
Sepulang dari Bandungan, sebenarnya Jamil ingin langsung menuju Lasem. Namun tentu kasihan Mas Tarno yang kecapaian menyetir sepanjang hari tanpa istirahat. Apalagi ditambah dengan pikiran yang bingung, hati yang gelisah, serta perasaan yang sedih. Pasti semuanya jadi tidak nyaman dan tidak tenteram. Toh kalaupun langsung ke tempat Irul, seperti yang disampaikan oleh Mbah Sawal, Jamil maupun Juminem belum tahu rumahnya Irul ada di mana. Mas Tarno juga belum paham. Lantas kalau sampai di Lasem malam hari, mau bertanya pada siapa? Pasti rumah-rumah warga sudah pada tutup. Maka Jamil memutuskan untuk pulang dan tidur semalam di rumah.
"Cik Indra kami antar ke rumah kost lagi, ya ...." kata Jamil pada Cik Indra yang sudah mau menunjukkan tempat yang bernama Bandungan tersebut.
"Tidak, Pak Jamil ..., saya mau ikut mencari Melian dan Mas Irul." tentu Cik Indra sangat penasaran dengan kata-kata Mbah Dukun tadi. Irul yang hilang di kuburan di daerah Bandungan, tapi katanya disururuh menjemput ke rumahnya. Sesuatu yang agak sulit dinalar dengan pikiran orang waras.
"Iya, Kang .... Kasihan Cik Indra .... Mas Irul hilang, dia jadi sedih .... Mending kita ajak sekalian, biar bisa ketemu Mas Irul .... Bukan begitu, Cik Indra ...?" kata Juminem yang duduk berdua dengan Cik Indra.
"Mmm ..., saya khawatir, Mbak Jum ...." sahut Cik Indra yang juga memanggil Mbak Jum, sama seperti Irul.
"Lho ..., itu Kang .... Cik Indra sangat khawatir ...." timpal Juminem.
"Iya .... Ini kita kan sedang mencari, Jum .... Berdoa saja, semoga anak kita selamat ..., semoga Mas Irul juga selamat .... Dan kita bisa dipertemukan lagi dengan mereka dalam keadaan selamat, sehat wal afiat, tidak ada kekurangan satu apapun ...." kata Jamil yang duduk di depan menemani Mas Tarno menyetir.
"Iya, Pak Jamil .... Kami selalu berdoa, kok ...." kata Cik Indra yang tentu masih saja diselimuti rasa khawatir. Karena ia tahu presis kalau Irul masuk ke kuburan, dan tiba-tiba saja hilang. Tapi kini justru harus mencari ke Lasem. Rasa was-was tetap ada di hati orang yang normal.
"Jadi benar ini, Cik Indra langsung ikut kami ...?" tanya Jamil meyakinkan.
"Iya, Pak .... Kalau belum ketemu sama Melian dan Mas Irul, saya tidak bisa tidur, Pak ...." jawab Cik Indra.
Juminem langsung memeluk Cik Indra, tanda sayang dan kasihan. Pastinya Juminem sudah sangat berterima kasih kepada Cik Indra, karena sudah banyak membantu. Terutama mencari informasi kepada teman-teman Melian. Dan tentu, Juminem sudah meneteskan air mata.
Cik Indra tahu perasaan wanita yang memeluknya. Maka tangan Cik Indra juga ikut mengelus pundak Juminem, sebagai tanda menenangkan orang yang sangat bersedih tersebut.
"Hati-hati, Mas Tarno .... Pelan saja. Tidak usah ngebut. Nanti kita pulang rumah dulu. Tidur dulu semalam, biar Mas Tarno fit lagi. Besok pagi kita berangkat lagi ke Lasem. Mencari rumah Irul. Semoga usaha kita dilancarkan oleh Yang Kuasa, dan dikabulkan segala permintaan kita." kata Jamil pada Mas Tarno.
"Aamiiiiiin ....." Mas Tarno sambil nyetir mengaminkan apa yang dikatakan oleh pimpinannya itu.
*******
Pagi sekali, Mas Tarno sudah sampai di halaman rumah Jamil, di Kampung Naga. Hari Minggu perusahaannya libur. Tidak ada karyawan yang berangkat. Semalam setelah menurunkan Pak Jamil, Juminem dan Cik Indra, mobil itu disuruh membawa pulang ke rumah Mas Tarno, agar pagi harinya tidak repot dan bisa langsung memanasi mobilnya. Tentu Mas Tarno sebagai sopir menurut saja apa yang dikatakan oleh pimpinannya. Jamil tidak mau dipanggil bos. Makanya, pagi itu, Mas Tarno yang menyetir mobil sudah masuk ke halaman rumah Jamil.
"Din ...! Din ....!" suara klakson mobil yang dipencet oleh Mas Tarno, sebagai tanda kalau ia sudah datang.
"Sabar, Mas Tarno .... Sini masuk dulu, sarapan dan minum kopi ...." Jamil yang keluar langsung mengajak sopir itu masuk ke rumahnya.
"Nggih, Pak ...." sahut Mas Tarno yang sudah memutar mobilnya.
Lantas turun, dan masuk ke rumah Pak Jamil. Tarno tidak berani membantah untuk disuruh sarapan oleh pimpinannya itu. Hanya karena segan saking baiknya Jamil pada para karyawan.
Mereka berempat, Pak Jamil dan istrinya, Tarno dan Cik Indra, sarapan bersama di ruang makan. Meski masih belum ceria, setidaknya sudah ada harapan. Dan semoga saja apa yang dikatakan oleh Mbah Sawal itu benar, meskipun sulit untuk diterima nalar.
Tetapi bagi Cik Indra, yang juga pernah mendapat nasehat dari pendeta di klenteng, saat ia berdoa, ada hubungannya apa yang disampaikan oleh pendeta itu dengan yang dikatakan oleh Mbah Sawal. Yaitu Melian akan ditemukan oleh orang yang dekat dengan dia. Yah, Cik Indra ingat betul, Melian memang sangat dekat dengan Irul. Saat pertama kali datang ke Juwana kala itu, Cik Indra melihat sendiri, bagaimana manjanya Melian pada Mas Irul. Kini, tinggal saatnya untuk pembuktian.
Setelah selesai sarapan, seperti biasa, Jamil meminta kepada Juminem agar nanti mampir di pasar, untuk membeli oleh-oleh. Pasti untuk keluarganya Irul. Maklum, selama kenal Irul, Jamil maupun Juminem belum pernah ketemu dengan orang tua atau keluarganya Irul.
"Berangkat sekarang, Pak ...?" tanya Mas Tarno.
"Ya ...." jawab Jamil.
"Mas Tarno, nanti mampir pasar sebentar, ya ...." pesan Juminem.
__ADS_1
"Nggih, Mbak Jum ...." sahut tarno yang sudah menyalakan mobilnya.
"Ayo, Cik .... Kita berangkat sekarang." ajak pada Cik Indra sambil masuk ke mobil.
"Iya, Mbak Jum ...." jawab Cik Indra yang mengikuti naik ke mobil, duduk bersama dengan Juminem.
"Jalan hati-hati, Mas Tarno .... Tidak usah ngebut. Nanti langsung ke Pasar Lasem, saya mau tanya pada orang-orang pasar, rumah Irul ada di mana. Karena saya belum tahu ...." kata Jamil yang sudah berada di samping Mas Tarno yang menyopir.
"Nggih, Pak ...." jawab Tarno yang langsung menjalankan mobilnya.
Dasar mobil baru, suaranya sangat halus dan tentu setirannya juga enak dan nyaman. Walaupun menyetirnya santai, namun tetap saja lumayan cepat.
Cik Indra yang baru pertama kali melintas di Jalan Juwana - Rembang, tentu menyaksikan berbagai pemandangan yang tentunya sebagai pengalaman pertamanya melintasi jalan itu. Tentu penuh tanda tanya dengan segala hal yang dilihatnya.
"Tumpukan putih-putih di tambah-tambak itu garam, Cik .... Penduduk sini pada membuat garam." kata Juminem yang memberi tahu Cik Indra, karena dari tadi kelihatan heran dan bingung.
"Ooo .... Saya baru tahu ini ...." kata Cik Indra.
"Dulu Melian juga bingung, kok orang-orang di sini bisa membuat garam .... Maka oleh Kang Jamil diajak berhenti terus melihat para petani yang sedang membuat garam itu .... Senang dia ...." kata Juminem mengenang masa itu, saat Melian belum sebesar sekarang.
"Pasti Melian senang ...." kata Cik Indra.
"Iya .... Dia itu selalu ingin tahu ...." sahut Juminem.
"Makanya, anaknya pintar .... Sekolahnya saja rangking pertama ...." tambah Cik Indra.
Tanpa terasa, mereka sudah melintas di jalan pinggir laut. Pemandangan yang sangat menawan. Laut biru yang indah dan menawan. Tentu Cik Indra sangat kagum melintas di jalan yang mengasyikkan itu. Dan tanpa terasa, mobil yang disetir Mas Tarno sudah sampai di Pasar Lasem.
"Ya .... Tunggu di sini sebentar. Saya akan tanya rumah Irul pada orang-orang pasar." kata Jamil yang langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju ke pasar.
"Dulu Mas Irul kerjanya di sini .... Membantu Babah Ho jualan sembako. Babah Ho itu engkongnya Melian." Juminem menjelaskan kepada Cik Indra, yang tentu Mas Tarno juga mengupingnya. Baru tahu kalau ternyata Irul sudah bekerja ikut keluarganya Melian sejak kecil.
Sementara di kios pasar, Jamil menanyakan alamat rumah Irul kepada orang-orang yang ada di sana. Banyak yang tidak kenal, karena sudah berganti orang.
"Bu, maaf mau tanya .... Apa ibu kenal Mas Irul, yang dulu karyawannya Babah Ho yang jualan sembako di toko ini?" tanya Jamil pada ibu pemilik kios yang diyakini berada di sampingtokonya Babah Ho yang dulu.
"Babah Ho siapa, ya ...? Saya kok belum kenal .... Coba tanya sama buk-e yang itu .... Dia paling lama di sini." jawab orang itu yang ternyata tidak kenal. Lantas Jamil berjalan menuju kios di ujung, seperti yang ditunjukkan pedagang itu.
"Maaf, Bu ..., mau tanya .... Apa ibu kenal Mas Irul, yang dulu karyawannya Babah Ho yang jualan sembako di toko sana itu?" tanya Jamil pada ibu tua yang jualan di kios itu.
"Mas Irul sudah lama tidak di sini .... Dia sudah pergi ke luar kota .... Tidak betah, majikannya yang ini galak." jawab ibu pemilik kios itu.
"Kalau rumahnya Mas Irul, Ibu tahu?" tanya Jamil yang memang mencari rumah Irul.
"Waduh .... Desanya apa ya ...? Itu lho, dari pasar ini ke selatan, terus nanti ke timur sedikit .... Saya lupa desanya ...." kata Ibu tersebut, yang tahu arahnya, tetapi lupa nama desanya.
"Sumber ...?" sahut pedagang di sebelahnya.
"Bukan .... Wong sini saja kok ..., dekat ...." sahut ibu itu lagi yang tentu masih ingat dengan Irul.
"Ndoro ...?" sahut pedagang yang disebelahnya lagi.
__ADS_1
"Sebelum Kampung Ndorokandang .... Wis gini saja ..., Bapak-e minta tolong sama Bapak-e tukang ojek itu, yang tua .... Suruh ngantar ke rumahnya Irul. Dia tahu rumahnya." kata ibu pedagang itu menyarankan.
"Oh, nggih .... Maturnuwun ...." kata Jamil yang lagsung bergegas ke depan pasar, ke pangkalan ojek, menemui tukang ojek seperti yang disarankan oleh ibu pedagang tadi.
Dan setelah sampai di tempat tukang ojek, "Maaf, Pak ..., Apakah Bapak tahu rumahnya Mas Irul? Dulu karyawannya Babah Ho ...." tanya Jamil pada bapak tukang ojek itu.
"Ooo, Irul, Babagan .... Iya, tahu .... Mau diantar ke sana?" tanya bapak tukang ojek itu pada Jamil.
"Benar, Pak ...." sahut Jamil, yang tentu sangat senang karena sudah bisa menemukan rumah yang dicarinya, rumahnya Irul.
"Tapi orangnya kerja di Juwana .... Tidak pernah pulang ...." kata si bapak itu yang kelihatannya tahu persis tentang Irul.
"Tidak apa-apa, Pak .... Kami mau ke rumahnya saja ...." sahut Jamil.
"Monggo ...." kata tukang ojek itu yang sudah menyetarter motornya, dan tentu menyuruh Jamil untuk naik ke boncengannya.
"Iya, Pak .... Tapi pelan-pelan, biar mobil itu mengikuti kita ...." kata Jamil sambil menunjuk mobilnya.
"Oo, bawa mobil, to ...?" tanya tukang ojek itu.
"Betul, Pak .... Tapi saya bonceng Bapak saja ...." jawab Jamil yang sudah naik ke boncengan motor. Lantas Jamil memberi aba-aba pada Mas tarno untuk mengikutinya.
Mereka pun berjalan beriringan. Tentu tukang ojek itu berjalan perlahan agar mobil yang mengikuti tidak ketinggalan. Melintas di jalan kampung tidak boleh terlalu kencang. Apalagi jalannya juga kurang bagus. Banyak jeglongan yang bisa berbahaya bagi pengendara yang kurang hati-hati.
Tidak terlalu jauh. Hanya sebentar saja, tidak ada sepuluh menit, mereka sudah sampai di depan rumah kampung yang terbuat dari kayu. Rumah yang sangat besar dengan pelataran yang luas. Tukang ojek itu langsung masuk ke halaman rumah. Demikian pula Mas Tarno, yang ikut-ikutan memasukkan mobilnya di halaman yang luas itu.
"Ini rumahnya Irul ...." kata tukang ojek itu.
"Maturnuwun, Pak ...." kata Jamil yang kemudian memberikan ongkos ojeknya.
"Sami-sami ...." sahut tukang ojek itu yang langsung memutar kendaraannya dan tentu balik lagi ke pasar.
Belum sempat melangkah ke teras rumah, tiba-tiba dari dalam berlari gadis yang mengenakan daster. Tidak lain adalah Melian.
"Pak-e ..........!!!" Melian berteriak kencang dan menubruk Jamil. Memeluk erat bapaknya, tentu sambil menangis.
Juminem dan Cik Indra bergegas turun dari mobil. Juminem langsung menghampiri anaknya yang masih memeluk bapaknya. Juminem pun ikut memeluk Melian. Dan tentu juga menangis, karena saking senangnya.
Cik Indra berjalan setengan berlari, menuju teras rumah, dimana Irul dan ibunya terdiam berdiri menyaksikan anak dan kedua orang tuanya saling berpelukan dan menangis itu. Cik Indra langsung menemui Irul, dan tentu juga memeluknya.
Tentu Irul kaget. Dipeluk oleh gadis cantik, yang juga menangis di rebahan pundak Irul. Cik Indra juga sangat gembira bisa kembali bertemu dengan Irul.
Ibunya Irul bingung. Menyaksikan anaknya yang dipeluk oleh perempuan cantik seperti bidadari. Tapi naluri hati wanita seorang ibu, ia merasa, itulah gadis yang dicintai oleh anaknya.
"Eee .... Ayo masuk .... Kok malah peluk-pelukan di luar rumah ...." kata ibunya Irul pada para tamunya.
"Eh, iya ..., Ibu ...." Cik Indra kaget, sudah terbuai oleh pelukannya pada Irul. Lantas ia melepas pelukannya, sembari mengusap air matanya dengan ujung tangan, lantas menyalami ibunya Irul, sembari mencium tangan wanita tua itu. Demikian juga dengan Jamil, Juminem dan Melian. Yang kemudian masuk ke rumah keluarganya Irul.
"Mas Tarno .... Minta tolong yang di belakang, bawakan masuk, untuk ibunya Irul ...." kata Juminem yang menyuruh Mas Tarno mengambil oleh-oleh. Sangat banyak jumlahnya.
Di ruangan rumah itu, mereka benar-benar terlihat sangat bahagia. Bahagia yang tidak terukur bahagianya. Bahagia bisa kembali bertemu dengan anak dan orang tua. Juga bahagia menemukan cinta. Lantas mereka pun saling bercengkrama, tentu dengan kisahnya yang tidak bisa dinalar itu.
__ADS_1