
Masyarakat tentu percaya kalau rumah Babah Ho itu dibilang angker. Bahkan banyak yang mengatakan kalau rumah itu banyak hantunya. Makanya, saat Jamil mengatakan akan merenovasi rumah itu, akan memperbaiki bangunan yang lama tidak ditempati itu, dan mencari tukang dari Kampung Gedongmulyo tersebut, tidak ada seorang pun yang mau atau sanggup. Katanya takut kalau nanti diganggu oleh hantu atau memedi yang menghuni rumah itu. Makanya, Jamil membawa tukang dari Kampung Naga, yang tidak tahu cerita-cerita menakutkan di rumah itu.
Maka ketika ada tiga orang tukang yang bekerja memperbaiki rumah itu, yang katanya dibayar mahal oleh pemiliknya, tentu orang-orang Kampung Gedongmulyo, khususnya para tukang di derah itu, menjadi iri. Dan kenyataannya, tiga orang yang bekerja di rumah itu, tidak mengalami apa-apa. Tidak ada yang mengganggu dan tidak ada hantu yang menakut-nakuti.
Meskipun banyak yang bercerita kepada para tukang itu kalau rumah itu angker, bahkan juga banyak yang menceritakan kejadian-kejadian di rumah itu, toh kenyataannya tiga orang tukang itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang menakut-takuti. Tidak ada yang mengganggu mereka.
"Pak ..., Sampean itu tidur di rumahnya Babah Ho, kerja di situ berhari-hari, bahkan lembur sampai larut malam, apa tidak diganggu sama hantu penunggu rumah itu ...?" tanya salah seorang pemuda yang pagi itu makan bersama di warung penjual sarapan yang tidak jauh dari rumah Babah Ho.
"Ala, Mas .... Asal kita baik-baik, tidak mengganggu mereka ..., mereka pun juga tidak bakal mengganggu kita. Yang penting kita itu berserah pada Yang Maha Pencipta .... Kan mereka punya alam sendiri di luar dunia kita ...." jawab tukang yang paling tua.
Jawaban itu tentu membuat penasaran bagi pemuda yang bertanya. Koh berani betul para tukang ini.
"Kami ini kerja kan nyari rezeki .... Jika bayarannya memadai, dan tentunya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup ..., yah, mau apa lagi. Zaman begini nyari kerjaan susah, Mas ...." sahut tukang yang satunya lagi. "Memang, Bapak-bapak ini kerja nukang di situ, dibayar berapa?" tanya pemuda itu lagi.
"Yah ..., lumayan .... Nanti kalau sudah selesai dalam waktu satu minggu, masing-masing kami dibayar satu jutaan bersih. Makan dan minum ada sendiri. Kalau misalnya satu minggu ini belum selesai, kami akan dibayar lagi." sahut tukang yang paling tua.
"Hah ...?! Besar sekali bayarannya ...?!" tentu si pemuda itu kaget mendengar besarnya bayaran orang itu.
"Alhamdulillah ..., saya syukuri, Mas ...."
Tahun itu, 2005, bayaran tukang satu minggu sampai satu juta itu sudah terlalu mahal. Gaji pegawai satu bulan saja hanya setengah juta satu bulan. Dan tukang atau kuli bangunan di daerah Rembang dan Lasem, bayaran hariannya paling tinggi lima puluh ribu. Kalau seminggu enam hari kerja terus, baru dapat bayaran tiga ratus ribu. Itu tukangnya. Berbeda lagi dengan kuli, yang paling-paling dibayar dua puluh lima ribu tiap harinya. Itu kerja dari pagi hingga sore tanpa makan minum.
Kali ini, ketika ia mendengar kalau tukang-tukang itu dibayar hingga satu juta per minggu, pasti sangat tergiur dan iri pada tukang-tukang itu. Pantas tukang itu mau bekerja di situ. Dia menyesal, kenapa dulu waktu ditawari memperbaiki rumah itu tidak mau? Bahkan teman-temannya yang juga berprofesi sebagai tukang juga tidak ada yang mau. Katanya rumah itu angker. Nyatanya tukang-tukang yang merenovasi juga tidak terjadi apa-apa. Maka diam-diam ia ingin mencari cara bagaimana agar dirinya bisa bekerja di tempat itu. Tentu karena tergiur dengan bayarannya yang sangat tinggi itu.
Setelah selesai sarapan, dan mungkin berangkat kerja, tentu pemuda itu menceritakan soal bayaran tukang-tukang yang memperbaiki rumah Babah Ho. Pekerjaannya paling hanya mengecat, bersih-bersih dan tambal sulam tembok yang gempil. Tetapi bayarannya sangat besar.
Mendengar hal itu, tentu teman-temannya juga kaget dan heran. Masak bayaran tukang sampai sebesar itu. Tiga kali lipat dengan tukang-tukang di kampungnya. Pasti mereka jadi pada ngiri. Tentunya mereka langsung kepingin kerja di tempat itu.
"Bagaimana kalau kita ikut kerja di tempat itu ...?" usul salah satu dari pemuda-pemuda itu.
"Walah, ya ndak mungkin .... Lha wong sudah dikerjakan oleh orang-orang dari Juwana itu ...." saut temannya.
__ADS_1
"Lha, dulu waktu ditawari disuruh memperbaiki rumahnya Babah Ho tidak ada yang mau .... Kemarin itu sampai Pak Kades nawar-nawari siapa yang mau kerja di situ, semuanya menolak. Sekarang pengin kerja di situ .... Gimana kalian itu ...?" teman yang satunya meledek teman-temannya.
"Ya ..., waktu itu kan kita belum tahu bayarannya .... Tapi begitu tahu kalau dibayar setinggi itu, ya tentu bikin ngiler, co ....." kata teman yang lain lagi.
Tentu jika mendengar bayaran tukang bangunan yang setinggi itu, yang mengalahkan bayarannya pegawai negeri, tukang-tukang maupun kuli dari kampung itu langsung tergiur. Lantas mereka pun saling mengungkapkan ingin ikut bekerja di situ. Tetapi tentu tidak mungkin kalau para pekerja dari Juwana itu masih bekerja di situ. Maka mereka pun mencari cara, agar tukang-tukang dari Juwana itu tidak betah bekerja di rumah itu.
Dan mereka pun bersepakat untuk melancarkan aksi teror agar para tukang itu tidak betah bekerja di rumah Babah Ho. Ya, beberapa orang kampung akan menakut-takuti para pekerja itu.
Benar seperti yang diduga oleh orang-orang kampung yang berniat jahat tersebut. Tiga orang tukang yang memperbaiki rumah Babah Ho, setiap malam pasti nglembur, menggarap pekerjaan yang bisa dilakukan malam hari. Kebetulan, malam itu para tukang bekerja memasang paving di halaman rumah. Tentu dengan ditambahi lampu penerangan. Sejak sore lampu itu sudah dipasang di halaman. Sehingga halaman itu terlihat terang benderang. Tetapi dasarnya pekerja yang rajin, kalau bekerja pasti fokus dengan garapannya.
Malam itu, di setiap pojok rumah Babah Ho, di pojok belakang rumah dan di sudut luar pagar rumah, ada penampakan-penampakan yang muncul di sana. Ada perwujudan yang terbalut kain putih yang bergerak-gerak. Layaknya sebagai memedi pocong. Itu adalah pekerjaan orang-orang kampung yang ingin menakut-takuti para tukang yang masih nglembur memperbaiki rumah Babah Ho tersebut. Ya, mereka mengenakan kain kafan yang biasa digunakan untuk membalut jenazah, kini digunakan untuk membungkus tubuhnya, layaknya seperti mayat. Ada hidup yang meloncat-loncat kian kemari di pojok-pojok rumah Babah Ho. Tentu mereka ingin menakut-takuti para tukang agar lari dan tidak berani bekerja di rumah itu lagi.
Di jalan yang menuju ke rumah Babah Ho, sudah ada yang mencegat orang lewat. Tujuannya, agar orang-orang kampung tidak lewat di depan rumah Babah Ho. Sebab kalau ada orang yang lewat situ, dikhawatirkan justru rahasia mereka akan terbongkar. Bukan para tukang yang bekerja lembur di rumah Babah Ho yang lari ketakutan, tetapi justru para warga masyarakat yang melihat pocong akan menjerit-jerit ketakutan. Makanya dicegat agar tidak sampai diketahui warga.
Beberapa saat lamanya pocong-pocong yang ada di pojok belakang dan di pojok depan, sudah bergerak-gerak, meloncat-loncat layaknya hantu pocong. Tentu agar tiga orang tukang yang sedang melembur pasang paving itu melihat pocong yang menakut-takutinya. Tapi cukup lama, para tukang itu tidak juga melihat pocong-pocong itu. Entah tidak melihat atau memang tidak takut dengan memedi pocong. Padahal para pocong itu sudah berusaha untuk menampakkan kepada para tukang itu. Tapi kok tidak bereaksi sama sekali.
Maka, pocong itu terpaksa harus mulai mendekat ke tempat para tukang yang sedang melembur. Tentunya agar tukang-tukang itu melihatnya. Empat pocong mayat hidup dari empat arah, mencolot melompat mendekati tiga orang yang sedang memasang paving.
"Tolooooooong ..........!!"
"Ada hantuuuuu ..........!!!"
"Lariiiiiii .........!!!"
Pocong jadi-jadian itu pencolotan tidak karuan, seperti anak-anak yang ikut lomba balap karung saat perayaan tujuh belasan. Meraka kabur kalang kabut meninggalkan halaman rumah Babah Ho itu. Bahkan ada yang jatuh berguling-guling. Dan ada pula yang terubujur diam tak bergerak di halaman yang sedang dipasangi paving tersebut.
Tentu tiga orang tukang itu bingung saat menyaksikan orang-orang yang tubuhnya dibungkus kain putih itu pada berteriak ketakutan. Tentunya para tukang itu juga kaget, karena pakaian yang dikenakan oleh orang yang menjerit-jerit itu layaknya mayat yang dipocong.
Para warga yang mendengar jeritan orang minta tolong itu langsung berlarian keluar. Tentunya ingin tahu apa yang terjadi di jalan depan rumah Babah Ho tersebut, kok ramai pada menjerit ada hantu. Tentunya teman-teman dari orang yang menjadi pocong lari duluan untuk menolong temannya. Maka jalanan di depan rumah Babah Ho langsung penuh orang.
"Ada apa ....?!"
__ADS_1
"Kenapa ...?!"
"Mana hantunya ...?!"
Orang-orang yang sudah sampai di tempat itu langsung menanyai mereka. Dan pasti, tiga orang tukang yang nglembur pasan paving itu sudah beranjak menolong orang yang terbalut kain kafan, dan tergeletak di halaman rumah, dekat dengan pintu keluar. Kurang sedikit sudah akan keluar halaman.
"Ini ..., hantunya ada yang tergeletak satu di sini ...!" kata tukang yang sudah ada di tempat pocong yang tergeletak.
"Ooo .... Jadi ini to, hantunya .... Yang sering nakut-nakuti penduduk .... Ealah ...." kata orang-orang yang juga sudah mendekati pocong jadi-jadian yang menggeletak pingsan itu.
"Sama mereka ini .... Tiga orang yang masih diselimuti kain kafan ini ...!" teriak yang lain.
"Siapa itu yang pura-pura jadi pocong ...?!" tentu banyak yang ingin tahu pocongnya.
"Lha, wis .... digiring ke rumah Pak Kades saja .... Biar diberi hukuman .... Senangnya kok nakut-nakuti orang ...." sahut yang lain.
"Lhah ..., pocong yang ini pingsan tidak bergerak, bagaimana ...?!" tanya yang lain, yang tentu sudah jongkok di dekat pocong itu.
Para tukang yang lembur, yang kebetulan sudah berada di tempat pocong yang terkapar iti, mencoba membuka kainnya, kemudian melihat wajahnya. Ternyata, orang itu adalah laki-laki yang tadi pagi sarapan bersama dengannya di bakul sarapan itu. Pantas, laki-laki itu kelihatan aneh saat ngobrol di warung sarapan.
"Sudah ..., digotong saja .... Teman-temannya ini disuruh menggotong pocong yang koit ...! Pocong kok pingsan ...." kata laki-laki yang menyuruh tiga pocong lainnya itu menggotong temannya.
"Pakaian pocongnya tetap dikenakan ..., jangan di lepas .... Biar masyarakat semua tahu, kalau pocongnya sedang diarak ...." usul yang lain.
"Ya benar ...!! Arak-arakan pocong menggotong pocong ...!" sahut yang lainnya.
Akhirnya, malam itu, terjadi arak-arakan warga yang mengiring tiga pocong yang memanggul pocong lainnya. Ada yang membawa kentongan, ada yang memukuli kaleng-kaleng bekas, ada yang membawa obor, ada pula yang menyalakan lampu petromak. Ramai sekali. Tentu sambil berteriak-teriak, kalau mereka sudah berhasil menangkap pocong.
*******
Pagi hari, saat orang-orang terbangun dari tidur, tersiar kabar kalau salah satu pocong yang tertangkap tadi malam, yaitu pocong yang saat itu pingsan, akhirnya orang itu benar-benar harus menjadi pocong yang sesungguhnya. Orang itu meninggal dunia di kamarnya, dengantubuh yang terbalut kain kafan yang digunakan untuk menakut-takuti tadi malam. Rupanya kain kafan itu tidak bisa dilepaskan dari tubauh pemakainya. Sang pocong meninggal dunia.
__ADS_1
Tentu berita kematian pemuda yang menakut-takuti orang dengan menjadi pocong itu, langsung tersebar ke seluruh kampung, bahkan sampai keluar daerah. Banyak orang yang menyokorkan. Tetapi ada pula yang merasa kasihan.