GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 46: SAKIT ITU MENYEDIHKAN


__ADS_3

    Mendengar laporan dari pegawainya yang sudah datang ke Desa Sarang dan memastikan dibakarnya rumah Jamil, Cik Jun, istri Babah Ho, mengalami goncangan batin yang sangat menyedihkan. Kini waktunya hanya dihabiskan untuk termenung dan melamun. Jika diajak bicara, ia malah menangis. Disuruh makan tidak mau. Disuruh tidur malah marah-marah. Sehari-hari Cik Jun hanya duduk di kursi yang ada di teras. Seakan ia sedang menunggu datangnya cucu yang dititipkan kepada Jamil. Cik Jun tidak percaya kalau cucunya yang bernama Melian itu sudah mati terbakar.


    Maka Cik Jun marah kalau mendengar ada orang yang mengatakan cucunya itu sudah tidak ada. Dia marah kalau mendengar ada yang bicara tentang pembakaran rumah Jamil yang juga mengakibatkan Melian menjadi korban dan terbakar.


    "Me Me masih hidup ...! Me Me tidak terbakar ...!" selalu begitu jika mendengar ada orang yang bicara tentang kebakaran. Lantas Cik Jun langsung memarahi orang yang bicara itu.


    Pastinya, Cik Jun sudah memiliki kenangan menyedihkan tentang peristiwa kebakaran di Pasar Gombrang, yang konon cucunya, yaitu Melian, ikut terbakar di dalam kebakaran besar-besaran yang menghabiskan Pasar Gombrang tersebut. Apalagi kisah menantunya, suami Cik Lan, yang ikut berdemo dan terkena tembakan hingga meninggal, dan sampai kini siapa yang menembak itu tidak ada yang mengakui. Selanjutnya ditambah teror yang terus menerus menakut-takuti Cik Lan, yang menyebabkan anak perempuan satu-satunya itu tidak berani lagi untuk tinggal di rumahnya dan akhirnya harus berpindah ikut orang tuanya lagi. Namun yang paling menyedihkan lagi adalah saat Cik Lan mencari anaknya yang diculik, dan harus meregang nyawa saat terjatuh dari jembatan. Itu belum hilang dari ingatan Cik Jun.


    Kini, baru beberapa hari bisa lega, baru saja bisa melupakan masalah-masalah yang terus menyedihkan, ia harus kembali mendengar berita kalau cucunya yang sudah tidak punya ayah dan ibu itu dibakar oleh warga secara sadis dan tanpa perikemanusiaan. Ke mana ia harus mencari pengadilan?


    Cik Jun sudah tidak bisa lagi untuk menerima kesedihan-kesedihan itu. Cik Jun sudah tidak bisa lagi menangis. Mungkin air matanya sudah terkuras habis karena saking seringnya bersedih.


    "Ma .... Makan dulu, ya ...." kata suaminya yang membawakan nasi semur.


    Cik Jun tidak menjawab. Ia tidak bergeming. Ia diam saja. Bahkan tidak memperhatikan suaminya sama sekali. Pasti Babah Ho bingung.


    "Haiya ..., Mama .... Jangan sepelti itu loh .... Owe jadi bingung gitu ...." lagi-lagi Babah Ho mendekati istrinya, sambil mencoba menyuruh untuk makan.


    Masih sama seperti tadi, Cik Jun tetap tak bergeming. Kakinya yang berada di atas kursi, kedua lututnya yang didekap tangan, menunjukkan betapa sudah mengecilnya tubuh Cik Jun. Pandangannya yang kosong, menandakan ia sudah tidak merespon lagi dengan apa-apa yang ada di sekitarnya. Termasuk apa yang dikatakan oleh suaminya, ia sudah tidak menggubris, atau bahkan mungkin kata-kata suaminya itu sudah tidak bisa masuk ke telinganya.


    Babah Ho tentu ikut bersedih menyaksikan hal itu. Kasihan melihat istrinya yang hanya diam dan tidak mau makan. Maka Babah Ho pun mencoba untuk menyuapi istrinya.


    "Ma ..., makan ya .... Owe kasih makan Mama da sini .... Owe dulang, Ma .... Dikit, Ma ...." kata Babah Ho sambil menyuapkan makanan yang ada di sendoknya.


    Namun, Cik Jun tidak mau membuka mulutnya. Ia tidak mau makan. Bahkan sendok berisi makanan yang akan disuapkan ke mulutnya itu disingkirkan dengan tangannya. Tentu sendok yang dipegang oleh Babah Ho untuk menyuapi istrinya terlepas dari pegangannya dan terjatuh. Makanan yang ada di sendok itu langsung tersebar, tercecer di lantai.


    "Huk ..., huk ..., huk .... Oma .... Owe sedih, Oma .... Oma kok gitu .... Huk ..., huk ..., huk ...." Babah Ho yang sudah tua itu menangis, meratapi sikap istrinya yang seperti itu.


    Memang, secara sepintas Cik Jun sudah menyakiti hati Babah Ho. Tetapi yang terjadi sebenarnya, pikiran Cik Jun sedang kacau. Cik Jun sedang tidak sanggup lagi berkomunikasi. Bahkan Cik Jun mungkin sudah tidak tahu siapa yang ada di dekatnya. Termasuk lupa dengan suaminya.


    Babah Ho maklum dengan kesedihan istrinya. Bahkan sebenarnya tidak hanya istrinya yang bersedih, tetapi Babah Ho sendiri juga sangat terpukul dengan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang melanda keluarganya. Tetapi Babah Ho masih sanggup menerima kenyataan. Pastinya karena Babah Ho adalah laki-laki. Coba kalau perempuan, pasti sudah seperti istrinya.

__ADS_1


    Babah Ho membersihkan makanan yang berserakan di lantai. Ia jongkok mengambili remah-remah yang kececeran itu, sambil menangis meski tidak seseru tangisan istrinya. Hatinya sangat nelangsa. Sedih yang teramat sangat. Sedih dengan kematian-kematian tragis yang menimpa keluarganya, dan kini, sedih menyaksikan kondisi istrinya yang tidak mau makan dan tidak mau diajak bicara.


    Saat Babah Ho menangis itu, tiba-tiba datang Pak Haji dari Lasem langganannya berbelanja sembako.


    "Assalammualaikum, Babah Ho ...." Pak Haji yang berada di halaman depan teras mengucapkan salam.


    "Hah ..., Pak Kaji, ya .... Maap, Pak Kaji .... Owe tidak tahu olang Pak Kaji dateng da sini, ha .... Ada apa Pak Kaji?" kata Babah Ho yang masih jongkok di lantai membersihkan kotoran makanan yang tercecer.


    "Babah Ho ngapain ...? Kok lama tidak ke kios? Saya mau belanja sembako jadi bingung .... Gitu, Babah Ho ...." kata Pak Haji yang masih di bawah lantai teras rumah Babah Ho.


    "Haiya .... Owe olang sedang belsedih, Pak Kaji .... Masalah datang telus menelus .... Kapan belhentinya, Pak Kaji, ha ...?" sahut Babah Ho, yang sudah menyeka air mata yang membasahi pipinya. Tetapi bekas tangis itu masih terlihat di matanya.


    "Babah Ho .... Jadi orang jangan cengeng seperti itu .... Takdir itu sudah diatur sama Yang Kuasa." kata Pak Haji yang sudah naik ke lantai teras, mendekat ke kursi yang ada di teras dimana istri Babah Ho berada di situ.


    "Pak Kaji bisa bicala gitu, ha .... Owe yang ngalami, Pak Kaji .... Belat .... Betul-betul belat ...." sahut Babah Ho yang sudah selesai memberesi makanan yang tumpah.


    "Ini istri Babah Ho, kenapa?" tanya Pak Haji.


    "Stles, Pak Kaji .... Sedih mikilin nasib, ha ...." sahut Babah Ho tentu dengan kesedihannya lagi, dan tentu ingin menangis lagi.


    "Babah Ho yang sabar, ya .... Semoga Allah mengampuni dosanya ...." kata Pak Haji yang kemudian melepas tangan Cik Jun.


    "Haiya .... Owe selalu sabal, Pak Kaji ...." jawab Babah Ho.


    "Sudah diperiksakan ke dokter apa belum ...?" tanya Pak Haji.


    "Haiya .... Belon, Pak Kaji. Owe bingung ...." sahut Babah Ho.


    "Kenapa belum dibawa ke dokter? Segera diperiksakan .... Jangan terlambat." kata Pak Haji lagi.


    "Istli owe tidak mau, Pak Kaji .... Olang malah-malah telus .... Owe pusing, Pak Haji ...." jawab Babah Ho.

__ADS_1


    "Babah Ho ini gimana .... tahu istrinya sakit kok tidak diperiksakan ke dokter ...?! Wis ayo, naikkan ke mobil saya ..., saya antar ke rumah sakit .... Jangan kelamaan, nanti terlanjur parah, Bah ...." kata Pak Haji yang sudah langsung berdiri, bersiap untuk membantu Babah Ho membawa istrinya ke rumah sakit.


    "Haiya .... Pak Kaji jangan lepot-lepot, ha ...." kata Babah Ho yang tentu sungkan untuk ditolong.


    "Sudah, Babah Ho .... Saya masukkan mobil saya ke teras. Ayo, Cik Jun dipapah ke mobil." kata Pak Haji yang sudah langsung turun memasukkan mobilnya ke halaman rumah Babah Ho, dan langsung mendekat ke tangga teras untuk turun.


    Akhirnya, Babah Ho memapah istrinya dan dibantu oleh Pak Haji, masuk ke mobil panther milik Pak Haji, duduk di jok kursi tengah. Cik Jun dipeluk oleh Babah Ho. Sementara, Pak Haji yang menyetir mobil itu, langsung melajukan mobilnya menuju jalan raya, ke arah Rumah Sakit Daerah yang ada di pisat kota Rembang. Maklum, di daerah, rumah sakit tidak sebanyak seperti di kota-kota besar. Belum ada rumah sakit swasta. Yang ada cuma rumah sakit milik pemerintah yang ada di kabupaten.


    Hanya dalam waktu beberapa menit, mobil Pak Haji sudah masuk ke depan gedung gawat darurat. Seorang petugas, semacam perawat tetapi laki-laki, langsung memapak kedatangan pasien dengan membawa kursi roda. Lantas Cik Jun yang dipapah oleh Babah Ho dan Pak Haji, ditaruh di kursi roda. Perawat laki-laki itu langsung mendorongnya ke ruang gawat darurat. Tentu untuk segera dilakukan tindakan pemeriksaan.


    Cik Jun diangkat oleh dua perawat, direbahkan di bed pasien. Lantas seorang perawat perempuan langsung memegang dan memasukkan peralatan ke lengan kiri Cik Jun. Ya, perawat itu mengukur tekanan darah dari pasien yang baru saja datang. Selanjutnya, perawat itu memeriksa bagian-bagian yang lain. Tidak lupa, perawat perempuan yang menangani itu mencatat dalam lembaran kertas yang ada papan kecilnya. Lantas seorang dokter laki-laki ikut mengamati dan memeriksa Cik Jun.


    Sementara itu, Babah Ho yang didampingi Pak Haji, duduk di kursi menghadap bagian pencatatan identitas pasien. Semacam mendaftarkan pasien yang sakit. Tentu Pak Haji akan membantu menjawab, karena Pak Haji tahu kalau kalimat atau kata-kata Babah Ho itu agak celat, tidak bisa mengucap kata-kata secara sempurna. Makanya, nanti kalau suster bagian administrasi itu bingung, maka Pak Haji yang akan menjelaskan.


    "Bagaimana, Pak Dokter?" tanya Pak Haji saat dokter yang memeriksa Cik Jun mendekat ke Babah Ho.


    "Maaf, ini Ibu mengalami gangguan tekanan batin yang sangat tinggi ...." kata dokter itu.


    "Terus bagaimana, Pak Dokter?" tanya Pak Haji Lagi.


    "Untuk sementara biar istirahat di sini .... Ibu harus opnam, sambil kami beri obat penenang ...." kata dokter itu.


    "Ha ..., opnam ...? Haiya ..., owe bagaimana, ha ...?" kata Babah Ho yang tentu bingung jika istrinya disuruh opnam.


    "Tidak apa-apa, Kong .... Biar Ibu sehat dan cepat pulih. Kalau Ibu mondok di sini, nanti akan diawasi terus oleh dokter. Dan yang pasti pengobatannya lebih intensif." kata dokter itu lagi.


    "Tidak apa-apa, Bah .... Biar cepat sembuh .... Toh nanti Babah Ho nunggui Cik Jun di sini .... Jangan khawatir ...." kata Pak Haji menjelaskan, dan tentu memberi semangat pada Babah Ho agar istrinya dirawat di rumah sakit.


    "Haiya .... Olang lumah owe jauh, ha ...." kata Babah Ho yang beralasan karena rumahnya jauh.


    "Tidak apa-apa, Kong .... Nanti ditunggui saja ...." kata perawat yang mencatat itu.

__ADS_1


    Akhirnya, Cik Jun harus dirawat di rumah sakit. Tentu ini cobaan yang bertambah berat lagi bagi Babah Ho. Setidaknya, ia harus meninggalkan rumahnya, meninggalkan kiosnya, untuk ngurusi istrinya.


    Sanggupkah para dokter di daerah itu menyembuhkan sakit yang diderita oleh Cik Jun?


__ADS_2