lah, Mas ...." kata Cik Indra yang ingin memulai cara hidup orang yang sudah akan hidup bersama.


    "Iya .... Pelan-pelan lah .... Saya kan harus menyesuaikan kebiasaan." sahut Irul.


    "Mas Irul .... Besok Indra mau ke Juwana .... Ingin ngomong sama Mas Irul secara langsung. Tidak enak kalau pakai telepon, kurang leluasa dan menghabiskan pulsa ...." kata Cik Indra, yang ternyata sudah mematikan teleponnya.


    "Halo ..., Dek .... Halo, Cik ...! Halah .... Sudah dimatikan." kata Irul yang kecewa, karena telepon sudah terputus.


    Ini yang menyebabkan nanti Irul tidak bisa tidur. Semalaman ia akan memikirkan Indra, yang hanya mengatakan mau ke Juwana. Ada apa?


    Ya, memang saat bicara menggunakan telepon memang kurang leluasa. Apalagi saat itu, yang namanya telepon menggunakan HP untuk menghubungi orang yang ada di luar kota, sangat menyedot pulsa. Butuh biaya yang besar untuk mengisi pulsa, ketika bersiap menelepon jaringan interlokal. Dan kala itu, yang jualan pulsa masih jarang, hanya ada di tempat-tempat tertentu dan terkadang tempatnya cukup jauh.


    Irul pun maklum dengan ditutupnya telepon Cik Indra. Bisa jadi karena pulsanya yang akan habis. Tentu tidak bisa melanjutkan telepon. Jika ingin membalas telepon menggunakan telepon kantor, itu tidak baik, karena khawatir nanti perusahaan akan membayar telepon cukup besar. Cinta itu butuh pengorbanan. Begitu kata orang-orang bijak yang memaknai arti pengorbanan dalam menggapai cintanya.


*******


    Siang itu di Toko Kerajinan Kuningan Bima Sakti.


    "Assalamualaikum ......" terdengar suara wanita memberi salam.


    Mbak Ika yang menjaga toko dan barang-barang kerajinan kuningan produksi Bima Sakti, langsung berdiri dan mendekat ke arah depan.


    "Monggo .... Mau beli atau pesan apa?" tanya Mbak Ika pada perempuan yang cantik, berkulit putih dan bermata sipit itu, yang mengenakan pakaian blezer ala pegawai swasta yang keren. Biasanya yang begini ini akan pesan barang-barang kerajinan dalam jumlah besar untuk kebutuhan perusahaan atau diperdagangkan lagi. Istilahnya kulakan. Atau kalau tidak akan mengajak kerja sama.


    "Apakah saya bisa ketemu dengan Mas Irul?" tanya perempuan yang berdiri di depan etalase barang kerajinan tersebut.


    Tentu Mbak Ika bingung. Baru kali ini ada perempuan cantik yang mencari Irul. Ada keperluan apa wanita ini mencari Irul? Padahal dirinya saja yang teman dekatnya, yang nota bene adalah perawan tua, jarang berbincang dengan Irul.


    "Mas Irul sedang pergi, silahkan tunggu dulu, ya ...." kata Mbak Ika pada perempuan cantik itu.


    "Kalau Pak Jamil, ada ...?" tanya perempuan itu lagi.


    "Ada keperluan apa, ya ...?" tanya Mbak Ika.


    "Ada masalah sedikit yang akan kami bicarakan dengan Pak Jamil ...." kata perempuan itu.


    "Masalah apa, ya ...?" tanya Mbak Ika yang tentu ingin tahu apa yang mau dibicarakan.


    "Hanya sekadar menyampaikan sedikit masalah." sahut perempuan itu yang masih merahasiakan masalahnya.


    "Oo .... Pak Jamil ada, kok .... Silakan masuk dulu, silahkan duduk dulu di dalam .... " kata Mbak Ika yang langsung mempersilakan perempuan itu masuk ke ruang tamu.


    Selanjutnya Mbak Ika masuk ke ruang pabrik, mencari Pak Jamil yang mengawasi karyawannya di tempat pembuatan barang-barang kerajinan.


    "Pak Jamil ..., ada tamu yang mencari ...." kata Mbak Ika di dekat pimpinannya yang masih mengontrol itu.


    "Siapa ...?" tanya Jamil.


    "Tidak tahu, Pak .... Perempuan Cina .... Dia bilang ada masalah yang mau disampaikan ke Pak Jamil.


    Jamil tidak bertanya lagi. Ia langsung melangkah, untuk menuju ke ruang tamu. Akan menemui perempuan yang dimaksud oleh Mbak Ika tadi.

__ADS_1


    Dan saat sampai di ruang tamu, dan melihat tamu yang duduk di situ, tentu Jamil kaget.


    "Lhoh ..., Cik Indra ...?!" seru Jamil yang tidak menyangka kalau Cik Indra siang itu sampai di kantornya.


    "Iya, Pak Jamil ...." sahut Cik Indra yang langsung menyalami Jamil.


    "Cik Indra tidak kerja ...? Terus bank-nya bagaimana kalau ditinggal ke sini ...?" tanya Jamil lagi yang tentu heran, di hari kerja kok sampai di tempat lain.


    "Sengaja saya ijin kemari, Pak Jamil .... Mau ketemu Mas Irul dan Pak Jamil ...." sahut Cik Indra.


    "Penting ...? Apa penting sekali ...?" tanya Jamil yang mencoba bergurau.


    "Amat sangat penting, Pak Jamil .... Hehe ...." sahut Cik Indra.


    Diam-diam, dari toko depan Mabak Ika ikut menguping. Tentu ingin tahu apa yang dibicarakan oleh perempuan itu. Terutama ingin tahu, apa hubungan antara perempuan itu dengan Mas Irul. Apa mungkin perempuan itu pegawai bank, kok pimpinannya menyebut-sebut tentang bank. Kalau itu pegawai bank, bisa jadi akan menagih Irul yang punya hutang di bank. "Wah, payah si Irul." begitu pemikiran Mbak Ika.


    "Cik Indra ..., ini Mas Irul sedang menjemput Melian pulang sekolah .... Nanti dari sekolahan langsung ke rumah .... Bagaimana kalau kita tunggu Mas Irul di rumah saya saja, di Kampung Naga. Nanti sekalian kita bicara di rumah." kata Jamil yang mengajak Cik Indra ke rumahnya.


    "Iya, Pak .... Ini tadi sengaja saya naik bus turun di sini biar mudah saja kok, Pak .... Dan tentunya bisa langsung ketemu." kata Cik Indra.


    "Ya sudah, ayo kita ke rumah ...." kata Jamil yang langsung berdiri bersama Cik Indra.


    "Mbak Ika .... Saya ke rumah dulu .... Nanti kalau ada yang nyari atau mau ketemu disuruh nunggu ...." pesan Jamil pada karyawannya.


    "Iya, Pak ...." tentu Mbak Ika langsung keluar mengikuti, ingin menyaksikan dan ingin tahu siapa sebenarnya perempuan cantik keturunan Cina itu.


    Jamil naik sepeda motor, memboncengkan Cik Indra, menuju rumahnya. Tidak lama. Hanya sebentar saja, karena memang jaraknya yang dekat. Bahkan dulu waktu Jamil masih jadi karyawan di perusahaan itu, berangkat dan pulangnya selalu jalan kaki.


    "Jum .... Ada Cik Indra ...!" kata Jamil dari luar rumah, saat sampai.


    "Weee .... Ada kabar apa ini ...? Sini, ayo masuk, duduk sini Cik Indra ...." kata Juminem yang membukakan pintu dan menyambut kedatangan Cik Indra.


    "Iya, Mbak Jum .... Ini sengaja datang, mau bicara sama Pak Jamil dan Mas Irul ...." jawab Cik Indra sambil masih bersalaman yang cukup lama.


    "Hehe .... Iya, Mbak Jum ...." Cik Indra tersipu malu.


    "Sebentar, saya buatkan minum dulu ...." kata Juminem yang terus ke dapur.


    "Tidak makan siang sekalian, Jum ...?" seru Jamil.


    "Nanti, Kang .... Nunggu Melian sama Mas Irul sekalian. Biar kita bisa makan bareng-bareng ...." jawab Juminem.


    "Oo .... Lha kalau Cik Indra sudah lapar, gimana ...?" kata Jamil lagi.


    "Tidak, Pak Jamil .... Nanti saja sekalian ...." sahut Cik Indra yang tentu malu.


    Namun belum berapa lama, ada motor masuk halaman rumah. Ya, Irul datang memboncengkan Melian.


    "Ayo turun ...." terdengar suara Irul yang menyuruh Melian turun dari boncengannya.


    "Nggak mau ...." terdengar suara Melian yang rupanya tidak mau turun dari motor.


    "Ee ..., turun ...! Ini sudah sampai rumah ...!" kata Irul lagi yang jelas meminta Melian agar turun karena sudah sampai rumah.


    "Gak mau .... Pokoknya gak mau ...!" Melian masih juga belum mau turun, malah memeluk erat pinggang Irul.


    Jamil yang tahu hal itu langsung keluar. Tentu mau memberi tahu anaknya, kalau ada tamu yang menunggu Irul.


    "Melian .... Turun dong .... Ini lho, ada Cik Indra di dalam ...." kata Jamil yang memberi tahu anaknya.

__ADS_1


    "Hah ...?! Cik Indra ...?! Yang benar, Pak ...??" Melian langsung bergegas turun dari motor, dan lari ke rumah.


    Cik Indra keluar dari ruang tamu, dan langsung ke teras. Begitu melihat Cik Indra, Melian langsung memeluknya.


    "Cik Indra .... Aku kangen sama Cik Indra ...." kata Melian pada Cik Indra, sambil memeluk lama.


    Memang, setelah Melian ditemukan, dan semalam tidur bersama Cik Indra di kamar Melian, setelah Cik Indra kembali ke Semarang, tidak pernah ketemu lagi. Bahkan juga tidak pernah bicara, walau melalui telepon. Apalagi Melian sudah pindah sekolah, dan tidak ke Semarang lagi. Kala itu, barang-barang Melian yang mengambilkan Mas Irul saat mengantar Cik Indra. Maklum, Melian sudah tidak mau ketemu teman-temannya.


    "Wis ..., masuk dulu .... Ayo makan siang bareng-bareng ...." Juminem langsung mengajak menuju ruang makan.


    Cik Indra menyalami Mas Irul, tentu sambil tersenyum senang. Ingin rasanya berpelukan, tapi maklum, mereka masih menjaga etika. Belum menikah.


    Mereka pun makan siang bersama. Tentu sambil ngobrol. Banyak yang dibicarakan. Terutama Melian, yang menceritakan pengalamannya pindah sekolah.


    "Ini Cik Indra kemari ..., pasti mau nikahan .... Hehehe ...." kata Melian yang menggoda Cik Indra.


    Cik Indra tersenyum, tentu malu-malu kucing. Tidak menjawabnya.


    "Tapi ..., Cik Indra di Semarang .... Terus nanti bagaimana? Apa Mas Irul mau pindah ke Semarang ...? Jangan ya, Mas Irul .... Please ...." Melian mulai memperlihatkan lagi manjanya kepada Irul.


    "Ini sudah selesai kan, makannya ...? Ayo, kita pindah ke kursi keluarga situ ..., biar ngobrolnya enak ...." ajak Jamil.


    "Ya, Pak ...." Melian yang paling pertama. Tentu ingin tahu apa yang akan dibicarakan. Karena pasti akan membahas masalah pernikahan Cik Indra dan Mas Irul.


    Akhirnya, mereka pun duduk bersama di ruang keluarga. Dan memang membahas masalah rencana pernikahan antara Cik Indra dan Mas Irul. Yang tentu Irul sudah didesak oleh orang tuanya, agar segera melangsungkan pernikahan.


    "Gimana, Pak Jamil ...? Saya bingung ...." kata Irul yang tentu merasa serba bingung.


    "Lha, Cik Indra bagaimana? Ini, orang tuanya Irul sudah mengajak mantu .... Bagaimana?" tanya Jamil pada Cik Indra.


    "Iya, Pak Jamil .... Semalam saya telepon Mas Irul. Makanya saya sekarang kemari, untuk membahas masalah ini. Sebenarnya saya manut, ngikut saja apa maunya orang tua .... Terus terang saya kan sudah tidak punya bapak ibu, makanya saya mau pasrah sama Pak Jamil dan Mbak Juminem, untuk membantu saya, sebagai orang tua saya." kata Cik Indra.


    "Ya sudah kalau begitu .... Mas Irul besok pulang ke Lasem, bilang sama orang tua, kapan rencana mau dilaksanakan acara pernikahan. Saya ngikut saja." Jamil menyuruh Irul untuk rembukan masalah pernikahan.


    "Njih, Pak ...." jawab Irul.


    "Bawa motor sendiri saja, biar cepat dan mudah." saran Jamil pada Irul.


    "Saya ikut ...." sahut Cik Indra yang tentu ingin berboncengan dengan Irul, yah, istilahnya pacaran berdua.


    "Lhah, terus ..., yang ngantar saya siapa?" Melian langsung protes.


    "Biar diantar Mas Tarno ...." jawab bapaknya.


    Tentu Melian langsung mencucu, pertanda kurang suka.


    "Lha apa Cik Indra tidak bekerja ...?" tanya Jamil yang tentu agak bingung.


    "Emmm ..., anu, Pak .... Emmm ...." Indra bingung untuk menjelaskannya.


    "Ada apa ...?" tanya Jamil lagi yang semakin bingung.


    "Saya resign, Pak ...." jawab Cik Indra.


    "Apa itu ...?" Juminem tidak tahu maksudnya. Jamil juga melenggong.


    "Keluar dari pekerjaan, Mbak .... Demi mau ikut Mas Irul ...."


    "Haah ...?! Keluar ...?! Pegawai bank kok keluar ..., apa tidak eman-eman uangnya ...?" Juminem terkaget mendengar Cik Indra akan keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai bank.

__ADS_1


    "Demi keutuhan keluarga, Mbak .... Tidak baik kalau saya di Semarang, sementara Mas Irul di tempat lain. Masak nikahan kok berpisah. Cinta itu butuh pengorbanan. Begitu kata orang-orang bijak yang memaknai arti pengorbanan dalam menggapai cinta, Mbak Jum ...." jelas Cik Indra.


    Tentu tidak hanya Juminem yang kaget. Tetapi Jamil juga bingung. Bahkan Irul melenggong saat mendengar keputusan kekasihnya itu. Benarkah Cinta butuh pengorbanan? Dan haruskah perempuan yang mengalah? Padahal Cik Indra jelas-jelas sudah mapan. Pasti harus kehilangan bayaran yang besar.


__ADS_2