
Kembali menyimak peristiwa yang terjadi di vila Bandungan.
Malam Minggu itu, sebenarnya Melian sudah tidak setuju jika harus diajak bermalam di vila. Tentu karena Melian belum bilang atau izin kepada teman-temannya di kost. Setidaknya, pasti Cik Indra akan mencari. Karena Cik Indra pernah dipesan oleh Mas Irul untuk menjaga Melian di Semarang. Namun karena Jonatan meminta Melian untuk ikut menginap di vila milik Cung Kek, maka Melian tidak sanggup untuk menolak.
Begitu tahu kalau teman-teman Jonatan, yaitu Cung Kek, Prendes dan Kecik, mengeluarkan minum-minuman keras, Melian sudah khawatir. Pasti dirinya akan dipaksa untuk meminum. Apalagi melihat gelagat tiga teman Jonatan itu kurang baik, hati kecil Melian mulai berontak. Melian merasa jengkel dengan dengan Jonatan yang tidak bertanggung jawab. Jengkel dengan Jonatan yang hanya besar tubuhnya doang, tetapi tidak punya pendirian dan hanya manut dengan teman-temannya yang justru akan menjerumuskan ke jurang kehancuran. Ada rasa marah yang muncul dari diri Melian. Marah kepada empat laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
Apalagi saat melihat Jonatan yang dicekoki minuman keras, minum belum genap satu gelas, Jonatan sudah ndoyong. Jonatan sudah teler dan mabuk. Payah. Laki-laki macam apa itu? Ingin rasanya Melian memberontak. Tapi sayang, ia tidak sanggup berbuat apa-apa. Ia tidak tahu berada di daerah mana. Yang Melian tahu, kini ia berada di tempat yang jauh, di tempat yang sepi tanpa ada tetangga, vila yang menyendiri di lereng gunung dengan hawa dingin. Ia tidak bisa keluar dan tidak tahu harus ke mana jika melarikan diri. Sedangkan di dalam ruang, ia menghadapi ular beludak yang siap menerkam dirinya.
Dan ternyata memang betul. Melian dipaksa meminum minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang. Tentu nanti akan dipaksa untuk menjadi budak tiga orang tersebut. Faktanya memang demikian. Melian yang sudah tidak bisa apa-apa lagi, karena Jonatan yang mestinya jadi pelindungnya, justru sudah roboh tak berdaya, menggeletak di kursi. Melian pun hanya bisa pasrah.
Namun saat Melian diseret oleh Cung Kek dibawa ke dalam kamar, tentu akan diperkosa, tiba-tiba muncul sinar hijau yang keluar dari gelang giok yang dipakai oleh Melian. Sinar hijau itu berubah menjadi asap yang menyelubungi tubuh Melian. Seakan kepulan asap berwarna hijau itu menjadi tameng yang akan melindungi Melian dari Cung Kek yang akan menindih tubuh cantik itu.
Tidak hanya kepul asap yang menyelimuti tubuh Melian. Tetapi ternyata, ada berkas cahaya berwarna merah kecil yang lentur dengan ujung sangat runcing berwarna seperti bara api, panjangnya hanya sekita sejengkal tangan, yang keluar dari tempat vital milik Melian. Cahaya itu seakan seperti benang merah yang ujungnya terdapat jarum api.
Dan pada saat tubuh Cung Kek hampir saja menindih tubuh Melian, tiba-tiba cahaya seperti benang merah berujung jarum api itu berkelebat dan menusuk barang milik Cung Kek yang paling berharga. Tepat di pangkal telur. Sangat cepat, seakan tanpa butuh waktu. Bahkan tidak dirasa oleh Cung Kek.
Namun, seketika itu, "Auuh ...." Cung Kek hanya menjerir sekali. Dan selanjutnya tubuh kurus kering itu terpental ke lantai dan sudah tak bernyawa.
Demikian juga yang terjadi pada Prendes dan Kecik. Mungkin karena kondisi mabuk, atau pengaruh alkhol, Prendes tidak melihat tubuh Cung Kek yang tergolek di lantai. Mata nafsunya hanya diarahkan oleh setan untuk melihat barang indah milik Melian. Dengan cara yang sama, saat Prendes yang sudah sangat bernafsu itu langsung menubruk tubuh Melian, tiba-tiba saja cahaya merah sebesar benang dengan ujung seperti layaknya jarum api itu sudah berkelebat. Menusuk barang kesayangan Prendes. Sama seperti halnya pada Cung Kek. Prendes langsung limpung, menggeletak di di kasur, di sisi tubuh Melian, sudah tak bernyawa.
Berbeda dengan teman-temannya, Kecik yang masuk kamar paling akhir, sudah memendam hasrat tak terkendali. Pikirannya sudah dikuasai oleh nafsu setan. Sudah terlalu lama menunggu Cing Kek dan Prendes yang tidak keluar kamar. Maka begitu masuk kamar, dan saat melihat kemolekan tubuh Melian, Kecik langsung meloncat ke kasur. Berniat untuk menunjukkan kejantanannya.
Namun, lagi-lagi cahaya merah itu keluar dari bagian tubuh Melan. Cahaya merah yang kecil itu, hanya sebesar benang dengan ujung seperti layaknya jarum api itu sudah berkelebat. Memangsa barang kesayangan Kecik.
"Wadauh ...!!" hanya menjerit sekali. Habis itu Kecik sudah terkapar di atas kasur, bersanding dengan Prendes. Kecik pun diam tak bernyawa.
__ADS_1
Sungguh aneh. Apa sebenarnya cahaya merah yang keluar dari dalam barang rahasia Melian? Apakah itu kekuatan diri Melian? Ataukah kekuatan gaib yang keluar dari aura gelang giok berukir naga yang dikenakan pada lengan Melian? Gelang giok itu warnanya hijau, tapi kenapa yang keluar justru cahaya merah?
Setelah terkaparnya tiga laki-laki dalam kamar itu, kabut hijau yang menyelubungi tubuh Melian kembali mengumpul. Seperti asap yang disedot oleh tukang sulap. Lantas asap hijau itu lenyap ditelan mulut naga yang yang melingkar sebagai gelang pada lengan Melian. Cahaya merah pun tidak keluar lagi. Namun, Melian pingsan dalam keadaan tanpa apa-apa.
Sadarnya Jonatan dari mabuk, tentu butuh waktu yang sangat lama. Jonatan sudah tidur di kursi sangat lama. Sudah tidak terhitung waktu. Mulai dari malam tiba, saat mereka mulai minum-minum, dan Jonatan yang tidak kuat dengan minuman, tentu kepalanya langsung ndoyong. Beruntung ia bisa tertidur, hingga lewat tengah malam. Lebih dari enam jam Jonatan tertidur. Hal itu justru menguntungkan Jonatan. Karena pengaruh minuman beralkohol itu sudah mulai berkurang. Setidaknya tubuhnya sudah tidak ndoyong lagi. Sudah lumayan untuk dibuat berdiri tegak. Jalannya sudah tidak geloyoran lagi.
Namun saat Jonatan terbangun, mengamati sekelilingnya sudah tidak ada temannya lagi, maka ia terkejut, dan tentu takut. Pada kemana teman-temannya. Apakah sudah pada tidur di dalam kamar? Bahkan ia juga bingung mencari Melian.
Dan saat Jonatan menuju ke kamar yang lampunya menyala, alangkah lebih terkejutnya ia saat menyaksikan di dalam kamar itu tergeletak tiga temannya laki-laki dan perempuan calon kekasihnya yang semuanya tidak mengenakan pakaian sama sekali.
Kala itu, tentu penglihatan Jonatan belum begitu sempurna dari pengaruh mabuknya, maka ia tidak paham apakah teman-temannya itu hanya tidur, pingsan atau meninggal. Matanya yang mungkin masih merah, tertuju pada tubuh Melian. Namun saat Jonatan mendekat, dan ternyata tubuh Meleian tak berdaya, maka Jonatan langsung berusaha untuk menyadarkan Melian. Pikirannya mengatakan, pasti Melian sudah digilir oleh tiga temannya itu hingga pingsan.
Setelah beberapa saat berusaha membangunkan Melian tidak bisa, Jonatan berinisiatif mengangkat Melian dibawa ke kamar mandi untuk diguyur air. Tujuannya agar Melian sadar setelah tersiram air.
"John ..., apa-apaan ini? Kenapa diriku?" tanya Melian yang tentu bingung dengan apa yang telah terjadi.
"Syukurlah, kamu sudah sadar. Ayo ke kamar, kenakan pakaianmu, biar tidak kedinginan." kata Jonatan yang sudah membopong tubuh Melian.
Namun saat di kamar, menyaksikan tiga orang teman Jonatan yang pada tergeletak tanpa pakaian, tentu Melian bingung. Apalagi setelah sadar bahwa dirinya juga tidak berpakaian, pikiran Melian tambah tidak karuan. Melian pun sudah berpikiran kalau dirinya sudah diperkosa oleh tiga orang teman Jonatan itu. Wajar kalau Melian langsung marah kepada Jonatan yang mengajaknya.
"Kok kamu begitu, John? Tega-teganya kamu merusak saya ...!!" wajah Melian sudah berubah marah, sambil tergesa mengenakan pakaian yang bisa ia temukan. Tentu karena pakaiannya tercecer di kamar itu.
"Maafkan saya, Mel .... Bukan maksud saya seperti ini .... Betul Mel .... Saya tadi juga tidak sadarkan diri .... Saya mabuk .... Maafkan aku, Mel ...." kata Jonatan yang mengiba kepada Melian.
"Plookgh ...!!" suara tamparan tangan Melian sudah mendarat di muka Jonatan.
__ADS_1
"Cepat antar saya pulang ...!!!" bentak Melian pada Jonatan.
"Tapi ini tengah malam, Mel .... Jalannya gelap ...." kata Jonatan yang berusaha beralasan.
"Pokoknya cepat antar saya pulang ...!!!" Melian membentak lagi dan lebih keras.
Jonatan berusaha untuk menunda dengan berbagai alasan. Ia mencoba memeluk Melian, bahkan ingin mencium gadis itu. Hasrat laki-lakinya mulai keluar. Apalagi saat ingat melihat sekujur tubuh Melian, bahkan sempat mebopongnya. Ingin rasanya Jonatan tidur bersama Melian, tentu juga ingin menikmati gadis itu seperti halnya teman-temannya. Pikiran Jonatan mulai dikuasai setan. Maka ia berusaha merayunya.
Tetapi lagi-lagi, "Plookgh ...!!"
Kembali tangan Melian menampar pipi Jonatan.
"Cepat antar saya pulang ...!!!" bentak Meliandengan wajah marah yang menyeramkan.
Jonatan yang pernah dipukul Melian hingga gelangsaran di lantai, tidak berani membantah lagi. Pasti ia takut kalau dipukul lagi. Maka Jonatan pun menurut mengantarkan Melian pulang di tengah gelap gulitanya malam.
Dengan rasa takut dan was-was, Jonatan memboncengkan Melian, menuruni lereng Gunung Ungaran, menyusuri turunan jalan Bandungan yang berkelak-kelok. Dalam hati Jonatan juga jengkel, yang menikmati enaknya teman-temannya, tapi yang kena pahit getir justru dirinya. Kecewa rasa dalam hatinya sudah menyadarkan Melian. Kenapa tadi sebelum Melian sadar dirinya tidak ikut mencicipi manisnya buah yang ranum lebih dulu?
Apalagi Melian kali ini, saat diboncengkan tidak mau berpegangan pada Jonatan. Padahal waktu berangkat memeluk mesra. Padahal udara Bandungan lewat tengah malam suhunya sangat dingin hingga menusuh ke tulang. Kenapa tidak mau memeluk agar lebih hangat? Rupanya Melian benar-benar marah.
Dalam keadaan seperti itu, Jonatan mencoba menarik gas motornya, agak disendal, agar Melian terhentak dan langsung memegang tubuh Jonatan. Tetapi usaha itu rupanya gagal. Melian tetap tidak mau berpegangan. Lantas tangan Jonatan berusaha menarik tangan Melian agar mau memeluk dirinya, tetapi lagi-lagi Melian tidak mau. Dan akhirnya, pada saat Jonatan kembali menarik tangan Melian, rupanya Melian yang masih marah itu menampar tangan Jonatan yang masih memegang gas motor. Akibatnya, tangan Jonatan terhentak, sekaligus menghentakkan gas motor yang dikendarainya. Tepat pada turunan yang sangat dalam serta jalan menikung yang sangat tajam.
Jonatan tidak bisa menguasai kendaraannya. Motor itu seakan terbang ke udara, dan jatuh ke jurang yang sangat dalam. Tentu motor yang jatuh tepat di atas batu itu langsung remuk. Demikian juga dengan Jonatan yang sudah tidak sanggup mengendalikan dirinya, ikut jatuh ke dalam jurang. Kepalanya membentur batu. Helm yang dikenakan pecah. Kepalanya pun luka parah, boleh dikatakan hancur. Jonatan mati seketika.
Lantas, bagaimana dengan Melian? Di mana dia?
__ADS_1