
Setelah beberapa saat tidak berani naik, akhirnya, Jamil bersama Juminem dan Melian melangkahkan kaki, menuju puncak bukit. Di puncak Gunung Bugel, tempat di mana ada bongpai Cik Lan yang dibangun di sana. Matahari sudah hampir berada tepat di atas kepala. Namun sepoi angin perbukitan seakan menghilangkan rasa panas yang menyengat kulit. Melintasi jalan setapak, mereka bertiga saling bergandengan. Jamil yang berada paling depan, sebagai penunjuk jalan. Melian berada di belakang bapaknya, dengan tangan yang dipegang oleh Jamil. Sedangkan Juminem yang membawa bunga untuk ditabur pada pusara, berada paling belakang. Dan tentu kadang-kadang berhenti dan menghela napas panjang pertanda kecapaian. Maklum bukit itu memang lumayan tinggi kemiringannya.
"Masih lama, Pak ...?" tanya Melian pada bapaknya.
"Sebentar lagi sampai ...." jawab Jamil yang tentu tidak ingin anaknya kendor semangat.
"Tinggal sedikit lagi .... Itu ..., bangunan rumah makam yang dulu pernah kita pakai untuk berteduh saat pemakaman Mamah Melian." kata Juminem sambil menunjuk ke bongpai yang ada bangunan semacam rumah mini.
"Ya ..., kala itu Melian tertidur digendong Pak-e ...." sahut Jamil.
"Melian masih bayi .... Kalau digendong Pak-e langsung tidur ...." timpal Juminem.
Mereka banyak bicara. Tentu dengan cerita-cerita masa lalu tentang Melian. Pastinya, Jamil ingin agar perjalanannya tidak terasa lama dan melelahkan. Dengan diajak ngobrol, tanpa terasa akan sampai ke tempat yang dituju. Dan benar, tahu-tahu mereka sudah sampai di sebuah bangunan makam yang tidak terlalu besar, tetapi sangat cantik. Ada tulisan dengan aksara Han atau huruf Cina. Jamil maupun Juminem tidak bisa membacanya, apalagi untuk mengetahui artinya. Yang Jamil dan Juminem ingat bahwa bongpai itu adalah makam Cik Lan. Sudah dua kali mereka ke tempat itu. Dan yang ini, kali yang ketiga, setelah hampir sepuluh tahun lamanya tidak ziarah.
"Melian ..., ini makam Mamah kamu ...." kata Jamil yang sudah berhenti di altar bongpai tersebut.
Melian terdiam. Ia memandangi makam ibunya itu dengan mata berkaca. Kakinya sudah tidak kuat untuk menahan beban kesedihan. Lantas kaki itu langsung menekuk dengan lutut yang sudah menempel di lantai bongpai. Melian bersimpuh dengan tubuh gemetar. Juminem ikut mendampingi anaknya. Sedangkan Jamil jengkang di bawah bongpai.
Kala itu, matahari tepat berada di atas kepala. Bahkan tidak ada bayangan yang terlihat, karena memang matahari benar-benar tepat pada titik kulminasi. Namun tiba-tiba, cahaya terang matahari tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Awan hitam tebal menutup tempat itu. Kilat menyala membelah langit. Petir menggelegar menyambar-sambar. Angin kencang bertiup berputar mengintari makam Cik Lan, terus berputar dan semakin kencang.
Jamil maupun Juminem masih teringat peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Peristiwa saat pemakaman Cik Lan yang ditandai dengan perubahan cuaca ekstrim. Demikian juga saat ia mengantarkan Nenek Amak mencari leluhurnya. Peristiwa ini terulang untuk yang ketiga kalinya. Maka Jamil pun waspada dengan kemungkinan yang akan terjadi.
Jamil yang sigap langsung memegang lengan Juminem serta memeluk tubuh anaknya. Namun angin yang berputar itu semakin kencang. Sudah memporak-porandakan lokasi di sekitar makam Cik Lan. Juminem memeluk tubuh Jamil. Takut kalau terbawa pusaran angin.
"Pegangan yang kencang, Jum ...!!" kata Jamil menyuruh istrinya.
"Iya, Kang ...!!" sahut Juminem yang terus memeluk tubuh suaminya.
Jamil yang berusaha menyelamatkan istri dan anaknya, tentu memegang erat dua perempuan belahan jiwanya itu. Namun saat itu juga, dirasakan oleh Jamil, tubuh anaknya sudah tidak bertenaga. Gadis kecil kesayangannya itu sudah lunglai. Melian pingsan.
"Melian ...!! Meliaaann ...!! Meliaann ...!!!" Jamil berteriak keras memanggil-panggil ananknya. Ia sangat khawatir.
Pada saat itu, angin kembali memutar kencang. Dan angin itu sudah mengangkat tubuh Melian yang tadinya tergeletak di lantai bongpai, melayang ke atas. Sangat cepat, seperti layaknya ada makhluk gaib yang tidak terlihat mata manusia mengangkat tubuh Melian. Tubuh gadis kecil itu membumbung tinggi.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba cahaya menyilaukan membelah awan gelap, menyorot kuburan Cik Lan. Sehingga Jamil maupun Juminem harus menutup matanya untuk menghindari kilauan cahaya tersebut.
Cahaya putih menyilaukan itu menyelimuti tubuh Melian yang terangkat ke angkasa. Seakan cahaya putih itu menjadi kasur dan selimut yang menidurkan Melian. Hanya wajah Melian yang dapat disaksikan oleh Jamil maupun Juminem, yang terlihat diantara cahaya putih tersebut.
"Melian ...!!" Juminem berteriak keras memanggil anaknya.
"Melian ...!! Meliaaannn ...!! Jamil juga berteriak keras, bahkan seakan menangisi anaknya yang dikhawatirkan akan hilang.
Tentu Jamil maupun Juminem sangat khawatir dengan kondisi yang sedang dihadapi anaknya. Ia teringat dengan peristiwa yang sama saat mengantar Nenek Amak, yang harus hilang tertimbun oleh bongpai yang terbuat dari batu besar. Hilang tertelan makam.
Kini, hal yang sama sedang dialami oleh Melian. Anak kesayangannya itu sudah melayang diangkat cahaya putih menyilaukan. Pasti Jamil sangat khawatir. Apalagi Juminem yang merawatnya sejak kecil. Pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak ini, tentu sangat sedih jika harus dipisahkan dengan anak titipan yang sangat ia sayangi.
"Kang ..., tolong anak kita, Kang ...." kata Juminem menyuruh Jamil untuk menolong anaknya.
"Tidak sanggup, Jum ...! Saya tidak mampu menembus pusaran angin ...!" kata Jamil yang masih mempertahankan diri dari gulungan angin yang sangat kencang.
Dua orang suami istri itu hanya bisa pasrah. Tubuhnya yang sudh terkapar di dasar bongpai, seakan juga akan terangkat oleh pusaran angin yang menerjangnya. Mereka masih saling berpegangan untuk mempertahankan diri agar tidak terbawa angin.
Sementara itu, tanpa bisa dilihat oleh Juminem maupun Jamil, bahkan oleh mata telanjang siapapun, tubuh Melian sebenarnya sudah diangkat oleh kekuatan gaib. Kekuatan naga raksasa yang keluar dari bertemunya gelang giok berukir naga dengan pemilik sesungguhnya. Melian diambil ruh dan jiwanya, dan dibawa ke alam kasat mata. Kekuatan gaib naga raksasa itu berputar mengintari tubuh Melian yang ingin bertemu dengan orang tuanya. Kekuatan besar dari alam lain itu menimbulkan berputarnya angin di temapt keberadaan Melian. Yang mengangkat tubuh Melian sebenarnya adalah naga raksasa yang keluar dari gelang giok yang dikenakannya. Ya, gelang giok berukir naga itu bukan sekadar giok biasa, tetapi naga raksasa yang sudah menjelma menjadi sebuah gelang dan melingkar pada tangan orang yang menjadi titisan naga raksasa.
Perlahan tubuh Melian yang melayang ke udara itu turun. Seperti ada tangan raksasa yang meletakkan tubuh gadis kecil itu secara perlahan agar tidak terbangun. Ya, tubuh Melian kini terlentang dengan tangan bersedekap di atas makam ibunya. Seperti layaknya orang sedang tidur pulas. Bagi orang seperti Jamil maupun Juminem, pasti menganggap anaknya itu pingsan. Namun sebenarnya, tubuh Melian kini hanyalah sebuah raga, tanpa ada ruh, sukma dan jiwanya. Tubuh Melian hanyalah fisik yang kosong. Sedangkan ruh dan jiwanya, kini sedang dibawa ke nirwana, untuk menemui ibunya.
Sementara itu, di alam lain, alam di luar nalar manusia, alam yang tidak diketahui oleh Jamil maupun Juminem, Melian berjalan bersama laki-laki gagah besar yang mengenakan pakaian ala jubah serba putih, menyusuri jalan yang sangat terang, hingga tidak terlihat dasar jalannya. Hanya terlihat cahaya saja. Mereka seakan berjalan di atas karpet lampu yang bersinar terang. Mereka terus berjalan, hingga sampai pada sebuah taman yang sangat indah. Taman yang penuh dengan bunga beraneka warna bermekaran. Taman dengan kicau burung yang merdu, taman yang penuh kupu-kupu tanpa ada ulat bulu. Melian terus diajak melangkah ke tengah taman tersebut, dimana di tengah taman terdapat kolam yang sangat cantik, dengan air yang sangat jernih, sehingga ikan-ikan yang ada di dalam kolam itu terlihat sedang berenang kian kemari.
Laki-laki gagah besar itu lantas menunjukkan kepada Melian, ada seorang wanita cantik dengan pakaian tradisional ala perempuan Tiongkok, duduk di kursi taman yang ada di pinggir kolam tersebut. Wanita itu, meskipun cantik namun wajahnya terlihat pucat, seperti orang kurang tidur. Ya, wanita itu adalah Cik Lan.
"Wanita itu adalah Mamah kamu ...." kata laki-laki tegar gagah besar dengan jubah putih tersebut.
"Mamah ...???" tanya Melian.
"Temuilah ...." kata laki-laki itu meminta Melian untuk berjalan menemui.
"Mamah .... Mamah ...!" teriak Melian yang sudah mendekati wanita dengan pakaian tradisional ala perempuan Tiongkok tersebut.
__ADS_1
Wanita itu menoleh, memandang ke arah Melian.
"Melian ...?!" kata wanita yang duduk di kursi taman tersebut, yang lantas berdiri seakan menyambut kedatangan Melian.
"Mamah ....!!!" teriak Melian yang langsung menubruk ibunya.
Dua wanita itu saling berpelukan, sangat lama, dan saling menangis. Tentu ada kerinduan yang sangat besar dan mendalam. Kerinduan seorang ibu yang mencari anaknya, dan kerinduan seorang anak yang selama ini tidak tahu ibunya ada di mana.
"Mamah ..., kenapa meninggalkan Melian?" tanya anak perempuan itu, sambil masih membenamkan mukanya pada dada ibunya.
"Mamah sudah harus tinggal di sini, Sayang .... Mamah sudah tidak boleh ke mana-mana lagi. Ini tempat peristirahatan Mamah ...." kata ibunya pada Melian.
"Aku ikut tinggal di sini ..., Mah ...." kata Melian yang tentu sangat rindu pada ibunya.
"Tidak boleh, Sayang .... Belum saatnya, Melian .... Kamu harus pulang." kata ibunya yang melarang anaknya ikut tinggal bersama.
"Tapi saya kasihan melihat Mamah sendirian di sini ...." kata Melian lagi.
"Tidak .... Mamah sudah tenang dan tenteram di sini. Ikutlah bersama orang yang merawatmu. Anggaplah ia sebagai orang tua kamu. Kasihan mereka sudah merawat kamu dari kecil. Hormati dia, sayangi dia, lindungi mereka. Mereka itu orang baik, sudah membesarkan kamu dan sangat mencintai kamu. Pulanglah, mereka menunggumu ...." kata ibunya pada Melian.
Di makam Cik Lan, Jamil dan Juminem yang masih berusaha menggapai anaknya, akhirnya dua orang itu mampu menerobos pusaran angin, dan sampai pada altar bongpai, dimana Melian tergeletak. Bersamaan dengan itu, sebuah geledek yang sangat keras menyambar kuburan itu. Jamil spontan menubruk anaknya. Melindungi Melian dari amukan angin topan dan petir yang menyambar-sambar. Demikian juga Juminem, yang sangat menyayangi anaknya, ia ikut memeluk anaknya yang tergeletak tak berdaya di lantai.
Dan seketika itu, angin berhenti bergerak, awan hitam hilang tanpa bekas, sinar matahari kembali terang. Semuanya berubah dalam sekejap.
"Mak-e ...! Pak-e ...!" Melian berteriak, lantas memeluk bapak dan ibunya. Tentu sambil menangis.
"Iya, Sayang .... Kamu tidak apa-apa, Sayang ...." Juminem langsung memeluk gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, dan tentu sangat senang karena rasa khawatirnya telah hilang.
"Kamu tidak kenapa-kenapa, Sayang ...??" tanya Jamil sambil mengusap air mata yang membasahi pipi anaknya.
"Iya, Pak-e .... Tadi Melian sudah ketemu Mamah .... Tetapi saya tidak boleh ikut Mamah .... Melian disuruh ikut Pak-e dan Mak-e ...." kata Melian yang masih sesenggukan.
"Seperti itu, Sayang .... Ya, sudah ..., sekarang kita tabur bunga untuk Mamah Melian. Habis itu kita pulang ...." kata Juminem yang langsung mengajak anaknya untuk menaburkan bunga kiriman di pusara mamahnya.
__ADS_1
Mereka bertiga menaburkan bunga di tempat makam itu, tentu sambil mendengarkan cerita yang dikisahkan oleh Melian saat bertemu dengan mamahnya. Cerita yang menyenangkan tentunya.
Jamil pun senang mendengarnya. Apalagi Juminem yang diamanahi untuk momong Melian, pasti suatu kebahagiaan yang tidak terkira.