GELANG GIOK BERUKIR NAGA

GELANG GIOK BERUKIR NAGA
Chapter 127: PETI MAYAT TERJATUH


__ADS_3

    Pagi itu, sekitar jam sembilan pagi. Di rumah duka tempat penyemayaman jenazah Kecik, sudah dimulai upacara pemberangkatan jenazah. Ruangannya penuh. Hingga meluber sampai di halaman parkir. Terutama anak-anak SMA Majapahit yang pada mengenakan seragam kebesaran abu-abu putih. Seluruh murid sekelas dengan Kecik datang semua untuk melepas pemberangkatan jenazah yang rencananya akan dikremasi. Ditambah lagi dengan murid-murid dari kelas lain serta para guru yang ikut hadir dalam upacara pemberangkatan jenazah.


    Tidak ketinggalan, Lusi yang membawa kamera tustel, akan memotret upacara pemberangkatan jenazah temannya. Nantinya, foto-foto itu akan menjadi kenangan terakhir bersama sahabat-sahabatnya yang kini sudah tiada.


    Upacara di pimpin oleh seorang pendeta, dalam tata cara keagamaan menurut keyakinan yang dianut oleh keluarga Kecik. Karena orang tua Kecik dan keluarganya menganut kepercayaan Kristiani, maka upacara pun dilaksanakan dengan adat Kristen. Dimulai dari puji-pujian, memanjatkan kidung-kidung persembahan kepada Allah yang dinyanyikan oleh jemaat dari tempat ibadah keluarga Kecik. Kidung-kidung itu terdengar menyayat hati. Membuat sedih bagi orang yang meresapi syairnya. Ya, tentu. Namanya saja pujian dalam acara duka cita. Cukup lama pujian itu dipanjatkan.


    Setelah pujian-pujian, ada seorang laki-laki dengan mengenakan setelan jas lengkap, memimpin doa. Mungkin laki-laki itu pembantu gembala. Tentu doanya juga terdengar pilu. Kesedihan karena kehilangan jemaat. Sedih karena salah satu dombanya sudah berpulang. Tidak hanya laki-laki yang memimpin doa itu saja yang memanjatkan permohonan pengampunan dosa untuk dombanya yang telah dipanggil, tetapi sidang jemaat yang ikut berdoa juga ikut berkali-kali memohon ampunan dosa. Tentu dengan kata-kata menyedihkan.


    Selanjutnya, setelah doa diaminkan, seorang pendeta dengan tubuh tinggi besar yang mengenakan setelan jas dan berdasi, namun dilehernya berselempang semacam selendang kecil, kalau orang Batak mungkin itu semacam ulos, atau lebih tepat disebut syal. Pendeta itu berdiri di depan microphon yang terpasang dekat dengan peti mati yang sudah ditutup. Pendeta itu memberikan khotbah. Dalam upacara kematian orang Kristen, khotbah inilah inti kesakralannya.


    "Shalom .... Semoga damai Kristus menyertai kita semua, terutama untuk keluarga yang saat ini sedang berduka. Janganlah bersedih, karena janji Allah akan digenapi ...." begitu awal kotbah dari pendeta itu.


    Para jemaat yang mengikuti upacara, serta para pelayat yang hadir disitu, mendengarkan khotbah dari pendeta.


    "Dalam kitab Korentus, Rasul Paulus meyakinkan kepada kita semua bahwa: Allah menyiapkan tempat di surga .… Demikian juga yang disampaikan oleh Yohanes dalam injil Yohanes pasal empat belas ayat yang pertama, dikatakan bahwa: di rumah Bapa Ku banyak tempat tinggal. Jadi, janganlah bersedih. Karena anak ini .... Saudara kita yang meninggal ini, sudah disiapkan tempat oleh Tuhan. Janganlah kita khawatir tentang bagaimana anak ini ...." begitu lanjut pendeta tersebut menyampaikan khotbahnya.


    "Aamiin ......" para jemaat mengamini.


     "Dalam paham purgatori, yang dikenal dengan api penyucian, mengajarkan bahwa semua orang yang mati dalam damai dengan gereja, ia akan menjalani penyucian di dalam suatu kurun waktu dan tempat tertentu yang dikenal sebagai purgatori. Selama masa kesengsaraan ini mereka mempunyai penghiburan bahwa suatu hari kelak siksaan mereka akan berakhir, dan setelah itu mereka akan masuk ke dalam sorga. Tenanglah saudaraku, kelak kamu akan masuk surga ...! Pahamilah bahwa kematian hanyalah 'Soul Sleep'. Tidur nyenyak. Jiwa orang yang meninggal hanyalah berada dalam keadaan tertidur pulas, tidak sadar, tanpa pengetahuan dan kegiatan. Dan nanti pada saatnya kelak, ia akan dibangunkan sampai kebangkitan tubuh. Kasih Allah sangat besar dan sangat nyata yang dibuktikan dengan memberikan Putra-Nya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus, menjadi jaminan dan tumbal keselamatan manusia berdosa yang menerima Kasih-Nya, orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sebab, barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan, ia akan diselamatkan." begitu khotbah yang disampaikan oleh pendeta itu, yang meyakinkan kepada keluarganya, bahwa Kecik nanti akan diselamatkan oleh Allah.


    Khotbah sudah selesai. Para jemaat yang tadi duduk mendengarkan khotbah, kini bangkit berdiri dan menyanyikan pujian lagi. Dan selanjutnya, pemberangkatan jenazah menuju kremasi pun mulai diacarakan.


    Mobil jenazah sudah berada di depan pintu ruang rumah duka. Pintu belakang dari mobil jenazah itu sudah dibuka. Pertanda sebentar lagi peti mati akan dimasukkan dan diangkit oleh mobil jenazah dari layanan yayasan kematian.

__ADS_1


    Empat orang laki-laki dengan mengenakan kaos seragam warna biru, ada tulisan Yayasan Kematian Budi Kasih, bersiap mengangkat peti mati. Orang-orang ikut mengerubung, ingin menyaksikan pengangkatan jenazah. Termasuk anak-anak yang berseragam abu-abu putih, anak-anak dari SMA Majapahit, teman sekelas Kecik, ikut mengerubung dan siap membantu jika diperlukan.


    Tidak ketinggalan, Lusi yang membawa kamera, berlari ke sana kemari, untuk memotret prosesi upacara kematian itu. Meskipun dari pihak yayasan kematian sudah ada tukang foto profesional, yang sudah termasuk dalam paket pelayanan kematian, namun Lusi tentu ingin mengabadikan peristiwa itu, setidaknya untuk kenang-kenangan teman-teman dan sekolahan.


    Namun, lagi-lagi, Lusi dikejutkan oleh kehadiran gadis yang ia temui saat tadi malam di tempat Cung Kek maupun Prendes. Gadis yang semalam diributkan oleh teman-temannya. Dan kali ini, gadis itu ada juga di tempat upacara prosesi pemberangkatan jenazah Kecik. Tetapi gadis yang ia lihat semalam dengan mengenakan celana jean dan berjaket, kini mengenakan seragam SMA. Sama seperti yang dikenakan oleh teman-temannya.


    Jantung Lusi langsung berdetak kencang. Seakan mau copot karena takutnya. Tangannya gemetaran. Bahkan mulutnya tidak bisa dibuka untuk bicara. Hanya matanya saja yang masih sanggup menatap gadis itu.


    Tahu temannya diam tak bergeming, Tji Wi langsung mendekati Lusi, menepuk pundaknya. Lusi terjingkat saking kagetnya.


    "Iiiihh ...!!!" Lusi yang kaget langsung mencubit lengan Tji Wi.


    "Ngapain bengong begitu ...?!" tanya Tji Wi.


    "Haah ...?! Hiya .... Cepat difoto .... Itu bukan teman kita .... Itu bukan anak SMA Majapahit ...." sahut Tji Wi yang sudah paham dengan yang dikatakan Lusi.


    Lusi pun menurut kata-kata temannya. Ia langsung memotret. Apalagi saat empat orang petugas dari yayasan kematian mulai mengangkat peti mati, Lusi juga memotret. Dan pasti juga mengenai gadis berseragam SMA yang kini berada persis di belakang peti mati yang sudah terangkat.


    Namun tiba-tiba, saat Lusi mengeker dengan lensa kameranya, gadis yeng dicurigai oleh Lusi, yang berdiri di belakang peti mati itu, tiba-tiba menarik peti yang terpanggul di pundak para petugas.


    "Awas ..., awas ..., awassss .......!!!" Lusi menjerit memberi peringatan kepada pemanggul.


    "Globraghk ......!!!" peti mati yang dipanggul itu ambruk, jatuh ke lantai.

__ADS_1


    Empat orang yang bertugas menggotong terpelanting gelangsaran di lantai. Spontan orang-orang yang melayat langsung berkerumun membantu. Ada yang menolong pemanggul peti yang gelangsaran, ada pula yang menyelamatkan peti jenazah yang jatuh tadi. Lantas orang-orang ikut membantu mengangkat. Orang banyak tentunya. Mengangkat peti itu untuk dimasukkan ke mobil jenazah.


    "Ada apa ...?! Kok sampai terjatuh itu, lho ...." tanya sopir mobil jenazah kepada rekannya yang menjatuhkan peti mati.


    "Nggak tahu .... Tiba-tiba saja petinya menjadi berat .... Saya kira dilepas oleh yang belakang ...." kata dua orang yang menggotong bagian depan.


    "Tidak ...!!! Kami tidak melepaskan .... Justru kamu yang tidak becus mengangkat ...!!" bantah yang pemanggul di bagian belakang.


    "Sudah ..., jangan ribut ....  Ayo segera ditata .... Itu sudah dibantu oleh para pelayat." kata sang sopir yang meminta anak buahnya untuk sigap dan segera bertanggung jawab dengan pekerjaannya.


    Para pemanggul peti jenazah itu pun langsung menuju mobil untuk menata. Dan tentu langsung mengatur yang akan masuk ke mobil jenazah. Terutama keluarga duka.


    "Ada apa sih, Lus ...? Kok kamu sampai menjerit begitu ...?" tanya teman-temannya yang tentu kaget dan heran.


    "Gadis itu .... Mana gadis itu ...?! Dia yang menarik dan mengganduli peti Kecik." sahut Lusi yang masih kebingungan.


    "Gadis siapa ...? Siapa yang mengganduli peti jenazah Kecik ...?" tanya teman-temannya.


    "Tadi .... Ya, tadi gadis itu sudah menarik petinya Kecik .... Makanya yang menggotong pada berjatuhan." sahut Lusi lagi, menjelaskan hal yang tidak dilihat teman-temannya.


    "Ya, tadi saya juga melihat gadis itu ...." sahut Tji Wi yang tidak ingin membuat Lusi jadi sasaran keheranan teman-temannya.


    "Sekarang gadis itu mana ...?!" tanya teman-temannya.

__ADS_1


    Lusi tengak-tengok. Mencari gadis yang sudah menjatuhkan peti mati itu. Namun tidak menemukan gadis itu. Demikian juga Tji Wi, yang mencari berkeliling. Bahkan hingga keluar gedung. Tetapi juga tidak menemukan gadis aneh yang sudah dilihatnya di tiga tempat. Di tempat penyemayaman jenazah teman-temannya. Mereka hanya bisa bingung dengan peristiwa yang dilihatnya.


__ADS_2