
Keanehan gelang giok yang dikenakan oleh Melian, ternyata tidak berhenti di hari itu. Malam hari saat ia beranjak tidur, cahaya hijau yang keluar dari gelang giok itu kembali muncul. Lagi-lagi Melian langsung menutup lengannya dengan selimut tidurnya. Tetapi malam ini ia tidak sekadar menutup lengan yang mengenakan gelang giok saja, melainkan menutup seluruh tubuhnya. Selimut itu sudah membungkus dari kaki hingga kepala. Lantas Melian mengamati gelangnya yang masih memendarkan cahaya ibarat kunang-kunang itu di dalam selimut. Tujuannya, kalau Putri terbangun, tidak tahu atau tidak melihat apa yang terjadi dengan gelangnya.
Nah, kini Melian bisa leluasa mengamati gelang giok yang menyala itu dengan tutupan selimut. Melian mengamati secara seksama gelang yang melingkar di lengannya itu, yang kini sudah berubah menjadi naga mini yang hidup. Meski ini untuk yang kedua kali ia menyaksikan hal itu, tetapi Melian sungguh-sungguh heran dengan keajaiban itu.
"Ach ....!" Melian terkejut. Hampir saja ia berteriak. Tetapi ia segera menutup mulutnya, khawatir nanti akan membangunkan Putri.
Dan kini, Melian benar-benar heran dengan keanehan yang terjadi pada gelangnya itu. Giok berukir naga yang hidup itu, tiba-tiba saja melompat dari lingkaran pergelangan lengan Melian. Gelang giok itu sudah terlepas dari lengan Melian, dan berubah menjadi naga kecil berwarna hijau, melompat-lompat di sela tubuh Melian. Lantas naga kecil itu langsung ndusel, masuk diantara ketiak dan dada Melian yang sebelah kiri, sambil menggesek-gesekkan tubuhnya, seakan minta dipeluk agar hangat. Seperti kucing yang minta dikeloni pemiliknya.
Awalnya tentu Melian sangat ketakutan. Namun ternyata naga kecil itu sangat jinak. Berbaring diantara lengan dan tubuh Melian, seperti layaknya bayi kecil. Dan perlahan, pendaran cahaya berwarna hijau itu mulai padam. Hanya ada naga kecil seperti mainan anak-anak yang menggemaskan. Semacam boneka naga yang berwarna hijau.
Mata naga itu memandangi Melian terus menerus. Dengan mimik dan wajah sedih. Seakan naga itu sedang mengalami duka lara.
Melian merasa kasihan menyaksikan naga kecil itu. Lantas tangan kiri Melian mulai mendekap tubuh naga itu, yang lembut dan empuk. Awalnya takut dan geli. Namun akhirnya senang bisa memeluk naga itu ibarat seperti memeluk boneka. Sedangkan tangan kanannya mengelus-elus, membelai-belai kepala naga. Perlahan mata naga yang menatapnya terus-terusan mulai terpejam. Lama-kelamaan, Melian pun ikut tertidur.
"Melian .......!! Sudah siang ....! Ayo bangun ...!" terdengar teriakan Putri membangunkan dirinya.
"Ehhhhh ......" Melian mendesah, sambil menggeliatkan badannya. Tetapi belum juga bangun.
"Tumben kamu bangun kesiangan, Mel .... Ayo bangun .... Ini lho ..., sudah ada roti bakar sama jus jeruk." kata Putri yang sudah gantian menyediakan sarapan roti bakar.
"Iya .... Terima kasih, Putri ...." sahut Melian yang masih malas-malasan, dan belum membuka selimutnya.
"Kok selimutnya sampai menutup seluruh tubuh itu, lho .... Memang kedinginan?" kata Putri yang sudah berada di samping Melian dan mencoba membuka selimtnya.
"Eh ..., eh ..., jangan buka Put ...!" sergah Melian yang saat merasa selimutnya akan ditarik oleh temannya itu, langsung dipertahankan. Ia khawatir Putri akan tahu rahasia yang dia sembunyikan. Melian langsung melihat naga kecil yang semalam tidur dalam pelukannya. Ternyata sudah tidak ada. Lantas ia meraba lengan kirinya, gelang giok itu sudah kembali di pergelangannya.
Tenang hati Melian, karena rahasianya tidak bakal diketahui oleh temannya. Lantas Melian membuka selimutnya, dan bangun dari tempat tidurnya. Dan tentu langsung duduk di kursi dan mengambil roti bakar yang sudah disediakan oleh Putri.
"Tumben bangunmu kesiangan, Mel ...?" kata Putri yang juga duduk di kursi yang biasa dipakai belajar itu.
"Semalam nglembur bikin tugas .... Jadinya, ya ngantuk ...." jawab Melian.
"Pagi ini tidak kuliah ...?" tanya Putri lagi.
__ADS_1
"Nanti siang .... Putri kuliah pagi?" jawab Melian yang langsung balik bertanya.
"Iya .... Ada kuliah jam delapan sampai jam sepuluh, terus dilanjut dengan kuliahnya Pak Profesor jam sepuluh sampai jam dua belas .... Mantap, kan ...." jawab Putri.
"Ya sudah sana, segera mandi .... Nanti terlambat malah kena hukuman tahu rasa lo ...." kata Melian yang menyuruh Putri untuk segera mandi.
"Oke, siap ..., kawan ...!" sahut Putri yang langsung menuju ke kamar mandi.
Setelah Putri masuk ke kamar madi, Melian langsung mengamati gelang gioknya. Benda yang sudah menakuti dan mengkhawatirkan semalam itu, dan akhirnya dipeluk dalam tidurnya. Tangan kirinya yang terdapat gelang giok itu diangkat ke depan dadanya. Lantas Melian mengamati gelang yang melingkar di lengannya itu secara seksama. Diputar-putar lengannya untuk bisa melihat gelang itu dari berbagai arah. Nampak tak ada yang aneh sedikitpun dengan gelang yang dikenakan itu. Lantas jemari tangan kanannya memegangi gelangnya dan memutar-mutar. Terus diamati. Tidak ada keanehan yang terjadi di situ. Masih saja tetap sama dengan gelang yang ia kenakan selama ini.
"Huhuhhh .... Segarnya .... Mandi pagi dengan air dingin terasa menyegarkan, Mel ...." kata Putri yang keluar dari kamar mandi, hanya pinjungan handuk. Maklum kamar asrama cewek.
"Dandan yang cantik .... Siapa tahu nanti ditaksir sama Pak Profesor .... Hehehe ...." Melian meledek temannya.
"Enakan dipinang pengusaha kaya raya, Mel .... Tinggal menikmati kekayaannya .... Hehehe ...." Putri membalas candaan Melian, sambil berganti pakaian. Tentu Putri mengenakan pakaian yang cantik. Seperti biasanya, mahasiswi akan menjadi pusat perhatian bagi teman-teman cowoknya, atau kakak-kakak tingkatnya. Setidaknya terlihat cantik dan menarik. Tetapi memang dasarnya Putri anak Manado, yang dianugrahi kecantikan yang sempurna. Meski hanya dandan biasa saja sudah terlihat cantik.
"Mel, aku berangkat dulu, ya ...." kata Putri yang sudah selesai berdandan dan langsung mengangkat tasnya, berpamitan akan berangkat kuliah.
"Ya .... Hati-hati ...." jawab Melian yang melepas keberangkatan temannya, keluar dari kamar. Lantas Melian menutup kembali pintu kamarnya.
"Ups .... Sudah hampir jam sebelas siang." Melian langsung mematikan laptopnya, dan mandi.
"Byur ..., byur ..., byur ...." tidak lama Melian mandi. Walau cepat, tetap menjaga kebersihan. Bersih seluruh tubuh dan tentu sangat segar. Keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos oblong dan celana kulot. Seperti kebiasaanya yang terasa nyaman dan enak.
"Ting ..., tuling .. ting tung ting ting .... Ting ..., tuling .. ting tung ting ting ...." HP Melian berdering.
Melian langsung menengok nama pemanggil di HP-nya. Ternyata yang menelepon adalah bapaknya. Pasti Melian agak heran, tidak seperti biasanya bapaknya telepon pada jam-jam segini. Katanya khawatir mengganggu anaknya kuliah. Tetapi ini jam sebelas siang bapaknya menelepon, pasti ada sesuatu. Maka Melian langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo ..., iya, Pak ...." kata Melian memulai ucapan di telepon.
"Nduk .... Ini Pak-e, mengganggu sebentar, mau mengabari penting ...." kata bapaknya.
"Ada apa, Pak ...?" tanya Melian.
__ADS_1
"Cik Indra .... Cik Indra meninggal, Nduk ...." jawab bapaknya yang memberi kabar duka pada anaknya.
"Hah ...??!!! Yang benar, Pak ...??!!" tentu Melian langsung terkejut dan sangat syok.
"Iya ..., Nduk .... Ini Pak-e sama Mak-e dan Mas Irul masih di rumah sakit, masih mengurus jenazahnya." kata bapaknya menjelaskan.
"Ya ampun, Pak .... Huhuhuu ..., huhuhuu ...." Melian langsung menangis. Pasti sangat sedih kehilangan orang yang sangat dicintai, yang sudah dianggap seperti caciknya sendiri.
"Kamu mau pulang untuk menyaksikan penguburan Cik Indra, Nduk? Apa besok saja kalau sudah tidak ada kuliah?" tanya bapaknya yang tentu memberi alternatif pada anaknya.
Melian diam. Tidak menjawab pertanyaan bapaknya. Hanya air mata dari tangisannya yang terus mengalir. Bahkan HP-nya sudah tidak menempel di telinganya. Melian benar-benar sangat sedih, sehingga tidak sanggup apa-apa lagi.
"Halo ...! Halo ..., Nduk ...! Halo ...!" bapaknya memanggil-panggil, namun tidak direspon. Dan akhirnya bapaknya menutup teleponnya.
Dengan posisi duduk termangu dalam kesedihan dan kucuran air mata, tanpa disadari oleh Melian, tiba-tiba gelang giok yang dikenakan Melian kembali mengeluarkan cahaya, seperti lampu neon hijau yang menyala. Lantas gelang yang melingkar di lengannya itu kembali hidup, sudah berubah menjadi naga sebesar boneka dino yang dipeluk oleh Melian semalam. Lantas naga hijau itu meloncat ke pangkuan Melian. Melian terkejut, tetapi sudah tidak takut lagi, karena semalam sudah dipeluknya saat tidur. Justru tangan Melian langsung memegangi dan mengelus-elus. Seperti memangku hewan piaraan saja.
Naga kecil yang ada di pangkuannya itu dipandangi. Naga itu pun menatap Melian. Dari matanya juga mengeluarkan air mata. Pertanda naga itu juga ikut menangis. Ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Melian.
"Kamu menangis ...?" Melian mencoba berkomunikasi dengan naga kecil yang ada di pangkuannya itu.
Naga kecil itu menggerakkan kepalanya, yang diduselkan pada tubuh Melian. Mungkin naga itu memberikan jawaban, kalau dirinya juga ikut bersedih.
Melian kembali mengelus kepala naga itu.
"Cik Indra meninggal. Sementara saya masih ada di sini. Bagaimana saya bisa melayat Cik Indra?" kata Melian yang berbicara pada makhluk ajaib itu.
Naga ajaib itu menatap wajah Melian lagi. Lantas tiba-tiba saja merayap ke pundak Melian. Kemudian menuju tangan. Selanjutnya turun ke lantai, dan menarik tangan Melian.
Melian mencoba bangkit dari duduknya, lantas mengikuti arah naga ajaib itu. Ternyata makhluk gaib itu menuju lemari pakaian Melian, dan berusaha membuka pintunya.
Melian tahu maksudnya. Ia disuruh berganti pakaian. Melian menurut. Membuka lemari pakaiannya dan langsung memilih pakaian untuk berganti. Mungkin yang dikehendaki oleh makhluk itu, Melian harus bergegas untuk pulang kampung dan melayat, menyaksikan pemakaman Cik Indra. Melian cepat-cepat berganti pakaian, Yah, ia harus menghadiri pemakaman Cik Indra. Melian harus menyaksikan keadaan Cik Indra untuk yang terakhir kali.
Tidak lama Melian salin pakaian. Ia bergegas menata barang bawaan, dan dimasukkan ke tas cangklong. Tidak lupa memasukkan dompet. Nanti akan naik taksi menuju bandara, mencari tiket pesawat yang paling cepat. Sudah siap semuanya. Lantas ia mengambil HP-nya. Akan memesan taksi menuju bandara.
__ADS_1
Namun saat ia mengambil HP, tiba-tiba makhluk ajaib naga hijau itu meloncat di depannya. Suatu keanehan kembali terjadi. Naga sebesar boneka dino itu kembali mengeluarkan cahaya hijau. Kali ini cahaya itu tidak hanya berpendar pada tubuh naga kecil itu, tetapi ada semacam kabut yang menyelimuti makhluk itu. Kabut hijau yang tadinya tipis, lama-lama semakin menebal. Kabut itu terus menebal dan menyelimuti tubuh Melian, hingga seluruh tubuh Melian tertutup tak kelihatan lagi.
Melian yang terperangah dengan peristiwa itu, hanya bisa memandangi apa yang bisa ia saksikan. Dan keanehan lagi-lagi dialami oleh Melian. Naga kecil yang semalam dipeluk dalam tidurnya, kini sudah berubah menjadi kabut asap hijau yang bentuk dan wujudnya adalah naga raksaksa yang memenuhi ruangan kamar asrama Melian. Perwujudan naga raksaksa yang berupa kabut itu semakin menebal dan semakin menutup pandangan Melian, sehingga Melian tidak sanggup melihat apa-apa lagi. Melian hanya diam dan pasrah. Yang ia rasakan hanyalah dipeluk makhluk gaib itu yang seakan berada dalam gumpalan-gumpalan awan berwarna hijau.