
Pada masa krismon, memang yang namanya keuangan menjadi masalah yang sangat menyusahkan bagi kehidupan masyarakat. Tidak hanya masyarakat, tetapi juga bangsa dan negara. Bagaimana tidak, hutang negara semakin membengkak karena nilai tukar rupiah yang sangat jatuh terhadap nilai mata uang asing, khususnya dolar Amerika yang menjadi patokan nilai uang internasional. Tentu bangsa Indonesia keuangannya kocar-kacir, karena jika akan mengimpor barang kebutuhan, maka uang rupiah akan terkuras untuk membeli dolar. Sementara itu, kebutuhan-kebutuhan barang impor sangat mendesak. Itulah kelemahan bangsa yang didak bisa menyediakan atau memproduksi kebutuhan pokoknya secara mandiri. Ekonomi bangsa kita benar-benar terjajah oleh bangsa lain. Sementara itu, kita tidak sanggup mengekspor barang-barang produksi dalam negeri. Bahkan uang rupiah dianggap sampah, karena nilai tukarnya sangat-sangat kecil.
Kala itu, masyarakat benar-benar menderita. Apalagi bagi keluarga yang punya anak kecil. Gaji yang diterima habis untuk membelikan susu anaknya. Harga kebutuhan pokok terus melambung. Rakyat benar-benar menderita. Makanya, usaha-usaha non esensial, dagangan yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan pokok, tidak ada yang membeli, tidak laku di pasaran.
Demikian juga produk kerajinan dari kuningan, seperti yang dihasilkan oleh tempat usahanya Jamil. Siapa yang akan beli kuningan, sementara beras di dapur sudah habis, dan uang untuk menempur saja sudah tidak punya. Makanya, bagi karyawan yang sudah dewasa bahkan tua, lebih baik keluar dari tempat usaha tersebut dan dapat pesangon. Kalau bekerja di pengrajin kuningan itu, paling-paling tidak bayaran, karena barangnya tidak ada yang beli.
Setelah beberapa hari melakukan produksi, ternyata memang benar. Hasil produksinya tidak ada yang beli. Tidak ada yang pesan. Jamil mulai bingung memikirkan penghasilan yang diharapkan. Sementara itu, nanti di akhir pekan, ia harus membayar para karyawannya. Uang dari mana yang akan dipakai untuk membayar karyawannya? Padahal di rumah sudah tidak punya uang lagi. Tabungan anaknya, simpanan istrinya, semua sudah dipakai untuk nomboki pesangon karyawan.
"Ini benar-benar susah ...." gerutu Jamil yang meratapi nasibnya.
"Pak Jamil ...." tiba-tiba seorang karyawan laki-laki muda yang bernama Soleh itu menyapa Jamil.
Tentu Jamil yang sedang bingung itu menjadi kaget. Lantas ia menoleh pada anak muda itu.
"Ya, ada apa, Mas Soleh ...?" tanya Jamil.
"Anu, Pak .... Saya mau bilang ...." kata karyawannya itu.
"Bilang apa, ya ...?" tanya Jamil penuh tanda tanya.
"Pak ..., kemarin saya ketemu teman saya yang bekerja di Jepara. Dia bekerja di tempat ukir-ukiran. Kami ngobrol lama, Pak ...." kata si Soleh.
"Lantas ...?" tanya Jamil yang penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh karyawannya itu.
"Anu, Pak .... Tempat usaha mereka juga sama seperti tempat kita. Banyak karyawan yang di PHK. Juragannya bangkrut." cerita si Soleh.
"Lantas ..., apakah tempat usahanya langsung ditutup?" tanya Jamil yang ingin tahu solusinya.
"Sama seperti di sini, Pak .... Beberapa orang yang tidak mau bekerja langsung keluar. Malah tidak diberi pesangon kok, Pak." kata Soleh menceritakan tempat kerja temannya.
"Terus, ada yang tetap kerja?" tanya Jamil lagi.
"Ada, Pak .... Ya, termasuk teman saya itu .... Dia masih kerja di situ." jawab Soleh.
"Lantas, mbayarnya bagaimana?" tanya Jamil yang penasaran cara mendapatkan uang untuk membayar karyawannya.
"Lha, ini Pak ..., yang ingin saya sampaikan ke Pak Jamil .... Jadi pada awalnya memang pengusaha ukir-ukiran itu itu sambat tidak punya uang untuk membayar karyawannya. Bahkan awalnya mau ditutup tempat usahanya. Tetapi suatu ketika, ada orang asing datang ke tempat itu, membeli ukir-ukiran. Dan ternyata Bule itu beli banyak dan dengan harga yang mahal. Otomatis juragan ukiran itu mendadak kaya raya. Bahkan karyawan yang di PHK itu disuruh kerja lagi." kata Soleh yang menyampaikan cerita temannya.
Jamil terdiam, membayangkan apa yang diceritakan oleh karyawannya itu.
Memang, secara logika nilai uang rupiah sedang jatuh. Maka kalau yang beli itu menggunakan nilai mata uang asing yang lebih tinggi, misalnya saja menggunakan dolar, maka dengan sedikit uang dolar bisa dipakai memborong mebel atau kerajinan-kerajinan dari Jepara. Tetapi sebaliknya, ketika pengrajin mebel ini menerima uang dolar, saat ditukar rupiah jumlahnya akan sangat besar.
Ya, Jamil langsung terinspirasi oleh cerita karyawannya itu.
"Mas Soleh .... Apakah bisa kita ketemu bos ukir Jepara itu? Atau setidaknya ketemu teman kamu yang bekerja di kerajinan ukir Jepara itu?" tanya Jamil pada Soleh, yang tentu ada harapan baru di pikirannya.
"Bisa, Pak .... Makanya ini saya sampaikan ke Pak Jamil, siapa tahu Bapak ingin mencoba bertanya ke sana ...." kata Soleh.
"Kalau begitu, sekarang kita ke Jepara. Kita menemui pengusaha kerajinan ukir itu." kata Jamil yang langsung bersemangat.
"Siap, Pak ...." jawab Soleh.
"Tolong Mbak Ika disuruh menyiapkan sample barang, semua jenis kerajinan. Terus, Mas Tarno suruh menyiapkan mobil box untuk membawa barang." kata Jamil menyuruh karyawannya bergegas mempersiapkan barang yang nanti mungkin bisa ditawarkan di Jepara.
Hari itu menjadi harapan bagi Jamil. Ia bersama Mas Tarno yang menyetir mobil box serta didampingi Soleh yang kenal dan tahu dengan tempat kerja temannya yang membuat kerajinan ukir-ukiran dari kayu.
__ADS_1
Mobil box itu melaju dari Juwana menuju kota ukir, Jepara. Tidak begitu jauh. Hanya melintas Kota Kudus sebentar, sudah sampai di Kota Jepara.
"Terus saja, Mas Tarno .... Sampai nanti ada gapura besar. Tempatnya dekat situ." kata Soleh memberi petunjuk kepada orang yang meyopir.
"Siaap ...." sahut Mas Tarno.
Dan benar, tidak begitu lama Mas Tarno yang menyetir mobil box sudah sampai di tempat gapura besar, yang menunjukkan kalau mereka sudah akan masuk ke Kota Jepara. Di kanan kiri sudah terlihat barang-barang ukiran dari kayu jati. Sangat banyak dan beraneka ragam. Tidak hanya mebel. Bukan sekadar meja kursi dan lemari. Tetapi banyak hiasan-hiasan dinding yang terbuat dari ukir-ukiran kayu. Bahkan ada juga pernak-pernih yang terbuat dari kayu dengan ukir-ukiran yang menarik. Yah, itulah kreativitas para pekerja yang memiliki ide-ide menarik.
Jamil yang menyaksikan pemandangan itu langsung terkesima. Tentu pikirannya langsung melayang jauh ke awang-awang. Memang tidak begitu jauh berbeda dengan kerajinan kuningan. Itu berarti memang tempat usaha Jamil harus mengembangkan berbagai produk yang menarik. Ternyata selama ini kerajinan yang dihasilkan sudah sangat ketinggalan perkembangan zaman.
"Berhenti ke pinggir sebentar, Mas Tarno .... Saya mau tanya tempat kerjanya teman saya ...." kata Soleh pada Mas Tarno.
"Oke ..., Leh ...." sahut Mas Tarno yang langsung meminggirkan mobil box-nya, kebetulan berada di depan tempat kerajinan ukir.
Soleh langsung turun dari mobil. Ia langsung menuju ke orang yang berada di tempat berjualan ukir-ukiran tersebut. Tentu akan bertanya kepada orang yang ada di situ.
Jamil ikut turun. Tetapi ia lebih ingin untuk menyaksikan berbagai macam ukir-ukiran. Ia sangat tertarik dengan keindahannya. Itulah yang terkenal dari Jepara, kerajinan ukiran kayu jati.
"Pak ..., teman saya kerja di sini .... Ini orangnya ...." kata Soleh memberi tahu ke Jamil, sambil mengajak temannya yang diceritakan tadi, tentu masih gluprut pakaiannya kotor oleh serpihan kayu dari ukiran.
"O, ya .... Sebentar, Mas Tarno saya suruh memarkirkan mobilnya." sahut Jamil yang langsung menyuruh Tarno untuk memarkirkan mobilnya di tempat yang baik.
Lantas Jamil menyalami teman Soleh. Berkenalan.
"Saya, Jamil .... Kamu teman Soleh ya? Siapa namumu?" tanya Jamil sembari menyalami anak muda itu.
"Kamal, Pak .... Kemarin Soleh sudah banyak cerita ke saya tentang Pak Jamil dan tempat usahanya ...." sahut anak muda tukang ukir itu.
"Apakah saya bisa ketemu Bos kamu?" tanya Jamil.
Jamil mengikuti anak muda itu, jalan di belakangnya, menuju ke tempat bosnya berada. Tentu mata Jamil juga melirik barang-barang ukiran yang dilintasinya. Benda-benda yang sangat indah dan eksotis.
"Ini, Pak Jamil .... Itu Bos saya ...." kata Kamal yang menunjukkan bosnya, yang sedang mengatur dan tentu mengawasi para pekerja.
"O, ya .... Terima kasih ya, Mas Kamal ...." kata Jamil yang tentu kaget saat melihat bos ukir-ukiran itu masih sangat muda.
"Pak ..., ada tamu mencari Bapak .... Pak Jamil ingin ketemu Bapak ...." Kamal menyampaikan kepada bos-nya.
"Ya ...." sahut bos ukiran tersebut, yang langsung melangkah menemui Jamil.
Jamil langsung mengulurkan tangannya, menyalami bos ukir tersebut, tentu sambil menyebut namanya untuk berkenalan dengan bos ukir itu.
"Mari, silakan duduk di ruang saya. Di depan ...." ajak bos ukir tersebut, yang mengajak Jamil ke ruang di belakang kasir penunggu dagangan.
Setelah mereka duduk di ruang juragan ukir itu, yang biasa digunakan untuk menerima tamu para pemesan maupun para pembeli partai besar, mereka pun mengobrol. Tentu yang pertama disampaikan oleh Jamil adalah masalah cerita yang tadi pagi disampaikan oleh Soleh. Tentang ukir-ukiran yang justru dibeli oleh orang-orang asing. Jamil juga mempersoalkan krismon yang telah menghancurkan usahanya. Oleh sebab itulah, ia datang menemui bos ukir tersebut, ingin tahu atau setidaknya ingin belajar bagaimana solusinya.
"Walah ..., itu hanya kebetulan .... Waktu ada orang bule datang kemari, ia melihat-lihat dan tertarik dengan kerajinan yang ada di tempat kami ini. Mungkin karena merasa harganya murah, maka ia langsung memborong. Lumayan untuk pemasukan keuangan kami. Dan tentu harganya walau saya naikkan, tidak ada tawar menawar." begitu cerita bos ukir tersebut.
"Makanya, Mas Bos ..., saya itu ingin menawarkan barang-barang kerajinan kuningan, hasil produksi tempat kami. Terus terang saya bingung cari solusi pemasaran. Kalau di Jepara masih banyak turis asing yang datang, lha tempat kami .... Jangankan turis asing, turis lokal saja tidak ada yang mau berkunjung .... Hahaha ...." kata Jamil membeberkan nasibnya.
"Itu nasib-nasiban .... Rezeki itu yang mengatur Tuhan .... Kalau memang Tuhan menghendaki mengucurkan rezeki kepada kita, jangankan di tempatnya Pak Jamil .... Lha orang yang tinggal di kolong jembatan saja bisa diberi." kata bos ukir yang masih muda tersebut.
"Iya ..., tapi kalau kita tidak berusaha, bagaimana mungkin Tuhan mau memberi rezeki kepada kita ...." sahut Jamil menegaskan.
"Betul, Pak Jamil .... Orang malas jauh dari rezeki .... Tapi anehnya, kok ya masih banyak orang yang malas-malasan .... Hahaha ...." sahut bos ukir.
__ADS_1
Dua orang itu langsung terlihat sangat akrab. Tentu memiliki tipe atau sikap yang mirip. Hingga suasana terlihat menyenangkan. Hingga akhirnya Jamil menyampaikan niatnya, dan meminta Soleh serta Tarno untuk mengambilkan barang-barangnya.
"Ini saya membawa contoh barang-barang produk tempat saya." Jamil menunjukkan barang-barangnya yang sudah ditaruh diatas meja.
"Wao .... Ini bagus-bagus, Pak Jamil ...." kata bos ukir yang langsung terpesona dengan hasil kerajinan kuningan milik Jamil. Kerajinan hiasan yang sangat indah.
Pada saat mereka masih berbincang, tiba-tiba ada perempuan muda yang menjaga dagangan itu masuk ke ruang bosnya.
"Pak, ada tamu .... Bule yang kemarin itu mengajak teman bule lain ...." kata perempuan itu.
"Ya ..., alhamdulillah .... Rezeki lagi ini .... Hehe .... Suruh masuk sini ...." kata bos ukir itu pada karyawannya.
"Iya, Pak ...." perempuan itu langsung meninggalkan ruang, untuk menyuruh masuk para tamu asing tadi.
Jamil tentu senang. Harapannya para bule yang baru datang itu akan tertarik dengan hasil kerajinannya. Maka ia tetap membiarkan barang-barang itu masih terbuka dan menggeletak di meja bos ukir tersebut. Yang pasti sengaja agar dilihat oleh para bule yang datang.
Tiga orang bule itu masuk ke ruang pemilik ukiran. Langsung disambut oleh bos ukir. Tentu dengan menggunakan bahasa asing. Jamil tidak paham arti kata-kata pembicaraannya. Tetapi bos ukir itu sudah sangat fasih berbahasa Inggris. Bisa berkomunikasi secara baik dengan orang-orang asing tersebut.
Bagi Jamil, ini suatu kekurangan yang sangat memalukan. Bagaimana nanti ia bisa memasarkan kepada para bule itu, kalau diajak ngomong saja tidak mudeng? Dan berkali-kali bule-bule itu menunjuk kerajinan kuningan milik Jamil, bahkan mengangkat dan mengamati secara seksama. Lantas bule itu tersenyum dan menanyakan kepada Jamil, tetapi Jamil benar-benar tidak tahu maksudnya, tidak tahu apa yang dibicarakannya. Maka ia hanya mengangguk dan balas tersenyum.
"Pak Jamil ..., tamu-tamu ini bertanya, barang-barang ini harganya berapaan ...?" kata bos ukir itu yang langsung menyampaikan maksud para bule kepada Jamil.
Dada Jamil langsung bergetar. Jantungnya berdetak kencang. Perasaannya tidak karuan. Tentu karena barangnya sudah ditanyakan harga oleh tamu-tamu pembeli dari manca negara tersebut. Lantas Jamil menyampaikan kepada bos ukir tersebut, harga-haraga dari barang yang dibawanya itu.
Selanjutnya, bos ukir yang mahir berbahasa inggris tersebut menyampaikan harga-harga yang dikatakan Jamil kepada para pelanggannya itu.
Pembeli asing itu semakin seksama mengamati barang-barang kerajinan dari kuningan milik Jamil. Pasti mereka tertarik.
"Is there still a lot of stuff?" kata pembeli asing itu.
"Ini apa artinya, Mas Bos ...?" tanya Jamil kepada bos ukir, tentu dengan rasa gemetar.
"Dia tanya, barang-barang kerajinan kuningan ini masih banyak apa tidak ...?" bos ukir itu menjelaskan artinya.
"O, tentu .... Sangat banyak .... Di toko masih ada sangat banyak, dan jenisnya juga macam-macam." jawab Jamil menggebu.
Lalu bos ukir itu menjelaskan kepada para tamu asing tersebut. Dan rupanya, para pelanggan ukiran itu juga tertarik akan membeli barang-barang kerajinan kuningan milik Jamil. Namun tentu akan memilih barang-barang yang bagus dan mempunyai nilai karya seni yang indah.
"Pak Jamil .... Para pelanggan asing ini ingin membeli kerajinan kuningan, tapi barangnya bagaimana cara memilihnya?" kata bos ukir itu menjelaskan kepada Jamil.
"Kalau disuruh ke tempat usaha saya bagaimana, Mas Bos ...? Kita ajak ke Juwana." jawab Jamil.
"Lha Pak Jamil tidak bisa bahasa Inggris, nanti ngomongnya bagaimana?" tanya bos ukir.
"Lha, itu .... Kalau Mas Bos ikut ke Juwana, ke tempat saya bagaimana? Nanti soal tranport saya kasih." kata Jamil.
"Masalahnya bukan transportnya ..., tapi saya juga harus menjaga tempat saya .... Lha nanti kalau ada orang asing datang ke sini lagi, siapa yang akan meladeni?" jawab bos ukir tersebut yang tentu keberatan kalau diajak pergi.
'Waduh ..., bagaimana, ya ....?" Jamil mulai bingung.
"Begini saja ..., ajak saja tamu asing itu ke tempatnya Pak Jamil. Nanti Pak Jamil minta tolong guru bahasa Inggris di sekolah dekat rumah, untuk disuruh mengartikan. Para tamu ini disuruh memilih sendiri, lantas harganya ditulis, ditempelkan pada barang-barangnya. Nanti kalau ada apa-apa yang ditanyakan oleh para tamu itu, biar dibantu oleh guru bahasa Inggris. Begitu, Pak Jamil." kata bos ukir itu memberi solusi.
"Benar juga .... Setuju Mas Bos .... Saya bersedia. Tolong sampaikan kepada para pembeli asing itu." kata Jamil yang tentu sangat gembira.
Lantas bos ukir itu menjelaskan kepada para tamu asing pelanggannya tersebut. Ternyata orang-orang asing itu setuju. Tidak menolak, bahkan langsung mengajak berangkat untuk melihat barang-barang kerajinan kuningan milik Jamil. Pasti barang-barang kerajinan kuningan milik Jamil akan diborong oleh orang-orang asing tersebut.
__ADS_1
Sungguh rezeki yang tidak disangka. Jika Tuhan sudah mengucurkan rezeki, jumlahnya tidak bisa dihitung lagi. Bahkan mungkin tempatnya sudah tidak muat untuk menyimpan.