GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 199: KEMESRAAN DI MEJA MAKAN


__ADS_3

    Malam Minggu suasana di luar rumah cukup ramai. Aapalagi di jalan-jalan ke arah menuju alun-alun kota, banyak anak muda yang nongkrong. Tidak hanya anak-anak muda, orang tua yang mengajak anak-anaknya juga banyak keluar rumah. Pasti, setiap malam Minggu, di mana tempat selalu ramai. Biasanya para buruh dan karyawan pada bayaran atau gajian setiap hari sabtu. Maka mereka ingin bersenang-senang mumpung ada uang. Bagi yang muda-muda, ingin mengajak pacarnya mencari hiburan. Bagi yang tua-tua, ingin mengajak anaknya untuk jajan. Maka tidak heran kalau warung-warung kaki lima yang berjualan makan malam ataupun sebagai tempat angkringan jadi ramai, banyak dipenuhi pembeli.


    Demikian juga Irul, yang berniat beli bakmi dan nasi goreng. Ia ke warung nasi goreng langganannya, yang sudah berjualan sejak ia menjadi karyawannya Babah Ho. Dulu waktu ia jadi karyawannya Babah Ho, setiap kali bayaran ingin beli nasi goreng itu, tapi selalu tidak jadi, karena sayang dengan uangnya kalau hanya sekadar untuk jajan. Sementara adik-adiknya butuh biaya untuk sekolah. Hanya kalau diberi uang upah oleh pelanggan-pelanggan yang barangnya diantar ke rumahnya, ia baru beli nasi goreng itu. Itu masa lalu, saat Irul masih sangat kekurangan dalam hal uang. Tetapi setelah punya uang, ia tidak pernah eman kalaupun harus memborong nasi goreng atau bakmi untuk makan bersama dengan keluarganya beserta adik-adik dan keponakan. Apalagi Irul dan Indra belum punya anak. Pasti akan memanjakan keponakan-keponakannya.


     Warung nasi goreng depan pasar itu ramai oleh pembeli. Irul sudah memesan. Tapi harus sabar sesaat karena harus nunggu giliran. Tidak apa-apa, duduk di sebelah tempat penggorengan, menunggu sambil ngobrol dengan penjualnya yang sudah kenal Irul sejak Irul masih kerja di pasar dahulu.


    "Mas Irul ini dari rumah apa dari toko? Kok nglegakke datang kemari sendirian." tanya si penjual nasi goreng itu.


    "Dari rumahnya Babah Ho .... Ini sengaja kemari untuk beli buat makan malam." jawab Irul.


    "Lhoh ..., memang rumah Babah Ho ditempati Mas Irul?" tanya penjual itu agak kaget.


    "Tidak .... Ada cucunya yang menginap disitu. Tapi kalau sehari-hari yang membersihkan ya si Parmo itu, istrinya Nur yang sok saya suruh beli nasi goreng kemari itu ...." jawab Irul.


    "Ooo .... Lha kok sekarang rumahnya malah jadi bagus dan terlihat jembar ...." kata si penjual yang masih memasak pesanan pembeli.


    "Iya, lha dulu waktu sering ditempati Koh Han kan tidak terawat .... Lha setelah Koh Han meninggal, baru dirawat oleh Pak Jamil." sahut Irul.


    "Lhoh ..., Koh Han yang dulu di pasar itu sudah meninggal, Mas Irul?" tanya si penjual yang belum tahu kabarnya.


    "Sudah lama .... Sekitar dua tahun yang lalu ...." jawab Irul.


    "Kata orang-orang pasar, Koh Han itu pelit ya, Mas Irul ...." kata si penjual.


    "Sudah ..., nggak usah membahas kejelekan orang yang sudah meninggal." kata Irul.


    "Hehe .... Kebiasaan ya, Mas .... Ini, Mas Irul .... Nasi goreng dua, bakmi goreng dua. Monggo ...." kata penjual itu yang menyerahkan bungkusan nasi dan bakmi goreng dalam plastik kresek.


    "Nggih .... Maturnuwun ...." Irul menerima dan langsung membawa pulang. Tentu sudah ditunggu oleh Indra dan Melian.


    Sesampai di rumah Melian, Irul datang membawa pesanan makanan langsung masuk. Melian dan Cik Indra langsung berdiri, dan menuju ke tempat makan. Menyiapkan piring dan sendok garpu. Melian membuka kulkas, mengeluarkan botol air dingin. Lantas ditaruh di atas meja makan. Lalu mengambil tiga buah gelas dari dalam rak.


    Sementara itu, Indra sudah menaruh makanan ke dalam piring. Dua bungkus bakmi dan satu bungkus nasi goreng. Sedangkan nasi goreng yang satunya masih dalam bungkusan.


    "Ayo, kita makan ...." kata Indra yang sudah duduk dan menghadapi sepiring bakmi goreng.


    "Asyiiiik ........" Melian langsung ikut nimbrung duduk di sebelah kanan Indra. Dua kursi sudah terisi.

__ADS_1


    "Mana punyaku ...?" tanya Irul yang akhirnya duduk berhadapan dengan Melian dan Indra, di sebrang meja.


    "Ini .... Nasi goreng pedas ...." kata Indra yang langsung menyuguhkan piring suaminya.


    "Hemmm ..., enak ...." kata Melian yang sudah mulai menyantap bakmi gorengnya.


    "Mana ..., coba ...?!" kata Irul yang kepengin mencoba.


    "Niiih ......" kata Melian yang sudah menyuapkan sepucuk sendok bakmi goreng ke mulut Irul.


    Irul langsung membuka mulutnya dan menerima suapan Melian. Lantas mengunyah bakmi goreng yang sudah masuk ke dalam mulut itu.


    "Ah ..., nggak enak ...." kata Irul dengan mimik wajah agak tersenyum.


    "Masak, sih ...?! Biasanya enak ya ...." kata Indra yang tidak percaya, lantas mengambil bakmi goreng itu secendok dan memasukkan ke mulutnya. Lantas katanya, "Ah ..., enak ya ...!" bantah Indra sambil menatap suaminya.


    "Mana, coba ...?!" kata Irul sambil tersenyum lagi.


    Lantas Indra mengambilkan sesendok penuh bakmi goreng dari piringnya. Kemudian menyuapkan ke mulut suaminya.


    "Nih ....! Cobain ...!" kata Indra yang sudah menyuapi suaminya.


    "Masak, sih ...?! Coba, mana ...? Aku mau cicipi punya Cik Indra." kata Melian yang penasaran. Lantas Melian langsung menjulurkan garpunya, dan menusuk bakmi Cik Indra yang ada di piring. Lantas memasukkan ke mulutnya. Pasti ingin merasakan bakmi yang dimakan Cik Indra, yang katanya Mas Irul enak.


    "Ah ..., Mas Irul bohong .... Rasanya sama, ya .... Punyaku sama punya Cik Indra rasanya sama .... Sama-sama enaknya." kata Melian yang sudah mencicipi bakmi goreng milik Cik Indra.


    "Hahaha ...." Irul tertawa, sudah bisa mengerjai Melian. Dan pastinya senang bisa menggoda Melian.


    "Uuh .... Dasar Mas Irul .... Maunya mencicipi bakmi temennya .... Sekarang mana ..., coba rasanya nasi gorengnya seperti apa ...?" gantian Melian ingin tahu rasa nasi goreng yang dimakan Irul.


    "Nggak enak ...." jawab Irul yang sambil menarik piringnya dijauhkan dari Melian.


    "Iih ..., Mas Irul ...!!! Mas Irul pelit ...!!" kata Melian yang sudah menjurlurkan sendok, tetapi tidak bisa mengambil nasi goreng yang sudah dijauhkan oleh Irul.


    "Nih ...! Coba dikit saja ...." kata Irul yang lantas mengambil sesendok nasi goreng, dan di suapkan ke Melian.


    Melian langsung membuka mulutnya, disuapi oleh Irul. Kemudian mengunyah nasi goreng itu, menikmati rasanya.

__ADS_1


    "Uh ..., bohong ...!! Enak ini, ya ...." kata Melian yang sudah menikmati nasi goreng itu, dan mengatakan enak.


    "Hahaha ...." Irul tertawa karena bisa ngerjain Melian.


    "Kalau pengin nambah nasi goreng, ini masih ada sebungkus ...." kata Indra yang menunjukkan bungkusan nasi goreng yang masih ada dalam plastik kresek.


    "Iya, Cik Indra .... Nanti kita makan berdua, ya ...." sahut Melian yang tentu juga ingin menikmati nasi goreng itu.


    "Iya ...." jawab Indra yang ingin menyenangkan Melian, yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri tersebut.


    Tapi tentu untuk makan bakmi goreng sepering penuh jika ditambah dengan nasi goreng, pasti tidak habis. Makanya Indra langsung memberikan sebagian bakminya kepada suaminya.


    "Mas Irul ..., aku tambahi bakmi goreng, ya ...." kata Indra pada suaminya, yang sudah mendekatkan piring bakminya di piring nasi goreng Irul yang sudah tinggal separo. Lantas memberikan sebagian bakmi goreng itu kepada suaminya.


    "Jangan terlalu banyak, Dek ...." kata Irul pada istrinya.


    "Iya .... Nanti mau nambah nasi goreng, Mas ...." sahut Indra.


    Melihat Indra yang memberikan sebagian bakminya pada Irul, pasti Melian jadi ngiri. Setidaknya nanti Cik Indra akan menambah nasi goreng bisa habis banyak. Khawatir dirinya akan kebagian sedikit saja. Maka Melian pun ikut-ikutan memberikan sebagian bakmi gorengnya kepada Irul.


    "Iih ..., Cik Indra curang .... Punyaku juga aku kurangi ah .... Nih, Mas Irul ...." lantas Melian sudah memberikan sebagian bakminya di piring Irul. Walaupun hanya sedikit, tetapi sudah membuat piring Irul kembali penuh dengan bakmi goreng yang tadi diberikan oleh istrinya, dan kini ditambahi oleh Melian.


    "Waduh .... Lha ini terus saya yang makan paling banyak ...." kata Irul yang sudah menghadapi piring penuh dengan bakmi goreng.


    "Enggak lah, Mas .... Ini kami berdua juga mau nambah nasi goreng kok ...." sahut Indra yang sudah membuka bungkusan nasi goreng. Lantas mengambil sedikit ditaruh di piringnya. Kemudian memberikan sisanya kepada Melian.


    "Ini, yang separo untuk Melian .... Mana piringmu?" kata Indra sambil memberikan nasi goreng itu dan menuangkan ke piring Melian. Akhirnya piring Melian kembali penuh dengan tambahan nasi goreng.


    "Iih ..., kok banyakan punya saya, Cik ...?" protes Melian.


    "Nggak papa .... Nanti kalau gak habis, pasrahkan pada orang yang akan menghabiskan ...." kata Indra sambil tangannya menunjuk pada Irul.


    "Oh, iya ....." Melian tersenyum gembira, sambil memandangi Irul, yang pasti nanti akan jadi sasaran penghabis makanan.


    "Lhoh ...?! Kok terus pada membuli saya ...?!" Irul melongo.


    Mereka bertiga pun kembali menikmati makan malamnya. Tentu dengan canda riang dan terlihat sangat bahagia. Dan pasti, sambil makan juga diselingi cerita-cerita yang mengasyikkan. Bahkan juga saling suap makanan. Terutama Irul, yang menjadi sasaran disuapi oleh istrinya dan Melian.

__ADS_1


    Makan malam mereka terlihat benar-benar sangat mesra. Pasti hal itu akan menambah kenikmatan makan mereka. Hingga bakmi goreng dan nasi goreng itu benar-benar habis tanpa ada sisa sedikitpun.


__ADS_2