
Teror hantu cekik sudah semakin menakutkan. Berkali-kali warga Desa Sarang mengaku didatangi hantu cekik. Terutama rumah-rumah yang jauh dari tetangga. Apalagi rumah orang yang berada di ujung timur kampung. Ya, rumahnya Pak Pin. Rumah yang sangat jauh dengan para tetangga, berada di pinggir bulak yang penuh dengan tumbuhan semak belukar. Untuk menuju rumah Pak Pin hanya ada jalan setapak. Sedangkan di kanan kirinya dipenuhi tanaman pisang liar yang tidak terurus. Pasti orang-orang yang akan menuju rumah Pak Pin ini malas. Apalagi kalau malam hari. Jalan setapak itu tidak kelihatan karena tempatnya sangat gelap.
Ya, rumah sederhana yang hanya terbuat dari kayu papan itu memang milik Pak Pin. Tetapi tanah yang ditempati oleh Pak Pin hanyalah tanah bondo deso yang bukan miliknya. Itu tanah desa. Hanya karena rasa kasihan, maka Pak Kades mengajak para warga untuk membangunkan rumah untuk keluarga Pak Pin.
Keluarga Pak Pin memang sangat kekurangan dalam segala hal. Pak Pin sendiri hanya bekerja sebagai buruh mencangkul pekarangan tetangganya. Itu kalau pas ada tetangga yang menggarap ladang atau sawah. Tetapi kalau musim tunggu hingga panen, pasti tidak ada pekerjaan. Pak Pin menganggur, tidak punya penghasilan.
Hanya uluran tangan para tetangga yang baik saja yang bisa digunakan untuk makan sehari-hari keluarga Pak Pin. Entah itu singkong, suweg, gembili atau ubi-ubi yang sering diberikan oleh para tetangga. Namun itupun hanya kadang kala.
Maka begitu ada teror hantu, dan yang disambangi oleh hantu cekik adalah keluarga Pak Pin, maka sebenarnya orang-orang merasa kasihan. Merasa sangat khawatir. Karena memang rumah Pak Pin ini benar-benar menyendiri dan jauh dari tetangga. Jika ada apa-apa, untuk datang dan memberi pertolongan, pasti butuh waktu yang lama dan jalannya agak susah, karena hanya melintas di jalan yang sebenarnya hanya berupa kalen batas tanah milik orang.
Malam Jumat kliwon, Desa Sarang kembali mencekam. Lagi-lagi hantu cekik kembali meneror warga.
"Toloooong .......!!!"
Terdengar suara melengking orang minta tolong. Delapan orang yang berdudukan di pos ronda kampung langsung memasang telinganya.
"Kamu dengar ada suara orang minta tolong?" tanya salah satu orang yang ikut berjaga.
"Ya .... Kedengarannya ada suara orang minta tolong ...." sahut yang lain.
"Coba diam dahulu .... Kita waspada lagi, kalau suara minta tolong itu terdengar lagi." sahut yang lain lagi.
"Toloooong .......!!! Toloooong .......!!! Toloooong .......!!!" suara minta tolong itu pun terdengar kembali.
"Nah, kan .... Benar .... Dari timur .... Ayo kita mendekat ...."
Delapan orang yang berjaga di pos ronda itu pun bergegas melangkah ke arah timur, sambil mencari sumber suara orang minta tolong tersebut.
Diperjalanannya, ternyata sudah ada beberapa warga yang membuka pintu, bahkan juga ada yang hanya membuka jendela, juga ingin tahu suara orang minta tolong tadi.
"Suaranya dari timur ...!" teriak salah seorang dari balik jendela saat tahu ada para petugas jaga yang lewat di depan rumahnya.
"Iya, Lek .... Dari timur, agak jauh ...." sahut tetangga yang lain.
"Ya, terima kasih ...." jawab para petugas jaga.
"Saya ikut ya, Kang ...." ada orang-orang yang ingin ikut mencari.
"Ya ..., ayo ...." sahut para penjaga.
Dan akhirnya, banyak orang yang keluar rumah, berjalan ikut mencari orang yang minta tolong tersebut. Yang bertugas jaga pun senang karena banyak teman. Maklum, malam Jumat kliwon itu sangat menakutkan. Katanya banyak genderuwo atau memedi yang keluar. Apalagi saat ini kampunya sedang diteror hantu cekik.
"Toloooong .......!! Toloooong .......!! Toloooong .......!!!" suara minta tolong itu kembali terdengar. Sumbernya sudah jelas.
"Walah .... Dari ujung timur kampung .... Tempatnya Pak Pin ...."
"Ya, itu suaranya Pak Pin ...."
"Walah, di rumah Pak Pin lagi ...?!"
Orang-orang itu bergegas berjalan menuju rumah yang berada di ujung kampung sebelah timur.
Benar, orang yang berteriak minta tolong itu ternyata Pak Pin. Tapi kali ini Pak Pin sudah berada di luar rumah bersama istri dan dua orang anaknya. Mereka berempat berdiri di halaman rumah yang sempit itu. Mereka saling berpelukan, seakan ketakutan. Ada apa lagi mereka itu.
"Ada apa kang?" tanya salah satu warga yang datang ke rumah Pak Pin.
"Ada hantu cekik yang mau memangsa kami ...." jawab laki-laki kurus setengah baya itu.
"Mana sekarang hantunya?" tanya orang-orang yang berkerumun di halaman rumah itu.
"Di dalam .... Kami tidak berani masuk." sahut Pak Pin.
Sontak, orang-orang langsung menyalakan baterai, menerangi rumah Pak Pin. Ada yang menerangi atap, ada yang berjaga di depan. Ada beberapa orang menjaga bagian belakang. Beberapa orang lagi masuk ke dalam rumah. Semuanya mencari hantu cekik itu. Lampu sorot dari baterai dinyalakan untuk menyorot ke berbagai tempat. Tidak hanya di dalam rumah, tetapi juga bagian luar rumah dan bagian atap. Selain itu juga ada yang menyorotkan lampu baterei ke semak-semak yang ada di sekitar rumah Pak Pin.
Cukup lama para petugas jaga dan orang-orang kampung mencari sosok hantu cekik. Tetapi tidak menemukan apapun. Hantu cekik sudah tidak ada.
__ADS_1
"Bagaimana ini, Kang ...? Tidak ketemu ...." tanya salah seorang warga.
"Ya sudah .... Kalau tidak ketemu, ya kita pulang saja ...." sahut salah seorang yang bertugas jaga.
"Lha kami bagaimana, Lek ...? Uhuk ..., huk ..., huk ...." kata istri Pak Pin tiba-tiba, yang tentu ketakutan kalau ditinggal pulang para tetangganya.
"Waduh ...?! Bagaimana ini ...?!" tentu orang-orang langsung bingung.
"Bagaimana kalau tidur di pos ronda saja?" sahut salah seorang yang bertugas jaga.
"Wah, iya .... Untuk sementara tidur di pos ronda saja .... Besok kita laporan sama Pak Kades untuk mencari solusi bagaimana baiknya.
"Ya .... Saya setuju ...."
"Benar, daripada di rumah ini lagi, nanti didatangi hantu cekik lagi, malah repot."
"Kalau di pos ronda malah aman ...." kata yang lain.
"Ya, malam ini sampeyan tidur di pos ronda dahulu."
Akhirnya Pak Pin dan istrinya mengambil bantal dan selimut. Mereka menuruti kata-kata para tetangganya untuk tidur di pos ronda. Terutama anak dan istrinya yang benar-benar ketakutan.
*******
Setelah mendengarkan cerita dari para petugas jaga pada malam Jumat kliwon tersebut, dan ditambah dengan omongan orang-orang yang ikut mencari hantu cekik di rumah Pak Pin, Pak Kades menjadi bingung untuk menentukan langkah apa yang akan diambil. Sudah dua kali rumah Pak Pin diteror oleh hantu cekik. Ya, rumah yang memang jauh dari perkampungan. Rumah yang jauh dari tetangga. Rumah yang masih terisolir. Kasihan karena tempat dan rumahnya yang memang benar-benar memprihatinkan.
"Ya sudah .... Untuk sementara waktu, Pak Pin sekeluarga tinggal di balai desa lebih dahulu. Tidur di situ, sambil menunggu situasi aman. Nanti kalau hantu cekik sudah tertangkap atau kampung kita sudah aman, kamu boleh pulang ke rumahmu lagi ...." kata Pak Kades kepada Pak Pin, agar dirinya dan keluarga tinggal di balai desa.
"Ya, Pak Kades .... Terimakasih ...." jawab Pak Pin.
Pak Pin dan keluarganya pun akhirnya tidur di balai desa. Tentu lebih nyaman dan enak. Bangunannya besar, dari tembok dan sarananya lengkap. Istri dan anaknya juga senang dengan keadaan balai desa yang lebih enak bila dibandingkan dengan rumahnya yang hanya terbuat dari papan kayu. Setidaknya kalau tinggal di balai desa, suasanyanya lebih ramai karena banyak tetangga yang berdekatan.
Warga yang lain pun maklum dengan Pak Pin dan keluarganya itu tinggal di balai desa. Bagaimana tidak kasihan, orang tinggal sendirian jauh dari tetangga, dikejar-kejar hantu cekik berkali-kali.
Di pos ronda, ada sepuluh orang mendapat tugas jaga. Suasana kampung sangat lengang dan seram. Orang-orang yang bertugas jaga itu hanya duduk dan bercakap perlahan. Tentu sambil waspada kalau ada kejadian yang tidak diinginkan. Yang dibicarakan pun pasti seputar hantu cekik.
Dan, di tengah malam, saat semua orang terlelap tidur, keheningan malam itu kembali terusik dengan jeritan orang minta tolong.
"Toloooong .......!!! Toloooong .......!!! Toloooong .......!!!" suara minta tolong itu mengagetkan orang-orang yang berjaga.
"Ada orang berteriak minta tolong." kata salah seorang yang berjaga.
"Ya .... Betul .... Ada orang berteriak minta tolong."
"Ya ..., dari sana .... Dekat itu .... Suaranya terdengar jelas."
Namun tiba-tiba, ada suara langkah kaki orang berlari menuju pos ronda.
"Ada apa ...?" tanya para petugas jaga yang sudah pada berdiri di depan pos ronda itu.
"Hantu cekik .... Hantu cekik ...!" kata orang yang baru datang berlari itu.
"Loh, Pak Pin, to iki ...? Di mana hantu cekiknya, Pak?" tanya orang-orang yang di pos ronda.
"Itu ...! Terbang melayang ke sana .... Cepat kita kejar ...!" kata Pak Pin yang masih berlari mengejar hantu.
Sepuluh orang yang berjaga itu pun langsung kalang kabut, berlari mengikuti Pak Pin yang sedang mengejar hantu cekik.
"Hantu cekik ...!!! Hantu cekik ...!! Hantu cekik ...!!!"
Orang-orang yang tadi berada di pos ronda, sudah berteriak-teriak sambil lari, mengikuti larinya Pak Pin yang sudah lebih dahulu berlari.
Spontan orang sekampung bangun semua. Mereka kaget dengan teriakan para penjaga itu. Dan akhirnya, mereka banyak yang keluar rumah. Para bapak dan remaja laki-laki ikut keluar berlari dan mengejar hantu cekik. Suasana Desa Sarang malam itu menjadi riuh. Ramai oleh orang yang berlarian mengejar hantu cekik.
"Di mana hantu cekiknya ...?"
__ADS_1
"Itu ..., di sana .... Ayo ikut mengejar."
"Mana hantu cekiknya?!"
"Pokoknya ikut ngejar ...! Itu yang paling depan yang tahu ...."
Pak Pin yang berada paling depan, terus berlari sambil membawa kayu. Pasti akan digunakan untuk memukul hantu cekik yang dikejarnya.
Hingga akhirnya .... Pak pin memukuli pagar bambu halaman rumah Jamil.
"Prook ...!! Proook ...!! Prook ...!!!"
Suara pukulan kayu Pak Pin itu menghantam pagar halaman Jamil yang terbuat dari bambu. Tentu pagar bambu itu ada yang patah, ada yang hancur, dan ada yang berantakan di halaman.
Orang-orang langsung menuju rumah Jamil. Tentu ingin membantu Pak Pin yang sudah berhasil memukuli hantu cekik di halaman rumah Jamil.
Ternyata Pak Pin tidak berhenti. Ia berlari lagi ke teras rumah Jamil. Lantas memukul pintu rumah Jamil.
"Braaak ....!! Braaak ...!! Glodak ...!!!"
Tentu Jamil yang ada di dalam rumah kaget mendengar rumahnya dipukuli orang. Ia pun langsung membuka pintu rumahnya.
Alangkah kagetnya Jamil saat membuka pintu rumah. Di depan rumahnya sudah banyak orang. Semuanya pada kelihatan beringas. Ada yang membawa potongan bambu, ada yang membawa sabit, ada yang membawa parang dan bendo. Semua sudah menghadap ke rumah Jamil dan bersiap akan memukulkan senjatanya.
"Ini ...! Ini yang sudah membuat kampung kita resah! Ini yang sudah meneror kita selama ini! Ini hantu cekiknya ...!! Ini buktinya .... Lihatlah ...!!!" kata Pak Pin yang berdiri di depan pintu rumah Jamil, sambil memegang kain putih yang ada bercak-bercak darah di genggaman tangannya.
"Itu hantunya, Pak ...?!" para warga pada bertanya.
"Ya ...! Ini yang tadi akan mencekik istri dan anak saya ...!!" jawab Pak Pin meyakinkan warga.
"Berarti yang memelihara hantu cekik itu Jamil ...!" kata salah seorang warga.
"Ya ...! Berarti Jamil sudah berbuat maksiat ..., bersekutu dengan iblis ...!! Jamil memelihara hantu cekik ...!!" teriak yang lain.
"Ya ...! Jamil memelihara hantu cekik untuk pesugihan ...!!!"
"Kita apakan Jamil ...??!!"
"Kita bakar rumahnya ....!!!"
"Ya ..., kita bakar rumah Jamil yang sudah meneror kampung kita dengan hantu cekik ...!!!"
Tentu jamil bingung. Jamil yang tidak tahu apa-apa kini menjadi kemarahan warga. Ia tidak sanggup berkata apa-apa. Kini seluruh warga kampung sudah menuduh dirinya memelihara hantu cekik.
"Ayo, kita bakar rumahnya sekarang ...!!! Tunggu apa lagi ...??!!" kata Pak Pin yang berhadapan dengan Jamil di pintu rumah.
"Tunggu dulu .... Jangan main hakin sendiri ...!" tiba-tiba Pak Kades datang, melangkah maju mendekat pintu rumah Jamil, berdiri di samping Pak Pin.
"Kelamaan, Pak ...! Ini buktinya ...." kata Pak Pin sambil menunjukkan kain yang dipegangnya.
"Tenang ...! Tenang ...! Sebaiknya kita tanyai Jamil lebih dahulu .... Siapa tahu justru hantu cekik itu akan mencekik Jamil atau keluarganya ...." kata Pak Kades meredam warganya.
"Tidak mungkin ...! Tadi hantu cekik ini kita kejar ...! Pasti larinya pulang ke pemiliknya. Betul kan ...??!!" Pak Pin berusaha membantah pendapat Pak Kades.
"Ya ...!! Betul ...!!" sahut para warga.
"Nah ..., kalau begitu hukuman yang paling pantas adalah dibakar saja ...!!" kata Pak Pin lagi-lagi meminta warga untuk segera membakar rumah Jamil.
"Ya ...!! Kita Bakar rumah Jamil ...!!!" teriak para warga yang sudah tersulut emosi.
Akhirnya, beberapa warga sudah melemparkan api dari obor yang sudah dipenuhi minyak ke atap rumah Jamil. Tentu warga yang lain, yang sudah menyiapkan obor yang dipenuhi minyak itu ikut melemparkan obor-obornya ke rumah Jamil. Ada yang melempar ke atap, ada yang melempat ke dinding. Api pun berkobar
"Tutup pintunya ...!! Kita bakar hidup-hidup keluarga Jamil ...!!! Biar masuk neraka semuanya ...!!" kata Pak Pin yang sudah mendorong Jamil ke dalam rumah, dan langsung menutup pintu dari luar. Pintu rumah itu pun diikat dengan tali agar Jamil serta anak istrinya tidak bisa keluar.
Di luar rumah Jamil, warga kampung ramai menyaksikan pembakaran rumah keluarga Jamil seisinya. Suara ramai, ribut dan tentu ada yang tertawa menyaksikan rumah Jamil yang menyala-nyala mengobarkan api di tengah gelap gulitanya malam.
__ADS_1