
Banyak waktu luang yang dimiliki oleh Melian untuk menunggu wisuda. Ia sudah tidak punya beban dengan urusan kampus. Revisi skripsi sudah selesai, sudah dicetak dan sudah ditanda tangani oleh sluruh dosen penguji serta ketua program studi. Sudah menyelesaikan jurnal, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Bahkan jurnal Melian tidak hanya diterbitkan di kampusnya saja, tetapi juga diminta oleh penerbit asing. Karya tulis Melian sudah masuk dalam jajaran para penulis di kalangan akademisi asing. Tentu hal itu akan membuat bangga bagi perguruan tinggi.
Setelah berkoordinasi dengan teman-temannya, tentu untuk mengatur pekerjaan di Kampung Transformer, Melian berpamitan, ingin menengok kampung halamannya.
"Maaf, Akbar ..., dan teman-teman semuanya .... Sudah lama saya tidak pulang kampung. Rindu pada kampung halaman yang selama ini saya pendam, harus saya obati untuk beberapa saat saja. Jadi, semuanya saya pasrah pada teman-teman." kata Melian sebelum berangkat ke bandara.
"Tidak lama kan, Mel ...?" tanya teman-temannya.
"Tidak, lah .... Aku juga masih ada acara wisuda, kan .... Besok aku akan ajak orang tuaku, biar kalian kenal." sahut Melian.
"Oke .... Hati-hati di jalan ...." sahut teman-temannya.
"Siapa yang mengantar ke bandara?" tanya salah seorang temannya.
"Tidak usah, terima kasih .... Aku naik taksi saja." jawab Melian.
Melian langsung menyalami teman-temannya. Berpamitan untuk pulang kampung. Teman-temannya pun melepas kepergian Melian, dengan senyum dan lambaian tangan. Akbar ikut mengantar ke lapangan parkir, sambil membawakan tasnya. Tentu dengan harapan agar Melian cepat kembali bersamanya lagi.
Di tempat parkir, sudah ada taksi yang mangkal. Maka Melian langsung menuju ke taksi itu, dan meminta pada sopirnya untuk mengantar ke Bandara.Halim Perdana Kusuma. Lebih dekat dan lebih cepat bila dibandingkan ke Bandara Sukarno Hata. Hanya penerbangannya agak terbatas.
"Mau ke mana, Neng ...?!" orang-orang yang pada duduk-duduk di tempat parkiran itu menyapa Melian.
"Mudik, Bang ...!" sahut Melian sambil menuju taksi.
"Pakai taksi saya, Neng .... Antrian yang jalan duluan ...." kata sopir taksi yang langsung membukakan pintu. Memang di tempat itu sudah diatur taksi-taksi yang mangkal untuk antri membagi rezeki. Jadi tidak rebutan untuk menaikkan penumpang. Dan oleh para volunteer, mereka pun didata serta diberi pemahaman untuk pelayanan penumpang yang baik. Tentu untuk membangun citra positif bagi paguuiban angkutan taksi di kampung itu.
"Aku berangkat duluan ya, Akbar ...." kata Melian yang berpamitan pada Akbar.
"Hati-hati di jalan ....Aku tunggu kepulanganmu ...." kata Akbar yang tentu akan merindukan Melian.
"Ya ...." sahut Melian yang sudah masuk di dalam taksi.
"Mau pulang kampung, Neng?" tanya sopir taksi kepada Melian, sambil melajukan mobilnya.
"Iya, Bang .... Sudah lama gak tengok orang tua." jawab Melian.
"Memang kampung Neng Melian di mana, sih?" tanya sopir taksi yang tentu sudah paha, dan sudah kenal dengan Melian, karena sering mangkal di Kampung Transformer.
"Di Pati, Bang .... Kecamatannya Juwana .... Dari Semarang masih ke arah timur sejauh seratus kilo lebih." jawab Melian.
"Lhoh, berarti tetangga saya, Neng .... Kampung saya di Sukoharjo, Solo ...." kata si sopr taksi itu.
"Oalah ..., sama-sama dari Jawa to, Mas ...." sahut Melian.
Akhirnya, mereka langsung akrab. Dan di dalam taksi itu, mereka bercerita banyak dengan menggunakan bahasa jawa. Tentunya, kesamaan daerah itu menjadikan mereka seakan masih saudara. Hingga terasa, taksi itu sudah sampai di Bandara Halim Perdana Kusuma.
"Maturnuwun nggih, Mas ...." ucap Melian dengan bahasa Jawa.
"Sami-sami, Mbak ...." si sopir pun juga membalas dengan bahasa Jawa. Rasa kedaerahannya lasung mengental.
Sekitar empat puluh lima menit perjalanan di udara. Jam sebelas siang, pesawat terbang dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang. Melian turun dari pesawat, hanya dengan mencangklong tas punggung. Meski tas itu kelihatan berat, isinya hanya pakaian saja. Ia langsung menuju pintu keluar.
"Melian ...!!" suara perempuan berteriak memanggil nama Melian.
Melian langsung menoleh ke arah suara itu, yang dia sangat hafal, suara ibunya.
"Mak-e ...!" Melian langsung berlari kecil menuju ke tempat ibunya, dan tentu langsung memeluk ibunya yang sudah lama tidak ketemu.
"Hai ..., Melian ...!" bapaknya tergopoh-gopoh berlari menuju ke istri dan anaknya. Tado baru saja dari kamar kecil. Maklum, perjalanan jauh Juwana Semarang, harus bersiap soal masalaha pribadi.
__ADS_1
"Pak-e ...." Melian pun langsung memeluk bapaknya. Lantas ia bertanya pada orang tuanya, "Mas Irul mana?"
"Mas Irul ya sibuk ngurus tokonya to, Mel .... Kasihan kalau harus ngajak Mas Irul .... Kan sekarang yang ngurus toko hanya Mas Irul sendirian ...." jawab bapaknya.
"Iih ..., masak gak mau jemput Melian .... Kan masih ada adik-adiknya yang ngurus tokonya ...." Melian ngambek karena ternyata yang menjemput tidak ada Irul.
"Jangan begitu to, Nduk .... Kasihan Mas Irul .... Besok saja kamu ke Lasem. Bantu Mas Irul ...." kata ibunya yang memberi pengertian kepada Melian.
"Iya, Mak ...." Melian berjalan gontai, agak kecewa.
"Iya ..., Nduk .... Mas Irul itu sudah ngurusi toko, masih juga ngurus rumah kamu .... Kan kasihan kalau terlalu capek ...." tambah bapaknya.
"Lhah ..., Mas Parmo apa gak bersih-bersih lagi?" tanya Melian.
"Ya masih .... Tapi kata Mas Irul, kalau rumah itu tidak ditempati, jika dimakan rayap tidak ketahuan .... Makanya Mas Irul sering tidur di rumah Engkong, sekalian jaga dan bersih-bersih." sahut bapaknya.
"Wis ..., ayo .... Kita pulang dahulu .... Nanti mampir makan soto di Kudus." kata ibunya yang mengajak untuk segera pulang.
Melian duduk di depan menemani bapaknya yang menyetir. Sedangkan ibunya duduk di belakangnya. Jamil menyetir perlahan, keluar dari parkiran bandara. Lantas menuju jalur pantura, untuk perjalanan pulang.
"Kamu wisudanya kapan, Nduk?" tanya ibunya.
"Bulan depan, Mak ...." jawab Melian.
"Rencananya nanti Pak-e, Mak-e dan Mas Irul mau datang melihat kamu diwisuda ...." kata ibunya.
"Yang benar, Mak ...?!" tanya Melian kembali terlihat senang setelah mendengar Irul akan datang dalam wisudanya.
"Iya .... Mas Irul sendiri yang bilang .... Kemarin telepon, nanya kapan Melian diwisuda .... Nanti kalau Melian diwisuda mau ikut ke Jakarta menyaksikan kamu diwisuda. Katanya ingin tahu wisuda itu seperti apa ...." jelas ibunya.
"Iya, Mak .... Nanti kalau tanggalnya sudah pasti akan saya kabari. Rencananya naik pesawat apa kereta?" tanya Melian.
"Ya ndak papa .... Kalau naik mobil sendiri, malah berangkatnya lebih awal saja. Dua hari sebelumnya, gitu .... Nanti nginap di Kampung Transformer. Biar Mak-e, Pak-e dan Mas Irul tahu apa yang sudah saya lakukan di Jakarta. Itu ..., kampung yang kemarin dapat penghargaan itu ...." kata Melian.
"Tapi, jalan-jalannya lewat mana, kan belum tahu, Nduk?" sahut bapaknya.
"Nanti Melian kasih denah ...." sahut Melian.
*******
"Mas Irul ...!!" Melian berteriak, setelah turun dari mobil bapaknya yang parkir di halaman Toko Laris.
"Melain ...! Ayo, kemari ...!" sahut Irul dari dalam toko.
"We .... Ada Melian ...." kata adik-adik Irul yang ada di toko. Dan tentu para karyawan pada menoleh ke arah Melian.
"Hai, Mbak Nur ..., Mas Parmo .... Gimana kabarnya?" sapa Melian.
"Baik, Melian .... Kemarin kami lihat Melian masuk tivi .... Wah, hebat kamu, Mel ...." kata Mbak Nur yang menyaksikan beritanya.
"Terima kasih, Mbak Nur .... Itu saya hanya mewakili, kok .... Yang membangun kampungnya kan warga Ciliwung." kata Melian yang tidak mau sombong.
"Pak Jamil .... Bu Juminem .... Monggo, silahkan masuk ...." kata Nurjanah yang menyambut kedatangan Jamil dan Juminem.
"Makasih, Mbak ...." sahut Jamil dan Juminem yang langsung masuk ke tokonya Irul.
Parmo langsung mengambilkan teh botol untuk tamunya, dan memberikan kursi plastik untuk duduk dua orang tamunya itu.
"Lha ini, kok adik-adik pada di toko semua? Lantas yang ngantar barang-barang siapa?" tanya Pak Jamil.
__ADS_1
"Ini adik-adik, Nur sama Parmo saya ajari untuk ngelola di dalam. Biar bisa mengurusi masalah order, pesanan dan stok barang .... Biar nanti bisa melanjutkan usahanya, tidak tergantung saya .... Yang bagian luar diurusi adiknya Nur .... Ini karyawan-karyawan juga dibagi di toko dan yang mengantar ke pelanggan. Pokoknya jalan semua, Pak ...." jawab Irul.
"Melian bagian apa, Mas ...?" tiba-tiba melian menggoda Irul. Tentu dengan senyum yang mengembang.
"Melian sekolah dulu yang bener ...." jawab Irul sambil mencolek hidung Melian.
"Sudah selesai, Mas .... Tinggal wisuda ...." sahut Melian.
"Alhamdulillah ...." sahut Irul yang senang.
"Mas Irul mau lihat Melian diwisuda nggak?" tanya Melian, yang tentunya ingin mendengar sendiri jawaban Irul.
"Memang kapan wisudanya?" tanya Irul.
"Sebulan lagi." jawab Melian.
"Bisa apa nggak, ya ...." Irul tentunya berpura-pura bingung.
"Harus bisa, lah ...." sahut Melian.
Setelah berbincang sesaat, dan memberikan oleh-oleh untuk keluarga Irul, Juminem mengajak suaminya, dan tentunya Melian, untuk ke rumah Engkong. Pastinya ingin menengok rumah yang lama tidak pernah dilihat tersebut.
"Mas Irul ..., kami mau ke rumah Engkong dulu .... Ya, sekedar nengok .... Sudah lama tidak lihat rumah Engkong." begitu kata Juminem yang berpamitan. Tentu juga tidak ingin berlama-lama di toko, malah mengganggu orang yang pada beli.
"Nggih, Mbak Jum .... Nanti sore saya ke rumah Engkong ...." jawab Irul yang tentu tidak bisa melarang tamunya.
"Aku tunggu lho, Mas Irul ...." kata Melian yang tentu sangat berharap bisa ngobrol santai dengan Irul.
"Bu Jum ..., ini jajanan sama bahan pokok untuk persediaan di rumah Engkong." tiba-tiba Parmo sudah membawakan kardus berisi sembako dan jajanan, yang langsung dimasukkan ke mobil, pastinya bisa dimasak di rumah Engkong.
"Walah, Mas Parmo itu kok malah repot-repot." sahut Juminem.
"Tidak repot, Mbak Jum ...! Wong itu nanti yang sering bikin kopi di rumah Engkong saya, kok ...." kata Irul yang memang sering tidur di rumah Enkong.
"Makasih ya, Mas Parmo ...." kata Juminem, sambil masuk ke mobil.
Jamil menjalankan mobil, keluar dari halaman Toko Laris, menuju ke rumah kuno, rumah Engkong yang kini sudah menjadi milik Melian. Dan pastinya tidak terlalu lama, karena jaraknya memang tidak begitu jauh. Mobil Jamil sudah berhenti di depan pintu pagar. Melian turun dari mobil, lantas membuka pagarnya, untuk lewat mobil bapaknya.
"Walah .... Sudah lama tidak kelihatan, Neng ...." tiba-tiba terdengar suara perempuanmenegurnya.
"Iya, Bu .... Saya sekolah di Jakarta ...." sahut Melian yang sempat terkejut.
"Ooo .... Pantesan ...." sahut ibu itu.
"Monggo, Bu ...." kata Melian yang langsung masuk ke halaman rumah, sambil menutup pintu pagar.
Jamil, Juminem dan Melian, langsung membuka pintu rumah. Masuk ke rumah itu. Lantas membuka semua jendela rumahnya, agar udara dalam rumah itu tidak terlalu pengap. Melian dan Juminem langsung bersih-bersih. Jamil langsung mengambil ember dan alat pel. Ia mengepel lantainya. Ya, memang benar, rumah kalau tidak ditempati malah kotor. Beda kalau ada yang menghuni, setidaknya ada yang membersihkan. Mereka bertiga langsung kerja bakti bersih-bersih. Hingga tanpa terasa, waktu sudah menjelang sore. Dan perut mereka sudah terasa kelaparan.
"Jum, lapar .... Kita makan dahulu ...." kata Jamil yang sudah tidak bisa menahan lapar, tentu kecapaian setelah kerja keras.
"Iya .... Saya sudah masak, kok ...." sahut Juminem yang langsung mengajak anak dan suaminya makan bersama di meja makan. Mereka pun menikmati hidangan secara lahap. Walau hanya lauh telur dadar dan sambal terasi, tetapi karena lapar, maka rasanya sangat nikmat.
"Nduk .... Nanti Pak-e sama Mak-e pulang duluan. Kamu mau nginep di sini, kan?" kata Jamil pada Melian.
"Iya, Pak .... Saya mau bantu-bantu Mas Irul ...." jawab Melian.
"Ya sudah .... Berarti nanti saya tinggal ...." sahut bapaknya.
Dan setelah semua beres, Juminem bersama suaminya kembali ke Juwana. Sedangkan Melian berada di rumah Engkong sendirian. Namun bagi Melian, itu adalah hal yang biasa.
__ADS_1